LRMPHP ber-ZONA INTEGRITAS

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, siap menerapkan Zona Integritas menuju satuan kerja berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 81/2020

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 30 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2020

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 September 2021

KKP Resmi Punya Logo Baru

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meluncurkan logo baru kementerian sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 36 Tahun 2021 tentang Logo Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Penggunaannya. Peluncuran logo baru berlangsung di Gedung Mina Bahari III, Jakarta Pusat pada Jumat (17/9/2021).

"Alhamdulillah, setelah melalui proses panjang dan segala macam sensitivitasnya semua sudah dilalui dan akhirnya hari ini diresmikan logo baru. KKP harus bangkit, KKP harus hebat. Mari bekerja dengan semangat baru dengan logo baru untuk NKRI maju," ujar Menteri Trenggono dalam sambutannya.

Logo baru terdiri dari enam elemen, terdiri dari lambang Garuda Pancasila, matahari terbit, jangkar, trisula, ombak laut, dan infiniti. Filosofi logo baru tersebut sejalan dengan tiga program terobosan KKP periode 2021 - 2024 yang bermuara pada keseimbangan ekologi dan ekonomi.

Meliputi peningkatan PNBP dari sumber daya alam perikanan tangkap untuk peningkatan kesejahteraan neyalan melalui kebijakan penangkapan terukur di setiap Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Kemudian pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan. Serta pembangunan kempung-kampung perikanan budidaya tawar, payau dan laut berbasis kearifan lokal.

Proses perubahan logo menurut Menteri Trenggono mencerminkan inklusivitas sebab melibatkan seluruh tingkatan, dari jajaran pimpinan hingga petugas lapangan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sebelum pergantian logo, Menteri Trenggono lebih dulu menggagas tagline KKP Rebound yang berarti menciptakan semangat kebangkitan, pembenahan tata kelola, dan peningkatan kinerja secara berkesinambungan.

"Logo baru KKP dibuat dengan semangat mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera dan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berdaulat, mandiri, berkepribadian, serta berlandaskan gotong royong sesuai dengan prinsip ekonomi biru," terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal KKP Antam Novambar memaparkan penetapan logo baru melalui berbagai tahapan sejak beberapa bulan lalu. Mulai dari beauty contest yang diikuti seluruh perwakilan eselon I lingkup KKP yang berhasil memperoleh 39 usulan logo.

Selanjutnya dilakukan seleksi oleh tim ahli dan survei yang melibatkan seluruh pegawai KKP baik ASN maupun Non ASN. Sampai akhirnya terpilih satu logo untuk mewakili perubahan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Kita telah melewati sejumlah proses dalam mempersiapkan perubahan logo KKP. Puncaknya adalah pengundangan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 36 Tahun 2021 tentang Logo Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Penggunaannya," terang Antam.

Logo KKP tidak pernah mengalami perubahan besar sejak kementerian ini berdiri pada tahun 1999. Sehingga dengan adanya logo baru, Antam, berharap memberikan identitas baru yang menjadikan KKP sebagai kementerian yang terus bergerak ke arah lebih baik.

"Harapannya juga KKP terus berkembang, mampu mendorong sektor kelautan dan perikanan sebagai prime mover ekonomi bangsa, serta menjadi salah satu pilar dalam mewujudkan kedaulatan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan demi Indonesia yang kuat dan berwibawa," pungkasnya.

Peluncuran logo baru KKP diselenggarakan secara luring dan daring. Diikuti oleh jajaran KKP di kantor Pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di penjuru Indonesia. Dengan resminya peluncuran logo baru, sejumlah logo yang ada di kantor pusat KKP juga sudah berganti. Begitu pun logo-logo yang ada di website maupun aplikasi resmi KKP.


Sumber : kkp


Senin, 13 September 2021

Minapadi : Teknologi masa lalu untuk masa depan

Minapadi Samberembe, Sleman D.I. Yogyakarta 

Penggabungan metode penanaman padi dan ikan bukanlah suatu hal yang baru. Tahun 1957, menurut Ardiwinata pada Prosiding Indo-Pacific Fish keberadaan teknologi penggabungan budidaya padi dan ikan di Indonesia terjadi diawal pertengahan abad ke-19. Diduga awal mula teknik ini dikembangkan di daerah Jawa Barat, daerah pesantren yang memililki santri-santri dari luar daerah. Setelah lulus dari pesantren, selain menjadi guru mereka menjadi pelopor penyebaran teknologi ini di Indonesia. Secara global teknologi ini disematkan menjadi warisan budaya yang penting oleh organisasi pangan dunia (FAO) dan organisasi pendidikan, budaya dunia (UNESCO) pada tahun 2005, karena menurut studi Cai dkk pada tahun 1995 di buku berjudul Rice-Fish Culture in China teknologi ini sudah ada sejak kerajaan Han di Tiongkok.

Selama hampir lima abad teknologi ini telah tercipta, seharusnya telah banyak digunakan oleh petani. Fakta di lapangan di Indonesia pada tahun 2018, sekitar kurang dari 3% petani di Indonesia menggunakan teknologi ini. Pada tahun 2015, dengan berkembangnya teknologi informasi dan dunia memasuki dunia digital, di jagad maya teknologi ini terekspos di Indonesia. Diawali dengan postingan foto di media sosial Facebook, sampai sekarang telah banyak informasi mengenai teknologi minapadi di Youtube.

Hal ini menarik karena ketidaktahuan informasi, keterbatasan penyebaran data mengakibatkan sebuah teknologi yang telah berumur ribuan tahun dapat menjadi viral. Tidak hanya viral karena foto yang bagus dan indah, teknologi ini menjadi sebuah harapan untuk pemenuhan kebutuhan pangan di dunia. Produksi pangan dianggap akan meningkat dengan penggunaan lahan yang efisien karena menggabungkan kegiatan produksi karbohidrat dan produksi protein. Ini menjadi penting karena terjadinya penurunan lahan produksi untuk pangan. Teknologi minapadi juga dianggap ramah lingkungan karena saat budidaya padi penggunaan pupuk dan pestisida dapat berkurang, dan untuk budidaya ikan penggunaan pakan ikan akan hemat. Motivasi terbesar bagi para petani adalah adanya penambahan pendapatan, selain mendapat penghasilan dari penjualan padi juga dari penjualan ikan.


Penulis : Zaenal Arifin Siregar - LRMPHP


Rabu, 08 September 2021

Sharing Session : Peningkatan Imunitas Tubuh dengan Fukoidan dari Sargassum

Pemaparan materi sharing session oleh Iwan Malhani Al Wazzan, S.Pi, M.Sc

Peneliti LRMPHP Bantul, Iwan Malhani Al Wazzan, S.Pi, M.Sc menjadi narasumber pada kegiatan Sharing Session BRSDMTV yang ditayangkan secara live streaming dari studio LRMPHP melalui link https://www.youtube.com/c/BRSDMTV, 8 September 2021. Sharing session ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) sebagai salah satu ajang berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman.  Pada sharing session ini, Iwan Malhani Al Wazzan, S.Pi, M.Sc menyampaikan materi “Peningkatan Imunitas Tubuh dengan Fukoidan dari Sargassum”. 

Dalam paparannya, narasumber menjelaskan salah satu upaya untuk meningkatkan imunitas tubuh dimasa pandemi selain rajin berolahraga, makan makanan bergizi seimbang dan istirahat yang cukup juga diperlukan suplemen tambahan. Salah satu suplemen yang berfungsi sebagai immunomodulator, yaitu zat yang mempunyai kemampuan dalam mengatur sistem imun tubuh, baik yang berefek meningkatkan maupun menekan sistem imun, adalah fukoidan.

Fukoidan merupakan polisakarida yang sebagian besar tersusun oleh rantai fukosa dan gugus sulfat, oleh sebab itu sering disebut juga dengan polisakarida sulfat. Polisakarida ini adalah salah satu penyusun dinding sel pada alga coklat. Salah satu spesies alga coklat yang kelimpahannya cukup banyak di Indonesia dan pemanfaatannya sejauh ini belum optimal yaitu Sargassum sp. Fukoidan Sargassum sp. ini diperoleh dengan cara mengekstraknya. 

Hasil studi menyatakan bahwa fukoidan Sargassum sp. memiliki beberapa aktifitas biologis dan salah satunya adalah immunomodulator. Fukoidan Sargassum sp. mampu meningkatkan respon imun dengan cara mengaktivasi neutrofil, sel NK, mengupregulate produksi sitokin pro-inflamasi (IL-6, IL-8, dan TNF-α) dan menunda apoptosis spontan pada sel-sel tersebut. Fukoidan berinteraksi dengan toll-like receptors(TLRs), yaitu TLR-2 dan TLR-4, yang akan mengaktifasi signaling pathway NF-kB yang menyebabkan peningkatanproduksi sitokin, kemokin, dan ekspresi molekul MHC. NF-kB adalah faktor transkripsi utama yang mengatur gen yang bertanggung jawab untuk respon imun bawaan dan adaptif. 

Secara umum, fukoidan mempercepat proses penyingkiran patogen dengan mengaktivasi sel natural killer (NK), menstimulasi faktor-faktor antiviral inang, dan membantu produksi sel dendritik. Fukoidan juga mampu menunda apoptosis spontan pada sel-sel pertahanan tubuh sehingga mampu “memperpanjang umur” sel-sel tersebut sehingga tubuh selalu dalam keadaan siap ketika terjadi infeksi. Seperti inilah mekanisme immunomodulator yang dilakukan oleh fukoidan.  

Kemampuan fukoidan dalam mediasi sel yang kuat dan kemampuan meningkatkan respons imun yang baik sebenarnya sangat menjanjikan menjadikan fukoidan memiliki potensi digunakan sebagai adjuvan dalam pengembangan vaksin. Adjuvan merupakan sebuah substansi bioaktif, yang dapat membantu meningkatkan respons imun bersamaan dengan antigen yang terkandung dalam vaksin. Polisakarida sulfat memiliki efek yang menjanjikan dalam meningkatkan respons imun antigen-specific dan meningkatkan imunitas inang dengan sifatnya yang non-toksik, non-mutagenik, biodegradable, dan biocompatible. Fukoidan juga dapat dimanfaatkan untuk membantu terapi tukak lambung, ulcerative colitis dan infeksi H. pylori. Bioaktifitas fukoidan yang lain yaitu anti oksidan, antiinflamasi, antiviral, antitumor dan antikoagulan. 

Fukoidan telah tersedia di pasaran sebagai suplemen yang dijual bebas, akan tetapi bukan dari jenis Sargassum sp. melainkan dari spesies Laminaria japonica. Proses ekstraksi yang rumit lama dan mahal menyebabkan harga jual suplemen ini juga relatif mahal sehingga hanya digunakan oleh kelas masyarakat tertentu saja. Potensi fukoidan yang demikian besar, hanya bisa termanfaatkan secara luas jika didorong dengan studi mengenai ekstraksi yang mudah dan murah serta pemanfaatan bahan baku yang melimpah di Indonesia seperti Sargassum sp.


Minggu, 05 September 2021

Neptune TV KKP Kini Hadir di IndiHome TV

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperluas jangkauan penonton Neptune TV yang berisi video-video literasi dan sosialisasi kebijakan di bidang kelautan dan perikanan. Bila sebelumnya hadir di aplikasi video MAXStream, Neptune TV kini dapat disaksikan pada layanan IndiHome TV.

"Setelah beberapa bulan lalu hadir di aplikasi MAXStream, kami siap membawa konten yang ada di Neptune TV ke level berikutnya yakni layar kaca dengan jangkauan audiens lebih luas dan besar," ujar Asisten Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Media dan Komunikasi Publik, Doni Ismanto di Jakarta, Sabtu (4/9/2021).

Konten-konten Neptune TV dapat disaksikan dalam dua layanan, yaitu di channel in-house IndiHome (channel utama penayangan di Ruang Trampil dan terdapat pula di UseePhoto dan UseePrime), dan Video on Demand (VOD). Keduanya dapat disaksikan di IPTV IndiHome TV ataupun melalui Over The Top (OTT) IndiHome TV yaitu Website useetv.com dan aplikasi UseeTVGo. 

Konten Neptune TV tayang perdana di Channel Ruang Trampil pada Sabtu 4 September 2021 pukul 19.30 WIB. Webseries Intuisi episode 1 dan dokumenter Recirculating Aquaculture System (RAS) Menuju Perikanan Budidaya Berkelanjutan menjadi pembuka konten-konten Neptune TV selanjutnya. Sesuai jadwal, konten Neptune TV akan tayang setiap Senin - Jumat pukul 12.30 WIB dan setiap Sabtu - Minggu pukul 19.30 WIB. 

Doni menambahkan, kehadiran Neptune TV di kanal layanan IndiHome tentunya sangat dinantikan sebab penyebaran informasi mengenai sektor kelautan dan perikanan dapat lebih masif tersampaikan ke masyarakat. Dengan demikian, dia berharap literasi dan kecintaan masyarakat pada sektor kelautan dan perikanan semakin tinggi. 

Selain itu, hadirnya Neptune TV di layanan IndiHome akan memudahkan masyarakat dalam mengawasi program dan kebijakan yang dijalankan kementerian yang dinakhodai oleh Sakti Wahyu Trenggono tersebut. 

"IndiHome memiliki 8,3 juta pengguna dengan dominasi rumah tangga yang akses konten melalui TV atau tablet dan smartphone tentu merupakan audiens yang layak menikmati Neptune TV dengan materi seputar kelautan dan perikanan," pungkas Doni. 

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal KKP Antam Novambar pada saat merilis kolaborasi tayangan konten edukasi sektor kelautan dan perikanan di MAXStream pada akhir April 2021 silam mengatakan bahwa upaya kehumasan KKP berkolaborasi memperluas jangkauan audiens adalah bentuk konkret stratejik dalam rangka menyosialisasikan kebijakan, menyebarluaskan pesan atau informasi serta mengedukasi masyarakat mengenai kebijakan hingga program-program kerja KKP kepada masyarakat. 

Sebagai informasi, konten video literasi dan sosialisasi kebijakan Neptune TV juga dapat dinikmati di layanan streaming video OTT MAXStream. Sejak April 2021 hingga saat ini, sudah ada 56 video tentang kelautan dan perikanan yang dapat disaksikan di layanan tersebut.


Sumber : kkp


Kamis, 02 September 2021

Isu Lingkungan dan Keamanan Amonia sebagai Refrigerasi Produk Kelautan dan Perikanan

Refrigeran ramah lingkungan (Sumber: https://www.green-cooling-initiative.org/green-cooling/technology)
Beberapa bulan terakhir kita dibanjiri berita kebakaran hutan, banjir bandang, pelelehan es di kutub dan masih banyak lagi kejadian yang jarang atau bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah ini kebetulan ataukah ini sudah diprediksi? Iya, hal ini sudah diprediksi, kejadian-kejadian tersebut adalah akibat perubahan iklim global. Banyak platform berita Internasional diantaranya Science BBC News (19/08/2021) menurunkan berita “CFC ban bought us time to fight climate change, say scientists”. Theguardian.com/environment/ (19/08/2021) dengan judul “Saving Ozone layer has given humans a chance in climate crisis study”, yang secara jelas mengungkapkan salah satu penyebab perubahan iklim global ialah penggunaan bahan refrigeran salah satunya CFC. Chlorofluorocarbons (CFC) meski sudah dilarang penggunaannya, namun bahan penggantinya berupa Hydrochlorofluorocarbons (HCFC) dan Hydrofluorocarbons (HFC) tetap memberikan dampak buruk pada lingkungan karena nilai ODP (Ozone Depletion Potential) maupun GWP (Global Warming Potential) yang tinggi. Material-material tersebut secara umum digunakan sebagai bahan utama refrigeran dalam sistem pendinginan. 

Di bidang perikanan terutama teknologi pasca-panen, penggunaan refrigeran menjadi bagian tidak terpisahkan dari teknologi pendinginan. Refrigeran adalah fluida yang digunakan dalam sistem refrigerasi kompresi uap dan berfungsi membawa panas dari suatu bahan atau ruang agar menjadi dingin lalu dilepaskan ke atmosfir. Selama proses perpindahan panas, refrigeran berulang kali diubah menjadi uap ketika menyerap panas dan menjadi cair ketika melepaskan panas ke atmosfir.    

Semua bahan refrigeran sintesis berkontribusi terhadap perubahan iklim, sebagian dengan GWP ribuan kali lebih tinggi dibandingkan CO2. Para ilmuwan menawarkan solusi yang bisa digunakan diantaranya mengganti refrigeran sintesis dengan bahan yang lebih alami (natural refrigerant) yaitu bahan-bahan yang secara alami baik siklus kimia maupun biologis terproses di alam. Saat ini, menurut Abas et al. dalam reviewnya berjudul “Natural and synthetic refrigerants, global warming: A review” yang dimuat pada Jurnal Renewable and Sustainable Energy Reviews tahun 2018, natural refrigerant yang secara luas sudah diaplikasikan pada sistem pendingin kompresi uap saat ini antara lain adalah amonia. 

Amonia (simbol kimia NH3, nama komersial R717) adalah material berbentuk gas pada tekanan atmosfir dan merupakan bahan yang ideal sebagai refrigeran dengan sifat ramah lingkungan karena memiliki nilai 0 untuk ozone depletion potential (ODP) dan global warming potential (GWP). Amonia cukup terkenal dimasyarakat sebagai bahan pembersih rumah tangga, pupuk dan produk lain. Amonia juga dikenal memiliki karakter khas yaitu bau yang menyengat. Dalam klasifikasi keamanan, amonia termsuk golongan B2 yang diartikan memiliki toksisitas yang tinggi dan resiko kebakaran tingkat sedang. Amonia kompatibel dengan beberapa zat pelumas lain dalam sistem pendingin, tetapi tidak semua. Terutama, amonia tidak cocok untuk digunakan bersama dengan pelumas polyolester (POE) dan polyvinyl ether (PVE), dan hanya memiliki aplikasi terbatas dengan pelumas polyalkylene glycol (PAG). Hal ini diungkap oleh Lommers, tahun 2003 pada artikel “Air Conditioning and Refrigeration Industry Refrigerant Selection Guide; AIRAH”.

Menurut Lindborg dalam paparan presentasi berjudul “Evaluating progress towards developing safe, cost-effective ammonia cooling systems” pada seminar Alternative Cooling Technologies conference presentation, London, 1 February, 2005, menjelaskan amonia adalah satu-satunya refrigeran yang memiliki bau khas yang kuat. Ketika disebutkan amonia, seringkali ada reaksi negatif dengan pendapat yang menyatakan bahwa itu berbahaya, beracun dan mudah meledak serta memiliki bau yang tidak sedap, padahal bau dari amonia justru bisa menjadi sebuah keunggulan karena kebocoran kecilpun akan segera ditemukan dan kemudian bisa diperbaiki. Sedangkan sifat lain amonia sebagai refrigeran dibandingkan bahan lainnya terangkum pada Tabel 1. Dimana secara termodinamika dan lingkungan amonia lebih unggul. 

Lebih lanjut Linborg, mengatakan bahwa disebutkan amonia merupakan senyawa toksik, sebenarnya dalam jumlah kecil amonia juga akan ditemui pada hal-hal umum sehari hari. Segelas air minum mengandung 1 mg amonia, 200 g daging sapi panggang mengandung 13 mg amonia dan beberapa bahan tambahan makanan yang mengadung kurang lebih 18 mg amonia. Bahkan asap rokok dan uadara yang kita hirup pun terdapat kandungan amonia. Hal ini menggambarkan, sesungguhnya tubuh manusia bisa mengatasi paparan amonia dalam jumlah kecil. Pada data sheet keamanan amonia-anhydrous terbitan A-Gas Australia, tahun 2005, secara umum kandungan 20 ppm dalam atmosphere dan tidak membahayakan, lebih dari 50 ppm akan menghasilkan bau yang tajam, terpapar amonia 700 ppm menyebabkan kulit terbakar dan kerusakan mata, bila terkena dalam jumlah 5000 ppm atau lebih menyebabkan kematian hanya dalam waktu 5 menit. Jadi amonia hanya akan sangat membahayakan bisa terkena ke tubuh dalam jumlah yang sangat besar. 

Selama bertahun-tahun amonia menjadi pilihan utama oleh industri besar sebagai refrigeran baik proses pendinginan maupun penyimpanan beku. Dalam beberapa tahun terakhir, fokus penggunaan amonia semakin luas yaitu aplikasi untuk sistem pendingin skala kecil. Alasan utama dari hambatan penerapaan amonia untuk sistem pendingin skala kecil adalah biaya awal instalasi yang diperkirakan hampir mencapai 250% dibandingkan refrigeran fluorocarbon umumnya. Namun demikian, sistem pendingin berbasis amonia lebih efisien yang menghasilkan penghematan dalam biaya operasional. Hal ini diungkapkan oleh Mundie dalam presentasi di Alternative Cooling Technologies conference presentation, London, February 1, 2005. Dengan judul “Exploring the extent to which ammonia is viable as a widespread commercial alternative to HFCs”. 

Amonia merupakan alternative yang sangat efisien dibandingkan dengan refrigeran jenis fluorocarbon terutama untuk bidang aplikasi industri pendinginan. Selain itu sifat lingkungannya juga sangat menguntungkan. Kekhawatiran memang ada, terkait penggunaan amonia yang aman karena sifat toksisitas dan sifat mudah terbakarnya. Namun, menurut Claire, H et al. Department of Environment and Water Resources. Dalam artikelnya berjudul “Natural Refrigerant Case Studies. Australian Institute of Refrigeration, Air Conditioning and Heating” tahun 2005, banyak kemajuan telah dibuat dalam beberapa tahun terakhir untuk meminimalkan risiko tersebut, termasuk menggunakan amonia bersama dengan pendingin lain untuk mengurangi dan mengisolasi muatan amonia, dan penggunaan peralatan yang semakin canggih untuk mengatasi sisi negatif dari amonia.

Teknologi pasca-panen perikanan yang berkelanjutan harus memperhatikan aspek lingkungan disamping aspek ekonomi. Kedepan saat regulasi pemerintah terhadap HFC akan semakin ketat dan ini akan memacu teknologi-teknologi baru dalam penggunaan amonia sebagai refrigeran alami. Jika digunakan dengan benar, amonia tidak hanya memiliki tingkat keamanan yang baik tetapi juga memberikan keuntungan yang tinggi. Oleh karena itu bidang perikanan juga harus berkontribusi dalam menghambat laju perubahan iklim dan itu bisa dimulai dengan menggunakan refrigeran amonia dalam sistem pendinginan pada semua skala.


Penulis : Arif Rahman Hakim - LRMPHP


Senin, 30 Agustus 2021

Wisata MINAPADI, Destinasi Wisata Baru Indonesia

 Apa itu minapadi ?

Minapadi terdiri dari dua kata yaitu mina dan padi. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa mina diambil dari arti kata ikan dan padi merupakan tumbuhan yang menghasilkan beras. Secara sederhana minapadi merupakan teknologi penggabungan budidaya padi dan ikan. Di Indonesia teknologi ini berawal ketika sawah para petani telah dipanen, waktu menunggu penanaman padi berikutnya digunakan untuk memelihara ikan di lahan sawah mereka. Seiring dengan perkembangan ilmu pentgetahuan para petani, proses pemeliharaan ikan dari yang pertama terpisah dengan penanaman padi, mulai berkembang menjadi proses pemeliharaan ikan seiring dengan penanaman padi.

Dalam buku Dari Lereng Merapi Menyentuh Dunia tahun 2020, Frans Hero Making menyebutkan bahwa teknologi minapadi yang sering digunakan petani pada saat ini adalah teknologi minapadi kolam dalam (MinKoDal), dan minapadi jajar lego dowo (minapadi jajar legowo). Kedua teknologi ini melakukan kegiatan budidaya ikan dan padi secara bersamaan. Keduanya memiliki kolam di lahan sawah yang digunakan sebagai tempat budidaya ikan. Hal yang membedakan adalah posisi dan jarak penanaman padi di lahan seperti terlihat pada Gambar 1. Pada MinKoDal padi ditanam dengan jarak yang biasanya dilakukan, sedangkan pada jajar legowo tanaman padi dirapatkan untuk menambah kuantitas padi yang ditanam dan jalan untuk ikan bergerak. 

Gambar 1. Perbandingan jarak padi MinKodal (a) dengan Jajar Legowo(b) 

Apa minapadi sustainability ?

Pada tahun 2020 Siregar dkk dalam tulisan yang diterbitkan di E3S Web of Conferences menuturkan terdapat sebuah kontradiksi mengenai minapadi. Hal tersebut ialah teknologi yang menguntungkan petani secara ekonomi, lingkungan yang akan terjaga dari pencemaran pupuk dan pestisida tetapi penggunaan teknologi ini masih rendah khususnya di Indonesia. Selain kurangnya informasi yang didapatkan mengenai teknologi minapadi ini terdapat kendala yang menyebabkan petani belum mengadopsi teknologi ini. Adapula studi yang membahas petani yang berhenti menggunakan teknologi ini karena kendala yang dihadapi seperti faktor alam, dan faktor ekonomi. Faktor alam yang dihadapi berupa rubuhnya kolam yang dibuat, dan juga hama. Faktor ekonomi yang dihadapi lebih pada modal yang diperlukan untuk membeli bibit dan pangan ikan.

Pada pertemuan dunia tahun 1980-an, telah disepakati keberlanjutan merupakan merupakan kesinambungan antara sektor ekonomi, sosial dan lingkungan. Terlihat pada kasus minapadi di atas terdapat ketidaksinambungan pada faktor ekonomi dan faktor lingkungan. Selain itu juga terdapat potensi ketidaksinambungan pada faktor sosial, hal ini dapat terpicu dari pembagian air di sawah. Dari pelbagai permasalahan minapadi tersebut, minapadi tetap memiliki potensi untuk menghasilkan pangan disaat lahan pertanian berkurang. Untuk itu diperlukan inovasi yang terus dilakukan agar teknologi ini menjadi teknologi keberlanjutan. Inovasi yang telah dilakukan antara lain memperluas core bisnis yang dilakukan oleh petani. Seperti yang dilakukan pengelola minapadi yang ada di Sawah Lega, Sukabumi, Jawa Barat dan Samberembe, Sleman, Yogyakarta. Bila pada minapadi petani menambah budidaya ikan sebagai core bisnis-nya, kedua tempat tersebut menambah wisata sebagai salah satu core bisnis. Wisata dianggap menjadi core bisnis yang ideal, karena penggunaan modal dan tenaga yang efisien sedangkan revenue yang didapat tinggi.


Penulis : Zaenal Arifin Siregar - LRMPHP


Kamis, 26 Agustus 2021

KKP Luncurkan Aplikasi PILAR, Menteri Trenggono: Transformasi Digital untuk Tingkatkan Kualitas Layanan

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meluncurkan aplikasi Pintu Layanan Terpadu atau PILAR sebagai wujud transformasi digital dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat. Peluncuran berlangsung secara luring dan daring di Gedung Mina Bahari IV, Jakarta Pusat, pada Rabu (25/8/2021) sore. 

"Digitalisasi untuk meningkatkan layanan publik adalah langkah yang harus dipilih setiap kementerian dalam meningkatkan kinerja dan kualitas layanan kepada masyarakat," ujar Menteri Trenggono dalam sambutannya. 

Transformasi digital yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan menerapkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik dan mendukung Satu Data Indonesia. 

Menteri Trenggono menjelaskan, pelayanan publik yang prima harus didukung oleh data yang lengkap agar kebijakan yang dirumuskan dan diambil lebih terarah dan tepat sasaran. Data yang dimaksud di antaranya data masyarakat kelautan dan perikanan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, serta sarana dan prasarana yang ada. 

“Pengetahuan sebaran dan profil masyarakat perikanan menjadi penting dalam merumuskan kebijakan. Solusi digital berperan dalam percepatan pendataan dan penguatan kualitas data. Oleh karena itu, salah satu instruksi pertama saya di KKP adalah segera mendata para pelaku usaha beserta sarana usaha yang dimiliki,” ujarnya. 

Peluncuran aplikasi berbasis mobile tersebut menjadi salah satu jawaban kemudahan percepatan dan perluasan jangkauan pendataan yang dimaksud. Masyarakat kelautan dan perikanan dapat melakukan registrasi mandiri dan data terkonfirmasi secara online dengan data DUKCAPIL. 

Data dari aplikasi tersebut memudahkan masyarakat kelautan dan perikanan untuk memiliki Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA). Kartu ini menjadi acuan KKP dalam proses perizinan, penyaluran program bantuan dan pemberdayaan masyarakat, salah satunya dalam penyaluran BBM bersubsidi untuk nelayan. 

Langkah transformasi digital sekaligus untuk mendukung rencana kebijakan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara terukur guna mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekologi dan ekonomi serta keberlanjutan sumber daya perikanan nasional. Kebijakan ini merupakan implementasi model Ekonomi Biru yang ditargetkan menciptakan distribusi pertumbuhan wilayah dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara nasional, serta menjaga kesehatan lingkungan kelautan dan perikanan.

Menteri Trenggono turut memaparkan bahwa sistem kerja administrasi dalam Kementerian Kelautan dan Perikanan juga harus dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, tidak hanya aplikasi PILAR, KKP juga meluncurkan aplikasi dokumen digital untuk kinerja internal yang efisien, transparan dan akuntabel.

“Salah satu faktor penting dalam transformasi digital adalah adanya pengelolaan dokumen, proses pengadaan barang dan jasa, sistem barang persediaan yang terencana secara baik dan transparan, serta pemantauan dan pengawasan kegiatan yang dilaksanakan secara terpadu,”pungkasnya. 

Sebagai informasi, aplikasi dokumen digital yang diluncurkan antara lain e-layar untuk persuratan. Kemudian e-report untuk pengelolaan pengadaan barang/jasa , e-gudang untuk dalam pengelolaan barang persediaan, dan e-dalwas untuk mengelola pelaporan kegiatan. 

Turut hadir dalam acara Ketua Komisi Informasi Pusat, jajaran pejabat tinggi Kementerian PANRB, Badan Pemeriksa Keuangan, KSP dan KKP secara daring dan luring.

 


Sumber : KKP


Selasa, 24 Agustus 2021

Peneliti LRMPHP Ikuti Semnas Himpenindo DIY 2021

Peneliti LRMPHP menikuti Semnas Himpenindo DIY 2021 secara virtual

Peneliti LRMPHP mengikuti seminar nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) D.I Yogyakarta, 24 Agustus 2021. Keikutsertaan dalam seminar ini untuk berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi serta melakukan diskusi dan penyebarluasan  hasil kegiatan penelitian. 

Seminar Nasional Himpenindo dengan tema “Inovasi dan Teknologi pada Masa Pandemi Covid-19” dilaksanakan secara virtual (online) menghadirkan pembicara utama, pembicara undangan dan pemakalah yang berasal dari berbagai institusi di Indonesia. Pembicara utama dalam seminar ini adalah Bapak Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana (Guru Besar FMIPA UGM) sebagai Inventor GeNose Covid-19 dan Bapak Dr. Mego Pinandito, M.Eng: Sekretaris Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Makalah yang dipresentasikan dalam seminar ini meliputi tema yang berkaitan dengan penerapan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan jaminan social, budaya dan ekonomi masyarakat dimasa pandemi Covid-19, penerapan inovasi dan teknologi untuk mendorong kemandirian bangsa dimasa pandemic Covid-19, dampak lingkungan dimasa pandemi Covid-19, serta politik dan kebijakan dalam penanganan pandemik Covid-19. 

Peserta seminar Himpenindo ini diharapkan memperoleh manfaat yang besar dari kegiatan ini, sehingga mampu mewujudkan atmosfer riset yang baik dan budaya riset yang kokoh, berkelanjutan dan berkualitas sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi masa-masa sulit pandemi Covid-19.


Senin, 23 Agustus 2021

MENGUPAS JANTUNG PENDINGIN TEC PADA ALTIS-2

Alat transportasi ikan segar (ALTIS-2) adalah sarana untuk membawa dan mendistribusikan ikan segar untuk pedagang ikan keliling. Alat ini telah dikembangkan oleh Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan pada beberapa tahun sebelumnya. Alat ini dilengkapi dengan pendingin sehingga mampu mempertahankan mutu ikan segar. Pendingin ALTIS menggunakan sistem pendingin termoelektrik (TEC) dengan komponen utama elemen peltier (Gambar 1.)  dengan sumber arus DC. 

Gambar 1. Elemen peltier (Sumber : lairdthermal.com)

Menurut Mansur yang telah melakukan penelitian skripsi pada tahun 2010, pendingin termoelektrik memiliki beberapa kelebihan antara lain ketahanan alat yang baik, tidak menimbulkan suara, tidak adanya bagian mekanikal yang bergerak sehingga tidak menimbulkan getaran. Selain itu pendingin termoelektrik memiliki ukuran yang kecil, ringan, perawatan yang mudah dan ramah lingkungan karena tidak menggunakan refrigerant yang dapat merusak ozon. Termoelektrik juga dapat digunakan pada lingkungan yang sensitif, tidak adanya ketergantungan terhadap posisi peletakan dan ketelitian temperatur kontrol ± 0.1oC dapat dicapai. Sedangkan kelemahan termoelektrik adalah efisiensi yang rendah dan adanya kondensasi pada suhu tertentu. Sehingga sampai saat ini pendingin termoelektrik hanya efektif pada aplikasi untuk objek pendinginan dengan daya yang kecil. 

Prinsip kerja pendingin termoelektrik salah satunya disampaikan oleh Sugiyanto yang disampaikan dalam tulisan skripsinya pada tahun 2008 di Universitas Indonesia. Disampaikan bahwa prinsip kerja pendingin peltier berdasarkan efek peltier yaitu ketika arus DC dialirkan ke elemen peltier yang terdiri dari beberapa pasang sel semikonduktor tipe p (semikonduktor yang mempunyai tingkat energi lebih rendah) dan tipe n (semikonduktor yang mempunyai tingkat energi lebih tinggi), akan mengakibatkan salah satu sisi elemen peltier menjadi dingin (kalor diserap). Sedangkan sisi yang lain akan menjadi panas (kalor dilepas). Sisi elemen peltier yang menjadi panas dan dingin tergantung dari arah aliran listrik yang melaluinya.  Hal yang menyebabkan sisi elemen peltier menjadi dingin adalah mengalirnya elektron dari tingkat energi yang lebih rendah pada semikonduktor tipe p menuju tingkat energi yang lebih tinggi pada semikonduktor tipe n. Supaya elektron tipe p yang mempunyai tingkat energi yang lebih rendah dapat mengalir, maka elektron tersebut menyerap kalor yang  mengakibatkan sisi tersebut menjadi dingin. Sedangkan pelepasan panas ke lingkungan terjadi pada sambungan sisi panas, dimana elektron mengalir dari tingkat energi yang lebih tinggi (semikonduktor tipe n) ke tingkat energi yang lebih rendah (semikonduktor tipe p). Untuk dapat mengalir ke semikonduktor tipe p, kelebihan energi pada tipe n dibuang ke lingkungan sehingga sisi tersebut menjadi panas. Skema aliran panas pada elemen peltier disajikan dalam Gambar 2. 

Gambar 2. Skema aliran panas elemen peltier (Sumber : melcore.com)

Serangkaian pengujian jumlah peltier dan cara penyusunan dalam ALTIS-2 telah dilakukan LRMPHP. Susunan jumlah dan cara penyusunan sangat tergantung dari luasan kabin pembawa ikan, lama transportasi maupun ketersedian sumber energy pada sepeda motor. Pada penggunaan jumlah sistem pendingin yang sama, penyusunan elemen peltier tunggal didapatkan capaian suhu yang lebih rendah, namun membutuhkan energi yang lebih besar. Capaian suhu ruang peti insulasi pada penggunaan dua buah elemen ganda, dua buah elemen tunggal dan empat buah elemen tunggal berturut-turut 18,8, 13,5 dan 8,5 oC. Sedangkan kebutuhan energi masing masing perlakuan sebesar 45, 83 dan 166 Watt. 


Penulis : Tri Nugroho Widianto - LRMPHP





Rabu, 18 Agustus 2021

Serahkan Anugerah Satyalancana, Menteri Trenggono: Lakukan Terobosan dan Inovasi

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono melakukan penyerahan secara simbolis piagam Anugerah Satyalancana dari Presiden Republik Indonesia kepada 1.531 Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). 

Kegiatan penyematan dilakukan setelah Menteri Trenggono mengikuti Upacara Bendera Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 secara virtual dari kantor KKP di Jakarta, Selasa (17/8/2021). 

"Sebagaimana Keputusan Presiden, saya ucapkan selamat kepada Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang hari ini menerima penganugerahan Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan, Satyalancana Wira Karya dan Satyalancana Karya Satya," ucap Menteri Trenggono. 

Anugerah Satyalancana Pembangunan diberikan kepada Sunarwan Asuhadi, seorang Peneliti Muda pada Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan Wakatobi yang berhasil menginisiasi Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota (Wakatobi) Sea Bamboo. 

Sedangkan Satyalancana Wira Karya diberikan kepada lima pegawai yang berhasil berkarya di bidang kelautan dan perikanan, yaitu Jamal Basmal, Peneliti Utama pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. 

Kemudian Ellis Mursitorini, PHPI Muda pada Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan Serang; Hariyano, Perekayasa Madya pada Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon; Sal Sal Purba, Perekayasa Muda pada Balai Perikanan Budidaya Laut Batam; serta Mahmud Efendi, Penyuluh Perikanan Pertama pada Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Tegal. 

Untuk Satyalancana Karya Satya sendiri diberikan kepada perwakilan ASN yang telah mengabdi di KKP dalam kurun waktu 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun yang terus menerus menunjukkan loyalitas, kecakapan, kedisiplinan, kesetiaan kepada negara. 


"Kepada Bapak Ibu penerima Satyalancana hari ini, anda merupakan ujung tombak terdepan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk hadir di tengah-tengah masyarakat kelautan dan perikanan dalam memberikan pelayanan yang terbaik," tegasnya. 

Menteri Trenggono turut mengingatkan seluruh pegawai KKP untuk bekerja optimal, khususnya dalam melaksanakan program prioritas KKP yang bertujuan menjaga keberlanjutan ekologi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menuju ekonomi biru. 

Ketiganya yakni peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya alam perikanan tangkap untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, pengembangan perikanan budidaya untuk meningkatkan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan, serta pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya air tawar, air payau dan air laut berbasis kearifan lokal. 

"Terobosan-terobosan dan inovasi baru perlu diciptakan untuk mendukung pencapaian tiga hal tersebut," pungkasnya.


Sumber : KKP


Jumat, 13 Agustus 2021

APLIKASI BAHAN ALAM ZEOLIT PADA BIDANG PERIKANAN

Zeolit alam (Sumber : https//simpedal.tasikmalayakab.go.id/)

Zeolit merupakan batuan alam yang sangat melimpah keberadaanya di Indonesia. Zeolit tersusun dari unsur aluminina-silikat berhidrat dan terikat dengan beberapa kation diantaranya natrium, kalium dan barium. Zeolit umumnya memiliki struktur atom silikon dikelilingi oleh 4 atom oksigen dan memiliki bentuk struktur yang teratur. Perpaduan komposisi alumunium dan silicon ini menyebabkan zeolit memiliki muatan negatif. Muatan negatif inilah yang dapat dimanfaatkan untuk mengikat kation sehingga dapat terjadi pertukaran kation. Secara umum zeolit sudah banyak dimanfaatkan sebagai ion exchanger, yaitu penukar ion alami yang berguna untuk menghilangkan kation atau senyawa lain yang dapat mencemari lingkungan. 

Komposisi penyusun zeolite salah satunya disampaikan oleh Zain, dkk., yang dimuat dalam Journal of Engineering and Applied Sciences pada tahun 2018 seperti ditunjukkan pada Tabel 1. Pada penelitian yang dilakukan oleh Zain tersebut bahwa zeolite dapat dipakai untuk mengurangi kandungan amonia selama masa pemeliharaan ikan nila merah. Pada percobaan yang dilakukan selama 60 hari untuk pemeliharaan ikan nila merah menunjukkan bahwa dosis pemberian zeolit terbaik adalah sebesar 15 gram/L air, sedangkan untuk kandungan fosfat terbaik didapatkan pada dosis zeolite sebesar 10 gran/L.

Pada penelitian lainnya, zeolite dapat dimanfaatkan sebagai penyerap amonium pada transportasi ikan hidup, salah satunya disampaikan oleh Singh, dkk yang dimuat di jurnal Aquaculture pada tahun 2004. Penelitian tersebut mengungkapkan zeolite dapat dimanfaatkan pada transportasi sejenis ikan mas sistem tertutup selama 48 jam menggunakan kantong plastik dengan berbagai perlakuan konsentrasi zeolite yang dipergunakan. Hasil penelitian seperti ditunjukkan pada Tabel 2., tampak bahwa dosis zeolite sebesar 7 gram/L terjadi penurunan kandungan amonia terbaik serta menghasilkan sintasan ikan 100%.

Amonia adalah salah satu senyawa yang dihasilkan oleh ikan dari sisa pencernaan dan kotoran ikan. Amonia (NH3) dalam air akan terdisosisasi menjadi ion ammonium (NH4)+ dan ion (OH)- secara kesetimbangan. Dengan adanya zeolite dapat digunakan untuk menyerap ion ammonium (NH4)+, kesetimbangan kimia akan bergeser ke arah kanan (membentuk ammonium (NH4)+ ), sehingga ion ammonia (NH3) yang berbahaya bagi ikan keberadaanya dapat berkurang. 


Penulis : Tri Nugroho Widianto - LRMPHP

Selasa, 10 Agustus 2021

Harteknas, Menteri Trenggono Perkuat Peran IPTEK untuk Wujudkan Ekonomi Biru

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan peran riset dan inovasi teknologi sangat penting dalam upaya membangun sektor kelautan dan perikanan Indonesia menjadi lebih modern dan produktif. Untuk itu dia meminta jajarannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat peran keduanya. 

"Riset dan inovasi teknologi memegang peranan penting dalam mewujudkan ekonomi biru sebagai agenda prioritas kelautan dan perikanan melalui pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang terukur dan seimbang antara ekologi dan ekonomi," ujarnya dalam tayangan video peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Selasa (10/8/2021).

Penguatan riset dan penerapan teknologi secara masif, sambung Menteri Trenggono, juga mampu mendongkrak jumlah dan kualitas produksi kelautan dan perikanan dengan tetap menjaga lingkungan lestari. 

Salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk memperkuat riset maupun inovasi teknologi di bidang kelautan dan perikanan, menurutnya melalui kolaborasi intensif dengan lembaga maupun instansi lainnya. 

"Saya berharap kolaborasi intensif akan menghasilkan teknologi tepat guna yang tepat sasaran, up to date, dan memberikan manfaat, sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat kelautan dan perikanan," pungkasnya. 

Sementara itu, KKP sebagai 'tangan' pemerintah yang mengurusi sektor kelautan dan perikanan sudah menelurkan beragam inovasi, baik di bidang perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengawasan hingga menjaga kelestarian ikan-ikan endemik. 

Plt. Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Kusdiantoro mengatakan, riset dan inovasi tersebut dilakukan untuk mendukung tiga terobosan yang menjadi program prioritas KKP. Pertama, peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya alam perikanan tangkap untuk peningkatan kesejahteraan nelayan. Kedua, Pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor didukung riset kelautan dan perikanan. Ketiga, pembangunan kampung-kampung perikanan air tawar, air payau dan air laut berbasis kearifan lokal. 

Dari sekian banyak hasil riset dan inovasi yang dihasilkan oleh KKP, tiga diantaranya adalah Barata, kincir air tambak hemat energi dan ramah lingkungan, dan Speectra. Berikut penjelasan ketiganya:

1. Barata

Barata atau Bali Radar Ground Receiving Station merupakan radar canggih yang dioperasikan oleh Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Jembrana. Dengan teknologi ini, KKP mampu mendeteksi praktik Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing dan tumpahan minyak di wilayah perairan Indonesia, termasuk area Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Nantinya kemampuannya akan ditingkatkan sampai pada pemantauan stok ikan, kondisi terumbu karang, kawasan budidaya udang dan rumput laut, hingga area pesisir yang rentan.

Terkait mekanisme monitoring IUU Fishing pada teknologi informasi satelit radar yang beroperasi saat ini, awalnya data radar dari satelit Radarsat-2 dan COSMO-SkyMed diterima secara langsung oleh stasiun bumi di BROL Jembrana. Kemudian data tersebut dikorelasikan dengan data VMS (vessel monitong system) yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP dan data AIS (automatic identification system) di BROL 

2. Kincir Air Tambak Hemat Energi dan Ramah Lingkungan

Kincir air merupakan salah satu sarana budidaya perikanan yang memiliki peran sangat penting dalam menciptakan kondisi agar terjadi keseimbangan ekosistem perairan tambak. Kincir air berperan dalam menyuplai oksigen perairan tambak dan membantu dalam proses pemupukan dan pencampuran karakteristik air tambak lapisan atas dan bawah. Pengoperasian kincir air juga membantu dalam membersihkan kotoran-kotoran yang ada di dasar tambak sehingga menstabilkan kualitas air.

Menyadari perannya yang krusial serta harga di pasaran dan perawatannya yang relatif mahal, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, satuan pendidikan di bawah naungan BRSDM, KKP melakukan inovasi dengan membuat teknologi kincir air hemat energi dari bahan lokal yang ada di sekitar, sehingga apabila ada kerusakan maka perawatannya ringan dan suku cadangnya mudah didapat. Melalui berbagai uji coba di perairan tambak ikan dan udang, Politeknik ini mengembangkan mesin kincir air hemat energi bertenaga listrik yang ramah lingkungan tanpa ada gas buang dan tidak menimbulkan kebisingan.

Inovasi teknologi kincir yang dihasilkan memiliki tingkat komponen dalam negeri di atas 50%. Kincir ini memiliki keunggulan dimana DO (dissolved oxygen) yang dihasilkan tinggi, cakupan area maupun tinggi semburan maksimal, biaya operasional lebih murah, sparepart mudah didapatkan, perawatan mudah dikerjakan dan tentu saja dengan harga lebih kompetitif. Dengan adanya kincir ini diharapkan akan menekan biaya operasional budidaya udang, sehingga pendapatan menjadi lebih meningkat dan kesejahteraan petambak terwujud.

3. Speectra

Special Area for Conservation and Fish Refugia atau Speectra merupakan model pengelolaan perikanan dengan memanfaatkan rawa banjiran yang sudah dimodifkasi menjadi ekosistem rehabilitasi.

Perairan rawa banjiran (flood plain area) berfungsi sebagai tempat spawning, nursery dan feeding ground untuk ikan, namun ekosistem ini lebih cepat rusak bahkan hilang saat kemarau datang. Sehingga penerapan model Speectra bertujuan untuk menjadikan rawa banjiran sebagai margasatwa perikanan air tawar dan menjaga ikan-ikan endimik dari kepunahan.

Speectra terletak di salah satu instalasi Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) BRSDM yang berada di Patra Tani, Muara Enim, Sumatera Selatan Speectra tahap 1, 2 dan 3 telah dibangun bertahap sejak tahun 2019, dengan luas 3 hektare sebagai percontohan, yang akan dikembangkan hingga mencapai 40 hektare.

Hasil riset menunjukkan Speectra dapat meningkatkan pendapatan nelayan sekitar, dengan perkiraan cadangan produksi ikan yang dapat dihasilkan lebih dari Rp100 juta per model per tahun. Diharapkan inovasi ini dapat diterapkan pada daerah-daerah lainnya.

 

Sumber : KKP 


Kamis, 05 Agustus 2021

Komitmen LRMPHP pada Keterbukaan Informasi Publik

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) sebagai satuan kerja di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen mendukung penuh pelaksanaan Keterbukaan Informasi Publik di KKP. Hal ini merupakan amanat dari Undang-Undang nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2019 tentang Penyelenggaran Layanan Informasi Publik di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Dukungan itu salah satunya dinyatakan dalam bentuk dokumen Komitmen Bersama Keterbukaan Informasi Publik yang ditandatangani secara serentak oleh Sekretaris unit Eselon I, para kepala satuan kerja/unit pelaksana teknis, dan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di lingkungan KKP dengan disaksikan oleh Sekretaris Jenderal KKP Bapak Antam Novambar dan Komisioner Komisi Informasi Publik.

Hal-hal yang tercakup di dalam komitmen ini diantaranya yaitu penyediaan anggaran, sarana dan prasarana pendukung, sumber daya manusia yang kompeten serta pengelolaan pelayanan informasi publik secara transparan, cepat, dan mudah.

Pelaksanaan penandatanganan komitmen bersama ini merupakan rangkaian kegiatan Forum Kehumasan bertema "Keterbukaan Informasi Publik KKP Menuju Terintegrasi" yang diselenggarakan oleh Sekretariat Jenderal KKP pada tanggal 5 Agustus 2021 secara daring.

Kepala LRMPHP, koordinator manajerial dan ketua kelompok peneliti (Kakelti) mengikuti rangkaian kegiatan ini dari lobby lantai 2 gedung LRMPHP, termasuk penandatanganan komitmen bersama dan diskusi dalam forum kehumasan tersebut.


Selasa, 03 Agustus 2021

Peneliti LRMPHP Raih Pemakalah Terbaik Pada Semnaskan-UGM XVIII 2021

Sertifikat pemakalah terbaik yang diraih peneliti LRMPHP

Peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan Bantul, Ahmat Fauzi meraih Pemakalah Terbaik dalam Seminar Nasional Tahunan XVIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan 2021 yang diselenggarakan oleh Departemen Perikanan, Fakustas Pertanian, Universitas Gadjah Mada secara daring pada 26 - 27 Juli 2021 dengan platform Zoom. Semnaskan-UGM XVIII ini merupakan agenda tahunan sebagai wahana berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian dari para peneliti di Indonesia dalam rangka penyebarluasan informasi untuk dapat diterapkan dan diintegrasikan dalam kegiatan pengembangan sektor perikanan dan kelautan.

Pada Semnaskan-UGM XVIII 2021, pemakalah yang registrasi secara online mencapai 150 peserta, baik kalangan akademisi maupun instansi pemerintah. Ahmat Fauzi merupakan salah satu dari lima peneliti LRMPHP yang mempresentasikan karya tulis ilmiah (KTI) secara oral. Keikutsertaan peneliti LRMPHP ini selain untuk meningkatkan kompetensi dan wawasan, juga untuk mempublikasikan hasil karya tulis ilmiah (KTI). 

Ahmat Fauzi terpilih menjadi pemakalah terbaik atau best presenter pada kelompok panel kategori bidang Penangkapan Ikan-Kelautan-Biologi Perikanan. Pada bidang ini terdapat 15 makalah yang dipresentasikan secara oral. Selain itu masih ada beberapa kategori bidang lain yang dipresentasikan dalam Semnaskan-UGM XVIII 2021 yaitu bidang Genetika dan Pembenihan, Nutrisi - Pakan, Rekayasa Budidaya dan Kesehatan Ikan, Manajemen Sumber Daya Perikanan, Sosial Ekonomi Perikanan, Mutu dan Keamanan Pangan, Pasca Panen dan Bioteknologi, Rekayasa Budidaya Perikanan, Kesehatan Ikan, Manajemen Sumber Daya Perikanan - Penangkapan Ikan, Sosial Ekonomi Perikanan - Biologi Perikanan, dan Mutu Keamanan Pangan - Pasca Panen.

Pada Semnaskan-UGM XVIII, Ahmat Fauzi mempresentasikan KTI berjudul “PENGUJIAN SISTEM ALREF SEBAGAI COLD STORAGE UNTUK PEYIMPANAN IKAN PADA KAPAL NELAYAN 10-15 GT” yang ditulis bersama Tri Nugroho Widianto. Dalam paparannya, penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan mutu ikan setelah penangkapan dan transportasi di atas kapal nelayan dengan metode pendinginan. Penerapan metode pendinginan yang digunakan adalah sistem ALREF (air laut yang direfrigerasi) untuk penyimpanan ikan pada kapal 10-15 GT. Komponen utama sistem ALREF adalah palka, evaporator, kondensor, kompresor, refrigerant dan katup ekspansi. 

Penelitian yang dilakukan Ahmat Fauzi bersama Tri Nugroho Widianto ini bertujuan untuk mendapatkan performansi suhu ruang palka pada sistem ALREF dengan pengujian media dingin berupa udara (sistem cold storage). Perlakuan yang dilakukan yaitu pengujian sistem cold storage pada sistem ALREF sampai suhu udara palka mencapai sekitar -18 °C. Pengujian dilakukan pada kondisi palka tanpa beban dengan parameter pengamatan yaitu suhu udara yang didinginkan di dalam palka pada 5 titik, arus/daya listrik yang dibutuhkan, tekanan dan suhu kondensor dan tekanan dan suhu evaporator. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem ALREF dapat mendinginkan ruang palka sampai -18 °C dalam waktu 250 menit. Kecepatan pendinginan udara pada 5 titik berkisar 10,92 - 11,37 °C/jam dengan rata-rata 11,23 °C/jam. Daya listrik aktual 2,42 kW dan daya kompresor 1,83 kW. Berdasarkan hasil pengujian di atas, sistem ALREF dapat digunakan sebagai cold storage hingga suhu -18 °C sebagai alternatif penyimpanan pada ikan yang kurang cocok dengan media pendingin air laut.

 


Jumat, 30 Juli 2021

MONEV SEMESTER I TAHUN 2021 LINGKUP LRMPHP

Pemaparan riset ALTIH oleh peneliti LRMPHP

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) menyelenggarakan Monitong dan Evaluasi (Monev) Semester I Tahun  2021 secara daring melalui aplikasi Zoom pada 28 – 29 Juli 2021. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala LRMPHP, koordinator riset, evaluator dan  seluruh pegawai LRMPHP.  

Dalam sambutannya, Kepala LRMPHP Luthfi Assadad menyampaikan bahwa tahun ini ada banyak perubahan, salah satunya terkait refokusing anggaran hingga empat kali. Meskipun adanya refokusing anggaran, namun target IKU harus diupayakan dapat tercapai karena belum ada kebijakan pengurangan IKU. Oleh karena itu seluruh pegawai LRMPHP diharapkan dapat saling dukung dan bahu-membahu demi suksesnya kegiatan LRMPHP. Kepala LRMPHP juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada rekan-rekan peneliti senior LRMPHP yang sudah bersedia menjadi evaluator, selain akan mengevaluasi capaian kegiatan semester I ini, juga diharapkan dapat melihat potensi publikasi. 

Pelaksanaan Monev Semester I Tahun  2021  ada 5 kegiatan riset dengan output prototipe alsin hasil riset perikanan dan  produk rekayasa alsin perikanan siap guna. Pada kegiatan riset dengan output prototipe alsin hasil riset perikanan terdiri atas 2 judul riset yaitu Desain dan Rancangbangun Alat Pengidentifikasi Cepat Jenis dan Asal Ikan, serta Desain dan Rancangbangun Aerator Tipe Kincir Terkontrol Untuk Kolam Budidaya Udang Intensif. Adapun pada output produk rekayasa alsin perikanan siap guna terdiri 3 judul riset yaitu Rancangbangun dan Uji Kinerja Alat Transportasi Ikan Hidup Sistem Basah untuk Menjamin Komoditas Berkualitas Prima, Rancangbangun dan Uji Kinerja Mesin Penghasil Bioplastik Ramah Lingkungan untuk Jaminan Produk Berkualitas Prima, dan Rancangbangun, Introduksi dan Uji Terap Skala Terbatas Alat Pengisi Adonan Produk Fish Jelly Semi Otomatis. 

Pembahasan monev I kegiatan riset tahun 2021 dilaksanakan selama dua hari, diawali dengan pemaparan Riset Desain dan Rancangbangun Alat Pengidentifikasi Cepat Jenis dan Asal Ikan oleh Bakti Berlyanto Sedayu, evaluator  menyampaikan bahwa tema riset potensial untuk dikembangkan hanya saja target jenis ikan yang dianalisa harus diperjelas lagi lebih spesifik. Pada pemaparan Riset Rancangbangun Aerator Tipe Kincir Terkontrol Untuk Kolam Budidaya Udang Intensif oleh Arif Rahman Hakim, evaluator menyampaikan kegiatan ini cukup aplikatif untuk mendukung pengembangan budidaya dan diharapkan penggunaan sensor untuk pendeteksian secara ekonomis dapat dijangkau oleh pembudidaya. Pada pemaparan Riset Rancangbangun dan Uji Kinerja Alat Transportasi Ikan Hidup (ALTIH) Sistem Basah untuk Menjamin Komoditas Berkualitas Prima oleh Tri Nugroho Widianto, evaluator menyampaikan capaian output kegiatan sudah sesuai dan kelihatan, tinggal diperbanyak untuk simulasi. Selanjutnya pada hari kedua pembahasan monev I dilakukan pemaparan Riset Rancangbangun dan Uji Kinerja Mesin Penghasil Bioplastik Ramah Lingkungan untuk Jaminan Produk Berkualitas Prima oleh Putri Wullandari. Evaluator  menyampaikan bahwa riset ini  cukup menarik karena menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, dengan membuat inovasi bioplastik berbahan rumput laut. Sementara itu pada Riset Introduksi dan Uji Terap Skala Terbatas Alat Pengisi Adonan Produk Fish Jelly Semi Otomatis yang dipaparkan oleh I Made Susi Erawan, evaluator menyarankan agar pengukuran secara ergonomi perlu diperhatikan untuk mendukung kemudahan dalam aplikasi alat oleh pengguna.

Rabu, 28 Juli 2021

Partisipasi LRMPHP Pada Semnaskan-UGM XVIII 2021

Presentasi peneliti LRMPHP pada Semnaskan-UGM XVIII 2021

Peneliti LRMPHP mengikuti rangkaian kegiatan Seminar Nasional Tahunan XVIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan 2021 yang diselenggarakan oleh Departemen Perikanan, Universitas Gadjah Mada. Semnaskan-UGM XVIII ini merupakan agenda tahunan sebagai ajang temu ilmiah dan berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian dari para peneliti di Indonesia.

Kegiatan Semnaskan-UGM XVIII dilaksanakan secara daring pada 26 - 27 Juli 2021 dengan platform Zoom, terdiri atas plenary sesion dan sesi kelas paralel. Plenary session menghadirkan Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng., dan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Ir. Sakti Wahyu Trenggono, M.M., IPU. Adapun dua pembicara kunci yang dihadirkan yaitu Dr. Ir. Bambang Triyatmo, M.P. (Dosen Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM) yang menyampaikan presentasi tentang gagasan dan inovasi pembangunan akuakultur Indonesia, dan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri M.S. (Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia) tentang manajemen usaha budidaya ikan yang berkelanjutan.

Pada Semnaskan-UGM XVIII 2021 ini presentasi dilaksanakan secara paralel dalam dua sesi selama dua hari, dengan topik bidang akuakultur, manajemen sumberdaya akuatik, dan teknologi hasil perikanan. Artikel bidang akuakultur berupa hasil penelitian tentang genetika dan perbenihan ikan, pakan dan nutrisi, rekayasa budidaya, dan penyakit ikan dan lingkungan. Makalah bidang manajemen sumberdaya perikanan mencakup aspek manajemen sumberdaya perairan, sosial ekonomi perikanan, penangkapan ikan, biologi perikanan dan bidang kelautan. Adapun hasil penelitian bidang teknologi hasil perikanan berupa keamanan pangan, bioteknologi, pengawetan pangan, pangan fungsional, pengembangan produk dan bidang nilai tambah.

Total peserta secara online pada Semnaskan-UGM XVIII ini mencapai 150 peserta, berasal dari berbagai kalangan baik akademisi maupun instansi pemerintahan. Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan Bantul mengirimkan 5 karya tulis ilmiah (KTI) yang dipresentasikan secara oral. 





Senin, 26 Juli 2021

SENJATA RAHASIA NINJA HATTORI DI DALAM "BOWL CUTTER"

Kalau menyaksikan film “Ninja Hattori” ada sebuah senjata rahasia yang disebut “SHURIKEN” yang menjadi senjata andalan dalam menaklukkan lawanya. Senjata tersebut berupa mata pisau terbuat dari logam yang dibentuk seperti bintang  yang biasanya terdiri dari lima buah mata pisau yang dapat dilempar untuk melumpuhkan musuh-musuhnya. Seperti halnya Ninja, bowl cutter juga mempunyai senjata rahasia yang tersembunyi di bawah penutup mangkuk. Bowl cutter (Gambar 1)  adalah mesin pencacah sekaligus pengaduk adonan yang biasa dipergunakan pada proses pembuatan bakso maupun produk fish jelly lainya. Bowl cutter yang ada di pasaran dapat digunakan untuk mencincang daging dan sayuran serta dapat pula digunakan untuk membuat adonan bakso, sosis maupun nugget. Komponen utama bowl cutter adalah bilah pisau dan motor penggerak. Bilah pisau (Gambar 2) berfungsi untuk mencacah daging sedangkan motor penggerak berfungsi untuk menggerakkan mangkuk dan bilah pisau secara bersamaan. 

Gambar 1. Bowl cutter (Sumber : www.astromesin.com)

Pada tahun 2016, Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) telah mendesain sekaligus mensimulasi bilah pisau pada bowl cutter khususnya dalam rangka untuk mendapatkan jumlah mata pisau dan lama pengadonan untuk pembuatan nugget ikan menggunakan alat tersebut.  Terkait dengan jumlah dan bentuk mata pisau tentunya akan sangat tergantung dengan peruntukanya. Pada penelitian tersebut yang diungkap adalah desain bilah pisau bowl cutter untuk produksi nugget ikan. Penelitian tersebut telah dilaporkan oleh Widianto, dkk., pada Jurnal Pasca Panen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan pada tahun 2016. Pada penelitian tersebut didesain duan buah bentuk mata pisau melengkung dan lurus dengan masing masing terdiri dari tiga dan enam buah bilah pisau. Desain bilah pisau melengkung mempunyai bentuk ± 3/8 lingkaran dengan panjang 80 mm dari sisi luar dudukan. Lebar bilah pisau sebesar 22 mm dengan tebal 3 mm. Radius putar bilah pisau dari pusat poros sebesar 130 mm. Kelengkungan bilah pisau mempunyai radius 50 mm dengan sisi tajamnya terletak pada lengkung bagian luar. Sudut ketajaman sekitar 120 pada salah satu sisi bilah pisau. Desain bilah pisau lurus mempunyai spesifikasi dan dimensi sama dengan desain pisau melengkung kecuali pada radius kelengkungan sebesar 75 mm serta ujung bilah pisau dibengkokkan dengan sudut 300 dengan jarak yang dibengkok 25 mm dari ujung bilah pisau. Material bilah pisau terbuat dari plat SS 304, sedangkan dudukan bilah pisau menggunakan bahan teflon.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain bilah pisau terbaik adalah 3 buah bilah pisau melengkung dengan lama pengadonan 8 menit. Nugget yang dihasilkan pada kondisi tersebut mempunyai kadar air 54,2 %, tektur sebesar 12,6 N, susut masak 16,7 %, WHC 32,9 %, nilai organoleptik lebih dari 7 dan biaya operasional listrik sebesar Rp. 2.700,-/100 kg adonan. 

Gambar 2. Bilah pisau pada Bowl cutter (Sumber : Widianto, dkk., 2016)


Penulis : Tri Nugroho W. - LRMPHP


Rabu, 21 Juli 2021

Potensi Penggunaan Microwave untuk Ekstraksi Karaginan

Ilustrasi Karaginan (Sumber : https://rico.com.ph/products/pure-carrageenan/)

Indonesia yang sebagian besar wilayahnya berupa kepulauan memiliki komoditas kelautan dan perikanan yang melimpah, salah satunya adalah rumput laut. Berdasarkan Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2017 produksi rumput laut Indonesia mencapai 10,81 juta ton. Tetapi hampir sekitar 80% produksi tersebut hanya dijual dalam bentuk bahan baku tanpa ada proses pengolahan lebih lanjut sehingga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. 

Salah satu diversifikasi produk rumput laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah karaginan yang diperoleh dari proses ekstraksi rumput laut. Karaginan adalah polisakarida linear berupa galaktan tersulfatasi yang diekstrak dari rumput laut merah (Rhodophyceae). Tiga jenis karaginan komersial yang paling penting adalah karaginan iota, kappa, dan lambda. Dikutip dari Polymers 3 yang disampaikan oleh Kadajji & Betageri (2011), pengguaan karaginan cukup luas baik untuk produk pangan maupun non pangan. Karaginan larut dalam air panas dan air dingin sehingga dapat digunakan sebagai pengental dan penstabil pada minuman dan makanan. Pada produk non pangan karaginan bisa digunakan sebagai coating, pengental, pembentuk gel pada produk kosmetik, farmasi, cat dan lain sebagainya.

Proses pengambilan atau ekstraksi karaginan merupakan kunci diperolehnya produk karaginan yang baik. Diperoleh dari beberapa sumber kualitas dan rendemen karaginan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Asikin et al (2015) dalam Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis menyampaikan bahwa kualitas karagenan tidak hanya dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, tetapi juga oleh konsentrasi pelarut yang digunakan. Selain itu seperti disampaikan Wenno et al (2012) dalam Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan bahwa umur panen rumput laut juga merupakan faktor penting yang menentukan kualitas karaginan.

Secara umum, ekstraksi karaginan dari rumput laut memerlukan beberapa tahapan, yaitu proses perendaman, ekstraksi, pemisahan karaginan dengan pelarut, dan kemudian pengeringan karaginan. Setiap tahapan proses ini akan mempengaruhi jumlah dan kualitas karaginan. Kendala yang dialami pada proses ekstraksi karaginan konvensional salah satunya adalah membutuhkan waktu yang lama dan rendemen yang dihasilkan masih kurang baik. Oleh karena itu diperlukan alternatif metode ekstraksi karaginan, salah satunya yaitu menggunakan teknologi microwave atau gelombang mikro yang sering disebut sebagai Microwave Assisted Extraction (MAE). Skema prinsip kerja ekstraksi berbasis microwave seperti disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Skema mekanisme ekstraksi berbasis microwave (sumber : Wang et al, 2005 dalam Journal of Food Engineering)

Dikutip dari Handbook of microwave technology for food applications yang disampaikan oleh Datta & Anantheswaran (2001), microwave adalah gelombang elektromagnetik dengan interval frekuensi antara 300 MHz hingga 300 GHz dan panjang gelombang antara 1 mm hingga 1 m. Wray & Ramaswamy (2015) dalam Jurnal Drying Technology menyatakan bahwa frekuensi yang digunakan untuk aplikasi pemanasan microwave yaitu 915 MHz, 2450 MHz, dan 5800 MHz, tetapi yang umum digunakan untuk pengolahan makanan dan khususnya untuk oven microwave adalah 2450 MHz.

Proses ektraksi dengan menggunakan microwave lebih cepat karena pemanasan yang terjadi adalah pemanasan volumetrik. Dikutip dari Momentum (2010) diperoleh informasi bahwa ektraksi berbasis microwave memiliki kelebihan karena memiliki kontrol terhadap temperatur yang lebih baik dibandingkan proses pemanasan konvensional. Selain itu juga memiliki beberapa keunggulan lain, diantaranya adalah waktu ekstraksi yang lebih singkat, konsumsi energi dan pelarut yang lebih sedikit, hasil yang lebih tinggi, akurasi dan presisi yang lebih tinggi.

Beberapa penelitian terkait dengan ekstraksi rumput laut menggunakan microwave telah banyak dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Delfin et al (2013) yang disampaikan dalam Journal of Applied Phycology. Penelitian dilakukan dengan melakukan ekstraksi karaginan dari rumput laut Hypnea musciformis dengan metode konvensional dan berbasis microvawe. Ekstraksi berbasis microwave menggunakan frekuensi 2450 MHz dengan melakukan beberapa variasi suhu pemanasan. Hasil penelitian diperoleh bahwa meskipun hasil karaginan yang dihasilkan lebih rendah selama ekstraksi, tetapi karaginan yang dihasilkan dengan metode baru ini sebanding dengan yang diekstraksi dengan teknik konvensional. Penelitian lain dilakukan oleh Sjahriza et al (2012) yang disampaikan dalam Prosiding Seminar Nasional Sains V. Dalam penelitiannya dilakukan ekstraksi karaginan dari rumput laut jenis Eucheuma Cottonii menggunakan metode konvensional dan menggunakan microwave. Dari dua metode tersebut dilakukan perbandingan kualitas karaginan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi karaginan menggunakan microwave menghasilkan rendemen yang tinggi dan waktu yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Berdasarkan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan dan dikembangkan hasilnya menunjukkan bahwa metode ekstraksi karaginan berbasis microwave memiliki potensi yang cukup baik.


Penulis : Wahyu Tri Handoyo - LRMPHP

Kamis, 15 Juli 2021

Bioplastik dari Rumput Laut, Solusi Membuat Laut Sehat


Laut Indonesia memiliki permasalahan serius terkait pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Sampah yang berasal dari darat ini membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa sampai ratusan tahun, untuk bisa terurai. Hal ini tidak saja menjadi permasalahan Indonesia tapi juga seluruh negara. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hadir menawarkan alternatif solusinya. 

Data pada jurnal penelitian (Groh et al., 2019) mengatakan, produksi plastik secara global sudah mencapai 380 juta ton pada tahun 2015, dengan sekitar 40 persennya digunakan untuk pengemasan. Jurnal penelitian lain (Zhang, Show, & Ho, 2019) mengatakan, sisi negatif sampah plastik yang dibuang dapat menimbulkan beberapa masalah lingkungan yang serius, seperti emisi gas rumah kaca, generasi mikroplastik dan efek beracun yang ditimbulkannya.

Karena itu, KKP mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga kesehatan lingkungan, termasuk laut, dari sampah plastik. Hal ini salah satunya disampaikan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja. 

Dia mengatakan, pihaknya mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan laut, karena kesejahteraan manusia bergantung pada laut yang sehat.  Hal ini sejalan dengan perhatian dan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang menekankan pentingnya kesehatan laut untuk mendukung ekonomi laut yang berkelanjutan. Laut yang sehat juga menjadi syarat utama konsepsi ekonomi biru yang tengah dikembangkan KKP di Indonesia. Kata kuncinya yaitu berkelanjutan, efisien, tanpa limbah, keadilan inklusif, pertumbuhan ekonomi, dan kesadaran publik.

Untuk itu, KKP telah banyak berbuat untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, salah satunya melalui penelitian yang dilakukan BRSDM. Salah satu penelitian dilakukan melalui kerja sama Pusat Riset Kelautan BRSDM dengan mitra Prancis tentang marine debris project. Menteri Kelautan Prancis Annick Girrardin mendatangi langsung Kantor BRSDM terkait kerja sama tersebut, 10 Juni lalu. 

Penelitian lain dilakukan oleh Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), di bawah supervisi Pusat Riset Perikanan BRSDM. Penelitian tersebut menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, yaitu dengan bioplastik berbahan rumput laut. 

“Rumput laut merupakan salah satu bahan yang potensial untuk dijadikan bahan baku bioplastik, dimana karaginan adalah salah satu fikokoloid paling menjanjikan yang menunjukkan kemampuan pembentukan film yang sangat baik,” ujar Peneliti LRMPHP Putri Wullandari, 

“Metode yang biasa digunakan dalam pembuatan bioplastik yaitu metode casting namun memiliki kelemahan yaitu belum dapat diproduksi secara massal. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan metode ekstrusi untuk membuat bioplastik dengan bahan dasar karagenan. Ekstrusi  adalah  proses  yang  berkesinambungan  selama  bahan  baku  plastik  meleleh dan dibentuk menjadi panjang terus menerus dari produk plastik dengan profil konstan cross-sectional,  dan  produk  kemudian  dapat  dipotong  menjadi panjang  yang diinginkan oleh peralatan pasca-die tertentu,” tambahnya. 

Menurut Putri, rangkaian alat yang dihasilkan dalam penelitian ini meliputi mixer, extruder, conveyor, dan pelletizer 

Dia mengatakan, mixer dengan spesifikasi kapasitas tanki 5 kg dilengkapi sistem pengaduk berputar (1/2HP) dan pemanas listrik dengan total daya 470 W. Material mesinnya mengunakan stainless steel dan hard chrome. 

Extruder, lanjutnya, merupakan tipe screw tunggal dengan kapasitas produksi 2,42 kg per jam. Alat ini dilengkapi empat elemen pemanas elektrik dengan thermocontrol, yang memiliki 1 lubang die berdiameter 2–3 mm. Material mesinnya mengunakan stainless steel dan hard chrome dengan total daya 600 W. 

Sementara itu, konveyor memiliki spesifikasi panjang 1,5 m dengan media pendingin air, yang dilengkapi water chiller. Material alatnya menggunakan stainless steel dengan total daya 125 watt (220 V).

Adapun pelletizer menggunakan pisau berputar dengan motor ¼ HP yang dilengkapi pengatur kecepatan. Materialnya menggunakan stainless steel dengan daya 70 W (220 V). Rangkaian alat extruder tersebut menghasilkan film yang seragam dengan kapasitas produksinya mencapai 2,42 kg/jam. 

Bioplastik dari rumput laut dan rangkaian alat pembuatnya ini telah dibahas pada kegiatan Sharing Session BRSDM, 7 Juli lalu. Kegiatan tersebut disiarkan secara langsung melalui kanal youtube BRSDM dan saat ini masih dapat disaksikan pada link https://www.youtube.com/watch?v=Hm4_vQ4Y2ZE.



Suimber : KKP