Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Sabtu, 21 November 2020

Harkannas ke-7 : Makan Ikan Tingkatkan Imunitas Lawan Covid dan Stunting

 


Tahun 2020  merupakan peringatan Harkannas yang ke-7, dan  peringatan Harkannas tahun ini  mengangkat tema “Makan Ikan Tingkatkan Imunitas Lawan Covid dan Stunting,” dengan pertimbangan bahwa pangan dan gizi adalah hal yang saling terkait dan saat ini masih menjadi masalah nasional yang perlu diselesaikan dan juga terkait pandemic covid 19 yang memerlukan imunitas sebagai daya tangkal terhadap penularannya.

Kamis, 12 November 2020

Diseminasi Teknologi ALTIS-2 di LRMPHP Bantul

Diseminasi Teknologi ALTIS-2 di LRMPHP Bantul

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) melaksanakan kegiatan diseminasi teknologi berupa Alat Transportasi Ikan Segar untuk Kendaraan Roda Dua (ALTIS-2) di halaman kantor LRMPHP. Kegiatan diseminasi ini dalam rangka mendekatkan hasil-hasil riset dan inovasi kepada masyarakat sehingga dapat memberikan nilai tambah pemanfaatan alat bagi pelaku usaha. 

Hadir dalam kegiatan ini, Kepala LRMPHP beserta staf, Ketua Dewan Riset Daerah D.I. Yogyakarta, Perwakilan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul,  Kapolsek Jetis Bantul, Penyuluh Perikanan Bantul dan pelaku usaha perikanan asal Bantul yang menjadi mitra riset ALTIS-2 yaitu Bapak Somulyo dan Riyanto. 

Kepala LRMPHP bersama narasumber

Dalam sambutannya, Kepala LRMPHP Luthfi Assadad, M.Sc menyampaikan diseminasi ini  sebagai bagian dari komunikasi publik atas hasil kegiatan riset yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. "ALTIS-2 merupakan salah satu inovasi hasil riset LRMPHP dengan capaian prestasi diantaranya menjadi salah satu rekomendasi teknologi (rekomtek) Kementerian Kelautan dan Perikanan 2016 dan juara 2 pada kompetisi Indonesia-Postharvest Loss Alliance for Nutrition (IPLAN) Challenges 2018, " tuturnya. 

Sementara itu, Diperpautkan Bantul yang diwakili Ibu Hanifah mengatakan ALTIS-2 merupakan salah satu solusi terbaik untuk melancarkan distribusi produk-produk perikanan yang mengalami penurunan selama pandemi Covid-19. 

Hal serupa juga disampaikan oleh Ir. Bayudono, M.Sc, selaku Ketua Dewan Riset Daerah D.I. Yogyakarta yang mengapresiasi ALTIS-2. "Teknologi ALTIS-2 merupakan peluang bagi pedagang ikan keliling dalam mendekatkan dagangannya ke masyarakat, " tuturnya.  Selain itu, teknologi ALTIS-2 merupakan teknologi sepadan, material/bahan untuk merakit ALTIS-2 dapat dengan mudah diperoleh di Bantul. Ketua DRD juga menyampaikan kehadiran teknologi baru tidak selalu mudah untuk diterima masyarakat, padahal teknologi tersebut bermanfaat. Oleh karena itu dalam berinovasi diharapkan tidak hanya memperhatikan aspek teknis, namun aspek sosialnya juga. "Peneliti jangan takut membuat kesalahan, tapi usahakan jangan membuat kesalahan, "tambahnya.

Terkait aspek teknis, Kapolsek Jetis Bantul, AKP M. Sholeh SH MM menyampaikan bahwa ALTIS-2 masih memenuhi kriteria teknis barang bawaan kendaraan bermotor sesui Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2014 Pasal 10 ayat 4 tentang Angkutan Jalan yaitu muatan memiliki lebar tidak melebihi stang kemudi, tinggi muatan tidak melebihi 900 mm dari atas tempat duduk pengemudi, dan barang muatan diletakkan di belakang pengemudi.

Instalasi ALTIS-2 pada kendaraan pelaku usaha

Pada pelaksanaan diseminasi ini, pemberian materi terkait dengan petunjuk instalasi, penggunaan dan perawatan ALTIS-2 sesuai buku petunjuk/manual book disampaikan oleh Tri Nugroho Widianto, M.Si selaku peneliti ALTIS-2. Rangkaian kegiatan pelaksanaan diseminasi ALTIS-2 diakhiri dengan diskusi dan instalasi ALTIS-2 pada kendaraan bermotor. 


Kamis, 05 November 2020

Sinkronisasi Program dan Kegiatan LRMPHP dengan Dinas KP Kabupaten/Kota di DI Yogyakarta

Pembukaan kegiatan sinkronisasi program oleh Kapusriskan, Yayan Hikmayani

Sinkronisasi program dan kegiatan riset Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan di wilayah D.I. Yogyakarta diselenggarakan pada 4 November 2020 di Ruang Aula LRMPHP dan dapat diakses secara daring melalui aplikasi zoom. Sinkronisasi program dan kegiatan riset dibuka oleh Kepala Pusat Riset Perikanan KKP, Yayan Hikmayani secara daring sekaligus memberikan arahannya. Hadir dalam kegiatan ini Kepala LRMPHP beserta staf serta Kepala Dinas KP Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman dan Kota Yogyakarta.

Kepala LRMPHP, Luthfi Assadad dalam sambutan pengantarnya menyampaikan bahwa kegiatan ini dalam rangka mendapatkan masukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan dan penerapan kegiatan riset mekanisasi perikanan di D.I. Yogyakarta yang dilaksanakan oleh LRMPHP. “Acara ini untuk mempertajam roadmap kegiatan riset yang telah disusun LRMPHP agar pelaksanaannya mencapai hasil yang optimal. Disisi lain acara ini untuk memberikan dukungan kepada kegiatan Dinas KP dengan kompetensi yang dimiliki LRMPHP, " tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Perikanan dalam arahannya menyampaikan bahwa kegiatan sinkronisasi dalam rangka membangun kemitraan dan kerjasama antara kedua belah pihak. Sinkronisasi ini selain membantu eselon 1 lingkup KKP juga  menjawab kebutuhan stake holder terdekat yaitu Dinas KP di wilayah D.I. Yogyakarta. Hasil sinkronisasi diharapkan dapat dilanjutkan menjadi kebijakan pengembangan alat dan mesin perikanan KKP untuk meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat.

Penyampaian materi sinkronisasi program dari Dinas KP

Secara umum hasil pemaparan yang disampaikan Kepala Dinas KP Kabupaten/Kota D.I. Yogyakarta menunjukkan dukungannya terhadap pengembangan riset mekanisasi alat perikanan yang dilakukan LRMPHP. Alat mekanisasi perikanan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan pada berbagai sektor usaha perikanan seperti penyiapan sarana produksi, budidaya, penangkapan, pengolahan dan pemasaran. Selain memudahkan stake holder usaha perikanan, juga dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitasnya.




Senin, 02 November 2020

Peneliti LRMPHP Kembali Torehkan Prestasi

Sertifikat best presenter ICTCRED 2020 yang diraih peneliti LRMPHP

Bakti Berlyanto Sedayu, salah satu peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan yang baru saja kembali dari studi S3 di Victoria University, menjadi best presenter dalam The 6th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco Development (ICTCRED) yang diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro Semarang dan beberapa partner internasional pada tanggal 27-28 Oktober 2020 lalu. 

ICTCRED merupakan salah satu agenda konferensi internasional tahunan yang diselenggarakan oleh UNDIP, dan tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keenam dengan mengusung tema Sustainable Development in Coastal Area. ICTCRED 2020 diikuti oleh 107 presenter baik dari dalam maupun luar negeri.

Bakti Berlyanto Sedayu menjadi best presenter dengan membawakan paper berjudul Initial Properties Identification of Carrageenan Powder for Biodegradable Plastic Production yang ditulis bersama Putri Wullandari, Arif Rahman Hakim dan Dina Fransiska.

Bakti Berlyanto Sedayu memaparkan hasil penelitiannya secara online via zoom meeting



Jumat, 23 Oktober 2020

Satu Tahun Menjabat, Menteri Edhy: Tentu Masih Banyak Kekurangan, tapi Kami Akan Terus Maju

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo

Memasuki usia satu tahun sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengaku semua yang dikerjakannya selama ini baru awalan. Masih banyak pekerjaan rumah dan tantangan yang harus diselesaikan dalam memajukan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

"Satu tahun ini menjadi momentum awalan untuk terus melaju ke depan. KKP sebagai lembaga, organisasi, kementerian yang siap menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, siap menghasilkan devisa bagi negara," ujar Menteri Edhy dalam keterangan resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jumat (23/10/2020).

Menilik ke belakang, sejatinya banyak hal sudah dilakukan Menteri Edhy selama satu tahun menjabat. Yang paling mendapat banyak apresiasi dari stakeholder kelautan dan perikanan adalah kemudahan perizinan.

Salah satunya izin kapal di atas 30 GT yang kini prosesnya hanya satu jam secara online dari tadinya minimal 14 hari kerja. Sejak diluncurkan Desember 2019, sudah lebih dari 4.000 izin yang dikeluarkan dan menghasilkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) lebih dari Rp470 miliar.

Menteri Edhy juga mempermudah perizinan ekspor produk perikanan. Dia meminta jajarannya melakukan jemput bola dalam melayani pelaku usaha yang ingin melakukan ekspor. Hasilnya fantastis, volume dan nilai ekspor perikanan di semester 1 2020 naik 6,9 persen di tengah pandemi Covid-19.

Soal ekspor hasil perikanan, tidak hanya izin yang mendapat perhatian, tapi juga proses pengiriman. Hasilnya, beberapa daerah, khususnya wilayah Timur Indonesia bisa langsung melakukan ekspor tanpa melalui Jakarta, Surabaya, atau Denpasar.

"Semangat kami bagaimana bisa mengekspor ikan sebanyak-banyaknya. Ini sudah kita lakukan dengan konsep menjemput bola. Terakhir kita sudah buka ekspor langsung dari Manado ke Jepang yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sebelumnya juga dari Palu. Alhamdulillah ini mendapat antusiasme tinggi dari provinsi sekitar itu. Saya pikir ini awalan yang harus terus didorong," tegasnya.

Selain persoalan izin, Edhy juga gencar membangun komunikasi dengan stakeholder kelautan dan perikanan sesuai amanat Presiden Joko Widodo. Mulai dari nelayan, pembudidaya, petambak garam, pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga kementerian/lembaga lainnya.

Komunikasi ini, menurut Edhy, yang menjadi kunci dalam menyelesaikan sejumlah persoalan di sektor kelautan dan perikanan. Sebagai contoh, lahirnya SILAT berkat komunikasi yang baik dengan Kementerian Perhubungan, kemudian masuknya komoditas perikanan dalam bantuan sosial yang dikeluarkan oleh Kementerian Sosial.

"Apa yang sudah dilakukan ini menjadi cambuk, menjadi dorongan bagi kami semua di KKP. Tentu masih banyak kekurangan, tapi saya merasakan ada titik pertumbuhan dan nilai-nilai positif yang mendorong saya semakin yakin dalam memajukan sektor kelautan perikanan ini," ujarnya.

Ke depan, Edhy mengatakan, KKP akan memperbaiki sistem rantai dingin di Indonesia dengan memperbanyak coldstorage. Ini sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus menjaga kualitas ikan.

Riset juga terus dikembangkan karena kebijakan yang dikeluarkan KKP harus berdasarkan kajian. Selain itu, KKP akan terus mendorong penyaluran bantuan pinjaman modal usaha untuk meningkatkan pendapatan dan perbaikan ekomomi masyarakat kelautan dan perikanan.

KKP juga akan memperbanyak kawasan perairan menjadi area konservasi dan menggalakkan penanaman mangrove sebagai upaya pemulihan ekosistem pesisir.

"Kadang ada dua hal yang selalu diperdebatkan. Antara konservasi dan ekonomi. Saya penganut jalan tengah. Kenapa? Karena saya percaya konservasi dan ekonomi bisa berjalan bersama," pungkasnya.


Sumber : KKP


Jumat, 16 Oktober 2020

Hari Pangan Sedunia, Menteri Edhy: Sektor Kelautan dan Perikanan Solusi di Tengah Pandemi


Peringatan Hari Pangan Sedunia 2020 terasa berbeda dari tahun sebelum-sebelumnya karena berlangsung di masa pandemi Covid-19. Bersamaan dengan hari besar yang diperingati di lebih 150 negara ini, ada ancaman naiknya jumlah penderita kelaparan.

Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi 132 juta orang akan menderita kelaparan sampai akhir tahun 2020 karena resesi ekonomi dunia imbas wabah Covid-19. Sebelum pandemi, sudah ada lebih dari dua miliar orang tidak memiliki akses tetap untuk makanan yang aman dan bergizi. Di mana hampir 700 juta orang tidur dalam keadaan lapar.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengakui negara-negara di dunia tengah menghadapi masa-masa sulit karena krisis terjadi di tiga sektor sekaligus, yakni krisis kesehatan, ekonomi, dan juga sosial. Namun Edhy optimistis sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi solusi mendongkrak kembali pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kepercayaan diri ini lantaran ia melihat permintaan hasil perikanan Indonesia tetap tinggi di pasar internasional. Terjadi peningkatan ekspor sebesar 6,9 persen pada semester I 2020 atau setara 2,4 miliar dolar AS.

“Peringatan Hari Pangan satu momentum yang baik, untuk meyakinkan kita bahwa dalam menghadapi sulitnya kondisi saat ini imbas Covid, saya sangat optimis sektor kelautan dan Perikanan menjadi solusi. Baik itu lapangan pekerjaan maupun devisa negara,” ujarnya di Jakarta, Jumat (16/10/2020).

Keyakinan Edhy juga dibarengi dengan fakta bahwa sumber daya ikan Indonesia sangat melimpah. Baik di sektor perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Di perikanan tangkap potensinya mencapai 12,5 juta ton per tahun dan lahan budidaya lebih dari 4,5 juta haktare. Hanya saja, sambung Edhy, hasilnya belum optimal.

Untuk meningkatkan produksi sektor perikanan, Edhy rutin membangun komunikasi dengan banyak pihak. Tidak sebatas dengan stakeholder, tapi juga pemerintah daerah serta kementerian maupun lembaga hingga organisasi dunia, salah satunya FAO.

Edhy mencontohkan beberapa keberhasilan dari komunikasi yang ia bangun, di antaranya harga pakan ikan yang tidak naik di masa pandemi, kemudahan perizinan kapal di atas 30 GT yang kini hanya butuh waktu satu jam, serta masuknya ikan dalam item bantuan sosial.

“Jadi saya pikir, langkah saya membangun komunikasi secara menyeluruh. Terintegrasi. Kalau ini sudah terbuka, komunikasi yang baik, apapun enak,” tegasnya. Untuk menjamin rantai produksi sektor kelautan dan perikanan berjalan di masa pandemi, KKP akan menyalurkan sejumlah bantuan dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional. Di antaranya bantuan gudang pendingin portable, alat tangkap ikan, keramba jaring apung, sarana dan prasana untuk petambak garam. Edhy berharap bantuan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.

Edhy memastikan, kebijakan KKP tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi tapi juga keberlanjutan. Menurutnya, menyeleraskan dua sisi tersebut merupakan perintah konstitusi bukan sebatas jargon, sehingga menjadi kewajiban semua pihak untuk mematuhi termasuk kementerian yang ia pimpin. “Keberlanjutan tanpa pertumbuhan adalah kerugian, tapi pertumbuhan mengabaikan keberlanjutan adalah kehancuran,” tegasnya.

Sementara itu, Tema Hari Pangan Sedunia tahun ini “Tumbuhkan, Pelihara, Lestarikan Bersama. Tindakan kita adalah Masa Depan kita” menyerukan untuk membangun kembali dengan sistem pangan yang lebih baik dan pertanian yang lebih tangguh dan kuat.

“Lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan inovasi dan kemitraan yang kuat. Setiap orang memiliki peran untuk dilakukan mulai dari pemerintah, swasta hingga individu untuk memastikan makanan sehat dan bergizi tersedia untuk semua ,” ungkap Victor Mol, Perwakilan FAO di Indonesia.

KKP bersama GEF/FAO sedang menjalankan GEF/FAO ISLME Project serta iFISH. Substansi dan tujuan kedua proyek ini adalah mendorong pengelolaan perikanan skala kecil dan menjamin berjalannya pengelolaan sumber daya ikan sesuai kaidah keberkelanjutan.

Hari Pangan Sedunia tahun ini juga memberikan kesempatan untuk berterima kasih kepada Pahlawan Pangan meliputi petani, nelayan , komunitas hutan dan pekerja di seluruh rantai pasokan makanan yang dalam keadaan apa pun, terus menyediakan makanan untuk komunitas mereka dan sekitarnya.

Pahlawan Pangan terus bekerja dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berubah. Hal ini menunjukkan ketangguhan para pahlawan pangan dan pentingnya menjaga rantai pangan tetap hidup.

Memperingati Hari Pangan Sedunia ini FAO Indonesia mengadakan serangkaian kegiatan di bulan Oktober bertajuk “Food Heroes Festival” yang berpusat pada kegiatan-kegiatan virtual. 75 Tahun FAO Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia ini, FAO berusia 75 tahun.

FAO berdiri pada 16 Oktober 1945 beberapa hari sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa didirikan untuk membangun pertanian dan menyediakan makanan yang cukup dan bergizi bagi semua orang. Kehancuran massif perang Dunia II yang menimbulkan jutaan korban meninggal dunia baik karena perang maupun kelaparan merupakan latar belakang berdirinya FAO.

“FAO lahir di tengah bencana. Situasi saat Pandemi COVID-19 semakin menjelaskan bahwa misi FAO hari ini tak berubah sejak FAO berdiri 75 tahun lalu. Pandemi COVID-19 mengingatkan kita bahwa kecukupan dan keamanan pangan bergizi dan pola makan yang sehat penting untuk semua orang, " tegas Victor.

Sekarang, FAO memiliki 194 negara anggota dan bekerja di lebih dari 130 negara di seluruh dunia.


Sumber ; KKP

Rabu, 14 Oktober 2020

Sharing Session : Penyimpanan Rumput Laut Kering Menggunakan Mini Bunker Untuk Mempertahankan Mutunya

Peneliti LRMPHP sampaikan hasil riset secara live streaming

Peneliti LRMPHP Bantul, Putri Wullandari dan Ahmad Fauzi, menyampaikan hasil riset tentang “Penyimpanan Rumput Laut Kering Menggunakan Mini Bunker untuk Mempertahankan Mutunya” dalam acara sharing session BRSDMKP secara live streaming melalui link https://www.youtube.com/user/datinification pada tanggal 14 Oktober 2020. Sharing session ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), sebagai salah satu ajang berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman. 

Pada kesempatan ini dipaparkan hasil riset mengenai penyimpanan rumput laut Eucheuma cottonii kering di dalam alat penyimpan rumput laut dengan pengontrol suhu dan RH (mini bunker rumput laut) dengan kapasitas 25 kg selama 7 minggu. Tujuan riset ini untuk mengetahui pengaruh penyimpanan Eucheuma cottonii kering di dalam mini bunker terhadap sifat fisik, kimia dan mikrobiologisnya jika dibandingkan dengan penyimpanan secara konvensional (penyimpanan di dalam karung kemudian ditumpuk di dalam gudang yang tidak memiliki pengontrol suhu dan RH). 

Penyampaian materi Sharing session oleh Peneliti LRMPHP

Eucheuma cottonii kering disimpan di dalam mini bunker dan karung selama 7 minggu, kemudian dianalisa kadar airnya, impurities, Clean Anhydrous Weed (CAW), kontaminasi jamur dan kadar garam. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan dianalisa secara statistik. Mini bunker yang digunakan memiliki kapasitas 25 kg, volume 0.45 m3, dimensi ruangan 0,9 x 0,8 x 0,6 m, input dan output dilakukan secara manual, blower 0,5 hp, dan sumber udara dari chiller. Hasil riset menunjukkan bahwa kadar air dari Eucheuma cottonii yang disimpan dalam mini bunker dan karung yaitu 12,22% dan 20,37%, impurities 0,74% dan 1,87%, CAW 40,42% dan 39,17%, kontaminasi jamur (dinyatakan dengan Angka Kapang Khamir) 610 cfu/g dan 676,67 cfu/g, kadar garam 23,61% dan 19,03%. Berdasarkan data hasil riset tersebut bahwa penyimpanan Eucheuma cottonii kering dalam mini bunker berpengaruh secara signifikan terhadap kadar air, impurities dan kadar garam Eucheuma cottonii kering tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai CAW dan Angka Kapang Khamir.  

Sharing session yang disiarkan  secara live streaming melalui link you tube BRSDMKP ini disaksikan 157 viewers saat live. Beberapa pertanyaan disampaikan selama live streaming diantaranya keunggulan dan harga jual mini bunker.