PELATIHAN

LRMPHP telah banyak melakukan pelatihan mekanisasi perikanan di stakeholder diantaranya yaitu Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR), Kelompok Pembudidaya Ikan, Pemerintah Daerah/Dinas Terkait, Sekolah Tinggi/ Universitas Terkait, Swasta yang memerlukan kegiatan CSR, Masyarakat umum, dan Sekolah Menengah/SMK

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 81/2020

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Kerjasama

Bahu membahu untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan dengan berlandaskan Ekonomi Biru

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh Sumber Daya Manusia sebanyak 20 orang dengan latar belakang sains dan engineering.

Selasa, 26 Mei 2026

GASPOL! LRMPHP Siap Kawal Hasil Rakornis BPPSDM KP 2026 melalui Rencana Aksi Strategis

Kepala Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) menghadiri Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) Tahun 2026 yang berlangsung di Wind Hill Resort, Bogor, Jawa Barat, pada 21–24 Mei 2026. Kegiatan strategis tersebut menghasilkan sejumlah rumusan penting dan komitmen kinerja untuk mendukung percepatan program prioritas nasional di sektor kelautan dan perikanan.

Rakornis tahun ini mengusung tema “Gaspol, Gerak Akselerasi Percepatan Output dan Layanan Selaraskan Misi Perkuat Sinergi (GASPOL SELARAS MANIS)” dan dipimpin langsung oleh Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta. Sebanyak 116 peserta dari berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta perwakilan eksternal hadir secara luring untuk menyatukan langkah dalam mendukung delapan program prioritas Presiden Republik Indonesia.

Dalam arahannya, I Nyoman Radiarta menegaskan bahwa ukuran keberhasilan instansi saat ini tidak lagi hanya sebatas pelaksanaan kegiatan rutin, melainkan sejauh mana kegiatan tersebut mampu mempercepat output, memperkuat layanan, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat kelautan dan perikanan. Filosofi “Gaspol” juga menjadi semangat bersama untuk mendorong seluruh jajaran bergerak lebih cepat, terukur, terkoordinasi, dan selaras dalam mencapai target organisasi.

Rakornis BPPSDM KP 2026 memfokuskan pembahasan pada delapan program prioritas berbasis ekonomi biru (Blue Economy), yaitu pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), pembangunan kawasan budidaya udang terintegrasi di Waingapu, revitalisasi budidaya ikan di Pantai Utara Jawa, pengembangan budidaya ikan tematik untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan modeling kawasan budidaya komoditas unggulan terintegrasi, pembangunan pergaraman nasional menuju swasembada garam, modernisasi kapal perikanan, serta modernisasi sarana dan prasarana pendidikan kelautan dan perikanan.

Sebagai unit kerja di bawah BPPSDM KP yang berfokus pada riset mekanisasi dan perekayasaan teknologi pengolahan hasil perikanan, LRMPHP siap menyelaraskan program kerja dan inovasi teknologi guna mendukung target nasional tersebut, khususnya dalam penguatan sektor hilir perikanan melalui modernisasi sarana dan teknologi pengolahan hasil perikanan.

Selama empat hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai agenda strategis yang berlangsung secara intensif. Kegiatan diawali dengan pemaparan roadmap kegiatan 2026–2029 oleh para Kepala Pusat dan arahan Kepala BPPSDM KP. Pada hari berikutnya, dilaksanakan penandatanganan kerja sama dengan sejumlah mitra, yaitu Sampoerna University, BPSDM Perhubungan, dan Snack Video. Agenda kemudian dilanjutkan dengan pembahasan penajaman Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) BPPSDM KP serta sidang kelompok terkait pelaksanaan anggaran SBSN dan program prioritas nasional. Selain itu, peserta juga membahas langkah-langkah likuidasi sejumlah satuan kerja agar proses penataan aset dan sumber daya manusia tetap berjalan tertib tanpa mengganggu pelayanan publik.

Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu (23/5) melalui pemaparan hasil sidang kelompok dan penandatanganan Dokumen Komitmen Kinerja sebagai bentuk kesiapan seluruh unit kerja dalam mendukung pencapaian target organisasi. Rakornis kemudian resmi ditutup pada Minggu (24/5).

Berdasarkan hasil rapat pleno dan pembahasan teknis, Rakornis BPPSDM KP 2026 menghasilkan lima rumusan utama. Pertama, penyediaan sumber daya manusia unggul untuk mendukung ekonomi biru melalui integrasi penyuluhan, pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi yang selaras dengan kebutuhan industri. Kedua, optimalisasi pendampingan penyuluh perikanan pada berbagai program prioritas seperti KNMP, swasembada garam, budidaya tematik, hingga tambak udang Waingapu. Ketiga, standardisasi dan modernisasi pendidikan melalui penguatan Ocean Institute of Indonesia (OII) dan pembangunan sarana pendidikan berbasis SBSN. Keempat, peningkatan pelatihan berbasis teknologi dan sertifikasi melalui Corporate University (Corpu) dan Community Learning Center (CLC). Kelima, penguatan tata kelola organisasi yang akuntabel pasca-likuidasi satuan kerja, mencakup penataan SDM, aset, arsip, dan dokumen administrasi lainnya.

Bagi LRMPHP, hasil Rakornis ini menjadi acuan penting dalam memperkuat peran lembaga dalam pendampingan penyuluhan serta pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan (SDM KP) ke depan. Melalui semangat “Selaraskan Misi, Perkuat Sinergi”, LRMPHP siap mengakselerasi perannya dalam meningkatkan kapasitas SDM KP melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan guna mendukung hilirisasi perikanan nasional serta meningkatkan daya saing sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Senin, 25 Mei 2026

Gemarikan di Kulon Progo, Instruktur LRMPHP Berbagi Edukasi Gizi Ikan

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) berpartisipasi aktif dalam kegiatan Kampanye Gemar Makan Ikan (Gemarikan) Tahun 2026 melalui kolaborasi bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan DPRD DIY. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (21/5/2026) di Dukuh Patuk Lor, Desa Tirtorahayu, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo.

Kampanye Gemarikan diikuti oleh 20 warga setempat dan menghadirkan narasumber dari Dislautkan DIY, DPRD DIY, serta LRMPHP. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi ikan sebagai sumber pangan bergizi guna mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam kesempatan tersebut, narasumber dari Dislautkan DIY, Bapak Joko, menyampaikan kebijakan peningkatan konsumsi ikan per kapita masyarakat DIY melalui Gerakan Makan Ikan. Sementara itu, Anggota DPRD DIY, Hifni Muhammad Nasikh, memberikan arahan terkait pentingnya peningkatan konsumsi ikan di DIY. Ia berharap angka konsumsi ikan masyarakat DIY terus meningkat, mengingat tingkat konsumsi ikan di wilayah tersebut masih termasuk yang terendah di Indonesia.

Instruktur LRMPHP, Wahyu Tri Handoyo, menyampaikan materi bertema “Gizi Ikan untuk Generasi Emas”. Dalam paparannya, ia menyoroti tantangan pola makan generasi era digital yang cenderung serba instan. Salah satu solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan gizi adalah kembali mengonsumsi real food, salah satunya ikan. Konsumsi ikan dinilai menjadi solusi tepat karena produksi protein ikan nasional sangat melimpah dibandingkan sumber protein lainnya. Selain itu, ikan memiliki kandungan nutrisi yang seimbang, meliputi protein, asam lemak tak jenuh, mikronutrien, dan vitamin.

Lebih lanjut, dijelaskan pula pentingnya penanganan ikan yang baik, mulai dari proses pembersihan, penyimpanan, pengawetan, hingga pengolahan, guna menjaga mutu ikan sebelum dikonsumsi. Pada kesempatan tersebut juga diperkenalkan berbagai produk diversifikasi olahan ikan kepada masyarakat.

Rangkaian kegiatan Kampanye Gemarikan diakhiri dengan sesi diskusi interaktif antara narasumber dan peserta. Melalui kegiatan ini, diharapkan konsumsi ikan masyarakat dapat terus meningkat sekaligus memberdayakan kelompok masyarakat kelautan dan perikanan dalam mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045.





Jumat, 22 Mei 2026

Case Hardening pada Pengeringan Ikan, Tantangan dalam Menjaga Mutu Produk Perikanan

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) melalui media edukasinya terus mendorong peningkatan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha mengenai pentingnya proses pengolahan hasil perikanan yang tepat, aman, dan berkualitas. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam proses pengeringan ikan adalah fenomena case hardening atau pengerasan permukaan yang dapat memengaruhi mutu serta keamanan produk perikanan.

Case hardening merupakan kondisi ketika bagian permukaan ikan mengering lebih cepat dibandingkan bagian dalam akibat penggunaan suhu pengeringan yang terlalu tinggi dan aliran udara yang terlalu kuat. Kondisi tersebut menyebabkan terbentuknya lapisan keras atau kerak pada permukaan ikan. Lapisan keras ini kemudian menghambat keluarnya kadar air dari bagian dalam daging ikan, sehingga proses pengeringan menjadi tidak merata dan masih menyisakan kelembapan di bagian dalam produk.

Fenomena ini umumnya terjadi pada metode pengeringan konveksi, khususnya konveksi paksa, serta pada proses pengeringan menggunakan oven maupun pengasapan dengan suhu tinggi. Apabila tidak dikendalikan dengan baik, case hardening dapat menurunkan kualitas produk hasil perikanan secara signifikan.

Meskipun tampilan luar ikan terlihat kering, bagian dalam yang masih lembap dapat menjadi media yang ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jamur sehingga produk lebih mudah mengalami kerusakan. Selain itu, proses pengeringan yang tidak sempurna juga menyebabkan aroma dan cita rasa ikan kurang optimal serta tekstur produk menjadi tidak seragam, yaitu keras di bagian luar namun lembek di bagian dalam. Kondisi tersebut pada akhirnya turut memperpendek umur simpan produk.

Untuk mencegah terjadinya case hardening, proses pengeringan perlu dilakukan dengan pengaturan suhu secara bertahap agar kadar air dalam bahan dapat keluar lebih merata. Pengendalian laju pengeringan, terutama pada tahap awal proses, juga penting dilakukan agar permukaan produk tidak cepat mengeras. Selain itu, sirkulasi udara perlu diatur dengan baik guna membantu penguapan air secara merata. Penggunaan ukuran ikan yang seragam juga dapat membantu menghasilkan tingkat kekeringan produk yang lebih konsisten.

Melalui edukasi ini, LRMPHP berharap para pelaku usaha pengolahan hasil perikanan dapat memahami pentingnya pengendalian proses pengeringan guna menghasilkan produk yang berkualitas, aman dikonsumsi, dan memiliki daya simpan lebih lama. Penerapan teknik pengeringan yang tepat juga diharapkan mampu mendukung peningkatan nilai tambah serta daya saing produk perikanan Indonesia.


Senin, 18 Mei 2026

Dimsum Ikan Tuna, Kreasi Sehat Siswa PKL di LRMPHP

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) terus berkomitmen mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia kelautan dan perikanan bagi generasi muda. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerimaan dan pendampingan terhadap 4 siswa-siswi SMKN 1 Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, yang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di LRMPHP.

Selama kegiatan PKL, para siswa mendapatkan pembelajaran dan pengalaman langsung mengenai pengolahan hasil perikanan, mulai dari pengenalan bahan baku hingga proses pembuatan produk olahan yang bernilai tambah. Dengan bimbingan instruktur LRMPHP, siswa-siswi tersebut berhasil membuat inovasi produk berupa dimsum ikan tuna sebagai alternatif pangan sehat berbahan dasar ikan.

Ikan tuna dipilih sebagai bahan utama karena memiliki kandungan gizi yang tinggi, seperti protein, asam lemak omega-3, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu, tuna juga merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan inovatif.

Dalam proses pembuatannya, peserta diajarkan tahapan pengolahan dimsum mulai dari persiapan bahan, pembuatan adonan, hingga proses pengukusan. Adonan dimsum dibuat dari daging ikan tuna yang dicampur dengan berbagai bumbu dan bahan pelengkap sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal dan cita rasa yang lezat. Dimsum kemudian dibungkus menggunakan kulit dimsum, diberi topping wortel parut, lalu dikukus hingga matang sempurna.

Melalui kegiatan ini, peserta PKL tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam pengolahan hasil perikanan, tetapi juga mendapatkan wawasan mengenai pentingnya inovasi produk untuk meningkatkan konsumsi ikan di masyarakat. Penyajian dimsum yang menarik dan praktis diharapkan dapat menjadikan produk olahan ikan lebih digemari oleh berbagai kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa, sekaligus mendukung pemenuhan gizi seimbang masyarakat.


Kamis, 14 Mei 2026

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara resmi membuka Penerimaan Peserta Didik pada Satuan Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Menengah Vokasi Kelautan dan Perikanan (Pentaru) Tahun 2026. Peluncuran Pentaru 2026 ini dilakukan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) I Nyoman Radiarta mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan, Selasa (12/5), di Kantor Pusat KKP, Jakarta.

Nyoman mengatakan, seluruh program pembangunan kelautan dan perikanan pada akhirnya bermuara pada satu hal yang sangat menentukan, yaitu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Transformasi menuju sektor kelautan dan perikanan yang maju, mandiri, dan berkelanjutan tidak akan tercapai tanpa SDM yang unggul, adaptif, dan berintegritas.

“Melalui Pentaru 2026, kita tidak hanya membuka proses penerimaan peserta didik, tetapi juga menyiapkan generasi baru pelaku utama sektor kelautan dan perikanan yang akan menjadi penggerak utama ekonomi biru di masa depan. Para peserta didik yang akan bergabung adalah calon-calon profesional yang diharapkan mampu menjawab tantangan zaman serta membawa inovasi bagi kemajuan sektor ini,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, pihaknya saat ini tengah melakukan transformasi pendidikan vokasi, termasuk melalui pembentukan Ocean Institute of Indonesia, sebagai langkah strategis untuk memperkuat kualitas dan daya saing pendidikan kelautan dan perikanan.

Selain peluncuran Pentaru 2026, pada kesempatan tersebut juga turut dilakukan peluncuran pakaian seragam baru peserta didik lingkup KKP. Menurut Nyoman, peluncuran ini menjadi simbol pembentukan karakter disiplin, tanggung jawab, dan profesionalisme yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik.

“Dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Esa, Pentaru Tahun 2026 secara resmi saya nyatakan dibuka, sekaligus peluncuran seragam baru peserta didik satuan pendidikan tinggi. Saya berharap kita dapat terus membangun negeri dengan mencetak SDM Kelautan dan Perikanan yang unggul, andal, profesional, dan berintegritas,” pungkas Nyoman.

Sementara itu, dilaporkan Kepala Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan (Pusdik KP) Alan Frendy Koropitan, Pentaru 2026 dilakukan secara online melalui laman resmi www.pentaru.kkp.go.id dan www.pentaru.kkp.go.id/supm. Dengan demikian diharapkan pelaksanaannya dapat berjalan lebih efektif, transparan, efisien serta mempermudah akses lebih luas bagi pelaku atau anak pelaku usaha dan pendukung sektor kelautan dan perikanan yang berada pada lokasi-lokasi terbatas.

Alan mengatakan, KKP mempunyai 11 satuan pendidikan tinggi vokasi, yaitu 10 satuan pendidikan tinggi vokasi menerapkan Non Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Non PK-BLU) dan satu satuan pendidikan tinggi vokasi yang menerapkan PK-BLU. Selain Pendidikan tinggi, KKP memiliki tujuh satuan Pendidikan menengah. 

Menurut Alan, pihaknya mengeluarkan kebijakan pada pelaksanaan penerimaan peserta didik, yaitu dengan target 100% bagi anak pelaku usaha dan pendukung sektor kelautan dan perikanan pada seluruh satuan pendidikan tinggi dan menengah, kecuali pada satuan pendidikan yang telah menyelenggarakan PK-BLU. Pada satu satuan pendidikan PK BLU tersebut memiliki target 20% anak atau pelaku usaha dan pendukung sektor kelautan dan perikanan dan 80% dari masyarakat umum.

“Pada kesempatan ini, kami juga memperkenalkan seragam baru berupa Pakaian Dinas Harian dan Pakaian Dinas Upacara bagi peserta didik satuan pendidikan tinggi. Warna biru muda melambangkan keterbukaan, kejujuran, dan integritas, sedangkan biru tua mencerminkan keteguhan, kewibawaan, dan profesionalisme. Kami berharap seragam ini menjadi identitas sekaligus semangat baru dalam membentuk karakter taruna yang disiplin dan berintegritas,” tambahnya.

Sementara itu diberitakan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa pendidikan vokasi menjadi pilar utama dalam menyiapkan tenaga profesional yang mampu menghadapi tantangan global di sektor kelautan dan perikanan. Meurutnya, pendidikan vokasi kelautan dan perikanan harus menjadi wadah yang tidak hanya menghasilkan tenaga kerja terampil, tetapi juga inovator dan wirausahawan yang mampu mengembangkan industri perikanan nasional.


Senin, 11 Mei 2026

KKP Siapkan SDM Andal Hadapi Dinamika Geopolitik Kawasan Maritim

Dinamika geopolitik global yang kian memanas menempatkan laut sebagai arena strategis perebutan pengaruh antarnegara. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, berada di titik krusial yang menentukan arah stabilitas dan arus perdagangan global.

Hal ini mengemuka dalam Kuliah Umum bertema “Transformasi Strategi Kemaritiman dalam Dinamika Geopolitik Kawasan” yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), di Politeknik AUP Jakarta.

Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio dalam paparannya menegaskan bahwa kawasan Indo-Pasifik saat ini menjadi episentrum ketegangan global, dipicu oleh konflik terbuka maupun potensi konflik antarnegara besar.

Disampaikan bahwa sejumlah eskalasi global, mulai dari perang Rusia–Ukraina, konflik di Timur Tengah, hingga potensi konflik di Laut China Selatan dan Selat Taiwan, yang berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan maritim dunia.

“Laut hari ini bukan sekadar jalur transportasi, tetapi ruang strategis perebutan kepentingan global. Siapa yang menguasai laut, dia mengendalikan arus logistik, energi, dan ekonomi dunia,” tegas Marsetio. 

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi posisi Indonesia yang sangat strategis sebagai pengendali choke points dunia, khususnya Selat Malaka yang dilalui lebih dari 90 ribu kapal per tahun dan menjadi jalur vital distribusi energi global.

Namun di balik peluang tersebut, terdapat tantangan besar berupa kepadatan lalu lintas pelayaran, potensi konflik, hingga kerentanan terhadap gangguan keamanan dan lingkungan. “Indonesia bukan hanya penonton dalam geopolitik maritim, tetapi penentu keseimbangan. Kita berada di jalur yang menggerakkan sekaligus menyeimbangkan kekuatan dunia,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, menegaskan bahwa transformasi strategi kemaritiman harus dimulai dari penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi utama.

Menurutnya, tantangan geopolitik tidak bisa dijawab hanya dengan kebijakan atau infrastruktur, tetapi membutuhkan SDM andal yang memiliki wawasan global, adaptif, dan mampu membaca perubahan.

“Strategi kemaritiman bukan hanya soal menjaga laut, tetapi bagaimana kita memanfaatkan laut untuk memperkuat ketahanan pangan, ekonomi, dan posisi tawar Indonesia di dunia,” ujar Nyoman. 

Ia menambahkan, KKP saat ini mendorong pendekatan pembangunan berbasis ekonomi biru yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, dan daya saing global.

Program seperti kampung nelayan modern, pengembangan budi daya terintegrasi, serta penguatan konektivitas maritim menjadi bagian dari strategi konkret dalam menghadapi disrupsi global.

Nyoman juga menekankan bahwa pendidikan vokasi kelautan dan perikanan harus bertransformasi agar selaras dengan kebutuhan industri dan dinamika geopolitik. “Kita tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi mencetak pelaku utama pembangunan maritim yang mampu menciptakan nilai tambah dan menjaga keberlanjutan sumber daya,” tegasnya.

Kuliah umum ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran strategis generasi muda maritim bahwa laut adalah masa depan Indonesia, bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai pilar kedaulatan dan kekuatan bangsa di tengah persaingan global.

Hal ini juga selaras dengan arahan Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono yang menegaskan bahwa laut tidak hanya menjadi ruang ekonomi, tetapi juga pilar kedaulatan dan masa depan bangsa yang harus dikelola secara berkelanjutan oleh SDM unggul sebagai kunci kekuatan sektor KP Indonesia.



Sumber: kkp web


Jumat, 08 Mei 2026

Ikan Asap Tanpa Asap, Inovasi Sehat dari LRMPHP

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan memperkenalkan inovasi pengolahan hasil perikanan berupa ikan asap tanpa asap sebagai solusi modern untuk mengatasi berbagai kelemahan metode pengasapan tradisional. Selama ini, proses pengasapan konvensional kerap menimbulkan permasalahan, seperti terbentuknya deposit tar, kandungan senyawa berbahaya, proses yang kurang higienis, serta mutu produk yang tidak konsisten. Melalui inovasi ini, LRMPHP menghadirkan teknologi pengolahan yang lebih aman, higienis, dan mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih terstandar.

Teknologi yang digunakan memanfaatkan asap cair (liquid smoke), yaitu hasil kondensasi dari proses pirolisis bahan alami yang telah dimurnikan untuk menghilangkan senyawa berbahaya, seperti tar dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Dengan metode ini, proses pengasapan tidak lagi melibatkan paparan asap secara langsung sehingga lebih aman bagi kesehatan, namun tetap mampu menghadirkan cita rasa khas ikan asap yang autentik. Selain itu, penggunaan asap cair memberikan keunggulan berupa proses yang lebih higienis serta hasil produk yang lebih konsisten.

Proses pembuatan asap cair meliputi beberapa tahapan, yaitu pemilihan bahan baku, pirolisis, kondensasi, pengendapan, penyaringan, dan destilasi lanjutan sebagai tahap pemurnian akhir. Tahap awal dimulai dengan pemilihan bahan baku yang bersih, alami, dan bebas kontaminan agar menghasilkan produk yang aman digunakan. Bahan yang umum digunakan antara lain tempurung kelapa, kayu mahoni, kayu jati, dan serbuk gergaji nonresin, sedangkan bahan yang harus dihindari meliputi kayu bergetah seperti pinus serta bahan yang mengandung cat, lem, atau zat kimia lainnya.

Setelah bahan baku dipilih, dilakukan proses pirolisis, yaitu pemanasan bahan tanpa oksigen pada suhu sekitar 400 °C dalam kondisi oksigen minimal sehingga menghasilkan asap, arang, dan gas. Asap yang dihasilkan kemudian dialirkan melalui pipa pendingin atau kondensor pada tahap kondensasi sehingga berubah menjadi cairan atau kondensat. Kondensat ini merupakan asap cair berwarna gelap yang masih mengandung tar dan senyawa berbahaya. Oleh karena itu, dilakukan proses pengendapan dan penyaringan untuk menghilangkan tar serta partikel berat. Asap cair didiamkan selama 1–2 minggu hingga tar dan partikel berat mengendap di bagian dasar, kemudian cairan jernih dipisahkan dan disaring menggunakan kertas filter serta arang aktif untuk memperoleh asap cair yang lebih bersih.

Tahap akhir berupa destilasi lanjutan yang bertujuan menghilangkan sisa tar dan senyawa PAH. Proses ini dilakukan dengan pemanasan pada suhu sekitar 125 °C untuk memisahkan fraksi berdasarkan titik didih dan mengambil fraksi ringan yang lebih aman digunakan. Hasil akhirnya berupa asap cair yang lebih jernih, memiliki aroma lebih bersih, dan aman diaplikasikan pada produk pangan.

Dalam pengolahan ikan asap menggunakan asap cair, bahan yang digunakan berupa ikan segar utuh atau fillet. Ikan terlebih dahulu dicuci menggunakan air bersih, kemudian direndam selama 20–30 menit, tergantung ketebalan ikan, ke dalam larutan asap cair dan garam. Larutan dibuat dengan melarutkan asap cair sebanyak 2% dan garam 3% ke dalam air bersih atau disesuaikan dengan selera. Setelah proses perendaman selesai, ikan ditiriskan selama 30 menit sebelum dilakukan proses pengeringan selama 3–7 jam, tergantung metode dan ketebalan ikan yang digunakan.

Berdasarkan hasil uji hedonik terhadap aspek rasa, aroma, warna, dan tekstur, pembuatan ikan asap dengan metode tersebut menghasilkan produk dengan tingkat kesukaan yang tinggi dari panelis. Hasil ini menunjukkan bahwa teknologi asap cair mampu menghasilkan produk ikan asap dengan mutu sensoris yang baik dan dapat diterima oleh konsumen.

Melalui inovasi ikan asap tanpa asap ini, LRMPHP menegaskan komitmennya dalam mendorong pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan yang sehat, higienis, dan berkelanjutan. Inovasi ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha sekaligus meningkatkan daya saing produk olahan perikanan di masyarakat.