LRMPHP ber-ZONA INTEGRITAS

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, siap menerapkan Zona Integritas menuju satuan kerja berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 81/2020

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 30 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2020

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Kamis, 14 Oktober 2021

LRMPHP Kembangkan Bioplastik Ramah Lingkungan dari Karaginan Rumput Laut (Bagian Plasticizer)

Bioplastik ( Sumber : https://www.krjogja.com/peristiwa/nasional/masyarakat-bakal-terbebani-dengan-penerapan-cukai-plastik)


Menurut Kipngetich dan Hillary yang dipublikasikan dalam International Journal of Green and Herbal Chemistry pada tahun 2013, setiap tahun terdapat sekitar 265.000.000 ton plastik yang diproduksi dan digunakan di dunia untuk keperluan industri maupun rumah tangga. Plastik ini tidak dapat terurai dalam waktu singkat sehingga dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti banjir dan munculnya marine debris. Solusi untuk permasalahan ini yaitu dengan menggunakan bioplastik. Radhiyatullah, et al dalam Jurnal Teknik Kimia USU pada tahun 2015 menyampaikan bahwa bioplastik merupakan plastik yang dapat terurai oleh mikroorganisme dan terbuat dari bahan yang dapat diperbaharui. 

Tim peneliti dari LRMPHP telah mengembangkan metode dan peralatan yang digunakan untuk mengolah biji bioplastik dari karaginan rumput laut. Metode yang digunakan yaitu metode ekstrusi; sedangkan peralatan yang digunakan yaitu : mixer yang berfungsi untuk mencampurkan bahan hingga homogen, single screw extruder yang berfungsi untuk memproses campuran bahan tersebut dengan suhu dan kecepatan tertentu hingga membentuk ekstrudat, dan pelletizer yang berfungsi untuk memotong ekstrudat tersebut menjadi ukuran yang ditentukan.

Plasticizer merupakan salah satu komponen utama dalam pembuatan bioplastik. Menurut Parra et al. yang dipublikasikan dalam Jurnal Carbohydrate Polymers pada tahun 2004, penambahan plasticizer untuk bioplastik bertujuan untuk mengatasi kerapuhan film yang disebabkan oleh gaya antarmolekul yang tinggi. Plasticizer mengurangi kekuatan ini dan meningkatkan mobilitas rantai polimer, sehingga meningkatkan fleksibilitas dan ekstensibilitas film bioplastik. Di sisi lain, plasticizer umumnya mengurangi permeabilitas gas, uap air dan zat terlarut dari film bioplastik serta dapat menurunkan elastisitas dan kohesi.

Maneking, et al dalam Jurnal MIPA Universitas Sam Ratulangi tahun 2020 membuat bioplastik dari pati singkong dengan gliserol dan air sebagai plasticizer, sedangkan Kumoro dan Purbasari dalam Jurnal Teknik membuat bioplastik dari tepung nasi aking dan tepung singkong dengan gliserol sebagai plasticizer. Boortom (2008) dalam International Food Research Journal menyampaikan bahwa penggunaan gliserol memberikan kelarutan yang lebih tinggi pada film plastik dibandingkan sorbitol, sedangkan menurut Ginting, et al. (2015) yang dipaparkan dalam The International Journal of Engineering and Science, bioplastik dengan plasticizer gliserol memiliki fraktur yang halus dan rongga yang kecil.


Penulis : Putri Wullandari - LRMPHP


Jumat, 08 Oktober 2021

Peluang Kitosan Sebagai Biosensor

Kitosan (Sumber : https://chitomicassava.wordpress.com/)

Sensor adalah perangkat yang mampu menerima dan merespon sinyal dan mengubahnya menjadi energi listrik yang dapat dikenali. Perangkat seperti itu yang digunakan pada bidang biologi disebut biosensor. Sehingga dapat diartikan bahwa biosensor adalah perangkat analitik yang menggunakan reaksi biokimia dari salah satu elemen identifikasi seperti protein, enzim dan DNA. Banyak keuntungan yang didapat dalam menggunakan teknologi ini antara lain bentuk yang sederhana, mudah dibawa-bawa, hasil cepat dan akurat, serta hasil yang mudah dibaca.

Kitosan menjadi pertimbangan sebagai bahan pembuat biosensor karena sifat fisikokimianya yang dapat diubah dengan cara merubah berat molekul dan derajat deasetilasinya. Kitosan merupakan salah satu polimer yang jumlahnya melimpah di alam dan ramah lingkungan karena memiliki tingkat toksisitas yang rendah. Selain itu kitosan juga memiliki sifat penghambat bakteri, biodegradable, permeabilitas tinggi, pembentukan gel yang baik dan permukaannya dapat dimodifikasi menggunakan gugus fungsi secara kimiawi. Karakteristik tersebut membuat kitosan banyak diaplikasikan dibanyak bidang terutama medis dan teknik sebagai bahan biosensor.

Kitosan dapat digunakan sebagai biosensor dengan cara memodifikasi permukaannya menggunakan BRE (biological recognition elements). Contoh dari BRE antara lain DNA, enzim, protein, antibodi dll. Jenis BRE yang digunakan pada nanokomposit berbasis kitosan menentukan jenis sinyal seperti warna, intensitas, dll. Serta menjadi faktor utama dalam pembuatan biosensor. Kitosan menjadi salah satu polimer yang populer dalam bidang biosensor karena telah berhasil digunakan untuk berbagai macam pendeteksian. Salah satu yang berhasil adalah penelitian yang dilakukan Ibrahim El Sherbiny yang dimuat pada Internatonal Journal of Biological Macromolecules pada tahun 2016. Pada penelitiannya dia menggunakan biosensor berbasis kitosan untuk mendeteksi kadar ammonia dengan konsentrasi rendah. Nilai regresi linear yang didapatkan antara biosensor dan ammonia dengan konsentrasi 10-50 ppm adalah 0,98.


Penulis : Toni Dwi Novianto - LRMPHP


Senin, 04 Oktober 2021

Loka Riset Mekanisasi Kembangkan Sistem Akuakultur Cerdas

Dengan perkembangan teknologi, budidaya perikanan (akuakultur) telah berubah dari sistem tradisional yang secara intensif menggunakan tenaga kerja manusia menjadi sistem mekanisasi dan perlahan berubah menjadi sistem otomatis. Sistem tradisional sangat tergantung dari pengalaman tenaga kerja dan biaya upah yang tinggi sedangkan sistem mekanisasi dan otomatis bisa mengurangi jumlah tenaga kerja dan penggunaan sumber daya alam seperti air dan pakan juga bisa lebih efisien. Terlebih saat ini ketertarikan tenaga kerja dibidang akuakultur semakin berkurang sementara permintaan produk akuakultur terus meningkat, sehingga kebutuhan terhadap model akuakultur berbasis intelligences (kecerdasan) menjadi hal yang mendesak. Hadirnya Internet of Things (IoT), big data, artificial intelligence, 5G networks, cloud computing, dan teknologi robot menjadi dasar bisa tercapainya akuakultur cerdas.

Prinsip kerja dari akuakultur cerdas adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data dan informasi dasar dalam akuakultur antara lain data suhu, kadar oksigen terlarut, pH, ammonia dan berbagai parameter kualitas air serta data pendukung seperti suhu udara, kelembaban, curah hujan maupun intensitas sinar matahari. Data-data ini dikumpulkan menggunakan berbagai jenis sensor, kamera pengambil data digital. 
  2. Data-data yang terkumpul tersebut dikirim ke pusat kontrol melalui jaringan komunikasi. 
  3. Data kemudian diolah di pusat kontrol untuk memberikan keputusan terkait status kualitas air dan ikan dalam kolam. Pusat control bisa terletak dimana saja tidak harus dekat dengan lokasi akuakultur atau sering disebut cloud platform.  
  4. Feedback dari informasi tersebut untuk eksekusi alat dan mesin operasional dalam kolam, sehingga pengoperasian alat dan mesin menjadi lebih efektif dan efisien.

Sebagai contoh penerapan sistem ini adalah aerator cerdas yang sedang dikembangkan para Peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) pada kolam udang (Gambar 1). Pada sistem tradisional pembudidaya akan mengoperasikan aerator secara manual tapi dengan sistem otomatis pembudidaya dapat mengoperasikan aerator menggunakan telepon genggam maupun komputer dan tanpa harus di lokasi kolam. Data yang dikumpulkan melalui sensor real-time berupa oksigen terlarut (DO), suhu, pH dan arus air akan dikirimkan ke pusat kontrol melalui jaringan internet yang kemudian diolah untuk diputuskan apakah aerator harus hidup (ON) atau mati (OFF) dan berapa aerator yang harus hidup serta di lokasi mana saja aerator yang ON. Nilai keputusan dari data ditentukan oleh pembudidaya, misal pada nilai DO 0-5, pH < 6 semua aerator ON dan bila DO bernilai 5.1-6 hanya 2 aerator yang ON dan pengaturan lain. Saat data menunjukkan nilai tersebut maka sistem akan memerintahkan aerator untuk ON/OFF secara otomatis. Dengan sistem otomatis tersebut waktu operasi aerator dapat dikendalikan dengan kualitas air tetap terjaga dan biaya operasional aerator dapat diminimalkan. Banyak contoh lain terkait akuakultur cerdas yang saat ini sudah dipraktekkan oleh para pembudidaya. 

Penerapan akuakultur cerdas di tambak udang

Sistem akuakultur cerdas akan meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi penggunaan sumber daya alam, juga mengurangi biaya operasional, meningkatkan produktifitas serta kualitas produk yan dihasilkan. Namun, meski memiliki banyak keunggulan, penerapan akuakultur cerdas tetap mempunyai beberapa kendala yang perlu diperhatikan antara lain; 

  1. Pemilihan sensor yang tepat, langkah awal dalam pemilihan sistem adalah sensor. Pengumpulan data dimulai dengan menggunakan sensor. Sensor yang digunakan harus benar-benar akurat dan juga memiliki durabilitas yang tinggi, hal ini karena dalam akuakultur penggunaan sensor sebagian besar akan terendam dalam air bahkan air bersalinitas tinggi. Dan sensor dengan kriteria ini harganya mahal.
  2. Stabilitas jaringan internet. Tidak dipungkiri bahwa keberadaan lokasi aquakultur di Indonesia berada di daerah-daerah yang jaringan internetnya tidak bagus. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap proses pengiriman data baik sebelum proses maupun setelah diproses.
  3. Untuk membangun akuakultur cerdas dibutuhkan modal awal yang belih besar dibandingkan sistem tradisional untuk pengadaan komponen sistem cerdas. Meskipun biaya ini bisa ditutupi oleh turunnya biaya operasional.


Penulis : Arif Rahman Hakim - LRMPHP


Jumat, 01 Oktober 2021

Suplemen Alga untuk Covid-19

Meningkatkan imunitas tubuh menjadi salah satu ajakan di masyarakat yang sedang gencar digaungkan pada masa pandemi ini untuk melawan Covid-19. Caranya dengan rajin berolahraga, makan makanan bergizi seimbang, istirahat yang cukup, menghindari stress, dan mengoonsumsi suplemen tambahan. Salah satu suplemen yang dapat meningkatkan sistem imun adalah fukoidan yang didapat dari alga. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan risetnya. 

KKP melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) telah melakukan berbagai riset di sektor kelautan dan perikanan, termasuk untuk kesehatan. Sebelumnya diberitakan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono terus mendorong pengembangan riset yang dapat memberikan manfaat yang besar untuk diimplementasikan di masyarakat luas. 

Plt. Kepala BRSDM Kusdiantoro menambahkan, upaya riset juga dilakukan pihaknya dalam rangka mendukung prioritas utama yang menjadi terobosan KKP. Dalam hal ini, salah satu riset yang dilakukan terkait fukoidan oleh Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), di bawah supervisi Pusat Riset Perikanan BRSDM. 

Fukoidan merupakan polisakarida yang sebagian besar tersusun oleh rantai fukosa dan gugus sulfat, sehingga sering disebut juga sebagai polisakarida sulfat. Polisakarida ini adalah salah satu penyusun dinding sel pada alga coklat yang kelimpahannya cukup banyak di Indonesia. Salah satu spesies alga ini yaitu Sargassum sp. yang sejauh ini pemanfaatannya baru sebagai pakan ternak dan pupuk. Alga ini memiliki thalus berwarna coklat agak hijau kekuningan dengan bentuk gepeng menyerupai daun pohon daratan dan melebar dengan tepi bergerigi kasar. Thalus terdapat pada cabang-cabang yang memanjang dan bercabang-cabang dengan cabang utama yang pendek. Antara thalus yang satu dengan yang lain kadang terdapat air bladder yang bersifat soliter. Holdfast tebal berbentuk disk dan menempel pada substrat berbatu.

Peneliti LRMPHP Iwan Malhani Al Wazzan mengatakan, fukoidan diperoleh dengan mengekstrak alga Sargassum sp. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode ekstraksi asam dengan HCl (asam klorida). Ekstrasi ini menghasilkan gabungan berbagai jenis polisakarida yang terikat oleh asam dan dipisahkan dengan cara diendapkan menggunakan ethanol dingin. Selanjutnya, dilakukan pemisahan antara fukoidan dengan polisakarida yang lain melalui proses pengendapan dengan garam dalam suasana asam. Terakhir, fukoidan yang masih terikat oleh asam, dipisahkan melalui proses pengendapan dengan ethanol dingin, dan dilanjutkan dengan pemurnian dengan ion exchange chromatography dan dialisis. 

"Hasil studi menyatakan, fukoidan Sargassum sp. memiliki beberapa aktivitas biologis, salah satunya adalah sebagai immunomodulator. Fukoidan Sargassum sp. mampu meningkatkan respon imun dengan cara mengaktivasi neutrofil, sel NK, meng-upregulate produksi sitokin pro-inflamasi IL-6, IL-8, dan TNF-α serta menunda apoptosis spontan pada sel-sel tersebut. Fukoidan berinteraksi dengan Toll-Like Receptors atau TLRs, yaitu TLR-2 dan TLR-4, yang akan mengaktivasi signaling pathway NF-kB yang menyebabkan peningkatan produksi sitokin, kemokin, dan ekspresi molekul MHC. NF-kB adalah faktor transkripsi utama yang mengatur gen yang bertanggungjawab untuk respon imun bawaan dan adaptif. Secara umum, fukoidan mempercepat proses penyingkiran patogen dengan mengaktivasi sel natural killer atau NK, menstimulasi faktor-faktor antiviral inang, dan membantu produksi sel dendritik. Fukoidan juga mampu menunda apoptosis spontan pada sel-sel pertahanan tubuh sehingga mampu memperpanjang umur sel-sel tersebut sehingga tubuh selalu dalam keadaan siap ketika terjadi infeksi. Seperti inilah mekanisme immunomodulator yang dilakukan oleh fukoidan," tutur Iwan. 

Kemampuan fukoidan, lanjut Iwan, dalam mediasi sel yang kuat dan kemampuan meningkatkan respons imun yang baik sebenarnya merupakan potensi yang sangat menjanjikan dari fukoidan untuk digunakan sebagai adjuvan dalam pengembangan vaksin. Adjuvan merupakan sebuah substansi bioaktif, yang dapat membantu meningkatkan respons imun bersamaan dengan antigen yang terkandung dalam vaksin. Polisakarida sulfat memiliki efek yang menjanjikan dalam meningkatkan respons imun antigen-specific dan meningkatkan imunitas inang dengan sifatnya yang non toksik, non mutagenik, biodegradable, dan biocompatible. Fukoidan juga dapat dimanfaatkan untuk membantu terapi tukak lambung, ulcerative colitis dan infeksi H. pylori. Bioaktivitas fukoidan yang lain yaitu sebagai antioksidan, antiinflamasi, antiviral, antitumor dan antikoagulan.

Menurutnya, fukoidan telah tersedia di pasaran sebagai suplemen yang dijual bebas, akan tetapi bukan dari jenis Sargassum sp. melainkan dari spesies Laminaria japonica. Proses ekstraksi yang rumit, lama dan mahal menyebabkan harga jual suplemen ini juga relatif mahal sehingga hanya digunakan oleh masyarakat tertentu saja. Potensi fukoidan yang demikian besar, hanya bisa termanfaatkan secara luas jika didorong dengan studi mengenai ekstraksi yang mudah dan murah serta pemanfaatan bahan baku yang melimpah di Indonesia seperti Sargassum sp. 

Pembahasan mengenai hal tersebut dibahas secara rinci pada kegiatan Sharing Session BRSDM dengan tema Peningkatan Imunitas Tubuh dengan Fukoidan dari Sargassum, 8 September lalu, yang disiarkan secara langsung di kanal Youtube BRSDM TV. Namun demikian, masyarakat masih dapat menyaksikan tayangan tersebut pada tautan https://www.youtube.com/watch?v=UREeHGLO4n8.


Sumber : kkp


Kamis, 30 September 2021

Laju Pengeringan Bahan

Pengeringan ikan untuk pengawetan (Sumber https://visitklidang.files.wordpress.com/)

Kadar air menjadi parameter yang cukup penting dari produk pertanian dan perikanan. Hal ini karena dapat mempengaruhi aktivitas bakterial dan enzimatis dari suatu produk yang akhirnya akan berimbas pada masa simpan produk tersebut. Aktivitas bakterial dapat terlihat dari tumbuhnya jamur pada permukaan produk sedangkankan aktivitas enzimatik terlihat perubahan rasa atau aroma seperti ketengikan. Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut maka beberapa produk pertanian dan perikanan terlebih dahulu dikeringkan atau diturunkan kadar airnya sebelum disimpan. 

Prinsip dalam pengeringan adalah penghantaran panas dan massa dalam waktu yang bersamaan. Kadar air yang ada di dalam bahan dikeluarkan dengan prinsip perbedaan tekanan udara pengering dengan bahan. Proses pengeluaran kadar air ini berlangsung hingga pada titik kadar air kesetimbangan dimana mikroorganisme, serangga dan enzim tidak aktif. Kadar air kesetimbangan merupakan kondisi dimana tekanan uap air bahan sama dengan tekanan uap air lingkungan, sehingga tidak ada lagi aliran uap air dari bahan ke lingkungan. 

Dalam bukunya ,Henderson, S.M dan Perry, RL yang berjudul Agricultural Process Engineering (1976) membagi proses pengeringan dalam tiga tahapan, yaitu initial period pada tahapan ini energi panas digunakan untuk menaikkan temperatur bahan. Selanjutnya constant period dimana terjadi penguapan pada kadar air bebas yang ada dibahan. Pada tahapan ini laju pengeringan berlangsung tetap. Diakhiri dengan falling rate period yaitu kondisi saat kadar air bebas yang ada dibahan telah habis digantikan dengan proses difusi air dari dalam bahan menuju permukaan. Dalam tahapan ini kecepatan laju pengeringan akan semakin menurun seiring dengan lamanya waktu pengeringan dan akan diakhiri pada kondisi kadar air kesetimbangan bahan. Batasan antara constant period dan falling rate period adalah kadar air kritis. Kadar air kritis adalah suatu keadaan dimana jumlah air bebas pada permukaan bahan tidak cukup untuk mempertahankan aktivitas air sama dengan satu. Untuk lebih memudahkan pemahaman tahapan laju pengeringan dapat dilihat pada Gambar 1. 

Gambar 1. Grafik kadar air bahan, suhu bahan dan laju pengeringan bahan (https://kanalpengetahuan.tp.ugm.ac.id/menara-ilmu/2017/755-teknik-pengeringan.html)

Penulis : Koko Kurniawan - LRMPHP


Selasa, 28 September 2021

LRMPHP Ikuti Forum Konsultasi Publik Lingkup BRSDM

 Forum Konsultasi Publik Lingkup BRSDM

Perwakilan LRMPHP mengikuti kegiatan Forum Konsultasi Publik Lingkup BRSDM dengan tema Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik  KP untuk Indonesia Maju yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi zoom pada 28 September 2021, diikuti oleh penyedia layanan publik pada satker lingkup BRSDM dan stake holder. Kegiatan ini sebagai wadah berdialog untuk menyampaikan berbagai kebijakan dan program pelayanan publik, pelaksanaan hingga pengawasannya.

Forum Konsultasi Publik Lingkup BRSDM dibuka oleh Plt. Kepala BRSDM Kusdiantoro, dan menghadirkan tiga narasumber yaitu Kepala BPPP Tegal Muhlisin yang memberikan materi tentang Basic Safety Training, Kepala BRPI Sukamandi Joni Haryadi tentang Jasa Laboratorium dan Kepala BPPP Banyuwangi Achmad Subijakto tentang AN/ATKAPIN.

Dalam sambutannya, Plt. Kepala BRSDM menyampaikan bahwa forum ini pada hakekatnya merupakan tindak lanjut amanah UU No. 25 Tahun 2009 dan Permen KP No. 33 Tahun 2017, yang merupakan kewajiban dari semua satker pemberi layanan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanannya sejalan dengan core value setiap ASN. Layanan yang diberikan hendaknya bersifat dinamis dengan terus berinovasi/berkreativitas agar layanan yang diberikan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Melalui Forum Konsultasi Publik ini, diharapkan diperoleh gambaran standar minimal pelayanan publik pada satker lingkup BRSDM, serta masukan dari stake holder berguna untuk penyempurnaan mutu layanan agar sesuai dengan harapan publik.


Senin, 27 September 2021

Zeolit, Kunci Pengelolaan Amonia Pada Transportasi Ikan

Udah tahu kan kalau Indonesia itu merupakan salah satu negara yang dilewati oleh cincin api atau biasa disebut Ring of Fire. Nah, tenyata cincin api ini tidak berbentuk benar-benar bulat seperti cincin melainkan menyerupai tapal kuda membentang sepanjang 40.000 km melewati Selandia Baru ke utara, kemudian berbelok ke barat melewati Indonesia, Jepang, pesisir selatan pantai Benua Amerika hingga pesisir barat berlanjut hingga ke Amerika Tengah (Gambar 1). Daerah cincin api ini sering mengalami gempa bumi tektonik yang disebabkan aktifitas magma dibawah permukaan kerak bumi dan banyak berjajar gunung-gunung berapi yang aktif. Keuntungan negara yang dilewati cincin api itu, salah satunya adalah melimpah akan mineral alam yang disebut zeolit (Gambar 2). Mineral ini biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit, gipsum, feldspar dan kuarsa. Zeolit juga banyak ditemukan mengendap pada daerah sumber air panas. 

Jadi sebenarnya apa sih zeolit ini? Zeolit alam merupakan senyawa alumino-silikat dengan struktur tiga dimensi berbentuk menyerupai sangkar (Gambar 3). Ion-ion logam dalam zeolit dapat digantikan oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit itu sendiri dan mempunyai sifat dapat menyerap air secara bolak-balik. Sifat penukar ion dan sorpsi (menyerap) inilah yang memungkinkan zeolit dipergunakan untuk pengolahan limbah perikanan. 

Salah satu limbah perikanan yang dapat membahayakan kehidupan ikan itu sendiri adalah sisa pakan dan feses yang jika terurai oleh mikroorganisme akan menjadi amonia yang bersifat toksik. Toksisitas amonia ini akan semakin tinggi ketika sistem yang dipergunakan adalah tertutup seperti pada pengangkutan ikan misalnya. 

Inilah salah satu permasalahan dalam pengangkutan ikan sistem tertutup yang dihadapi oleh masyarakat. Model transportasi benih hingga calon induk ikan yang lazim dipergunakan oleh masyarakat adalah sistem tertutup dengan menggunakan plastik yang kemudian diikat dengan karet gelang. Untuk transportasi dengan durasi diatas 1 jam dengan kepadatan yang cukup tinggi biasanya ditambahkan oksigen murni dalam kantong plastik tersebut. Banyaknya amonia dalam air oada transportasi ikan secara langsung berkaitan dengan tingkat pemberian dan protein dalam pakan. Oleh sebab itu perlu dilakukan pemberokan/pemuasaan ikan sebelum transportasi dengan tujuan mengurangi eksresi amonia sehingga meminimalkan terjadinya akumulasi amonia dalam air. Jumlah akumulasi amonia pada saat transportasi sangat penting karena ikan memiliki nilai toleransi terhadap amonia dalam air dan jika melebihi nilai tersebut maka dapat menimbulkan kematian. Nah, akan tetapi, meskipun ikan sudah dipuasakan sebelum diangkut, ikan masih dapat mengeluarkan nitrogen sebagai pembentuk amonia dalam air melalui insang. Hal tersebut disebutkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti LRMPHP tahun 2021 mengenai penggunaan zeolit sebagai absorben amonia pada simulasi transportasi koi sistem tertutup. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa penggunaan zeolit mampu mengurangi kadar amonia dalam air hingga 8,35-12,83 ppm pada durasi transportasi 12 jam dan 14,64-15,98 ppm pada durasi transportasi 24 jam dengan dosis 40gr/liter air. Reaksi pengikatan amonia (NH4+) oleh zeolit ditunjukkan oleh persamaan kimia dibawah ini :

Potensi pertukaran kation logam (ion logam dengan bermuatan positif) tanpa merusak struktur backbone ini memungkinan zeolit dapat dimanfaatkan untuk pengolahan limbah industri yang lain. Selain itu, kelimpahan zeolit di Indonesia yang cukup banyak merupakan potensi alternatif untuk pengolah limbah industri yang murah.


Penulis : Iwan Malhani Al Wazzan - LRMPHP