Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Selasa, 07 Agustus 2018

Pelaksanaan Monev Semester I Tahun 2018 Lingkup LRMPHP

Pemaparan kegiatan LRMPHP (dok.LRMPHP)
Untuk mengetahui tingkat pencapaian program dan pelaksanaan kegiatan selama semester I,  Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) menyelenggarakan Monitoring dan Evaluasi (monev) Semester I Tahun 2018 lingkup LRMPHP pada 6-7 Agustus 2018. Kegiatan monev dibuka oleh Kepala LRMPHP (Lutfi Assadad, M.Sc.) dan dihadiri oleh Perwakilan Puriskan Jakarta (Budi Nugraha, M.Si.) selaku Kasbid Riset Teknologi Alat dan Mesin Perikanan , narasumber dari BAPPEDA D.I. Yogyakarta (Andi Nawa C., SP., MP.), evaluator kegiatan riset (Senny Helmiati, M.Sc.) dari Jurusan Perikanan UGM dan Dr. Ir. Nursigit Bintoro, M.Sc. dari  Fakultas Teknologi Pertanian UGM serta seluruh pegawai LRMPHP.

Dalam sambutannya, Kepala LRMPHP menyatakan bahwa kegiatan monev  lingkup LRMPHP meliputi kegiatan manajerial dan riset. Kepala Loka berharap masukan dan saran dari para evaluator agar pelaksanaan kegiatan menjadi lebih baik lagi. Sementara itu, perwakilan Puriskan Jakarta dalam sambutannya menyampaikan wacana reorganisasi lembaga riset melalui pembentukan Badan Riset Nasional yang sebaiknya diantisipasi secara bijak.
Sambutan dan Pengarahan dari Pusriskan (dok. LRMPHP)
Evaluasi kegiatan oleh Narasumber (dok. LRMPHP)

Pemaparan Narasumber dari BAPPEDA DIY (dok. LRMPHP)
Pada pemaparan kegiatan riset tentang Mesin Pembuat Pakan Ikan Skala UKM, beberapa masukan dan saran diberikan oleh para evaluator. Senny Helmiati, M.Sc. memberikan masukan tentang kriteria pemilihan bahan untuk formulasi pakan ikan hendaknya mempertimbangkan kandungan nutrisi bahannya, ketersediaan, kontinyuitasnya dan pertimbangan harganya. Sementara itu, Dr. Ir. Nursigit Bintoro menyatakan bahwa sebagian besar output yang dihasilkan telah sesuai dengan yang ditetapkan tetapi belum seluruhnya, karena  mesin ekstruder pellet tipe twin screw extruder belum diwujudkan. Secara umum hasil evaluasi terhadap kegiatan riset berjalan baik, namun demikian masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.

Pada kesempatan monev juga dihadirkan narasumber dari BAPPEDA D.I. Yogyakarta yang memaparkan tentang program perikanan di Propinsi DIY  TA 2018 dan rencana TA 2019. Selain itu juga mengajak LRMPHP untuk bekerjasama dalam mengembangkan perikanan. Kehadiran BAPPEDA DIY diharapkan dapat mensinergikan hasil-hasil riset di LRMPHP dengan provinsi sehingga penyebarluasan hasil riset lebih optimal.  

Selasa, 31 Juli 2018

Tiga Peneliti LRMPHP Ikuti Diklat Peneliti Tingkat Lanjutan

Peserta diklat peneliti lanjut (dok. LRMPHP)
Diklat Jabatan Fungsional Peneliti Tingkat Lanjutan merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan peneliti agar mampu bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi yang diembannya pada jabatan fungsional peneliti jenjang madya sampai dengan jenjang utama. Kompetensi yang dibutuhkan bagi peneliti di sini mengacu pada kompetensi peneliti yang telah ditetapkan.

Terkait dengan hal tersebut, tiga orang peneliti dari Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan mengikuti diklat jabatan fungsional peneliti (DJFP) tingkat lanjutan gelombang IV tahun 2018 yang diselenggarakan di Pusbindiklat Peneliti LIPI - Cibinong pada tanggal 15 - 24 Juli 2018. Ketiga peneliti LRMPHP tersebut yaitu Tri Nugroho Widianto, S.Si, M.Si; Luthfi Assadad, S.Pi, M.Sc: dan Arif Rahman Hakim, S.Pi, M.Eng. Diklat ini diikuti oleh 30 orang peneliti dengan berbagai bidang kepakaran yang berasal dari delapan kementerian, yaitu Kementerian Agama sebanyak 7 orang, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebanyak 6 orang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebanyak 7 orang, Kementerian Pertanian sebanyak 8 orang; dan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial, masing-masing sebanyak 1 orang.

Tiga Penelliti LRMPHP (dok LRMPHP)
Kompetensi yang diharapkan setelah mengikuti diklat ini yaitu:
  1. Merumuskan strategi penulisan hasil penelitian dalam bentuk publikasi terindeks global dan buku berbasis riset dengan benar melalui selfassessment KTI;
  2. Merumuskan konsep kerja sama riset multidisiplin dengan benar dalam bentuk action plan kerja sama;
  3. Menyusun draft policy brief berdasarkan hasil penelitian dengan benar;
  4. Mengimplementasikan konsep diseminasi dan pemanfaatan hasil penelitian sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan (stakeholder) dengan benar;
  5. Mengimplementasikan konsep manajemen litbang dengan benar;
  6. Mengevaluasi pelanggaran etika keilmuan dan penelitian dengan benar;
  7. Merancang pengembangan diri dan karir PNS peneliti dengan benar;
  8. Memahami kebijakan program penelitian dan iptek dengan benar;
  9. Memahami program diklat dan proses evaluasinya dengan benar.
Berbagai mata diklat yang diajarkan diharapkan memberikan kompetensi bagi para peserta. Mata diklat yang diajarkan sebanyak 80 JP meliputi:
  1. Strategi Publikasi Ilmiah Terindeks Global dan Penulisan Buku Berbasis Riset
  2. Kerja Sama Riset Multidisiplin
  3. Hasil Penelitian untuk Kebijakan Publik
  4. Diseminasi dan Pemanfaatan Hasil Penelitian
  5. Manajemen Litbang
  6. Etika Keilmuan dan Penelitian
  7. Pembinaan Karier PNS Peneliti
  8. Ceramah Umum: Kebijakan Program Penelitian dan Iptek
  9. Penjelasan Program Diklat
  10. Evaluasi Program
Rangkaian diklat dirangkum oleh peserta dalam bentuk penugasan akhir berupa penyusunan portofolio. Pada akhir penyelenggaraan diklat, peserta terbaik 1, 2, dan 3 masing-masing dari KKP (Loka Riset Perikanan Tuna), KLHK dan Kementan. 

Senin, 30 Juli 2018

LRMPHP Ikuti Pameran di Semnaskan-UGM XV 2018


Stand Pameran LRMPHP (dok. LRMPHP)
Sebagai media promosi dan sosialisasi hasil riset, Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) turut berpartisipasi dalam kegiatan pameran di Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada pada sabtu (28/7). Kegiatan pameran diselenggarakan dalam rangka Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (Semnaskan-UGM), Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Selain diikuti oleh LRMPHP, pameran juga diikuti oleh UKM dan swasta yang menampilkan produk microbuble generator (MBG) untuk aplikasi budidaya ikan. 

Peralatan hasil riset yang ditampilkan oleh LRMPHP yaitu alat pemisah daging ikan manual (Meat Bone Separator) dan alat uji kesegaran ikan berbasis android. Alat pemisah daging ini dioperasikan secara manual dengan memutar atau mengengkol tuas yang terdapat di bagian samping alat dan diteruskan melalui mekanisme puly belt ke drum berpori. Sementara itu, alat uji kesegaran ikan berbasis android yang ditampilkan merupakan alat uji kesegaran ikan dengan pendeteksian bau ikan menggunakan sensor dan citra mata ikan menggunakan kamera. 

Interaksi dan diskusi dengan pengunjung 1 (dok. LRMPHP)
Interaksi dan diskusi dengan pengunjung 2 (Dok. LRMPHP)

Selama pameran, stand LRMPHP banyak menerima kunjungan baik dari akademisi maupun praktisi diantaranya Departemen Perikanan UGM, FPIK Universitas Brawijaya, BKIPM Yogyakarta,  LIPI Jakarta, Loka Riset Budidaya Rumput Laut Gorontalo dan Loka Riset Perikanan Tuna Bali. Beberapa pengunjung umumnya tertarik dengan peralatan yang ditampilkan serta menanyakan beberapa hal terkait prinsip kerja alat, kegunaan, harga dan spesifikasinya. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan interaksi dan diskusi singkat dengan pengunjung.

Partisipasi LRMPHP pada Semnaskan UGM XV 2018


Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (Semnaskan-UGM) adalah agenda seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Seminar hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para akademisi, peneliti, lembaga pemerintah, pihak swasta dan pemangku kepentingan untuk berbagi dan bertukar informasi hasil penelitian, pengalaman dan teknologi mengenai semua aspek yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan.

Semnaskan UGM XV  diselenggarakan pada Sabtu (28/07) di Departemen Perikanan – UGM di Auditorium Prof. Ir. Hardjono Danoesastro. Rangkaian acara kegiatan semnaskan meliputi laporan ketua Panitia, pembukaan kegiatan oleh Dekan Fakultas Perikanan UGM Dr. Jamhari, S.P., M.P, dan dilanjutkan dengan paparan pembicara kunci Dr. Ir. Ignatius Hardaningsih, M.Si. dari Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada dan Risyanto Suwanda, S.Pi., M.Si. dari Perum Perikanan Indonesia. 

Pembukaan oleh Dekan Fakultas Perikanan UGM (dok. LRMPHP)
Pemaparan oleh Pembicara Kunci Pertama (dok. LRMPHP)
Pemaparan oleh Pembicara Kunci Kedua (dok. LRMPHP)
Pada paparannya pembicara kunci Dr. Ir. Ignatius Hardaningsih, M.Si. menyampaikan materi tentang “Budidaya Gurami untuk Ketahanan Pangan dan Eradikasi Kemiskinan di Pedesaan : Peluang dan Tantangan”. Dalam paparannya disampaikan mengenai  sifat-sifat ikan gurami, nilai gizi, nilai ekonomis serta bagaimana cara membudidayakannya. Selain itu disampaikan juga terkait dengan produksi gurami yang setelah dimasukkan dalam Renstra KKP produksinya semakin meningkat. Oleh karena itu budidaya gurami diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan di Indonesia.

Sementara itu pembicara kunci kedua yaitu Risyanto Suanda, S.Pi,. M.Si. menyampaikan materi tentang “Peran BUMN Perikanan dalam Pembangunan Industri Perikanan yang Berkelanjutan”. Dalam paparannya disampaikan mengenai profil Perum Perindo serta perannya dalam pembangunan perikanan di Indonesia. Perum Perindo didirikan sejak 28 tahun silam berdasarkan PP No 2 tahun 1990. Lingkup bisnis Perum Perindo yang luas dan dengan dukungan pemerintah dapat menjadi penggerak dan penyangga sector perikanan di Indonesia.

Setelah acara pembukaan dan paparan oleh pembicara kunci, kegiatan semnaskan dilanjutkan dengan kelas-kelas seminar yang dilaksanakan di gedung A4 Dept. Perikanan. Pada seminar ini, LRMPHP ikut berpartisipasi mempublikasikan hasil penelitian dengan mengirimkan 8 KTI.

LRMPHP berpartisipasi dengan memaparkan hasil litbang sebagai berikut :

No
Judul Makalah
Penulis
1
Perubahan Citra Mata Ikan Tuna Selama Penyimpanan Pada Suhu Ruang
Toni Dwi Novianto, I Made Susi Erawan
2
Optimasi Arsitektur Multi Layer Perception pada Klasifikasi Kesegaran Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Koko Kurniawan, Zaenal Arifin Siregar
3
Sifat Fisik Pakan Ikan Lele (Clarias sp.) pada Beberapa Formula
Putri Wullandari, Arif Rahman Hakim, Caesar Mahendra
4
Pengaruh Lama Pengadonan dalam Bowl Cutter terhadap Kandungan Protein dan Warna Nugget Ikan Patin (Pangasius sp.)
Naila Zulfia, Tri Nugroho Widianto
5
Seleksi Fitur Citra Insang Ikan Tuna pada Proses Penyimpanan Tuna dalam Suhu Kamar
Zaenal Arifin Siregar, Koko Kurniawan
6
Analisa Termodinamika Sistem Refrigerasi Absorpsi Sebagai Mesin Pembuat Es untuk Perikanan
Wahyu Tri Handoyo, Arif Rahman Hakim
7
Performansi Chilling Storage pada Kapal dengan Penambahan Screen dalam Palka
Naila Zulfia, Tri Nugroho Widianto, Ahmat Fauzi, Luthfi Assadad
8
Pengaruh Laju Alir Air Pendingin Kondensor Terhadap Performansi Chilling Storage Kapal Ikan Kapasitas 1,3 Ton
Ahmat Fauzi, Tri Nugroho Widianto

Presentasi Oral oleh Ahmat Fauzi

Presentasi Oral oleh Naila Zulfia


Jumat, 27 Juli 2018

Tanaman Bakau Berkhasiat Mengatasi Penyakit pada Udang

Ilustrasi (tambakudang.com)
Penelitian dan riset terbaru yang dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa mangrove (bakau) dapat digunakan sebagai obat penawar penyakit pada hewan udang.
Penelitian bertajuk ‘Herbal Mangrove sebagai Alternatif Pencegah Penyakit Udang’ oleh diprakarsai oleh Peneliti BRPBAP3 dikepalai oleh Muliani beserta timnya. Penggunaan tanaman bakau sebagai bahan dasar alternatif pencegahan penyakit udang dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan antibiotik.
Penelitian ini sendiri diawali pada tahun 2013 dengan melakukan screening tanaman bakau sebagai penghasil antibakteri. Sebanyak 182 sampel bakau untuk kebutuhan screening diambil dari berbagai daerah di Indonesia.
Penelitian ini tentu akan membantu langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengajak kegiatan berwirausaha di bidang Kelautan dan Perikanan untuk menambah stok pangan yang berasal dari produk laut.
“Dari 182 sampel yang di-screening, 103 sampel atau 56,60% positif mengandung anti vibrio harveyi. Adapun jenis mangrove yang paling potensial mengandung anti vibrio harveyi adalah Sonneratia alba, S caseolaris, S. lanceolata, Bruguiera gymnorrhiza, dan Rhizophora mucronata,” jelas Muliani.
Dari 103 sampel yang terdeteksi mengandung Vibrio, 22 diantaranya berasal dari Kabupaten Maros, 38 dari Kabupaten Pangkep, 20 dari Kabupaten Luwu Timur, 6 dari Kabupaten Takalar, dan 17 dari Kabupaten Bone.
Pada 2014, penelitian dilanjutkan untuk melihat potensi ekstrak bakau setelah difraksinasi, serta toksisitasnya terhadap benih udang windu. Di 2015, penelitian dengan tahap metode pemberian ekstrak bakau yang lebih efektif dan efisien, yaitu dengan sistem perebusan tepung bakau dan mencampur hasil ektraksi methanol, serta fraksinasi ke dalam pakan udang. Langkah berikutnya adalah mengkaji perbedaan konsentrasi ekstrak bakau dalam pakan, baik untuk penanggulang penyakit bakteri maupun untuk WSSV di 2016.
“Terjadi peningkatan sistem imun udang secara signifikan pada penggunaan ekstrak bakau dalam pakan dibanding tidak menggunakan ekstrak bakau. Pencegahan WSSV menggunakan ekstrak bakau lebih efektif melalui penyuntikan dibanding pakan dan perendaman. Namun, metode ini sulit diaplikasikan di tambak dan hanya cocok diaplikasikan untuk induk udang,” lanjut Muliani.
Pada 2017, penelitianpun kemudian dilanjutkan dengan mengkaji sistem ekstraksi dengan perebusan daun bakau yang masih basah dan tidak lagi menggunakan hasil tepung daun bakau. Sebuah percobaan menggunakan metode ini telah dilakukan untuk budidaya udang windu. Melalui metode ini, diharapkan para petani dapat mengaplikasikan pada kegiatan budiaya.
“Hingga saat ini, penelitian difokuskan pada aplikasinya di tambak udang. Melalui penelitian ini, kami juga berharap kelestarian mangrove tetap terjaga dan mari kita galakkan kembali penanaman mangrove pada daerah-daerah yang tidak ditanami,” tegas Muliani.
Penyakit udang merupakan momok meresahkan bagi pembudidaya. Hal tersebut dapat meningkatkan kematian hingga 100% pada udang di dalam tambak hingga menyebabkan kerugian dalam jumlah besar dan White Spot Syndrome (WSS) serta penyakit karena bakteri vibrio menjadi yang paling mematikan diantaranya. Hal ini tentu akan menghalangi visi dan misi dari KKP untuk membudidayakan program wirausaha kelautan dan perikanan.
Udang yang terjangkit penyakit bintik putih, pada tahap awal akan menyerang lambung, insang, kutikula epidermis, dan jaringan ikat hepatopankreas dari udang. Setelah stadium penyakit pada udang semakin berat, akan muncul bintik-bintik putih berdiameter 0,5-2 mm pada lapisan dalam eksoskeleton dan epidermis yang menyebabkan udang berhenti makan dan berdampak kematian massal di tambak. (Damar Senoaji/AFN)
Sumber : KKPNews