Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Senin, 17 September 2018

Cegah Kematian Massal Ikan dengan Kalender Prediksi dan Skema Alur Penanganan

Ilustrasi (sumber : ANTARA FOTO/Edy Regar/im/aww/16)

JAKARTA (13/9) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) terus melakukan upaya pencegahan dan pengendalian atas penyebab kematian ikan massal yang terjadi di Danau Toba beberapa waktu lalu. 

Kepala BRSDM KKP, Sjarief Widjaja mengungkapkan cuaca ekstrem telah memicu upwelling, yang menyebabkan pasokan oksigen ikan berkurang secara drastis. Hal tersebut berimbas pada rusaknya suhu air di Danau Toba. Upwelling  atau umbalan merupakan fenomena di mana kondisi perairan yang lebih dingin dari biasanya.

“Jadi, pergerakan massa air secara vertikal ini membawa nutrien dan partikel-partikel dari dasar perairan ke permukaan, dan ini menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang, apalagi lokasi KJA (Keramba Jaring Apung) cukup dangkal dan substratnya belumpur. Di samping itu, jika kami lihat, ternyata kepadatan ikan dalam KJA juga terlalu tinggi, sehingga sangat mengganggu sirkulasi oksigen,” ungkap Sjarief dalam gelaran konferensi pers di Jakarta pada Rabu (13/9).

“Kita juga pelajari curah hujannya, kita pelajari kapan musim kemaraunya, kapan musim penghujannya. Sehingga kita putuskan bagaimana pengendalian KJA ini. KJA idealnya di atas 50 meter. Baru perputaran airnya sehat. Ternyata dangkal,” tambahnya.

“Jadi KJA ini paling aman diopereasikan antara bulan Januari sampa dengan Juni, dan setelah itu diistirahakan mengingat resiko upwelling/umbalan tertinggi pada Agustus hingga September," lanjut Sjarief. 

Fenomena kematian ikan massal pada tahun ini dialami oleh sekitar 18 kepala keluarga, sedangkan total jumlah ikan mati diperkirakan mencapai 200 ton dengan taksiran kerugian diperkirakan sedikitnya Rp 2,7 miliar (asumsi harga ikan Rp 15.000 per kilogram).

Saat ini, KKP merekomendasikan untuk sementara waktu aktivitas KJA dihentikan terlebih dahulu sekitar dua  bulan, agar perairan bisa me-recovery kondisinya seperti semula. “Ya paling tidak dua bulan ke depan, kami imbau masyarakat menghentikan sementara waktu aktivitas budi dayanya, hingga perairan kembali stabil,” pungkasnya.

Selain itu, BRSDM juga telah mengeluarkan rekomendasi berupa kalender ‘Prediksi Kematian Massal Ikan’ dan skema ‘Alur Penanganan Kematian Massal Ikan’, yang berisikan data dan informasi penyebab kematian massal ikan di KJA, termasuk upaya penanggulangannya sebagai bagian upaya pencegahan dan pengendalian peristiwa kematian massal ikan agar tidak kembali terjadi. 

“Kalender prediksi dan skema alur penanganan ini dapat membangun kesadaran pembudidaya dan para pengambil kebijakan untuk tidak menganggap sepele setiap kasus kematian massal ikan,” terang Sjarief.

Kalender Prediksi Kematian Massal

 Kepala Pusat Riset Perikanan BRSDM KKP Toni Ruchimat mengatakan, berdasarkan hasil penelitian di lapangan, terdapat tiga  kategori dalam kalender Prediksi Kematian Massal yang patut dicermati, yakni kategori aman, waspada dan bahaya.

“Pada kategori aman, para pembudidaya KJA dapat melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan standar dan daya dukung serta zonasi yang telah dilakukan. Sedangkan pada kategori waspada, para pembudidaya KJA di minta untuk mengurangi pemberian pakan, kurangi padat tebar ikan dalam KJA, memperhatikan perubahan kondisi lingkungan perairan, hingga melakukan panen lebih awal,” tutur Toni.

Disamping itu, lanjut Toni, terdapat peringatan dini yang harus dicermati para pembudidaya KJA, yakni jika temperatur air di KJA rendah, oksigen terlarut rendah (< 3mg/L), angin dan mendung sepanjang hari, serta terjadi hujan lebat terus menerus, maka dipastikan akan memasuki kategori bahaya. 

“Memasuki kategori bahaya, seluruh pembudidaya diminta untuk melakukan pemanenan ikan yang siap panen, menghentikan kegiatan budidaya, memelihara ikan yang tahan terhadap kondisi perairan yang jelek, penambahan aerasi,serta relokasi KJA ke lokasi yang lebih dalam,” jelasnya.

Bersamaan dengan kalender prediksi kematian massal, BRSDM juga memiliki skema alur penanganan kematian massal ikan di KJA sebagai cara penanganan kematian massal ikan di KJA. 

Pemanfaatan Eceng Gondok untuk Perbaiki Kualitas Air

Untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian kematian massal ikan KJA di perairan danau atau waduk, KKP memiliki rekomendasi,  diantaranya dengan penggunaan eceng gondok unuk memperbaiki kualitas air. Hal ini dikarenakan eceng gondok memiliki kemampuan menyerap logam berat dan residu pestisida. Akar dari tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai sifat biologis sebagai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri.

Pembudidaya juga dapat menggunakan hasil penelitian KKP berupa Buoy Pluto untuk peringatan dini pencemaran perairan. Buoy Pluto merupakan alat pemantau kualitas air yang dapat diakses melalui internet (sistem telemetri). Dengan alat ini, para pembudidaya dapat memahami dan membaca  keadaan lingkungan penyebab umbalan.  

Selain itu, KKP juga memiliki KJA Sistem Manajemen Air dengan Resirkulasi dan Tanaman (SMART) yang merupakan sistem budidaya KJA dengan meminimalisir masukan bahan pencemar organik yang berasal dari pakan yang terbuang dari limbah budidaya KJA. KJA SMART memadukan sistem semi resirkulasi, akuaponik dan filtrasi fisik. Dengan menerapkan KJA SMART, diharapkan dapat menjadi solusi terhadap perbaikan dan konservasi perairan.

Untuk mengurangi dampak negatif pakan yang tidak termakan ikan budidaya, dapat dilakukan dengan menerapkan budidaya ikan dalam KJA ganda, karena ikan yang dipelihara dalam jaring lapisan kedua (bagian luar) tidak diberi makan dan hanya mengandalkan makanan yang tidak termakan ikan utama yang dipelihara dalam jaring lapisan kesatu (bagian dalam). 

Disamping itu, peningkatan produksi perairan umum juga dapat dilakukan melalui Culture-Based Fisheries (CBF). Program CBF memiliki manfaat untuk menjaga lingkungan dan kualitas air danau atau waduk serta meningkatkan ekonomi nelayan lokal.

Sumber : Siaran Pers KKP oleh Lilly Aprilya Pregiwati Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri

Senin, 10 September 2018

Kunjungan LRMPHP ke Politeknik Kelautan Perikanan Bitung

Perwakilan dari LRMPHP bersama Pudir II dan Staf Pengajar Poltek KP Bitung (dok. LRMPHP)
Kunjungan Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) ke Politeknik Kelautan dan Perikanan (KP) Bitung pada Rabu (05/09) bertujuan untuk penjajakan dan peningkatan jejaring kerjasama riset dan pendidikan bidang mekanisasi pengolahan hasil perikanan dengan Politeknik KP Bitung. Kunjungan ini diwakili oleh Peneliti dari LRMPHP beserta Tim Pelayanan Teknis. Kunjungan diterima oleh Pudir II Bapak Daniel H. Ndahawali, S.Pi, M.Si, dan beberapa staf pengajar (dosen) di Politeknik KP Bitung. Diskusi diawali dengan pemaparan profil, tugas dan fungsi dari Politeknik KP Bitung. Adapun tugas dan fungsinya yaitu untuk menciptakan sumberdaya manusia kelautan dan perikanan yang cakap handal dan terampil serta siap terjun dilapangan kerja. Berdasarkan hasil diskusi yang sudah dilakukan, kerjasama yang mungkin bisa dilakukan antara LRMPHP dengan Politeknik KP Bitung diantaranya :  1) Penelitian besama bidang mekanisasi pengolahan hasil perikanan, 2) Penyebaran informasi hasil litbang teknologi pengolahan produk perikanan yang bisa digunakan sebagai bahan ajar di Politeknik KP Bitung, 3) Keterlibatan peneliti LRMPHP sebagai dosen tamu di Politeknik KP Bitung.


Diskusi dengan Pudir II dan mengunjungi lab pengolahan (dok. LRMPHP)
Politeknik KP Bitung saat ini memiliki tiga program studi yaitu Teknik Penangkapan Ikan (TPI), Mekanisasi Perikanan (MP) dan Teknik Pengolahan Produk Perikanan (TPPP). Berdasarkan program studi yang ada, program studi mekanisasi perikanan dan pengolahan produk perikanan memiliki keterkaitan dengan tugas dan fungsi Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP).

Setelah diskusi dilakukan, acara dilanjutkan dengan kunjungan ke laboratorium pengolahan untuk program studi TPPP. Beberapa peralatan yang ada di laboratorium pengolahan diantaranya yaitu peralatan pengadon, peralatan pembuat bakso, peralatan pengemasan produk dan peralatan pengasapan ikan. Peralatan tersebut digunakan sebagai alat penunjang kegiatan belajar dan mengajar para Taruna dan Taruni. Sistem perkuliahan di Politeknik KP Bitung memiliki porsi praktik kerja 70% dan teori 30% dengan memanfaatkan fasilitas teaching factory yang mengintegrasikan pendidikan dan produksi usaha.

Selain dengan sistem pembelajaran yang dicetak untuk siap kerja, para Taruna dan Taruni juga dibekali sertifikat Keahlian ANKAPIN I untuk program studi Teknik Penangkapan Ikan (TPI); ATKAPIN I untuk program studi Mekanisasi Perikanan (MP); Sertifikat Pengolah Ikan dan HACCP untuk Program Studi Teknik Pengolahan Produk Perikanan (TPPP), Sertifikat BST (Basic Safety Training) berstandar internasional, dan juga sertifikat Kompetensi Kompetensi Keahlian dari BNSP.

Rabu, 29 Agustus 2018

KKP Kembangkan Tepung Spirulina Skala Rumah Tangga

Dok. Humas DJPB
Besarnya kebutuhan pakan dalam kegiatan budidaya ikan termasuk kebutuhan mikroalga sebagai pakan alami untuk benih ikan atau udang pada fase pembenihan, mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan tepung ikan berbahan baku Spirulina. Tidak hanya itu, agar dapat diproduksi secara massal dan dilakukan langsung oleh pembudidaya ikan, telah dikembangkan juga teknologi pembuatan tepung Spirulinaberskala rumah tangga.

Selama ini pemenuhan kebutuhan tepung Spirulina untuk kegiatan budidaya ikan khususnya udang, masih impor dari India dan Tiongkok. Melalui inovasi ini diharapkan dapat menekan kebutuhan akan tepung Spirulina dari impor.

Adalah Lisa Ruliaty, Perekayasa Madya pada Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, yang telah berhasil mengembangkan inovasi teknologi produksi tepung Spirulina secara sederhana di tingkat pembudidaya ikan atau skala rumah tangga. Dengan temuan tersebut, pembudidaya mampu menyediakan kebutuhan pakan tambahan bagi benih ikan atau udang secara mandiri. Lebih lanjut, teknologi ini juga dapat dijadikan usaha alternatif bagi pembudidaya ikan maupun masyarakat umum.

Atas jasanya ini Lisa mendapatkan penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia, yang diserahkan saat perayaan Hari Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 2018 lalu.

Sebagai informasi, Spirulina merupakan jenis mikroalga yang sangat potensial sebagai sumber makanan alami baik untuk hewan maupun manusia. Kandungan protein di dalamnya mencapai 55 – 70%, lipid 4 – 6%, karbohidrat 17 – 25%, asam lemak tidak jenuh majemuk seperti asam linoleat dan linolenat, beberapa vitamin seperti asam nikotinat, riboflavin (vitamin B2), thiamin (vitamin B1), sianokobalamin (vitamin B12), mineral, asam-asam amino, dan bahan aktif lainnya seperti karotenoid, pigmen klorofil, dan fikosianin.

Sebagai contoh 1 are (0,4646 hektar) Spirulina dapat menghasilkan protein 20 kali lebih baik dari 1 are kedelai atau jagung dan 200 kali lebih baik dari pada daging sapi. Sehingga Spirulinasangat menjanjikan dikembangkan di Indonesia.

Saat dimintai keterangannnya (23/8), Lisa menyampaikan bahwa sasaran produksi secara sederhana ini adalah untuk pasar feed grade yaitu sebagai pakan tambahan bagi hewan ternak, sehingga standar untuk feed grade pasti dapat terpenuhi secara skala rumah tangga.  Kemudian pasar untuk feed grade juga dapat digunakan sebagai pakan tambahan ikan, udang, ikan hias,  juga  imunostimulan pada unggas.

“Pembudidaya ikan dapat membuat pasta dan tepung Spirulina sebagai feed aditif  bagi ikan, karena tidak membutuhkan modal yang besar dan dapat dilakukan skala rumah tangga, serta sebagai usaha alternatif bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan,” terang Lisa.

Sebagai gambaran, usaha rumahan ini hanya membutuhkan biaya investasi sebesar Rp3.116.500 untuk pembuatan lemari pengering, membeli plastik mika, spatula, blender, chiller dan blower, sedangkan biaya produksi per siklus hanya Rp89.000 untuk pembuatan media pupuk dan kebutuhan listrik.

Di mana kultur dilakukan pada bak beton volume 10 m3 diperoleh produk tepung per siklus kultur sebanyak 567 gram dengan harga jual Rp300 per gram tepung. Keuntungan per siklus kultur sebesar Rp81.100, sedangkan keuntungan produksi sebulan (6 siklus = 5 hari) sebesar Rp486.600.

“Usaha produksi tepung Spirulina memberikan Benefit of Cost Ratio sebesar 1,9 dengan waktu pengemballian modal investasi 6,4 bulan, sehingga dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif usaha bagi masyarakat,” tegasnya.

Beberapa keuntungan dalam penerapan teknologi ini diantaranya: (1) produksi tepung Spirulinasecara sederhana mulai dari tahapan kultur, pemanenan, hingga pengeringan dengan lemari pengering sederhana, dengan menggunakan media kultur air tawar maupun air payau; (2) kulturSpirulina dapat dilakukan dengan menggunakan wadah bak beton, bak fiber, kolam terpal, ember, maupun galon dengan volume media kultur menyesuaikan dengan sarana yang ada; dan (3) teknologi ini sederhana sehingga mudah untuk dilakukan baik oleh pembudidaya ikan maupun masyarakat luas dan dapat dikelola di skala rumah tangga.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat diminta tanggapannya di Jakarta (24/8) sangat mengaspresiasi keberhasilan inovasi ini. Menurutnya, inovasi ini akan dapat mengatasi masalah impor tepung Spirulina di Indonesia yang selama ini yang dipergunakan di tingkat pembudidaya ikan berasal dari India dan Tiongkok.

“KKP terus mendorong pengembangan inovasi ini karena usaha ini dapat dilakukan skala rumah tangga dengan modal yang kecil, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan,” tambah Slamet.
Menurut Slamet, inovasi teknologi kultur Spirulina skala rumah tangga ini juga merupakan bagian dari gerakan pakan mandiri (GERPARI) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi melalui peningkatan efisiensi pakan dalam usaha pembudidayaan ikan.

Teknologi ini telah diaplikasikan pada pelaku pembibitan ikan hias dan ikan lele di Kab. Bandung dan Kab. Purworejo serta dalam proses pengembangan oleh “planktonshop” di Purworejo dan Gresik dengan melakukan modifikasi pengeringan pasta Spirulina.  Pengeringan dilakukan  secara langsung di bawah sinar matahari dalam ruangan tertutup beratap transparan. Produk pasta dipergunakan dalam media kultur pembibitan ikan.  Sedangkan tepung yang dihasilkan di pergunakan sebagai campuran didalam pakan pembibitan ikan hias maupun pembesarannya.

Aji Subakti, pembudidaya ikan di Kota Bandung yang sudah melakukan teknologi kultur spirulina ini, berpendapat bahwa budidaya Spirulina yang dilakukan dapat dijadikan sebagai pakan benih ikan hias dan ikan lele, sehingga biaya produksi pakan dapat ditekan.

“Kultur Spirulina dan membuat tepungnya untuk dipakai sendiri, jadi kegiatan pembenihan ikan hias dan lele yang kami lakukan dapat berkelanjutan dan mudah dengan nutrisi yang tetap prima dan bebas penyakit,” jelas Aji saat dimintai keterangan. (Humas DJPB/AFN)
 
Sumber: KKPNews

Senin, 20 Agustus 2018

LRMPHP Ikuti Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) dan Aksi Serentak Menghadap Laut

Tim LRMPHP dalam GBPL (dok. LRMPHP)
Loka Riset Mekanisasi Mekanisasi Hasil Perikanan (LRMPHP) melakukan Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) dan Aksi Serentak Menghadap Laut pada hari Minggu 19 Agustus 2018 di Pantai Goa Cemara, Bantul. Partisipasi LRMPHP pada kegiatan tersebut sebagai tindak lanjut atas Surat Edaran dari KKP No. B.1695/DJPRL.0/VII/2018 tertanggal 7 Agustus 2018 perihal permohonan dukungan terhadap Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) dan Aksi Serentak Menghadap Laut serta dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-73.

Kegiatan GBPL dan Aksi Serentak Menghadap Laut dilaksanakan di Pantai Goa Cemara, Bantul sebagai bagian dari aksi serentak di-73 titik lokasi di seluruh Indonesia. GBPL dan Aksi Serentak di Pantai Goa Cemara, Bantul diikuti oleh sekitar 200 relawan yang terdiri dari LRMPHP, Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta (BKIPM Yogyakarta), Penyuluh Perikanan Bantul, Sleman dan Kulon Progo serta komunitas Earth Hour (WWF) Yogyakarta sebagai koordinator lapangan.



Partisipasi LRMPHP di Gerakan bersih pantai dan Laut (dok. LRMPHP)
Dalam sambutannya, koordinator komunitas Earth Hour Yogyakarta, Sdr. Fattah menjelaskan teknis pelaksanaan aksi diantaranya jenis-jenis sampah yang diambil dan membagi peserta GBPL dan Aksi Serentak menjadi 12 kelompok dengan pendamping tiap kelompok 1 orang dari komunitas Earth Hour. Sampah yang terkumpul nantinya akan ditimbang, diidentifikasi dan dilaporkan ke pemerintah pusat. Kegiatan aksi diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya menghadap ke laut.

Melalui GBPL dan Aksi Serentak Menghadap Laut tersebut diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat untuk menghilangkan kebiasaan membuang sampah sembarangan di laut dan pantai serta menjaga dan merawat wilayah perairan Indonesia dengan mengambil dan mengamankan sampah-sampah, terutama sampah plastik yang sulit diurai oleh alam. 

Selasa, 07 Agustus 2018

Pelaksanaan Monev Semester I Tahun 2018 Lingkup LRMPHP

Pemaparan kegiatan LRMPHP (dok.LRMPHP)
Untuk mengetahui tingkat pencapaian program dan pelaksanaan kegiatan selama semester I,  Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) menyelenggarakan Monitoring dan Evaluasi (monev) Semester I Tahun 2018 lingkup LRMPHP pada 6-7 Agustus 2018. Kegiatan monev dibuka oleh Kepala LRMPHP (Lutfi Assadad, M.Sc.) dan dihadiri oleh Perwakilan Puriskan Jakarta (Budi Nugraha, M.Si.) selaku Kasbid Riset Teknologi Alat dan Mesin Perikanan , narasumber dari BAPPEDA D.I. Yogyakarta (Andi Nawa C., SP., MP.), evaluator kegiatan riset (Senny Helmiati, M.Sc.) dari Jurusan Perikanan UGM dan Dr. Ir. Nursigit Bintoro, M.Sc. dari  Fakultas Teknologi Pertanian UGM serta seluruh pegawai LRMPHP.

Dalam sambutannya, Kepala LRMPHP menyatakan bahwa kegiatan monev  lingkup LRMPHP meliputi kegiatan manajerial dan riset. Kepala Loka berharap masukan dan saran dari para evaluator agar pelaksanaan kegiatan menjadi lebih baik lagi. Sementara itu, perwakilan Puriskan Jakarta dalam sambutannya menyampaikan wacana reorganisasi lembaga riset melalui pembentukan Badan Riset Nasional yang sebaiknya diantisipasi secara bijak.
Sambutan dan Pengarahan dari Pusriskan (dok. LRMPHP)
Evaluasi kegiatan oleh Narasumber (dok. LRMPHP)

Pemaparan Narasumber dari BAPPEDA DIY (dok. LRMPHP)
Pada pemaparan kegiatan riset tentang Mesin Pembuat Pakan Ikan Skala UKM, beberapa masukan dan saran diberikan oleh para evaluator. Senny Helmiati, M.Sc. memberikan masukan tentang kriteria pemilihan bahan untuk formulasi pakan ikan hendaknya mempertimbangkan kandungan nutrisi bahannya, ketersediaan, kontinyuitasnya dan pertimbangan harganya. Sementara itu, Dr. Ir. Nursigit Bintoro menyatakan bahwa sebagian besar output yang dihasilkan telah sesuai dengan yang ditetapkan tetapi belum seluruhnya, karena  mesin ekstruder pellet tipe twin screw extruder belum diwujudkan. Secara umum hasil evaluasi terhadap kegiatan riset berjalan baik, namun demikian masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.

Pada kesempatan monev juga dihadirkan narasumber dari BAPPEDA D.I. Yogyakarta yang memaparkan tentang program perikanan di Propinsi DIY  TA 2018 dan rencana TA 2019. Selain itu juga mengajak LRMPHP untuk bekerjasama dalam mengembangkan perikanan. Kehadiran BAPPEDA DIY diharapkan dapat mensinergikan hasil-hasil riset di LRMPHP dengan provinsi sehingga penyebarluasan hasil riset lebih optimal.