Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 September 2019

TANDATANGANI MOU, MENTERI SUSI HARAP LIPI DUKUNG KEBERLANJUTAN LAUT DAN PERIKANAN LEWAT RISET

Nomor : SP231/SJ.04/IX/2019
SIARAN PERS

JAKARTA (11/9) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menandatangi Nota Kesepahaman (MoU) dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengingkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kelautan dan perikanan. MoU tersebut ditandatangi langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiasti dan Kepala LIPI Laksana Tri Handoko di Kantor KKP, Jakarta, Selasa (10/9).

Adapun ruang lingkup yang disepakati dalam MoU tersebut mencakup: a) penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu teknologi; b) rekomendasi ilmiah; c) peningkatan kapasitas sumber daya manusia; d) pertemuan ilmiah, seminar, dan publikasi; e) pertukaran dan pemanfaatan data dan informasi; f) pemanfaatan sarana dan prasarana; dan g) kegiatan lain yang disepakati.

Dalam sambutannya, Tri Handoko menyatakan bahwa sebenarnya kerja sama antara LIPI dan KKP sudah berjalan lama. Beberapa di antaranya telah dilakukan melalui Pusat Pengembangan dan Pemasaran (Raiser) Ikan Hias di Cibinong dan Balai Benih Ikan di Kabupaten Samosir. MoU yang ditandatangani hari ini akan mengintensifikasi kerja sama antara kedua K/L. Salah satunya terkait rencana LIPI mengembangkan kapal riset nasional untuk memenuhi kebutuhan konsorsium riset samudera.
“Kita akan mengelola armada kapal riset nasional kurang lebih 10 - 12 kapal sehingga kita memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengeksplorasi seluruh perairan kita, termasuk sampai di luar ZEE, sampai ocean going,” ujarnya.

Ia menyatakan, kapal riset ini penting untuk mengeksplorasi biodiversitas laut Indonesia yang begitu luas. Selain itu, ia juga berencana agar kapal riset ini dapat digunakan untuk memetakan perairan Indonesia. Dengan begitu, ke depannya bencana tsunami dapat dimitigasi dengan disebarnya sensor di sejumlah titik tertentu.

Fase pertama pengadaan kapal riset ini akan dilakukan mulai tahun 2020 mendatang. Tri Handoko berharap, KKP dapat membantu penyediaan pelabuhan untuk kapal riset yang akan dibagi di wilayah barat dan timur Indonesia.
“Kami berharap dengan nota kesepahaman ini implementasi kerjasama dalam penguatan kapasitas dan kualitas SDM serta riset itu bisa segera kita lakukan dalam bentuk yang lebih riil untuk kemajuan Indonesia di masa depan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Susi meminta dukungan dari LIPI untuk mendukung visi keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan yang diusung oleh KKP. Ia menjelaskan bahwa di masa mendatang, perang antar negara bukan lagi soal politik atau ideologi melainkan ketahanan energi dan pangan.
“Satu-satunya sumber daya alam yang dapat diperbaharui selain hutan—di mana hutan kita sudah sebagian habis—ya tinggal laut laut ini,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, sumber daya kelautan dan perikanan harus dijaga keberlanjutannya. Salah satunya dengan membuat regulasi untuk membatasi eksploitasi ikan dan sumber daya laut lainnya. “Kita semua harus berprinsip sama. Pembatasan dan larangan dalam hal sumber daya alam yang dapat diperbaharui hasilnya itu cuma satu, more productive,” tegasnya.

OIeh karena itu, ia mengatakan bahwa penggunaan cantrang harus dihentikan. Alat tangkap cantrang yang banyak tersebar di pantura Jawa saat ini panjangnya mencapai 2.000 meter sehingga menyapu dasar laut Jawa yang dalamnya tak lebih dari 100 meter. Akibatnya, sejumlah perikanan seperti udang, simping, dan rajungan hilang dari Pantura. Tak hanya itu, profesi penjual rajungan yang dulunya banyak terdapat di pinggir jalan pun turut menghilang.
“Keberlanjutan ini menjadi dasar yang penting. Cantrang harus kita stop. Di sinilah LIPI harus masuk untuk memback-up bersama, membuat justifikasi bahwa there is no way to continue dengan alat tangkap cantrang,” ujarnya.

Keberlanjutan ikan juga sangat penting untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat Indonesia. Hal ini terutama untuk menghadapi surplus demografi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2040. Protein dan asupan omega dari ikan akan meningkatka IQ Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia agar dapat menjadi manusia-manusia yang unggul.
“Ikan ini sangat penting menjadi sumber protein bagi bangsa kita. Ke depan, teknologi akan masuk menggantikan banyak tenaga tenaga kerja konvensional. Persaingan kualitas manusia, SDM ini akan menjadi penentu Indonesia dalam memenangkan persaingan global,” ucap Menteri Susi.

Ia berharap, dalam hal ini LIPI dapat membantu untuk menerangkan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya ikan kepada masyarakat, peaku usaha, maupun pemangku kebijakan. “Di sinilah sains, riset harus membuat telaahan dan paparan yang bisa masuk kepada para pemangku kebijakan supaya semua pihak dapat mengerti akan hal ini,” tandasnya.

Lilly Aprilya Pregiwati
Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri

Jumat, 06 September 2019

KKP DEDIKASIKAN HASIL RISET UNTUK RAKYAT

Nomor : SP225/SJ.04/IX/2019
SIARAN PERS

PEKALONGAN (6/9) - Dalam gelaran Pameran Inovasi dan Kreativitas Kota Pekalongan 2019, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja, secara simbolis menyerahkan Alat Transportasi Ikan Segar untuk Roda-2 (ALTIS-2) kepada Wali Kota Pekalongan, Saelany Machfudz, untuk selanjutnya diteruskan kepada pelaku usaha perikanan Kota Pekalongan.

ALTIS-2 merupakan salah satu inovasi riset dari BRSDMKP yang telah mendapatkan nomor pendaftaran paten S00201402661 pada tahun 2014, termasuk dalam 108 Inovasi Indonesia dan Rekomendasi Teknologi KKP tahun 2016, serta menjadi runner up pada Kompetisi IPLAN Challenges 2018.

"Hasil riset, hasil penelitian kita, harus dapat digunakan masyarakat secara langsung. ALTIS-2 merupakan suatu inovasi yang telah berkembang dengan baik dan diharapkan menjadi karya nyata untuk masyarakat. Dan Pekalongan merupakan kota pertama di Indonesia yang menerima ALTIS-2 pada tahun 2019 ini," tutur Sjarief Widjaja dalam sambutannya.

Dalam kesempatan tersebut, BRSDM melalui Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), turut menampilkan hasil riset dan inovasinya dalam dalam Pameran Inovasi dan Kreativitas Kota Pekalongan  2019.  LRMPHP menyajikan hasil inovasi riset berupa prototype alat pengujian kesegaran ikan berbasis non-destruktif. Alat ini mampu mengidentifikasi dan menilai kesegaran ikan dengan cepat berbasis 2 (dua) parameter yaitu citra mata dan gas. Proses pengujian kesegaran ikan non-destruktif berdasarkan citra mata dan deret sensor gas sendiri telah mendapatkan nomor pendaftaran paten P00201704950 pada tahun 2017.

"Di samping itu, kami juga memiliki aplikasi Laut Nusantara. Aplikasi berbasis android ini membantu nelayan untuk mendapatkan tanngkapan yang lebih banyak. Jadi nelayan sekarang bukan lagi mencari ikan tapi menangkap ikan. Ini merupakan langkah BRSDM dalam menciptakan nelayan milenial. Dengan kultur dan kearifan Indonesia, namun menggunakan teknologi terbarukan yang dapat diakses di manapun dan kapanpun," jelasnya.

Sjarief pun mengapresiasi Walikota Pekalongan yang konsisten mengadakan kegiatan pameran inovasi dan kreativitas setiap tahunnya guna menunjang pengembangan Iptek berbasis kearifan lokal.

Sebagaimana disampaikan oleh Walikota Pekalongan, bahwa pihaknya tengah memperkuat karakter Kota Pekalongan sebagai kota kreatif dunia dengan tagline yang diusung ialah kreatif, inovatif, sejahtera, dan mandiri.
"Kami mengapresiasi hasil riset dan inovasi yang dihasilkan BRSDM yang tentunya bermanfaat untuk masyarakat," tutur Saelany.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Pekalongan Anita Heru Kusumorini menyampaikan, acara ini bertujuan mewadahi dan mengapresiasi kreativitas yang dilakukan instansi di lingkungan Pemerintah Kota Pekalongan dan masyarakat.

Pameran Inovasi dan Kreativitas Kota Pekalongan 2019 terlaksana dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-24. Bertempat di Gedung Olah Raga (GOR) Jetayu Kota Pekalongan, Pameran Inovasi dan Kreativitas 2019 ini digelar selama empat hari yaitu pada 5 - 8 September 2019.

Lilly Aprilya Pregiwati
Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri 

Minggu, 21 Juli 2019

Sinergitas BRSDM dengan Pemkab Magetan untuk Kesejahteraan Masyarakat


Magetan – Dalam rangka mengawal misi kesejahteraan masyarakat kelautan perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penebaran kembali (restocking) ikan, khususnya ikan lokal yang saat ini telah mengalami penurunan populasi di beberapa lokasi. Salah satu lokasi penebaran yakni Telaga Sarangan dan dibudidayakan di Balai Benih Ikan (BBI) kabupaten Magetan, pada 20 Juli 2019.

Ikan yang ditebar adalah Ikan Dewa (Tor Soro). Ikan dewa merupakan ikan omnivora yang saat besar berada di telaga atau danau dan saat akan menetaskan telurnya menuju sungai yang mempunyai alirannya cukup deras. Ikan ini sudah berhasil dibudidayakan oleh satker BRSDM yaitu Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) Bogor melalui teknologi perbenihan di Kecamatan Cijeruk Bogor. 

"Jenis ikan ini sudah menjadi ikan budidaya hasil domestikasi sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.66 Tahun 2011, sebagai upaya menambah jenis ikan budidaya bernilai ekonomis tinggi dan konservasi eks-situ dari ancaman kepunahan akibat eksploitasi penangkapan berlebih," jelas Sjarief.

Penebaran benih Ikan Dewa di Telaga Sarangan merupakan salah satu rangkaian Acara Gebyar Peternakan dan Perikanan Tahun 2019 yang diselenggarakan Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Magetan. Telaga Sarangan dipilih sebagai tempat restocking ikan karena telaga ini mempunyai luasan sekitar 30 Hektar denga kedalaman 28 meter, yang sangat cocok bagi kelangsungan hidup ikan Dewa di alam. Selain untuk menambah daya tarik wisata, Telaga Sarangan juga difungsikan sebagai konservasi karena Ikan Dewa adalah spesies asli Indonesia yang hampir punah.

"Ini merupakan wujud sinergitas BRSDM dalam merencanakan  dan melaksanakan  pembangungan yang berkomitmen untuk memulihkan habitat sumberdaya ikan melalui program restocking ikan di perairan umum dan daratan sebagai upaya memperbaiki lingkungan fisik perairan umum yang telah mengalami degradasi dan eksplotasi secara berlebihan serta tidak bertanggungjawab," tutur Sjarief.

Kegiatan penebaran benih Ikan Dewa terlaksana sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) Rencana Kerja antara Pusat Riset Perikanan BRSDM dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan melalui Program Sinergitas Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan (S3P), yang ditandatangani pada 20 Juli 2019.  Dengan sinergi ini juga, SKPD terkait seperti Dinas Pariwisata dan Budaya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas Pendidikan berkolaborasi menindaklanjuti terobosan tersebut. 

“BRSDM dan Pemerintah Kabupaten Magetan telah bertekad, bukan hanya sekedar mengkaji atau meneliti, namun lebih utama adalah memperbaiki habitat sumberdaya ikan dalam kurun waktu tertentu yang akan terasakan manfaatnya hingga berdampak terhadap perekonomian masyarakat,” tegas Sjarief.

Hal senada disampaikan oleh Bupati Magetan Suprawoto. Pihaknya mendorong masyarakat Magetan untuk bersama-sama menyukseskan program pemerintah pusat dan daerah di bidang kelautan dan perikanan. "Kepada masyarakat Magetan saya sangat mengharapkan untuk ikut berperan aktif dalam upaya mendukung kinerja pemerintah pusat dan daerah dengan tidak merusak atau mengganggu ekosistem yang telah berjalan serta ikut menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Melihat antusiasnya masyarakat Magetan ikut serta dalam pengembangan pembangunan  bidang peternakan dan perikanan, hal ini membuktikan bahwa telah terjadi pergeseran pada masyarakat yang selama ini peternakan dan perikanan hanya menjadi usaha sampingan saja sudah mulai berkembang menjadi usaha pokok,” tutur Bupati Magetan Suprawoto.

Total benih ikan yang ditebarkan ke dalam telaga sebanyak 15 ribu benih, di mana 10 ribu ditebarkan di Telaga Sarangan dan 5 ribu benih dibesarkan di beberapa balai benih ikan di Magetan. Setelah satu tahun, ikan dewa untuk siap di konsumsi sebagai komoditas unggulan kabupaten Magetan.

Ikan Dewa merupakan salah satu jenis ikan yang ke depannya mempunyai nilai ekonomi tinggi. Di usia tebar 6 bulan dengan panjang 6 - 9 cm, ikan dewa bernilai Rp5.000 per ekor. Sementara ikan tersebut dapat tumbuh hingga panjang maksimun 70 cm, dengan berat 12 Kilogram.

Upaya benih ikan dewa yang dibesarkan di Telaga Sarangan juga mempunyai sasaran untuk memadukan riset pembenihan dan riset pemulihan habitat ikan dewa yang dikemas dalam suatu turnamen Mancing internasional Ikan Dewa yang diproyeksikan tahun 2020. Dengan terobosan ini diharapkan dapat membawa Magetan ke kancah internasional melalui pemanfaatan hasil riset perikanan budidaya untuk kebutuhan pariwisata dan konservasi. 

Pada Acara Gebyar Peternakan dan Perikanan Tahun 2019,  juga dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepakatan Sinergitas Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan antara BRSDM dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur tentang Pengembangan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Magetan. Tujuan Nota Kesepakatan ini untuk meningkaatkan perekonomian masyarakat kelautan dan perikanan di Kabupaten Magetan.

Hadir pada acara ini, Wakil Bupati Magetan; Anggota Forkopimda; Ketua DPRD, Wakil Ketua dan Ketua Komisi B; Sekda kab Magetan; Dirjen PKH Kementerian Pertanian; Dirjen PSP Kementerian Pertanian Ri; Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur; Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur; Direktur Poltek Kelautan dan Perikanan; Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya; Opd Se-Kabupaten Magetan; serta para Petani Ternak dan Nelayan setempat.

Selasa, 02 April 2019

ALTIS-2 di Majalah Gatra

Liputan tentang salah satu hasil riset dari Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, yakni alat transportasi ikan segar roda 2 untuk pedagang ikan keliling, terbit pada majalah Gatra edisi 21-27 Maret 2019 (21-XXV) kolom Ilmu & Teknologi, halaman 60-63). Berikut adalah hasil pindaian liputan tersebut.

halaman 60-61

halaman 62-63

cover majalah

Berita terkait lainnya:

Peliputan Hasil Riset LRMPHP oleh Media Nasional >>> http://www.mekanisasikp.web.id/2019/02/peliputan-hasil-riset-lrlmphp-oleh.html

Jumat, 22 Maret 2019

Kotak Penjaga Ikan Segar

Pedagang ikan keliling dengan kontainer pendingin mini buatan Balitbang KKP.

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan berhasil membuat kontainer pendingin mini yang bermanfaat bagi pedagang ikan keliling. Mutu ikan lebih terjaga, pedagang dan konsumen diuntungkan.
Sudah belasan tahun Kasman menjadi pedagang ikan keliling. Pria berusia 45 tahun ini mengandalkan sepeda motornya untuk menjajakan ikan dari satu kampung ke kampung lain di Kecamatan Patuk, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Uniknya, di belakang sepeda motornya terdapat kontainer mini yang dilengkapi sistem pendingin layaknya kulkas.
Kontainer pendingin mini bertenaga batere itu digunakan Kasman untuk menyimpan ikan dagangannya agar tetap segar hingga ke tangan konsumen. Berkat kontainer pendingin mini, Kasman mengungkapkan, ia bisa menyimpan ikan hingga tiga hari. Walaupun disimpan berhari-hari, ikan tetap segar. “Setelah menggunakan alat ini, pembelinya tambah mantap. Bahkan, mereka ada yang pesan 20 kilo tuna,” kata Kasman, semringah.

Sebelum menggunakan kontainer pendingin mini, Kasman menyimpan ikan di kontainer yang materialnya terbuat dari stirofoam. Agar ikan tetap segar, kontainer diberi bongkahan batu es. Namun boks stirofoam tidak memenuhi standar higienis. Seringkali kotoran menempel di bagian dinding. Akibatnya, ikan yang disimpan rentan tercemar bakteri. Kesegaran ikan juga hanya mampu bertahan beberapa jam. Semua sisi lemah boks stirofoam itu kini terpecahkan oleh kontainer pendingin mini.

Kontainer pendingin mini yang kini menjadi andalan Kasman itu dikenal dengan sebutan Altis-2, singkatan dari Alat Transportasi segar untuk Kendaraan Roda Dua. Alat yang bertujuan membantu para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sektor perikanan merupakan hasil inovasi teknologi dari Loka Riset Mekanisasi Hasil Perikanan (LRMPHP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). "Altis-2 dimanfaatkan untuk pengusaha kelas menengah kebawah atau (UMKM),"kata Kepala LRMPHP, KKP Luthfi Assadad kepada GATRA.

Artikel lebih lengkap baca Majalah GATRA edisi 21 Tahun XXV/ 21 - 27 Maret 2019

Sumber: GATRA

Senin, 21 Januari 2019

Siaran Pers KKP Nomor SP246/SJ.04/XII/2018


Link siaran pers Kementerian kelautan dan Perikanan Nomor SP246/SJ.04/XII/2018 berjudul LRMPHP raih Juara II IPLAN Challenges 2018.
Klik di sini, atau mirror di sini.
(LSD)

Minggu, 30 Desember 2018

LRMPHP Raih Juara II IPLAN Challenges 2018


link: http://news.kkp.go.id/index.php/loka-riset-mekanisasi-perikanan-brsdm-kp-raih-juara-ii-iplan-challenges-2018/

KKPNews, Jakarta – Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), salah satu unit pelaksana teknis Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menjadi juara II Innovation Challenges bidang pasca panen ikan segar untuk pemasaran lokal, dalam kompetisi Indonesia-Postharvest Loss Alliance for Nutrition (IPLAN) Challenges 2018.

Kepala LRMPHP BRSDM KKP Luthfi Assadad menjelaskan, keikutsertaan unit kerjanya ini merupakan salah satu bukti, bahwa pihaknya kompeten dalam melakukan pengolahan hasil perikanan. “Ini sebagai bukti kami melakukan pengolahan dengan baik. Prestasi ini juga sebagai pioner bagi kami, untuk melakukan yang lebih inovatif dan bermanfaat,” ungkapnya.

LRMPHP mengajukan inovasi ALTIS-2 (alat transportasi ikan segar roda-2) yang merupakan produk unggulan dan andalan LRMPHP yang telah dikaji dan dikembangkan selama beberapa tahun, serta telah diuji terap di berbagai kabupaten/kota di Indonesia. Selain itu, LRMPHP juga mengikutsertakan mini cold storage untuk kapal di bawah 10 GT sebagai peserta kompetisi. “Kalau yang mini cold storagenya hanya lolos sampai 100 besar, tidak lolos ke 40 besar. Nah kalau yang ALTIS-2 ini, dapat juara II kemarin,” jelas Luthfi.

Dalam persiapannya, lanjut Luthfi, LRMPHP telah melakukan pengemasan ulang inovasi dan prototype yang telah dihasilkan, baik produk maupun bahan publikasi. “Kami terus lakukan pengemasan ulang inovasi, hingga latihan presentasi,” tambahnya.

Ia pun berharap, hasil riset ini dapat dikenal masyarakat dan menjadi penyemangat bagi pegawai KKP maupun stakeholder perikanan. “Ya harapannya dapat menjadi trigger-penyemangat, baik di internal LRMPHP maupun BRSDMKP untuk menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan, bermanfaat dan menyejahterakan masyarakat,” tutur Luthfi.

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris BRSDM KP Maman Hermawan. Ia berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas, dan dijadikan alat dalam mendorong kesejahteraan masyarakat pengguna. “Sehingga nantinya kehadiran inovasi ini dirasakan langusng manfaatnya oleh masyarakat pengguna, dalam rangka meningkatkan efisiensi, pendapatan hasil usaha dan mendukung peningkatan kesejahteraan,” terangnya.

Dilansir dari halaman resmi kompetisi (https://iplanchallenge.com/), Innovation Challenges bidang pasca panen ikan segar untuk pemasaran lokal merupakan program kompetisi tingkat nasional yang mencari ide inovasi teknologi pasca panen, agar bisa diterima pengguna dan dipasarkan. Inovasi diutamakan untuk mengurangi postharvest loss (PHL) ikan segar dari tempat pendaratan hingga ke konsumen di lima titik kritis, yakni Tempat Pendaratan Ikan (TPI), transportasi dan distribusi (termasuk pedagang ikan dan sayur-sayuran keliling), pengecer di pasar (termasuk penjual pinggir jalan), Sistem penyimpanan kecil (Small Storage System), dan bahan pendingin alternatif (pengganti es).

Kompetisi ini diselenggarakan atas kerjasama GAIN (Global Alliance for Improved Nutrition), Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Nanyang Technogical University of Singapore, Indonesia-Postharvest Loss Alliance for Nutrition (IPLAN) dan beberapa instansi lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Innovation Factory dan NTUitive.

Para dewan juri berasal dari GAIN, Kemenkes, KKP, NTU, IPLAN, serta pakar bisnis dan startup. Sebanyak 230 usulan proposal inovasi dari berbagai wilayah di Indonesia, diseleksi sehingga diperoleh 12 finalis yang kemudian diadu konsep, gagasan dan prototype produknya dalam agenda puncak yang diselenggarakan pada tanggal 12 Desember 2018 di Jakarta.

Juara pertama pada setiap kategori berhak memperoleh hadiah sebesar Rp 30.000.000, grant untuk pendanaan aplikasi produk sebesar 1 M, serta mentoring dari NTUitive; sedangkan juara kedua berhak memperoleh hadiah sebesar Rp 20.000.000.

(humas_brsdm/MD)

Jumat, 06 April 2018

NIKMATNYA IKAN ASAP TANPA ASAP

Ikan asap adalah produk olahan ikan yang mempunyai aroma asap. Selama ini pembuatan ikan asap masih dilakukan secara tradisional, yaitu dengan cara mengasapi ikan secara langsung. Namun, metode ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain kualitas produk ikan kurang konsisten serta adanya deposit tar dan senyawa-senyawa yang berbahaya bagi kesehatan (Dharmadji, 1996). Kelemahan ini dapat diatasi dengan penggunaan asap cair. Dengan cara ini pemberian aroma asap pada makanan akan lebih praktis, yaitu dengan pencelupan produk ke dalam asap cair yang diikuti dengan pengeringan (Darmadji, 2002).

Asap cair merupakan asap yang terkondensasi menjadi fase cair. Asap ini mengandung berbagai senyawa, antara lain fenol, karbonil, asam, furan, alkohol, ester, keton, hidrokarbon alifatik, dan poliaromatik hidrokarbon. Asap cair dapat dihasilkan secara sederhana dengan malakukan pirolisis atau pembakaran dengan pembatasan penggunaan oksigen menggunakan alat pirolisa. Untuk mendapatkan asap cair dengan kualitas yang aman untuk makanan, dapat dilakukan dengan mengatur suhu pembakaran dan meredistilasi asap yang dihasilkan atau menyaring dengan filter tertentu. Salah satu perbandingan pengasapan tradisional dan pengasapan asap cair ditunjukkan pada Gambar di bawah ini.



Pengasapan asap cair
Pengasapan tradisional

Salah satu penelitian pembuatan asap cair dan aplikasinya telah dikembangkan oleh peneliti di Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan dan Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Asap cair dihasilkan dari pirolisis tempurung kelapa pada suhu 400 derajat C yang dapat menghasilkan asap cair dengan kandungan fenol paling tinggi (sebesar 4,01%) dan tidak mengandung senyawa benzo(a)pyrene yang berbahaya bagi kesehatan. Pembuatan ikan patin asap terbilang sangat mudah, hanya dengan merendam ikan dalam larutan asap cair dan dilanjutkan dengan pemanasan. Ikan patin (pangasiun sutchi) kemudian di fillet kemudian dicuci dan direndam dalam larutan asap cair yang telah disiapkan. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman fillet ikan patin dalam larutan asap cair dengan konsentrasi 2% selama 20 menit menghasilkan ikan patin asap yang paling disukai panelis. Ikan asap yang telah dihasilkan dapat disantap dengan cara digoreng langsung atau dibuat sayur mangut agaiur lebih nikmat. Untuk menambah aroma dan rasa tertentu dalam perendaman asap cair dapat ditambahkan bumbu-bumbu sesuai selera. Pada pembuatan ikan asap ini dijamin mata tidak akan perih dan hasilnya aroma asap lebih terasa dan nikmat tentunya. Selamat mencoba dan menikmati ikan asap tanpa asap. 




Jumat, 21 Juli 2017

Tetap Segar, Jaga Nilai - Preserve Freshness, Preserve Value



ALTISe-2 adalah alat transportasi ikan segar yang digunakan untuk mendistribusikan/menjual ikan segar ke pembeli sehingga mutu ikan segar tetap terjaga dan mempermudah kegiatan transportasi ikan oleh pedagang ikan keliling menggunakan sepeda motor. Alat ini terdiri dari komponen utama peti untuk menyimpan ikan yang dilengkapi dengan sistem pendingin TEC, ruang aksesori tempat meletakkan timbangan, pisau dan talenan yang dirakit pada sepeda motor.

Sistem pendingin TEC digunakan di dalam ALTISe-2 yang berfungsi untuk mempertahankan suhu ikan tetap rendah. TEC terdiri dari komponen utama elemen peltier yang menggunakan sumber arus listrik DC (aki)

ALTISe-2 is the fresh fish transportation device for fish retailer used to maintained the temperature and the freshner of fish during retailing practice. TEC (thermo electric cooler) used in the ALTISe-2 to maintain the temperature of the fish remain low. TEC consists of the main components peltier element that uses a DC electric current source (battery)

Perspektif:
Mempertahankan ikan tetap segar lebih menyenangkan pembeli, dan menguntungkan penjual.

Keunggulan Inovasi:
• Mengurangi biaya operasional karena tidak menggunakan es batu
• Dapat mempertahankan suhu ikan di bawah 5 °C selama kegiatan penjualan ikan
• Dapat mempertahankan mutu dan kesegaran ikan selama penjualan ikan
• Altise-2 lebih kelihatan menarik dan bersih jika dibandingkan dengan penggunaan styrofoam box

Sumber : http://www.bic.web.id/login/inovasi-indonesia-unggulan/1350-tetap-segar-jaga-nilai

108 Inovasi Indonesia 2016 | ARN Transportasi | 002 Industrial Manufacturing, Material, and Transport Technologies | 011 Social and Economic Concerns | 007 Agriculture and Marine Resources

Dua Pencemar Sepakat Menjadi Benar



Ini fakta yang menggiriskan. Sekitar 70-85 persen pengolahan rumput laut menjadi agar, terbuang dalam bentuk limbah padat. Limbah sebanyak itu belum termanfaatkan dan pembuangan akhir limbahnya pun selalu jadi masalah.

Tetapi bisa saja temuan Bakti Berlyanto Sedayu, Jamal Basmal, Diini Fithriani, dan Tri Nugroho Widianto dari Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Pertanian, menjadi solusi rangkaian masalah tadi. Mereka menemukan bahwa kandungan selulosa yang tinggi pada limbah padat agar ternyata dapat dijadikan dasar pembuatan papan partikel.

Caranya, limbah agar tersebut dicampur dengan limbah polietilena (PE) sebagai agen perekat, dengan komposisi berat 1:1. Selanjutnya bahan itu dicetak dengan proses pengepresan panas. Jadilah papan keras. Selulosa yang bersifat menolak air membuat panel yang dihasilkan memiliki sifat tahan air dan kuat. “Ini sesuai untuk pemakaian di negara-negara tropis yang lembab,” kata Bakti.

Menurut Bakti, inovasi yang telah didaftarkan patennya ini bahan bakunya murah. Proses pembuatannya pun sederhana. “Inovasi ini mengurangi masalah pencemaran lingkungan serta memberikan nilai tambah dari limbah. Papan partikel yang dihasilkan pun telah memenuhi standar internasional,” kata Bakti. 

Papan partikel dari limbah pengolahan rumput laut itu diklaim Bakti cocok diterapkan pada industri, selain tentu saja untuk pemakaian luas di masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar industri pengolahan agar-agar.

Satu hal lainnya, kian gencarnya gerakan penolakan produk kayu dari hutan alam dan maraknya upaya pelestarian lingkungan, menjadikan pembuatan papan dari bahan limbah agar tersebut menjadi peluang bisnis yang menarik.

Sumber : IndonesiaberInovasi.com
Sumber gambar : http://www.bic.web.id/login/inovasi-indonesia-unggulan/1156-dua-pencemar-sepakat-menjadi-benar


Senin, 07 November 2016

Kerjasama Alat Uji Kesegaran Ikan Tuna Non Destruktif LPPMPHP - ITS (2016)


Dokumentasi liputan media, perjanjian kerjasama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Daya Saing Produk dan Bioteknologi KP - BALITBANGKP (cq. Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan) dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (cq. Jurusan Teknik Elektro)

Daftar Link
  • http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/16/11/04/og452v284-its-didukung-kkp-desain-alat-deteksi-kesegaran-ikan
  • http://www.suarasurabaya.net/mobile/kelanakota/detail/2016/179833-Teliti-Kesegaran-Ikan-Tuna,-ITS-Gandeng-LPP-MPHP-Bantul
  • http://kabarindo.com/?act=single&no=43623
  • http://www.antarajatim.com/lihat/berita/186923/its-kkp-kerja-sama-desain-alat-deteksi-kesegaran-ikan
  • http://balipost.com/read/pendidikan/2016/11/05/64456/its-desain-alat-deteksi-kesegaran-ikan.html
  • http://industri.bisnis.com/read/20161104/84/599282/inovasi-its-kkp-kembangkan-alat-deteksi-kesegaran-ikan
  • http://jatim.antaranews.com/berita/186923/its-kkp-kerja-sama-desain-alat-deteksi-kesegaran-ikan?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news
  • http://www.koran-sindo.com/news.php?r=5&n=18&date=2016-11-05
  • http://www.cendananews.com/2016/11/its-rancang-desain-alat-deteksi.html
  • http://www.centroone.com/News/Detail/2016/11/7/12747/its-digandeng-kkp-ciptakan-alat-deteksi-kesegaran-tuna
  • http://surabayaonline.co/2016/11/04/its-siapkan-teknologi-untuk-tangkapan-ikan-berkualitas/
  • http://www.jurnalindonesia.net/alat-deteksi-kesegaran-ikan-ala-its/

Selasa, 05 Januari 2016

Uji Terap ALTIS-2 di Pacitan - Jawa Timur

Liputan tentang Uji Terap Peti Insulasi untuk kendaraan roda 2 (ALTIS-2) di web Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pacitan

Link



Rabu, 30 Desember 2015

Uji Terap Alat Transportasi Ikan Segar Roda 2 (ALTIS-2)

Liputan berita / dokumentasi di web KKP
Uji Terap Alat Transportasi Ikan Segar Roda 2 (ALTIS-2)

Link: http://news.kkp.go.id/index.php/uji-terap-alat-transportasi-ikan-segar-roda-2-altis-2/

Bitung Ujicoba 7 Unit Kontainer Insulasi Ikan Keliling

Liputan berita uji terap: Dinas Kelautan dan Perikanan Bitung Ujicoba 7 Unit Kontainer Insulasi Ikan Keliling.

Link: http://www.mekanisasikp.web.id/2015/12/dkp-bitung-ujicoba-7-unit-kontainer.html