Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Rabu, 05 Desember 2018

Perut paus sperma penuh plastik di Wakatobi: lima langkah kurangi ancaman mikroplastik di laut Indonesia

Peneliti memeriksa Paus sperma yang terdampar tewas di pantai Pulau Kapota Wakatobi, 20 November 2018. Di perut paus sepanjang hampir 10 meter itu ditemukan sampah plastik sekitar 6 kilogram. WWF/ EPA
Pertengahan November lalu, penduduk lokal bahkan hingga internasional dikagetkan oleh bangkai paus sperma sepanjang hampir 10 meter terdampar di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Meski penyebab kematiannya belum diketahui pasti, tapi sampah plastik 6 kilogram yang ditemukan dalam perut paus malang tersebut diduga sebagai penyebab utama kematian mamalia yang masuk daftar dilindungi tersebut.

Kejadian serupa sebenarnya juga ditemukan di berbagai tempat lain seperti di Spanyol, Norwegia, dan Selandia Baru. Bahkan tidak hanya paus, ratusan jenis hewan laut lainnya juga telah dilaporkan tewas karena pencemaran plastik.

Juga ancaman terhadap manusia

Sampah plastik yang hanyut terbawa air hujan atau melalui aliran air yang bermuara di lautan telah menjadi ancaman serius bagi biota laut, bahkan kini menjadi ancaman nyata bagi manusia. Sifat plastik yang sulit terurai di lingkungan, kemudian diikuti dengan pecahnya sampah plastik karena paparan terik matahari serta kondisi fisik lingkungan, menjadi serpihan-serpihan plastik yang sangat kecil yang dikenal sebagaimikroplastik.

Mikroplastik ini telah teridentifikasi mencemari hampir di berbagai wilayah laut Indonesia . Bahkan hasil riset terbaru dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melaporkan bahwa garam meja hingga ikan teriyang diambil dari perairan Indonesia juga telah tercemar mikroplastik.

Temuan ini sungguh sangat mengkhawatirkan karena garam merupakan bumbu yang hampir dikonsumsi setiap hari oleh penduduk Indonesia. Bila ikan teri yang berukuran kecil saja saja telah terkontaminasi, bisa diperkirakan ikan-ikan lain yang berukuran besar juga ikut terkontaminasi melalui rantai makanan. Ujung dari rantai makanan tersebut adalah manusia.

Didominasi sampah rumah tangga

Temuan cemaran mikroplastik dalam perairan Indonesia sebenarnya bukan sesuatu yang tidak diperkirakan sebelumnya, mengingat Indonesia dilaporkan sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan yang terbesar kedua di dunia setelah Cina. Sampah plastik di lautan umumnya didominasi oleh sampah rumah tangga yang terbawa aliran sungai seperti kantong plastik, botol minuman, pengemas makanan, dan lainnya.

Ironisnya, dari 20 besar sungai paling tercemar di dunia yang menyumbang sampah plastik ke lautan, 4 di antaranya ada di Indonesia.

Mengingat pola konsumsi hasil laut yang tinggi oleh penduduk di negara kepulauan seperti Indonesia, dan potensi pariwisata bahari yang juga ikut terancam, kita wajib merespons masalah ini dengan segera untuk mencegah dan mengurangi risiko-risiko yang lebih buruk pada masa mendatang.

Setidaknya ada lima cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya akumulasi sampah plastik di lautan.

1. Mengubah kebiasaan: hindari, kurangi, pakai kembali, dan daur ulang plastik

Mengubah perilaku masyarakat tidak mudah. Perubahan dapat dimulai secara bertahap. Kita bisa mulai menghindari penggunaan atau pembelian produk plastik sekali-pakai dalam aktivitas keseharian, seperti penggunaan plastik kresek, membeli jajanan dalam kemasan dan botol plastik, penggunaan sedotan plastik, dan sejenisnya.Sampah plastik yang paling banyak ditemukan di lautan berasal dari jenis pengemas tersebut.

Kita dapat mengurangi ketergantungan barang plastik tersebut dengan cara menggantikannya dengan barang alternatif yang dapat dipakai ulang, seperti tas belanja kain atau plastik, kotak makanan atau botol minuman. Langkah lainnya, mendaur ulang limbah plastik menjadi produk yang sama maupun produk lainnya yang memiliki nilai guna dan ekonomi, seperti furnitur, perabot rumah, dan dekorasi.

2. Memisahkan jenis sampah sejak awal

Sistem pengelolaan sampah di Indonesia memang masih tertinggal. Memisahkan jenis-jenis sampah sejak awal, misalnya pemisahan sampah organik dan sampah plastik atau sampah yang dapat di daur ulang, merupakan metode dasar yang sangat penting. Langkah efektif ini mesti dimulai sejak awal sampah dibuang ke masing-masing tempat sampah sesuai jenisnya oleh tiap-tiap individu, rumah tangga, serta publik. Dengan terkumpulnya sampah-sampah sejenis, maka akan memudahkan proses penanganan atau pengolahan sampah tersebut selanjutnya.

Misalnya sampah organik dapat diproses lanjut untuk pembuatan pupuk kompos atau biogas, sedangkan sampah plastik, kertas, dan metal dapat diolah untuk didaur ulang. Kesulitan pengelolaan sampah sering kali disebabkan oleh tercampurnya berbagai jenis sampah hingga ke tempat pembuangan akhir.

3. Mendorong peran pemerintah melalui edukasi dan regulasi

Masalah mendasar banyaknya cemaran sampah plastik adalah lemahnya kesadaran dan tanggung jawab individu yang masih membuang sampah sembarangan, bahkan ke aliran sungai. Dan tidak dikenakan hukuman dan denda terhadap orang yang membuang sampah sembarangan.

Kegiatan dan cara edukasi yang tepat serta berkesinambungan kepada masyarakat harus dilakukan dengan lebih gencar lagi, kemudian diikuti juga oleh aturan-aturan yang ketat mengenai pembuangan, penanganan, serta pemanfaatan dan daur ulang sampah.

Aturan main dan sistem pengelolaan sampah pada tiap atau antar pemerintah daerah juga mesti dibenahi, sehingga jelas peran dari tiap-tiap pelaku atau sektor yang mengelola sampah di daerahnya. Saat ini, telah banyak negara di dunia yang melarang penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong plastik atau sedotan. Di Kenya, ditambah hukumanpenjara 4 tahun atau denda $4,000.

Pemerintah juga harus mendorong atau memberikan insentif terhadap sektor swasta, atau kelompok masyarakat yang mendukung pengelolaan sampah plastik ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ini termasuk mendorong peran aktif industri untuk mengumpulkan kembali serta mengelola sampah plastik dari produk yang dijualnya agar tidak berakhir ke aliran perairan.

Beberapa contoh kebijakan inovatif di antaranya diterapkan Inggris, Jerman, Australia, dan beberapa negara lain. Mereka meletakkan mesin penjual otomatis (vending machine) di tempat publik, yang berfungsi menampung botol plastik bekas untuk ditukarkan dengan sejumlah uang. Cara ini telah terbukti secara efektif mengurangi jumlah sampah botol plastik ke lingkungan.

4. Dukungan riset dan teknologi

Menghilangkan ketergantungan penggunaan plastik seutuhnya juga bukan merupakan pilihan yang realistis, karena kebutuhan terhadap plastik dalam kehidupan sehari hari sangat mendasar dan mencakup ke berbagai macam sektor kehidupan. Industri makanan, elektronik, peralatan rumah tangga, dan industri lainnya membutuhkan plastik untuk mengemas produk. Karena itu dibutuhkan bahan alternatif lainyang bisa menggantikan penggunaan plastik tapi dengan sifat yang ramah lingkungan.

Pengembangan bioplastik mungkin merupakan opsi yang paling realistismenjawab tantangan ini. Demikian juga dengan inovasi lainnya seperti teknologi pengolahan dan pemanfaatan limbah plastik.

India kini telah memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan pembuatan jalan dan bahan bata bangunan. Sedangkan Amerika Serikat kini sedang mengembangkan sampah plastik untuk dijadikan bahan bakar disel dan tengah mengujicoba alat pengumpul sampah plastik raksasa yang dipasang di Samudra Pasifik.

Masih banyak lagi contoh teknologi lainnya yang sedang dikembangkan terkait pengelolaan sampah plastik. Tanpa sentuhan teknologi sepertinya mustahil dapat menyelesaikan masalah ini.

5. Aksi bersih pantai

Kegiatan ini merupakan partisipasi sukarela yang biasanya digagas oleh kelompok pemerhati lingkungan, kelompok masyarakat, maupun pribadi dengan cara memungut dan mengumpulkan sampah-sampah yang ditemukan di sepanjang pantai seperti botol plastik, puntung rokok, dan sebagainya.

Aksi ini banyak dilakukan di daerah-daerah pariwisata seperti Bali, Pangandaran, Belitung dan lainnya. Selain memberikan dampak langsung memperindah pantai, dan menambah kenyamanan masyarakat lokal dan pengunjung, kegiatan ini juga mendukung perbaikan lingkungan pesisir dan lautan. Hal penting lainnya, gerakan sosial ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan laut dengan tidak membuang sampah sembarang.

Memang tidak ada cara tunggal yang ampuh untuk menyelesaikan secara menyeluruh masalah sampah plastik. Karena itu, dibutuhkan peran aktif berbagai pihak untuk menyelesaikannya guna menciptakan lingkungan dan masa depan yang lebih baik. Dan yang terpenting adalah memulainya dari level terkecil: masing-masing individu.

Sumber : theconversation.com
Penulis : Bakti Berlyanto Sedayu, Peneliti LRMPHP

Senin, 03 Desember 2018

Ka. LRMPHP Hadiri Launching Kampung Nila di Sleman

Ka LRMPHP menyampaikan sambutan 
Kepala Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), Luthfi Assadatd, M.Sc mewakili Pusat Riset Perikanan (Pusriskan)  menghadiri kegiatan pencanangan Kampung Nila di Pokdakan Mino Ngremboko, Bogesan, Kabupaten Sleman pada kamis (29/11). Dalam sambutannya, Kepala LRMPHP menyampaikan apresiasinya atas pencanangan kampung Bokesan sebagai Kampung Nila. Berbagai lini di lingkup BRSDM, khususnya di Pusriskan dan LRMPHP siap untuk memberikan dukungan teknologi agar pencanangan Kampung Nila ini mencapai harapan semua pihak.

Ka LRMPHP menghadiri launghing Kampung Nila
Kampung Nila Bokesan pada awal tahun 1970-1980an merupakan daerah yang tandus, namun dengan adanya aliran irigasi yang diinisiasi pada saat itu, membuka celah untuk usaha perikanan berupa pembudidayaan ikan air tawar, baik berupa lele dan nila oleh masyarakat baik secara individu maupun berkelompok.

Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mino Ngremboko sebagai salah satu KPI di Bokesan merupakan kelompok yang aktif bergerak khususnya pada budidaya dan pembibitan ikan nila. Dari waktu ke waktu, berbagai penghargaan diraih oleh KPI Mino Ngremboko, seperti pengakuan sebagai pelaku usaha perikanan level Madya dari pemerintah, serta penetapan KPI Mino Ngremboko sebagai Pusat Pelatihan Masyarakat Kelautan dan Perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Dengan berbagai modal tersebut, KPI Mino Ngremboko bergerak lebih jauh lagi dengan mengembangkan usaha wisata dan kuliner bidang perikanan.

Atas dasar hal tersebut maka Kampung Bogesan dicanangkan sebagai Kampung Nila di Kabupaten Sleman. Pencanangan Dusun Bokesan sebagai Kampung Nila ditandai dengan penyerahan miniatur kampung nila oleh Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, (Ir. Heru Saptono, MM) kepada Camat Ngemplak (Dra. S. WahyuPurwaningsih). Pada kesempatan tersebut, Kepala DP3 juga membacakan sambutan tertulis Bupati Sleman yang menyampaikan perlunya aspek perikanan yang dikaitkan dengan aspek pariwisata pada pencanangan Kampung Nila ini, sehingga kedepannya akan lebih terintegrasi antara sektor perikanan dengan pariwisata. Diharapkan kesejahteraan tidak hanya dirasakan bagi masyarakat yang berkecimpung di usaha perikanan semata, namun dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Selain pencanangan kampung nila di Dusun Bokesan, juga dicanangkan teknologi budidaya ikan Sibudidikucir yaitu Sistem Budidaya Ikan Nila dengan Sentuhan Teknologi Kincir Air di Dusun Karang, Ngemplak, Sleman. Teknologi Sibudidikucir tersebut diklaim dapat mengurangi kebutuhan air selama budidaya nila dan dapat meningkatkan produktivitas.

Garam dan Ikan Tercemar Plastik

Pencemaran plastik di lautan semakin mengkhawatirkan. Selain meracuni organisme laut, pencemaran plastik juga mengancam manusia. Hasil penelitian terbaru menemukan kandungan plastik mikro pada garam dan ikan di Indonesia. Plastik mikro pada garam dan ikan itu ditemukan melalui penelitian dua tim terpisah, yaitu peneliti Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, dan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). ”Kami menemukan adanya 10-20 partikel plastik mikro per kilogram garam. Jenis plastik pada garam mirip dengan temuan di air, sedimen, dan biotanya,” kata peneliti kimia laut dan ekotoksikologi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Reza Cordova, di Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Menurut Reza, penelitiannya tentang plastik mikro pada garam ini dilakukan di tambak di daerah pantai utara Jawa, yaitu di Pati, Kudus, Demak, dan Rembang. ”Kami menduga, plastik mikro pada garam ini berasal dari air laut yang sudah tercemar. Selain itu, ada juga kemungkinan masuknya plastik mikro setelah pemanenan karena banyak menggunakan plastik,” katanya. 

Plastik mikro (microplastics) adalah partikel plastik berdiameter kurang dari 5 milimeter (mm) atau sebesar biji wijen hingga 330 mikron (0,33 mm). Adapun plastik nano (nanoplastics) berukuran lebih kecil dari 330 mikron.

Sementara itu, penelitian tim Unhas, menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas Akbar Tahir, dilakukan di tambak garam di Janeponto, Sulawesi Selatan. ”Kami mengambil contoh air, sedimen, dan garam pada tambak yang airnya bersumber dari saluran primer dari laut. Ada delapan titik yang di-sampling dengan dua kali ulangan, jadi kami kumpulkan 16 sampel air,” katanya.

Menurut Akbar, tujuh sampel garam yang diteliti positif mengandung plastik mikro dengan total kontaminasi 58,3 persen. Sementara dari 16 sampel air yang diteliti, ditemukan 31 partikel plastik mikro pada 11 sampel. Tingkat kontaminasinya secara keseluruhan 68,75 persen.

Untuk sedimen, dari 16 sampel yang diperiksa, ditemukan 41 partikel plastik mikro dengan tingkat kontaminasi 50 persen. ”Total kontaminasi ini dihitung dari jumlah sampel positif terhadap total sampel yang diteliti,” kata Akbar.

Plastik sekali pakai

Menurut Reza, sumber penDarwin, cemar pada garam ini bisa ditelusuri jejaknya dengan temuan pencemaran plastik mikro pada air laut. ”Sebagian besar sumber plastiknya kami duga berasal dari plastik sekali pakai, seperti kantong plastik. Ada juga plastik dari jaring nelayan dan pakaian,” katanya.

Menurut Reza, penelitiannya terhadap kandungan plastik mikro di air laut dilakukan di 13 lokasi dan semua tercemar dengan tingkat dari 0,25 partikel per meter kubik sampai hampir 10 partikel per meter kubik. ”Paling tinggi adalah cemaran plastik mikro di pesisir Jakarta dan Sulawesi Selatan, yaitu 7,5-10 partikel per meter kubik,” katanya.

Reza menambahkan, penelitiannya terhadap teri dan sejenisnya di 10 lokasi di Indonesia juga menemukan cemaran plastik mikro. ”Sebanyak 58-89 persen teri mengandung plastik mikro. Paling tinggi konsentrasinya kami temukan di Makassar dan Bitung,” katanya.

Sebelumnya, riset bersama Universitas Hasanuddin dan University of California, Davis, Amerika Serikat, menemukan cemaran plastik mikro di saluran pencernaan ikan dan kerang yang dijual di tempat pelelangan ikan terbesar di Makassar. Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional, Nature, September 2015.

Dalam penelitian ini ditemukan, sepertiga sampel atau 28 persen mengandung plastik mikro. Sebanyak 76 ikan dari 11 jenis ikan berbeda diteliti kandungan plastik mikronya. Mulai dari teri sampai tongkol tercemar. Dari 10 teri, 4 ekor tercemar plastik.

Akbar mengatakan, temuan tentang adanya plastik mikro pada garam dan ikan menjadi peringatan terkait keseriusan pencemaran limbah plastik di lautan. ”Harus ada tindakan sungguh-sungguh untuk mengatasi persoalan sampah plastik ini. Untuk garam, secara teknis bisa dikurangi dengan menyaring air laut yang menjadi bahan bakunya walau harganya akan mahal. Namun, bagaimana dengan ikan?” katanya.

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji Riau Agung Dhamar Syakti, sampah plastik di laut bisa melepas senyawa kimia beracun, seperti nonylphenols. Sementara plastik mikro mudah mengikat bahan pencemar beracun, seperti pestisida dan aneka logam berat pemicu kanker, mutasi genetik, dan merusak embrio.


Sumber : https://www.pressreader.com/indonesia/kompas

Jumat, 30 November 2018

Bisnis Akuakultur Siap Bertransformasi ke Industry 4.0

Dok Humas KKP
Jakarta – Ajang Aquatica Asia dan Indoaqua 2018 yang mengusung tema ” Transform Aquaculture Business Into Industry 4.0 menjadi momen penting untuk mengawali penciptaan bisnis akuakultur yang lebih efisien.

Sebagaimana diketahui perkembangan teknologi informasi telah sedemikian dinamis. Era Industri 4.0 merupakan etape baru transformasi bisnis akuakultur dari semula konvensional ke arah yang berbasis digital atau Internet of Things (IoT).

“Subsektor akuakultur siap menyongsong era industri 4.0 dengan fokus utama pada tujuan pencapaian efesiensi, produktivitas dan nilai tambah. Era ini harus kita tangkap sebagai peluang, sehingga nilai ekonomi sumberdaya akuakultur ini mampu dimanfaatkan secara optimal”, ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat membuka ajang Aquatica Asia dan Indoaqua 2018 di JIEXPO Kemayoran Jakarta, Rabu (28/11).

Slamet menjelaskan, upaya mentransformasi bisnis akuakultur dalam industry 4.0 akan memberikan solusi terbaik khususnya dalam membangun sistem produksi yang lebih efisien dan terukur mulai dari aspek teknis produksi, penguatan SDM dan aspek manajemen bisnisnya.

Menurutnya ada beberapa indikator yang bisa dicapai melalui industry 4.0 ini yakni : efisiensi mata rantai pasar melalui interkoneksi sistem informasi tataniaga guna maningkatkan nilai tambah di level pelaku bisnis akuakultur dan keterjangkauan harga dilevel konsumen; penciptaan sistem informasi logistik input produksi yang efisien dan mudah dijangkau oleh pelaku akuakultur; penguatan data base untuk menjamin sistem ketelusuran dalam proses produksi akuakultur;  penciptaan sistem mitigasi dan early warning sistem melalui penyediaan data base kondisi lingkungan secara real time; pencapaian efisiensi produksi melalui teknologi akuakultur berbasis digitalisasi; dan reformasi birokrasi perijinan berbasis online yang lebih efisien dan bertanggungjawab untuk menarik investasi.

“Indikator di atas sudah mulai dilakukan. Pada kesempatan ini, saya sangat mengapresiasi para start up yang sudah menginisiasi transformasi bisnis aquaculture terutama dalam hal membangun sistem informasi bisnis dan skema pembiayaan crowdfunding. Tentu ini sangat positif untuk mempercepat pengembangan bisnis akuakultur”, imbuh Slamet

Namun demikian, Slamet menekankan bahwa penerapan teknologi digitalisasi dalam proses produksi harus dalam kerangka menjamin sustainable aquaculture.

“Prinsip sustainable aquaculture mutlak diterapkan. Kita tidak ingin akualultur dicap sebagai kegiatan yang tidak ramah linhkungan. Oleh karenanya, saya selalu katakan untuk tidak lagi menggunakan induk/benih dari alam, tidak menggunakan obat obatan dan bahan kimia yang tidak direkomendasikan, menghindari alih fungsi lahan, dan pengendalian limbah budidaya”, tegasnya.

Sementara itu, Norman Lim, Digital Solution Lead Asia, PT. Cargill menyampaikan bahwa teknologi digital dalam akuakultur ke depan setidaknya akan menjembatani 5 ( lima) hal yakni :  penyediaan dan interkoneksi akses data dari onfarm secara real time; menjamin keamanan data; analisis data; pengembangan perangkat otomatos dalam proses produksi; dan menjamin akses ketelusuran produk dalam supply chain.

“Di PT. Cargill sistem ini sudah dibangun. Kami memiliki perangkat sistem dengan nama IQshrimp. Dengan sistem ini akan membantu petambak udang untuk mengambil keputusan yang tepat melalui input data yang dapat diakses secara real time dari onfarm,” ungkap Lim. (humas_djpb)


Sumber : KKPNews

Kamis, 22 November 2018

LRMPHP Mengikuti Pameran Gelar Bulan Teknologi tahun 2018

LRMPHP mengikuti pameran gelar bulan teknologi (dok. LRMPHP)
Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) turut berpartisipasi dalam Pameran Bulan Teknologi Tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam - Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (BPTBA-LIPI) di Taman Pintar Yogyakarta pada kamis-sabtu (15-17/11). Keikutsertaan LRMPHP dalam pameran tersebut sebagai tindak lanjut atas surat undangan permintaan partisipasi pameran dari BPTBA-LIPI No. B-1494/ipt.8/HM.01.01/XI/2018 tanggal 6 November 2018.

Kegiatan pameran  tersebut  merupakan bagian dari rangkaian acara Bulan Teknologi BPTBA - LIPI Tahun 2018 yang mengusung tema  "Pengembangan Budaya IPTEK Berbasis Kearifan Lokal Untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat". Pameran ini bertujuan untuk pemasyarakatan IPTEK khususnya teknologi pengemasan makanan tradisional dan sebagai wadah komunikasi interaktif dengan masyarakat. Selain diikuti oleh LRMPHP, kegiatan pameran juga diikuti oleh UMKM binaan BPTBA-LIPI, Lembaga Litbang, Instansi/lembaga mitra BPTBA-LIPI dan perusahaan berbasis produk pangan.
Stand Pameran LRMPHP (dok LRMPHP)
Pada pameran ini, LRMPHP menampilkan peralatan uji kesegaran ikan berbasis android. Prinsip kerja alat ini adalah pendeteksian bau ikan menggunakan sensor ammonia dan citra mata ikan menggunakan kamera. Keunggulan alat uji ini selain bersifat non-destruktif (tidak merusak bahan), pengujiannya juga cepat dan dapat mengetahui kesegaran ikan secara real time. Selain alat uji kesegaran ikan, hasil-hasil riset LRMPHP dalam bentuk leaflet, brosur, infografis, banner dan video juga ditampilkan dalam pameran ini.
Diskudi dengan pengunjung pameran (dok. LRMPHP)
Selama mengikuti pameran, stand LRMPHP banyak menerima kunjungan baik dari akademisi, instansi pemerintahan, UKM maupun masyarakat. Pada kesempatan tersebut dilakukan diskusi interaktif dan konsultasi tentang peralatan yang ditampilkan.

Pengunjung umumnya tertarik dengan peralatan hasil riset LRMPHP dan menanyakan beberapa hal tentang prinsip kerja, kegunaan alat, spesifikasi dan harga alat. Beberapa pengunjung memberikan masukan dan saran untuk perbaikan alat tersebut diantaranya untuk meniadakan boks penguji pada alat uji sehingga hanya digunakan smartphone dalam pengujiannya. Harapannya peralatan yang ditampilkan tersebut segera dapat dikomersialisasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.