Jumat, 11 Desember 2020

PENGERINGAN RUMPUT LAUT MENGGUNAKAN ENERGI GELOMBANG MIKRO DAN KUALITAS YANG DIHASILKAN

 

Ilustrasi, sumber : Razmjou A, et al. dalam Environmental Science and Technology (2013), https://pubs.acs.org/doi/pdf/10.1021/es4005152

Rumput laut merupakan komoditas kelautan dan perikanan yang melimpah di Indonesia. Hampir 80% dari produksi tersebut dijual dalam bentuk kering tanpa adanya proses pengolahan lebih lanjut. Pada umumnya pengeringan rumput laut oleh para pelaku usaha rumput laut dilakukan secara konvensional yaitu dengan memanfaatkan sinar matahari secara langsung yang sangat tergantung pada kondisi cuaca.

Untuk mempercepat proses pengeringan telah banyak dikembangkan metode dan alat pengering yang hampir semua alat tersebut menggunakan mekanisme perpindahan panas secara konduksi maupun konveksi. Pengeringan secara konveksi memiliki kelemahan yaitu energi yang tidak efisien karena waktu pengeringan yang lama dan kualitas produk yang kurang baik karena mengalami penyusutan ukuran dan perubahan bentuk produk. Selain itu menurut Sulaiman dalam Rubrik Teknologi (2009) menyampaikan bahwa pengeringan konvensional menyebabkan perubahan yang tidak diinginkan pada warna, tekstur, flavour dan kualitas nutrisi bahan pangan.

Menurut Askari, et al. yang disampaikan dalam Food Bioprod. Process (2013) menyatakan bahwa saat ini, pemanfaatan gelombang mikro (microwave) sebagai teknologi alternatif untuk proses pengeringan di Industri Pangan semakin populer. Teknologi ini menghasilkan proses yang lebih cepat dan lebih efisien dibandingkan pengeringan metode konvensional karena koefisien perpindahan massa yang tinggi. Osrat, et al. dalam buku The Microwave Processing of Foods (2017) menyampaikan bahwa pengeringan berbasis microwave pemanasan yang terjadi adalah pemanasan volumetrik. Pemanasan volumetrik adalah pemanasan dari bagian dalam ke luar material yang diakibatkan karena gesekan molekul air di dalam material. Scott dalam Marion mixer (2012) juga menjelaskan bahwa dalam pemanasan volumetrik ini bahan bisa menyerap energi gelombang mikro secara langsung dari dalam dan mengubahnya menjadi panas. Bahan yang menyerap microwave adalah bahan yang memiliki sifat dielektrik yang baik yaitu bahan yang memiliki kandungan air yang banyak. Rumput laut E. Cottonii memiliki kadar air yang cukup besar, menurut Maharani, et al. yang disampaikan dalam Jurnal pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (2017) menyebutkan bahwa kadar air rumput laut E. Cottonii sebesar 76,15%. Berdasarkan hal tersebut maka penerapan microwave untuk pengeringan rumput laut E. Cottonii sangat mungkin.

Namun demikian pengeringan microwave juga memiliki kelemahan salah satunya yaitu distribusi pancaran gelombang yang tidak merata sehingga panas yang ditimbulkan juga tidak merata pada objek yang dipanaskan. Selain itu kualitas rumput laut yang dikeringkan menggunakan microwave juga belum banyak yang mengkaji. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pengeringan rumput laut E. Cottonii dan mengetahui kualitas rumput laut yang dikeringkan.

Berdasarkan latar belakang tersebut pada tahun 2019 Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) melakukan penelitian pengeringan rumput laut menggunakan gelombang mikro. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui laju pengeringan dan kualitas karaginan rumput laut E. Cottonii yang dikeringkan menggunakan gelombang mikro. Paramater yang diamati adalah berat rumput laut, laju pengeringan, kadar sulfat dan kekuatan gel.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pengeringan paling besar adalah pada pengeringan dengan gelombang mikro pada daya 600 watt yaitu rata-rata 11,67 gr/menit. Persentase kadar sulfat paling tinggi adalah pada pengeringan menggunakan sinar matahari yaitu 12,38 %. Sedangkan nilai kekuatan gel terbaik adalah pada pengeringan menggunakan gelombang mikro dengan daya 600 watt yaitu 81,45 gr/cm2Secara umum pengeringan rumput laut menggunakan gelombang mikro dapat mempercepat proses pengeringan dibandingkan menggunakan sinar matahari langsung. Pada kualitas karaginan, nilai kekuatan gel dan kadar sulfat masih dibawah baku mutu yang ditetapkan. Nilai kekuatan gel dan kadar sulfat yang rendah diduga bukan disebabkan karena proses pengeringan, tetapi disebabkan karena kualitas bahan baku rumput laut yang digunakan.

Penulis : Wahyu Tri Handoyo - LRMPHP

0 comments:

Posting Komentar