LRMPHP ber-ZONA INTEGRITAS

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, siap menerapkan Zona Integritas menuju satuan kerja berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 30 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2020

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Selasa, 20 April 2021

Sistem Mesin Visi 3 Dimensi Sebagai Penentu Tingkat Kesegaran Salmon Atlantik

Untuk dapat bersaing di pasar global yang terus meningkat, menjadi suatu kebutuhan untuk mengambil manfaat dari teknologi guna meningkatkan produktifitas dan profitabilitas. Industri salmon Norwegia melihat kebutuhan untuk mengotomatisasikan proses grading mutu salmon Aatlantik untuk mengurangi kebutuhan akan tenaga manusia yang besar serta meningkatkan konsistensi produk dan fleksibilitas produksi. Untuk mengatasi masalah tersebut sejumlah peneliti di Norwegia mengembangkan sebuah sistem mesin visi untuk pencitraan berwarna 3D eksternal dilengkapi sistem scanning 3600 cross-section telah dikembangkan untuk melakukan penentuan level mutu Salmon Atlantik. Dua penyebab utama penurunan mutu salmon Atlantik pada pasca penangkapan adalah perubahan bentuk dan luka. Berdasarkan dua penyebab tersebut proses penentuan tingkat kesegaran ikan salmon Atlantik tersebut dimulai dengan mengklasifikasikan ikan tersebut ke dalam kelas super dan kelas dengan mutu terdegradasi.

Untuk membentuk citra 3D pada tahap awal yang dilakukan adalah menyusun sistem fotografi sebagai perangkat dalam pengumpulan citra ikan. Perangkat tersebut terdiri atas rig kamera yang tersusun atas 3 buah kamera citra berwarna CMOS dan 3 buah laser IP68 memancarkan baris laser merah. Rig kamera terletak pada celah antara dua konveyor belt.

Gambar 1. Sistem fotografi untuk akuisisi citra
Sumber gambar : Sture, et al., (2016)

Pada tahap pengolahan citra dilakukan untuk mendapatkan fitur geometri dan warna dari pasangan citra yang dihasilkan kamera pada tiga posisi berbeda. Untuk mendukung pengolahan citra berbasis komputasi point cloud diperlukan dukungan Graphical Pocessing Unit ( GPU). 3 operasi berbeda dilakukan pada GPU yaitu (1) algoritme demosaicking untuk menghitung piksel warna merah dari raw image.; (2) penerapan algoritma penghilangan sirip. Untuk menghilangkan sirip pada citra dilakukan dengan menghilangkan koordinat dimana sirip berada dengan menepatkan garis tepi tubuh Salmon pada sebuah elips lalu menggunakan nilai tangen (persinggungan terdekat) sebagai titik potong antara sirip dan tubuh; (3) operasi untuk melakukan ekstraksi fitur warna dan geometris yang melibatkan Ekstraksi fitur geometris dan fitur warna.

Proses ekstraksi fitur melibatkan sejumlah operasi morfologi dan pengolahan citra mencakup (1) pengambangan batas pada ruang warna HSL ;(2) operasi morfologi open untuk menyaring derau pada sejumlah region hasil filtering; (3) penggunaan pengklasifikasi untuk memberikan label pada region tertentu sehingga masuk sebagai luka atau bukan. Selanjutnya pada tahap machine learning, fitur warna dan tekstur digunakan sebagai input 2 pengklasifikasi untuk mengklasifikasikan: (1) deformitas dan (2) luka. Pengklasifikasi yang digunakan adalah Support Vector Machine (SVM) pada kernel RBF.

Pada kajian deteksi deformitas, hasil klasifikasi 2 kelas dinyatakan sebagai bebas deformitas (1) dan tidak bebas deformitas (0). Hasil yang dicapai dengan pengklasifikasi SVM adalah True Positif Rate (TPR) sebesar 81% sementara True Negative Rate (TNR) 90% sehingga didapatkan hasil total prediction rate sebesar 86%. Untuk klasifikasi deteksi Luka dmelalui penerapan metode tresholding (pengambangan batas) dilanjutkan dengan operasi morfologi mampu mencapai total prediction rate sebesar 89% dengan TPR dan TNR masing-masing sebesar 88% dan 90%.

Salah satu kontribusi utama riset ini adalah metode yang mampu mengatasi proyeksi yang sangat tumpang tindih seperti pada metode proyeksi 2D yang menggunakan dua kamera atas dan bawah. Selain itu waktu komputasi secara signifikan dapat dikurangi dengan penggunaan metode pengambangan batas dan operasi morfologi pada citra berwarna sebagai tahap pra pengolahan citra. 

Pendekatan menggunakan mesin visi 3D 3600 sangat menarik dari perspektif pengumpulan data terutama untuk membentuk basis pengetahuan sebagai dasar pembuat keputusan. Pengembangan mesin visi 3D ini telah dipublikasikan di Jurnal Computer and Electronics in Agriculture Vol. 123 tahun 2016. Mesin ini mampu menyajikan informasi yang diperlukan untuk menarik kesimpulan seperti halnya operator manusia yang mampu menginspeksi ikan salmon pada seluruh sisinya. Penelitian ini menunjukkan bahwa mesin visi 3D mampu digunakan untuk mendeteksi tingkat mutu salmon Atlantik secara otomatis dan riil time. Sebagian besar metode yang dikembangkan cukup umum untuk dapat diaplikasikan pada jenis ikan lain atau aplikasi sejenis dengan modifikasi minor. 

Gambar 2. Hasil akhir pembentukan citra 3D ikan Salmon Altlantik

Sumber gambar : Sture, et al., (2016)


Penulis: I Made Susi Erawan - Peneliti LRMPHP












                 


Selasa, 13 April 2021

MENGENALI JENIS DAN TINGKAT KESEGARAN IKAN BERBASIS ANDROID

Sebagai salah satu sumber asam lemak omega 3 terbaik permintaan ikan diseluruh dunia terus meningkat. Keberadaan ikan yang sangat esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan otak seringkali juga disubstisusi dengan sumber protein hewani dari ayam, daging, maupun ternak lainnya. Karena kebutuhan konsumen untuk dapat membeli dan mengkonsumsi ikan hasil tangkapan secara segar yang terus meningkat seringkali ikan disimpan beku sebelum di pasarkan untuk menjamin ketersediaan pasokan ikan.

Karena pentingnya jaminan keamanan ikan yang dikonsumsi maka pemeriksaan sejumlah parameter mutu terkait kesegaran ikan menjadi hal yang wajib dilakukan. Salah satu metode konvensional untuk menentukan kesegaran ikan sesuai jenisnya adalah secara visual dengan memperhatikan kondisi mata dan insang. Meskipun mudah dilakukan metode visual tersebut namun masyarakat awam cukup kesulitan untuk menentukan tingat kesegaran ikan secara akurat dibandingkan oleh petugas terlatih.

Untuk mengatasi hal tersebut sejumlah peneliti di Filipina mengembangkan perangkat lunak yang mampu mengidentifikasi tingkat kesegaran ikan termasuk menyajikan informasi umur simpan ikan 3 spesies yang memiliki tingkat konsumsi tertinggi di Filipina yaitu ikan Bandeng, Scad (Layang), dan ikan Nila. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan pada Jurnal ARPN Journal of Engineering and Applied Sciences Vol.13, No. 18, September 2018.

Kontribusi utama yang dikembangkan dalam perangkat cerdas tersebut diantaranya (1) menggunakan data piksel citra mata dan insang yang tersegmentasi untuk menentukan jenis ikan dan tingkat kesegarannya secara bersamaan.  (2) Menggunakan operasi  pengolahan citra untuk lebih mempertegas proses segmentasi citra insang dengan citra kulit secara lebih  akurat yaitu dengan memadukan metode k-mean clustering dilanjutkan canny edge detection. Algoritma k-mean clustering untuk segmentasi insang berbasis 2 channel warna yaitu red-green (a*) dan blue-yellow (b*). Algoritma ini akan memisahkan dan mengelompokkan sejumlah k piksel berdasarkan kedekatan rerata piksel  tersebut. Metode edge detection menggunakan Algoritma Canny digunakan untuk menemukan batas atau tepi suatu objek  sekaligus menghilangkan noise (derau) dalam citra. (3) Pada proses segmentasi citra mata ikan diterapkan algoritma yang berfungsi untuk membuat jari-jari lingkaran pada proses masking (proses menampilkan obyek yang ditargetkan sedangkan objek non-target disembunyikan) sehigga berada tepat pada titik tengah pupil mata ikan sampel. (4) Perangkat pengambilan citra berbasis android yang terdiri dari 2 komponen utama yaitu casing dan tabung. Casing yang dirancang dengan ukuran khusus untuk meletakkan smartphone sementara tabung dirancang untuk menjaga pencahayan konstan dan dapat diatur ketinggian atau jaraknya dengan sampel ikan yang diambil citranya. (5) Bahan untuk pembuatan perangkat  pengambilan citra tersebut berasal dari bahan-bahan organik yang mudah terurai yaitu jagung, batang tebu, dan kentang. Selain ramah lingkungan bahan yang digunakan ini juga dapat dicetak ukuran detil yang lebih kecil dan sudut yang lebih tajam.

Hasil uji perangkat lunak dibandingkan uji organoleptik oleh panelis terlatih menunjukkan  tingkat akurasi klasifikasi kesegaran sebesar 90%, 93,33%, dan 100% msing-masing untuk ikan Bandeng, Round Scad (Layang), dan Nila. Ditinjau dari hasil riset yang telah dicapai menunjukkan bahwa perangkat yang dikembangkan mampu mengidentifikasi ikan dan mengklasifikasi tingkat kesegarannya. Namun perangkat yang dikembangkan pada smartphone tersebut masih akan dikembangkan lebih lanjut agar dapat mengidentifikasi ikan dengan sumber pencahayaan yang bervariasi sekaligus menambah detil level kesegaran ikan yang diuji. 

Segmentasi citra insang menggunakan metode k-mean clustering
Sumber gambar : Novotas, et al. (2018)

Proses masking citra mata ikan 
Sumber gambar : Novotas, et al. (2018)
 

Penulis : I Made Susi Erawan - Peneliti LRMPHP


Rabu, 07 April 2021

Riset dan SDM Siap Dukung 3 Program Terobosan KKP

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan tiga prioritas sebagai terobosan pada Tahun 2021-2024. Pertama, peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya alam perikanan tangkap untuk peningkatan kesejahteraan nelayan. Kedua, Pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor. Ketiga, pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal. Ketiga terobosan tersebut didukung oleh pengembangan riset kelautan dan perikanan. Demikian disampaikan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja, pada pembukaan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) BRSDM, Selasa (6/4), di Bandung, Jawa Barat.

Menurut Sjarief, PNBP dari sektor kelautan dan perikanan selama ini hanya sekitar Rp600 miliar, didapat dari izin penangkapan ikan. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan besarnya potensi kelautan dan perikanan yang dimiliki Indonesia. Untuk itu, perlu dilakukan perubahan paradigma, yaitu dengan menggratiskan perizinan penangkapan ikan dan mengenakan tarif PNBP saat menurunkan hasil tangkapan setelah selesai melaut. Dengan demikian potensi PNBP dari sektor kelautan dan perikanan yang dapat diraih diperkirakan bisa mencapai Rp12 triliun. Guna merealisasikannya, BRSDM terus mengembangkan riset, salah satunya melalui rencana kolaborasi dengan salah satu Badan Usaha Milik Negara di bidang elektronika. Dengan teknologi tinggi, ikan hasil tangkapan bisa langsung dideteksi jumlah, jenis dan beratnya oleh peralatan canggih, sehingga dapat diketahui tarif PNBP-nya.

“BRSDM sudah mulai merintis untuk menyusun instrumen, peralatan-peralatan yang harus dipasang di kapal penangkap ikan supaya bisa mendeteksi, kalau ikan ditangkap di laut, dimasukkan ke palka maka bisa langsung dihitung berapa jumlahnya, beratnya, ikannya jenis apa saja, harganya berapa, kira-kira pendapatannya berapa. Sehingga saat mereka mendarat di daratan maka langsung keluar harus membayar berapa. Jadi disini teknologi yang masuk adalah teknologi untuk electronic scaling, teknologi untuk pattern recognition, dipotret, kemudian tahu ini ikan kerapu, ini ikan kakap merah, dan seterusnya, berapa harganya, tuna tongkol, cakalang. Riset menjadi utama disini. Kita akan mengembangkan teknologi itu. Tahun 2021-2025 BRSDM akan berperan di program ini dalam konteks untuk menyiapkan perangkat-perangkat instrumennya, alat ukur, monitoring, surveillance untuk kapal ikan yang di lautan sehingga jelas kapal yang menangkap, pemiliknya siapa, kewajibannya bagaimana,” paparnya.

Adapun dalam mendukung perikanan budidaya, menurutnya, riset juga memiliki peran yang tinggi. Saat ini Indonesia memiliki komoditas unggulan di bidang budidaya antara lain lobster, udang, dan rumput laut, yang didorong secara masif dan dikembangkan untuk kepentingan ekspor. Salah satunya melalui teknologi tinggi tambak udang yang akan dibangun di Aceh Timur seluas 10.000 hektare.

Sementara itu, menurut Sjarief, pihaknya juga mendorong komoditas-komoditas lokal unggulan dan mengembangkan kampung-kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal, seperti Kampung Nila, Kampung Patin, Kampung Lele, Kampung Gabus, dan Kampung Garam, di berbagai daerah di Indonesia. Daerah yang akan dikembangkan salah satunya adalah Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, yang pada Rakernis tersebut menandatangani nota kesepakatan dengan BRSDM.

Tak hanya mengembangkan riset, BRSDM juga meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendukung program-program prioritas KKP. Peningkatan SDM dilakukan melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan.

Kegiatan pendidikan diselenggarakan secara vokasi, melalui pendekatan teaching factory, dengan porsi praktik 70% dan teori 30%. Biaya pendidikan disubsidi oleh negara. Sebanyak 50% kuota peserta didik diisi oleh anak-anak pelaku utama kelautan dan perikanan, seperti nelayan, pembudidaya ikan, pengolah dan pemasar ikan, serta petambak garam. Satuan pendidikannya tersebar di berbagai daerah, yaitu 10 Politeknik, 1 Akademik Komunitas, dan 9 Sekolah Usaha Perikanan Menengah. Para peserta didik selain menjadi tenaga kerja professional juga diarahkan menjadi wirausaha, salah satunya didanai oleh kredit dari Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP). Selain itu, koperasi satuan-satuan pendidikan tersebut juga memanfaatkan lahan-lahan idle untuk usaha perikanan budidaya dengan biaya kredit LPMUKP.

Adapun kegiatan pelatihan dilakukan melalui enam Balai Diklat ditambah Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) di berbagai wilayah di Indonesia, dengan peserta pelatihan mencakup masyarakat seluruh Indonesia. Pengembangan SDM melalui pelatihan saat ini berupa online training yang disebut Classical Blended Full Online Training. Terkait digitalisasi pelatihan, dikenal aplikasi e-Jaring (pembelajaran daring perikanan) dan e-Milea (electronic milenial learning).

Sementara itu kegiatan penyuluhan berupa pendampingan kelompok-kelompok usaha masyarakat kelautan dan perikanan oleh para penyuluh yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota se-Indonesia. Para penyuluh tersebut sehari-harinya bertugas secara mobile mendampingi kelompok-kelompok tersebut di wilayah kerjanya masing-masing dalam meningkatkan usaha mereka dan melaporkannya secara berkala. Pengembangan SDM melalui penyuluhan saat ini juga dilakukan melalui digitalisasi penyuluhan.

Sebagai informasi, Rakernis BRSDM ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) KKP Tahun 2021 yang diselenggarakan 5-6 April 2021, di Bandung. Pada Rakernis tersebut, ditandatangani tiga naskah kerja sama BRSDM. Pertama, Nota Kesepakatan Antara BRSDM dan Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat tentang Sinergitas Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan serta Pengembangan Riset dan SDM KP di kabupaten tersebut. Kedua, Perjanjian Kerja Sama antara Pusat Riset Kelautan BRSDM dengan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung tentang Riset dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Bidang Teknologi Kelautan. Ketiga, Rencana Kerja Aksi (Work Plan) Sinergi Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan antara Pusat Pelatihan Penyuluhan Kementerian Kelautan dan Perikanan BRSDM dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) tentang Increasing Trade Capacities of Selected Value Chains Within The Fisheries Sector in Indonesia-Extension Global Quality And Standards Programme (GQSP) Indonesia Smart-Fish 2.


Sumber : KKP


Kamis, 25 Maret 2021

Pejabat Fungsional LRMPHP Bertambah 2

Pelantikan pejabat fungsional LRMPHP

Pada hari Rabu, 24 Maret 2021, Sekretaris Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) melantik 74 orang pejabat fungsional baru di lingkungan BRSDMKP. Dari 74 orang tersebut, 2 (dua) diantaranya merupakan pegawai negeri sipil pada Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), yaitu Afris Syahada, SE yang dilantik dalam jabatan fungsional Analis Pengelolaan Keuangan APBN Ahli Pertama, dan Feni Susana, S.Sos yang dilantik dalam jabatan fungsional Pranata Keuangan APBN Mahir.

Kedua pegawai ini dalam pelaksanaan tugas sehari-hari merupakan pegawai yang menangangi pengelolaan keuangan di LRMPHP, sebagai Pejabat Penandatangan SPM dan Bendahara Pengeluaran. Proses yang dilalui sampai dengan terbitnya Surat Keputusan pengangkatan dalam jabatan fungsional tertentu, diawali dengan adanya kebijakan inpassing Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan baru yang diluncurkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan Kementerian Keuangan pada tahun 2018-2019, yang dilanjutkan dengan proses pengusulan oleh LRMPHP pada awal 2020, penerbitan rekomendasi dari Kementerian Keuangan pada Oktober 2020, pengusulan kelengkapan berkas untuk penerbitan SK serta puncaknya adalah pelantikan pada tanggal 24 Maret 2021 ini.

Inpassing atau penyesuaian adalah proses pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Fungsional guna memenuhi kebutuhan organisasi sesuai dengan peraturan perundangan dalam jangka waktu tertentu (Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 42 Tahun 2018 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Fungsional Melalui Penyesuaian/Inpassing).

Dalam pelantikan tersebut, kedua pegawai dilantik secara daring, dengan disaksikan oleh Kepala LRMPHP dan perwakilan pegawai di aula lantai 2 LRMPHP. Sekretaris BRSDMKP dalam arahannya mengucapkan selamat kepada pejabat yang dilantik dan menyampaikan bahwa meski prosesi pelantikan dimasa pendemi dilakukan secara daring, namun menjadi lebih efisien tanpa mengurangi esensi kegiatan pelantikan itu sendiri. Sekretaris BRSDMKP juga menyampaikan kepada para pejabat yang dilantik hendaknya dapat (1) melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mengawal pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan khususnya yang ada di BRSDM KP (2) memposisikan sebagai orang yang terdepan dalam mengamankan pekerjaan-pekerjaan di kantornya masing-masing, karena kesuksesan dalam suatu instansi merupakan hasil kerja saling menunjang satu sama lain dan terintegrasi, (3) memastikan dan merekomendasikan apa saja yang dikerjakan di kantornya masing-masing sesuai dengan aturan yang ada, serta (4) mengawal dengan baik proses pelaksanaan kegiatan di kantornya masing-masing sehingga semua satker yang ada di BRSDM KP berkontribusi secara positip dalam mensukseskan KKP yang WTP.


Kegiatan pelantikan 2 orang pejabat fungsional LRMPHP secara daring


Selasa, 23 Maret 2021

Injection Moulding Machine

Diagram injection moulding machine

(Sumber : Kumar, 2020 dalam learnmechanical.com)

Selain hot press moulding machine, alat yang dapat digunakan untuk mencetak kemasan bioplastik dari rumput laut atau produk turunannya yaitu injection moulding machine. Menurut Liu, et al. (2020) dalam tulisannya yang berjudul “Research on energy consumption of injection moulding machine driven by five different types of electro-hydraulic power units” di Journal of Cleaner Production, produk plastik banyak digunakan dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari, di antaranya, sekitar 70-80% diproduksi dengan proses pencetakan secara injeksi (injection moulding).

Menurut Kumar, 2020 dalam learnmechanical.com, bagian – bagian dari injection moulding machine adalah sebagai berikut : hopper berfungsi untuk memasukkan bahan penyusun plastik/bioplastik yang akan dicetak, screw motion berfungsi untuk mendorong bahan penyusun plastik/bioplastik, pemanas berfungsi untuk melelehkan bahan penyusun plastik/bioplastik, nozzle dimana suhu bahan tersebut meningkat sampai suatu batas tertentu sehingga bahan tersebut cepat memasuki rongga cetakan, extraction pin, split molds atau cooling channels berfungsi untuk mendinginkan produk, unit penjepit cetakan (mold clamping unit) yang berfungsi untuk membuka dan menutup cetakan, unit penyuntik bahan cetakan (injection unit) berfungsi untuk menyuntikkan bahan cetakan, unit penggerak (drive unit) berfungsi untuk menggerakkan cetakan di dalam rongga (cavity), unit hidrolik (hydraulic unit) berfungsi sumber energi penggerak. 

Diagram skematik dari injection moulding machine

(Sumber : Kumar, 2020 dalam learnmechanical.com)

Langkah – langkah yang diperlukan untuk mendesain injection moulding machine yaitu : mendesain produk yang diinginkan, mendesain mold dan proses manufaktur. Mold biasanya dibentuk dengan menggunakan bahan logam sebagai berikut : 

  • Hardened steel: merupakan material pembuatan mold yang paling mahal, namun paling tahan lama. Hal tersebut membuat hardened steel menjadi pilihan material yang cocok digunakan pada jumlah produksi yang sangat banyak.
  • Pre-hardened steel: lebih murah dari bahan hardened steel namun lebih tidak tahan lama.
  • Aluminium: biasanya digunakan untuk tujuan prototipe ketika dibutuhkannya produksi dalam jumlah kecil untuk pengujian.
  • Paduan berilium-tembaga: Biasanya digunakan pada area dimana mold dibutuhkan untuk melepas panas secara cepat.


Penulis : Putri Wullandari


Jumat, 19 Maret 2021

Kunjungan Dinas Perikanan dan Komisi B DPRD Kab. Jepara di LRMPHP

Kunjungan Dinas Perikanan dan Komisi B DPRD Kab. Jepara di LRMPHP

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan menerima kunjungan kerja Dinas Perikanan dan Komisi B DPRD Kabupaten Jepara, 19 Maret 2021. Kunjungan dipimpin oleh Kepala Dinas Perikanan Jepara Ir. Wasiyanto,SH., MH dan Ketua Komisi B DPRD Jepara, H. Nur Hamid, S.Ag. Kepala Dinas Perikanan Jepara didampingi Kabid Perikanan Budidaya Ahmad Chotib, S.Pt., MH, Kasi Pengembangan Produksi dan Usaha Budidaya Noor Hidayani S.Pi, MH beserta jajarannya, sedangkan ketua Komisi B DPRD Jepara didampingi wakil ketua KH. Nurrudin Amin, S.Ag dan anggota Komisi B yaitu H.Muzaidi, A.Md, Hengki Sandi Atmojo, shafik Khoirul abib, H. Chairul Anwar, S.Sos, Zumaroh dan Dendie khisma W, S.E.

Kunjungan kerja dilakukan untuk melihat inovasi teknologi yang dihasilkan oleh LRMPHP dalam rangka peningkatan kapasitas SDM khususnya pelaku perikanan di Kabupaten Jepara. Dinas Perikanan maupun Komisi B DPRD Jepara berharap melalui kunjungannya ini akan mendapatkan bahan rekomendasi inovasi teknologi terapan yang sederhana, mudah dan murah untuk diaplikasikan kepada stake holder

Paparan Kadis Dinas Perikanan dan Komisi B DPRD Kab. Jepara

Dalam paparannya,  Kadis Perikanan dan Komisi B Jepara menyampaikan potensi hasil perikanan dan kelautan di Jepara diantaranya rumput laut, bandeng, dan lainnya yang masih membutuhkan pengembangan dalam peningkatan diversifikasi olahan sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dibanding dengan penjualan bahan mentah, sehingga diharapkan kunjungannya ini dapat mengali informasi teknologi terkait.

Sementara itu, Kepala LRMPHP Luthfi Assadad dalam sambutannya menyampaikan kunjungan kerja ini dapat menginisiasi kemitraan antara kedua belah pihak serta dapat dijadikan pemacu dalam peningkatan kualitas pelaksanaan dan penerapan kegiatan riset mekanisasi perikanan di LRMPHP. Sebagai salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) yang mempunyai mandat utama melaksanakan riset dibidang mekanisasi pengolahan hasil perikanan, LRMPHP siap dalam memberikan dukungannya kepada stake holder dengan kompetensi yang dimiliki LRMPHP.

Kunjungan ke ruang display peralatan LRMPHP


Senin, 15 Maret 2021

Potensi Teknologi Penyimpanan Energi Flywheel untuk Bidang Perikanan

Sumber : https://clutch-specialists.co.uk/

Kebutuhan sistem pendinginan pada bidang perikanan sangat diperlukan guna menunjang sistem rantai dingin. Oleh karena itu alat pendingin di kapal perikanan dan di TPI atau pelabuhan perikanan sangat diperlukan. Kendala yang sering dihadapi adalah kebutuhan energi untuk mensuplai sistem pendingin tersebut masih terbatas karena lokasi yang berada di lautan dan jaringan PLN yang masih terbatas. Oleh karena itu diperlukan sumber energi alternatif yang bisa membantu mensuplai kebutuhan energi tersebut. Salah satu potensi yang bisa digunakan adalah sistem penyimpanan energi flywheel yang digabungkan dengan sumber energi lainnya.

Flywheel atau sering disebut sebagai roda gaya atau roda gila adalah komponen yang digunakan pada mesin kendaraan roda empat. Fungsi flywheel dalam kendaraan digunakan untuk menstabilkan putaran mesin. Hal ini karena Struktur flywheel berbentuk cakram, karena beratnya dapat menahan perubahan kecepatan yang cepat, sehingga putaran poros mesin menjadi lebih stabil. Flywheel dapat menyimpan energi dalam massa yang berputar yang besarnya bergantung pada inersia dan kecepatan massa yang berputar.

Karakteristik flywheel yang dapat menyimpan energi tersebut telah dikembangkan sebagai salah satu potensi sumber energi. Dalam artikel Gravity Energy Storage disampaikan bahwa penyimpanan energi flywheel dianggap sebagai teknologi yang sangat menarik dan merupakan salah satu metode penyimpanan mekanis paling awal. Penyimpanan energy pada flywheel menggunakan energi kinetik sebagai bentuk penyimpanan. Bahkan menurut menurut Chen H. et al. yang disampaikan dalam Natural Science (2009) teknologi flywheel ini memiliki efisiensi tinggi dan biasanya berkisar antara 90-95 %. Pullen K.R. dalam Joule 3 juga menyatakan bahwa karakteristik flywheel yang kuat sangat sesuai untuk aplikasi yang membutuhkan respons cepat dan siklus harian yang tinggi dan terus berkembang.

Penelitian dan aplikasi penggunaan flywheel sebagai penyimpan dan sumber energi telah banyak dilakukan. Salah satunya dilakukan oleh Bolund. et al dalam Renewable and Sustainable Energy Reviews (2007) melakukan uji coba penerapan flywheel sebagai energi dan penyimpanan daya. Uji coba yang dilakukan adalah mengaplikasikan flywheel sebagai sumber energi tambahan generator listrik. Uji coba dilakukan dengan meletakkan flywheel di dalam penampung vakum untuk menghilangkan gesekan udara. Energi kinetik ditransfer masuk dan keluar dari flywheel dengan mesin listrik yang dapat berfungsi sebagai motor maupun generator, tergantung pada sudut beban (sudut fasa). Saat bertindak sebagai motor, energi listrik yang disuplai ke stator diubah menjadi torsi dan diterapkan ke rotor yang menyebabkan perputaran lebih cepat sehingga mendapatkan energi kinetik. Dalam mode generator, energi kinetik yang disimpan di rotor menerapkan torsi, yang diubah menjadi energi listrik. Gambaran sistem penyimpanan energi flywheel seperti disajikan pada gambar 1. Hasil uji coba menunjukkan bahwa putaran rotor flywheel yang cepat mampu digunakan untuk pembangkitan langsung listrik tegangan tinggi. Oleh karena itu aplikasi flywheel dengan komponen utama motor / generator memiliki potensi yang besar untuk ditingkatkan.

Gambar 1. Sistem penyimpanan energi flywheel (sumber : Flywheel Energy Systems Inc. CETC-0100-01 Rev.2)

Istilah yang umum digunakan pada teknologi penyimpanan energi flywheel adalah Flywheel Energy Storage System (FESS). Menurut Amiryar & Pullen yang disampaikan dalam Apllied Sciences (2017) mengemukakan bahwa Teknologi FESS ini menawarkan karakteristik unik dan memiliki siklus yang sangat tinggi dengan masa pakai yang lama. Selain itu juga memiliki kemampuan daya tinggi, respon instan, dan kemudahan daur ulang. Saat ini permintaan teknologi FESS berkembang secara substansial, dan memiliki potensi yang cukup baik, bahkan disaat biaya produksi baterai Li-ion dan teknologi baterai kimia lainnya terus berkurang.

Aplikasi teknologi FESS yang sudah dilakukan biasanya menggunakan sistem hybrid, yaitu menggabungkan dengan sumber energi lainnya. Pada bidang perikanan teknologi tersebut berpotensi bisa diaplikasikan untuk sistem pendingin pada palkah ikan yang digabungkan dengan energi dari genset. Untuk cool storage di darat juga bisa memanfaatkan teknologi tersebut yang digabungkan dengan penggunaan listrik PLN. Skema penggunaan teknologi FESS sebagai sumber energi pada sistem pendingin seperti disajikan pada gambar 2.

Gambar 2. Skema aplikasi teknologi FESS untuk sistem pendingin (sumber : https://www.mdpi.com/journal/sustainability)


Penulis : Wahyu Tri Handoyo

Jumat, 12 Maret 2021

Inovasi Pelayanan Magang dan Penelitian di LRMPHP Melalui Mklik dan Maset

 


Menurut UU No. 25 tahun 2009 Pelayanan publik didefinisikan sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. LRMPHP yang merupakan instansi riset menyelenggarakan pelayanan publik berupa pelayanan magang dan penelitian atau riset. Untuk meningkatkan pelayanan tersebut LRMPHP melakukan inovasi pelayanan terpadu melalui aplikasi Maklik dan Maset. Inovasi ini dibuat untuk mempermudah pengguna layanan yang akan melakukan magang dan penelitian. Pengguna layanan hanya melakukan satu kali pengisian formulir untuk mendaftar atau mengajukan magang atau penelitian. Aplikasi Maklik dan Maset dapat diakses melalui website LRMPHP yaitu www.mekanisasikp.web.id menu pelayanan terpadu. Link aplikasi di Maklik dan Maset

Rabu, 10 Maret 2021

LRMPHP Kembangkan Alat Pengering Rumput Laut Tenaga Gelombang Mikro

Alat pengering rumput laut microwave energy inovasi LRMPHP

Pengeringan rumput laut menggunakan sinar matahari banyak dilakukan oleh para pembudidaya dan pengolah rumput laut karena metode ini relatife mudah dan murah. Namun metode ini memiliki beberapa kelemahan diantaranya membutuhkan waktu proses yang lama, tergantung dengan cuaca dan terjadi penurunan kualitas.

Saat ini penggunaan teknologi gelombang mikro dalam pengolahan produk pangan mengalami perkembangan pesat termasuk untuk proses pengeringan. Pengeringan menggunakan energi gelombang mikro (microwave energy) dilaporkan oleh banyak penelitian lebih efisien dan mampu mempercepat proses pengeringan.

LRMPHP saat ini telah berhasil mengembangkan alat pengering rumput laut memanfaatkan microwave energy. Prinsip dari proses pengeringan microwave adalah pengeringan secara volumetric yaitu memanaskan inti material dalam suatu bahan terlebih dahulu kemudian merambat ke permukaan bahan. Microwave menghasilkan energi radiasi non ionik, yang menyebabkan gerakan molekuler melalui rotasi dipol (kutub) dan menghasilkan gesekan antar molekul sehingga terjadi panas akibat gesekan tersebut. Microwave sendiri adalah salah satu gelombang elektromagnetik, dengan interval panjang gelombang antara 1 mm hingga 1 m dan interval frekuensi antara 300 MHz dan 300 GHz. Pada umumnya frekuensi yang digunakan dalam industri pengolahan pangan sebesar 915 dan 2450 MHz.

Rancangbangun alat pengering rumput laut microwave energy inovasi LRMPHP

Alat pengering rumput laut microwave energy hasil rancangbangun LRMPHP terdiri dari beberapa komponen utama meliputi 1. cavity sebagai ruang pengeringan, 2. sistem sirkulasi udara yang berfungsi mengeluarkan uap air bahan, 3. sistem pengering berupa magnetron dan waveguide serta 4. sistem kontrol untuk mengatur tingkat intensitas microwave, waktu proses dan keluar masuk bahan. Dimensi alat pengering adalah 2410 (panjang) x 270 (lebar) x 210 (tinggi) mm dan mampu menampung rumput laut basah hingga 10 kg, dengan laju pengeringan sebesar 30.29 g/menit, specific energy consumption 3.96 MJ/kg H2O dan efisiensi energy 61.10%. 

Penulis : Arif Rahman Hakim – Peneliti LRMPHP


Selasa, 09 Maret 2021

Hasil Survei Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan Magang dan Riset di LRMPHP


Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 32/PERMEN-KP/2014 tentang Pelayanan Publik di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Lampiran I Daftar Unit Pelayanan Publik di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan 2014 maka Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) memiliki 2 kegiatan pelayanan publik yaitu :

1. Jenis Pelayanan                         : Pelayanan Jasa Publik
    Nama Pelayanan                       : Kegiatan Magang Siswa dan Mahasiswa
    Tempat Pemberian Pelayanan : Kantor LRMPHP
    Tujuan Pemberian Pelayanan  : Meningkatkan kerjasama dan penguatan jejaring penelitian dan  
                                                        pengembangan antar instansi

2. Jenis Pelayanan                         : Pelayanan Jasa Publik
    Nama Pelayanan                       : Penelitian Mahasiswa D3 dan S1
    Tempat Pemberian Pelayanan : Kantor LRMPHP
    Tujuan Pemberian Pelayanan  : Meningkatkan kerjasama dan penguatan jejaring penelitian dan     
                                                        pengembangan antar instansi

Sampai dengan Bulan Maret Tahun 2021 terdapat 8 mahasiswa magang dan penelitian di kantor LRMPHP. Berdasarkan evaluasi hasil survei kepuasan masyarakat diperoleh nilai SKM adalah 4,76. Nilai tersebut menunjukkan bahwa secara umum mutu pelayanan kegiatan magang dan penelitian di LRMPHP tergolong dalam kategori nilai puas sampai sangat puas. Berdasarkan data survei responden Tahun 2021 terdapat beberapa catatan terkait aspek tingkat kejelasan dan alur prosedur pelayanan yang mendapatkan nilai terendah sebesar 4,5. sehingga perlu adanya inovasi pelayanan. Oleh karena itu, LRMPHP akan membuat inovasi layanan untuk mempermudah dan memperjelas alur layanan.

Sabtu, 06 Maret 2021

Introduksi Teknologi ALPINDEL di Pacitan

Introduksi ALPINDEL di Pacitan

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), salah satu UPT di Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) melaksanakan kegiatan introduksi dan pengenalan teknologi ALPINDEL. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi LRMPHP – BRSDM KP dengan Dinas Perikanan Kabupaten Pacitan dan dilaksanakan pada tanggal 4-5 Maret 2021 di Pacitan.

ALPINDEL merupakan akronim dari Alat Pengisi Adonan dengan Sistem Handel. Alat ini merupakan inovasi dari Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan yang diaplikasikan untuk pengisian adonan fish jelly product (produk daging ikan lumat), seperti tahu tuna, sosis, dan lain sebagainya.

Sekretaris Dinas Perikanan kabupaten Pacitan, Ir. Tri Wahyuning, dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada LRMPHP - BRSDM KP karena memiliki kepedulian dan perhatian dengan UKM/pelaku usaha pengolahan produk fish jelly di Pacitan. Beliau berharap dengan adanya alat ini, produktivitas pelaku usaha akan lebih meningkat.

Ketua Kelompok Peneliti LRMPHP, Ibu Putri Wullandari, STP, M.Sc menyatakan bahwa kegiatan introduksi ini dimaksudkan untuk mengenalkan teknologi yang telah dirancang dan diujicoba oleh LRMPHP pada uji terap skala terbatas, dengan harapan mendapatkan masukan dari pengguna sehingga dapat ditingkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT)-nya dan dapat diuji terap lebih lanjut pada skala luas sehingga pada akhirnya dapat dimassalkan.

UKM Peni dan UKM Sabrina sebagai pelaku usaha yang menjadi target sasaran kegiatan ini sangat senang dengan adanya kegiatan introduksi teknologi ini. Pelaksanaan pengisian adonan dapat berlangsung lebih cepat, dan mengurangi tahapan yang bersifat manual. Dari sisi teknologi, pada ALPINDEL bisa dilakukan pengaturan posisi handel, pegas dan ketinggiannya sesuai dengan postur tubuh operator.

Untuk produk tahu tuna kecepatan pengisian 1.35-1.46 detik per tahu, proses pengisian lebih higienis karena material alat menggunakan stainless steel tipe SS 304, dan volume adonan yang diisikan lebih seragam sehingga nilai gizi yang diklaim atau dinyatakan pada kemasan adalah benar.


Rabu, 03 Maret 2021

Mengenal Hot Press Molding Machine : Alat Pembuat Kemasan Bioplastik dari Karagenan

LRMPHP telah mengembangkan bioplastik dari karagenan sebagai alternatif pengganti plastik yang mempunyai kelemahan yaitu sifatnya yang tidak tahan panas, mudah robek, dapat menyebabkan kontaminasi melalui transmisi monomernya ke bahan yang dikemas serta tidak dapat dihancurkan secara alami (non-biodegradable) sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan baik di daratan maupun di lautan (marine debris). Bioplastik dibuat dari tepung karagenan dan plasticizer menggunakan beberapa peralatan yaitu mixer yang berfungsi untuk mencampur campuran bahan berupa tepung karagenan dan plasticizer; ekstruder yang berfungsi untuk memproses campuran bahan tersebut dengan suhu dan kecepatan yang dapat diatur untuk menghasilkan ekstrudat yang homogen; dan pelletizer yang berfungsi memotong ekstrudat tersebut menjadi ukuran pellet yang ditentukan. Salah satu alat yang menjadi kunci adalah hot press molding machine, yang berfungsi untuk mengepres dan mencetak pellet bioplastik tersebut dengan suhu maksimal 250°C dan tekanan maksimal 4 bar sehingga menjadi kemasan bioplastik, seperti cup atau mangkuk.

Menurut Atikah, Hazwani, Faizin, Farhan dan Syahirah dalam Second Integrated Design Project Conference (IDPC) 2015, compression molding merupakan proses pencetakan yang paling lama dan paling banyak digunakan untuk membentuk plastik. Dalam penerapannya melibatkan berbagai jenis material komposit.

Robert A. Tatara dalam in Applied Plastics Engineering Handbook (Second Edition), 2017 mengemukakan bahwa compression molding (compression molding) melibatkan penempatan polimer pada cetakan logam yang dipanaskan, dan karena pemanasan melembutkan bahan, maka bahan tersebut dipaksa untuk menyesuaikan dengan bentuk cetakan saat cetakan menutup.

Gambar 1. Hot press molding machine

Sumber : Second Integrated Design Project Conference (IDPC) 2015

Mesin compression molding biasanya disebut sebagai penekanan kompresi. Mereka utamanya menggunakan prinsip hidrolik atau, dalam penggunaan terbatas, pneumatik. Salah satu dari sistem ini dapat menggunakan straight lockup system atau toggle lockup system. Sistem press ini bisa bersifat down – acting atau up – acting. Tipe down – acting digunakan untuk tekanan kompresi yang sepenuhnya otomatis sehingga setengah cetakan bawah berada pada ketinggian tetap agar sejajar dengan material feeder dan cetakan produk.

Gambar 2. Diagram proses compression molding untuk polimer

Sumber : Applied Plastics Engineering Handbook (Second Edition), 2017

Compression molding banyak digunakan untuk memproses polimer termoplastik dan termoset serta membutuhkan pemanasan bahan mentah (dalam bentuk bubuk atau pellet) dalam cetakan. Tekanan diterapkan dalam compression molding dan harus dipertahankan selama pendinginan. Untuk compression molding, jumlah polimer dan aditif yang sesuai kemudian dicampur dan dimuat secara menyeluruh antara bagian atas dan bawah cetakan. Kedua bagian dipanaskan dan hanya satu bisa dipindahkan. Setelah cetakan ditutup, panas dan tekanan diterapkan. Saat polimer masuk, cetakannya meleleh dan mengalir ke seluruh ruang rongga cetakan. Setelah waktu yang ditentukan sebelumnya, cetakan didinginkan dan dibuka untuk mengeluarkan produk dengan bentuk yang diinginkan. Keuntungan utama dari compression molding adalah biaya produksi yang rendah karena kesederhanaan proses sehingga cocok digunakan pada industri rumah tangga.


Penulis : Putri Wullandari - Peneliti LRMPHP






 

Selasa, 02 Maret 2021

Sosialisasi dan Internalisasi WBS di LRMPHP

Kepala LRMPHP, Luthfi Assadad mensosialisasikan dan internalisasikan materi terkait whistleblower system (WBS) kepada seluruh pegawai LRMPHP yang hadir pada kegiatan apel pagi tanggal 1 Maret 2021. Kegiatan ini dalam rangka menindaklanjuti rencana penerapan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK/WBBM) di Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan Bantul.

Istilah whistleblower dalam bahasa inggris diartikan sebagai “peniup peluit”, disebut demikian karena sebagaimana halnya wasit dalam pertandingan sepak bola atau olahraga lainnya yang meniupkan peluit sebagai pengungkapan fakta terjadinya pelanggaran. Istilah “peniup peluit” diartikan sebagai orang yang mengungkap fakta kepada publik mengenai sebuah skandal, bahaya, malpraktek atau korupsi.

Adapun pengertian whistleblower menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2000 adalah orang yang memberi suatu informasi kepada penegak hokum atau komisi mengenai terjadinya suatu tindak pidana korupsi dan bukan pelapor. Adapun istilah pengungkap fakta (whistleblower) dalam UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban tidak memberikan pengertian tentang “pengungkap fakta”, dan berkaitan dengan itu hanya memberikan pengertian tentang saksi. Adapun yang disebut dengan saksi menurut UU No. 13 Tahun 2006 adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan / atau ia alami sendiri.

Di Kementerian  Kelautan dan Perikanan, whistleblower adalah pegawai yang mengetahui dan mengadukan dugaan terjadinya pelanggaran dan/atau kejahatan yang terjadi di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan bukan merupakan bagian dari pelaku pelanggaran dan/atau kejahatan yang diadukannya. Materi yang diadukan diantaranya yaitu : penyalahgunaan wewenang, pelanggaran disiplin pejabat/pegawai, dan/atau tindak pidana KKN.

Adapun beberapa peraturan terkait dangan whistleblower ini di KKP, diantaranya yaitu :

  • Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 31/PERMEN-KP/2013 tentang Pedoman Penanganan Pengaduan Whistleblower dan Pengaduan Masyarakat di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (sudah dicabut).
  • Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 44/PERMEN-KP/2018 tentang Penanganan Pengaduan di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (sudah dicabut).
  • Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/PERMEN-KP/2020 tentang Penanganan Pengaduan di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (terbaru, masih berlaku).

Pengaduan dapat dilakukan melalui aplikasi Whistleblower System (WISE) yang beralamat di http:// whistleblower.kkp.go.id/


Jumat, 26 Februari 2021

Asistensi Pengisian LKE ZI WBK/WBBM di LRMPHP


Dalam rangka pelaksanaan pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani, telah dilaksanakan asistensi pengisian dokumen Lembar Kerja Evaluasi ZI oleh tim dari Inspektorat 1 - Itjen KKP pada tanggal 23-25 Februari 2021. Tim Itjen terdiri dari Plt Inspektur 1 Bapak Ir. Suparyanto, MM dan Bapak Uriantho Halimawan (auditor). Pelaksanaan asistensi ini terdiri dari 3 tahapan, yaitu pengarahan dari Bapak Suparyanto pada tanggal 23 Februari 2021, yang dilanjutkan dengan proses penyelesaian penyusunan kelengkapan dokumen mulai tanggal 23-25 Februari 2021, dan penilaian mandiri dokumen pada hari Kamis tanggal 25 Februari 2021.

Sejauh ini, masih banyak dokumen yang perlu dilengkapi dan dibenahi oleh tim LRMPHP. Namun demikian, pelaksanaan asistensi dapat memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap LKE penilaian ZI yang ada.





SOSIALISASI SOP PELAYANAN MAGANG DAN PENELITIAN



Pada tanggal 25 Februari 2021, bertempat di Ruang Aula Lt 2 Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, dilaksanakan Kegiatan Sosialisasi Standar Operasional Prosedur Pelayanan Magang dan Penelitian di LRMPHP. Sosialisasi ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat khususnya kegiatan Magang dan Penelitian. Pengertian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) menurut adalah serangkaian instruksi tertulis yang dibakukan dan didokumentasikan dari aktivitas rutin dan berulang yang dilakukan oleh suatu organisasi. SOP dibuat untuk menghindari terjadinya variasi dalam proses pelaksanaan kegiatan oleh pegawai yang akan menghambat kinerja organisasi secara keseluruhan. Pedoman dalam penyusunan SOP sebagai acuan bagi satuan kerja di lingkungan LRMPHP dalam melaksanakan pelayanan Magang dan Penelitian. Ruang lingkup SOP meliputi berbagai prosedur pelaksanaan kegiatan tugas dan fungsi atau prosedur pemberian layanan Magang dan Penelitian baik untuk internal petugas pelayanan di lingkungan LRMPHP maupun eksternal kepada masyarakat khususnya siswa dan mahasiswa sebagai pengguna layanan.

Rabu, 24 Februari 2021

Pengujian Alat Pengisi Adonan Produk Fish Jelly Sistem Handel (ALPINDEL) oleh Poklahsar

Pengujian ALPINDEL oleh poklahsar di Gunung Kidul

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan Bantul telah mengembangkan model alat pengisi adonan fish jelly dengan sistem handel (ALPINDEL). Prinsip kerja alat ini adalah adonan ditekan menggunakan silinder pipih (nozzle silinder) sebagai pendorong untuk mengeluarkan adonan melalui outlet pada tabung adonan. Beberapa komponen yang digunakan adalah tuas pendorong, tabung adonan, outlet, pedal pembalik, dan meja. ALPINDEL rancang bangun LRMPHP ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi dan mutu produk akhir yang dihasilkan.

Salah satu lokasi demo dan pengujian alat pengisi adonan produk fish jelly rancang bangun LRMPHP dilakukan di Poklahsar Mentari Dusun Wonosobo I, Desa Banjarejo, Kec. Tunjungsari, Kab. Gunung Kidul. Kegiatan ini bertujuan untuk memperolah data dan informasi terkait dengan pengolahan produk fish jelly serta memperoleh masukan tentang alat pengisi adonan fish jelly seperti ergonomika dan antropometri.

Poklahsar Mentari sudah berdiri sejak tahun 2001 dengan hasil olahan ikan dalam bentuk beku (tahu bakso ikan, bakso ikan, nugget ikan), snack (kerupuk rumput laut, wader krispi) dan beberapa produk olahan perikanan lainnya. Peralatan pengolahan yang dimiliki Poklahsar  Mentari sudah cukup lengkap, namun alat yang digunakan untuk pengisian adonan produk fish jelly masih manual menggunakan sendok. Proses pengisian tersebut menyebabkan volume isian adonan tahu tidak seragam, memakan waktu yang lebih lama dan adonan terpapar udara luar lebih lama. 

Pada demo dan pengujian ALPINDEL oleh poklahsar menunjukkan bahwa secara umum peralatan dapat membantu dan mempermudah dalam pengisian adonan produk fish jelly. Kendala yang dialami saat uji coba diantaranya pada saat proses menekan adonan masih agak berat terutama di bagian akhir pengisian adonan dan melepas pendorong atau piston alat pengisi adonan. Pada pengukuran ergonomika menunjukkan bahwa ketinggian tempat duduk dan meja pengisian sudah sesuai, hanya saja ketinggian handel diharapkan bisa diatur sehingga dapat menyesuaikan dengan tinggi pengguna. Masukan dan saran dari poklahsar tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai data dukung dalam perbaikan alat pengisi adonan fish jelly sistem handel rancang bangun LRMPHP, sehingga dapat meningkatkan proses produksi.

ALPINDEL hasil rancang bangun LRMPHP



Jumat, 19 Februari 2021

LRMPHP siap menerapkan Zona Integritas


Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, siap menerapkan Zona Integritas menuju satuan kerja berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani. Momentum ini ditandai dengan penandatanganan dokumen pakta integritas oleh seluruh pegawai LRMPHP pada hari Jumat tanggal 19 Januari 2021, usai pelaksanaan senam bersama yang dilaksanakan di workshop Utamakan Keselamatan Kerja LRMPHP.





Penandatanganan dilaksanakan oleh seluruh pegawai, baik PNS dan PPNPN dengan disaksikan oleh Kepala LRMPHP. Dalam arahan dan sambutannya, Kepala LRMPHP meminta agar seluruh pegawai dapat terlibat dan berperan aktif dalam proses pembangunan ZI menuju WBK/WBBM pada LRMPHP, karena kegiatan ini memandatkan seluruh elemen kantor terlibat secara langsung.

Kamis, 18 Februari 2021

Apresiasi Pegawai Berprestasi di LRMPHP Tahun 2020

Dalam rangkaian kegiatan pembahasan rencana kerja kegiatan LRMPHP tahun 2021 pada 17 Februari 2021, pegawai berprestasi lingkup LRMPHP tahun 2020 mendapatkan penghargaan dari Kepala LRMPHP. Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas capaian kinerja selama tahun 2020. Kepala LRMPHP, Luthfi Assadad berharap penghargaan ini menjadi pemacu semangat seluruh pegawai LRMPHP untuk berprestasi lebih baik lagi di masa mendatang.

Penghargaan kepada pegawai berprestasi diberikan baik perseorangan maupun tim berdasarkan penilaian capaian kinerja pada tahun 2020. Untuk perseorangan, kriteria capaian kinerja ini dilihat dari jumlah publikasi karya tulis ilmiah/KTI dan penghargaan dari lingkup eksternal, sedangkan untuk tim berdasarkan capaian kinerja anggaran tahun 2020 baik kegiatan riset maupun manajerial.

Berdasarkan kriteria tersebut, penghargaan perseorangan diberikan kepada Wahyu Tri Handoyo dengan capaian KTI terbit sebanyak 6 buah, 4 diantaranya jurnal dan 2 prosiding. Sedangkan penghargaan pegawai dengan kriteria atas penghargaan yang diperoleh dari lingkup eksternal diberikan kepada Bakti Berlyanto Sedayu dan Putri Wullandari. Bakti Berlyanto Sedayu menjadi best presenter pada The 6th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco Development (ICTCRED) 2020 dan Putri Wullandari meraih best presenter pada 4th International Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy (ICGAB) 2020.

Sementara itu penghargaan untuk tim berdasarkan capaian kinerja anggaran tahun 2020 diberikan kepada tim kegiatan riset Uji Terap Skala Terbatas Mini Chilling Storage (MCS) dengan koordinator Arif Rahman Hakim, sedangkan untuk manajerial diberikan kepada tim Tata Usaha dengan koordinator Afris Syahada. Realisasi anggaran untuk Tim riset MCS ini mencapai 99,55 %, sedangkan tim Tata Usaha 94,09 %. 




Penghargaan kepada pegawai berprestasi tahun 2020 


Rabu, 17 Februari 2021

PEMBAHASAN RENCANA KERJA KEGIATAN RISET LRMPHP TAHUN 2021

Pembahasan rencana kerja kegiatan riset LRMPHP 2021

Pelaksanaan pembahasan rencana kerja kegiatan riset LRMPHP tahun 2021 diselenggarakan secara luring di Ruang Aula LRMPHP dan daring melalui aplikasi zoom pada 17 Februari 2021. Kegiatan pembahasan dalam rangka penajaman rencana kerja ini dihadiri oleh Kepala LRMPHP, Luthfi Assadad, Kepala Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) Yayan Hikmayani beserta tim, evaluator/pembahas kegiatan baik internal maupun eksternal KKP, Perwakilan Politeknik AUP Jakarta dan KP Karawang sebagai mitra LRMPHP serta seluruh pegawai LRMPHP. 

Dalam sambutannya, Kepala LRMPHP menyampaikan bahwa  rencana kerja kegiatan LRMPHP tahun 2021 meliputi kegiatan riset dan manajerial. Tahun 2021 ini, LRMPHP mendapat mandat untuk melaksanakan 5 kegiatan riset dengan output prototipe alsin hasil riset perikanan dan  produk rekayasa alsin perikanan siap guna, serta 3 kegiatan manajerial yaitu pelayanan teknis, tata operasional dan tata usaha. Kepala LRMPHP berharap mendapat masukan dan arahan dari Puriskan serta para evaluator agar rencana kegiatan yang sudah disusun memenuhi standar dan kaidah ilmiah.

Sementara itu, Kepala Puriskan dalam arahannya menyampaikan agar LRMPHP ikut mendukung program prioritas KKP yang sedang berjalan hingga tahun 2024. “Judul-judul kegiatan  yang sudah dibuat harus sudah mengarah pada kebutuhan stakeholder baik lingkup KKP maupun lainnya seperti pemerintah daerah dan pelaku usaha kelautan dan perikanan, "tuturnya. Pada Kesempatan ini, Kapuriskan juga mengapresiasi capaian output yang sudah dihasilkan LRMPHP pada tahun 2021 dan diharapkan dapat ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.

Pembukaan kegiatan pembahasan rencana kerja LRMPHP oleh Kapuriskan

Pada pembahasan rencana kerja kegiatan riset dengan output prototipe alsin hasil riset perikanan, terdiri 2 judul riset yaitu Desain dan Rancangbangun Alat Pengidentifikasi Cepat Jenis dan Asal Ikan, serta Desain dan Rancangbangun Aerator Tipe Kincir Terkontrol Untuk Kolam Ikan Budidaya Intensif. Sedangkan pada output produk rekayasa alsin perikanan siap guna terdiri 3 judul riset yaitu Rancangbangun dan Uji Kinerja Alat Transportasi Ikan Hidup Sistem Basah untuk Menjamin Komoditas Berkualitas Prima, Rancangbangun dan Uji Kinerja Mesin Penghasil Bioplastik Ramah Lingkungan untuk Jaminan Produk Berkualitas Prima, dan Rancangbangun, Introduksi dan Uji Terap skala Terbatas Alat Pengisi Adonan Produk Fish Jelly Semi Otomatis. 

Pemaparan rencana kerja diawali Riset Rancangbangun Aerator Tipe Kincir Terkontrol Untuk Kolam Ikan Budidaya Intensif yang disampaikan oleh Arif Rahman Hakim dengan evaluator Agung Setiarto dari Perum Perindo, selanjutnya Introduksi dan Uji Terap skala Terbatas Alat Pengisi Adonan Produk Fish Jelly Semi Otomatis oleh I Made Susi Erawan dengan evaluator Umi Hanifah dari LIPI Subang. Pada riset Rancangbangun dan Uji Kinerja Alat Transportasi Ikan Hidup Sistem Basah untuk Menjamin Komoditas Berkualitas Prima dipaparkan oleh Tri Nugroho Widianto dengan evaluator Dadan Hidayat dari BPTPB DIY, sedangkan riset Desain dan Rancangbangun Alat Pengidentifikasi Cepat Jenis dan Asal Ikan oleh bakti Berlyanto Sedayu dengan evaluator Hanung Adi Nugroho dari UGM. Paparan terakhir tentang riset Rancangbangun dan Uji Kinerja Mesin Penghasil Bioplastik Ramah Lingkungan untuk Jaminan Produk Berkualitas Prima disampaikan oleh Putri Wullandari dengan evaluator Akbar Hanif Dawam dari LIPI Bandung.

Paparan rencana kerja salah satu judul kegiatan riset LRMPHP 2021


Kamis, 11 Februari 2021

Sosialisasi Persiapan Pembangunan ZI dan Pengisian LKE ZI WBK


Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan mengikuti pertemuan dalam rangka persiapan pembangunan ZI menuju WBK/WBBM dan sosialisasi pengisian Lembar Kerja Evaluasi (LKE) untuk pemenuhan dokumen kelengkapan untuk penilaian satuan kerja yang dibangun Zona Integritas menuju Wilayah Bebas (dari) Korupsi. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sekretariat BRSDM KP pada tanggal 11 Februari 2021 secara daring, dan diikuti oleh 8 (delapan) UPT yang dibangun ZI-WBK/WBBM pada tahun 2021 ini. Fasilitator pada acara ini adalah Plt. Koordinator Kepegawaian dan Hukum Set BRSDM KP, Bapak Hari Purwanto.

Terdapat 6 komponen pengungkit (proses) dan 2 komponen hasil pada LKE, dimana masing-masing memiliki rincian penilaian dan dokumen yang harus dilengkapi. LKE ini sendiri berpedoman pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 52/2014 jo nomor 10/2019. Dari LRMPHP, pegawai yang mengikuti kegiatan ini diantaranya yaitu Kepala LRMPHP, Koordinator Tata Usaha dan jajaran, Koordinator Tata Operasional dan tim, serta tim dari Pelayanan Teknis.