PELATIHAN

LRMPHP telah banyak melakukan pelatihan mekanisasi perikanan di stakeholder diantaranya yaitu Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR), Kelompok Pembudidaya Ikan, Pemerintah Daerah/Dinas Terkait, Sekolah Tinggi/ Universitas Terkait, Swasta yang memerlukan kegiatan CSR, Masyarakat umum, dan Sekolah Menengah/SMK

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 81/2020

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Kerjasama

Bahu membahu untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan dengan berlandaskan Ekonomi Biru

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh Sumber Daya Manusia sebanyak 20 orang dengan latar belakang sains dan engineering.

Kamis, 02 April 2026

Komisi IV DPR Puji Peran Penyuluh Perikanan Tingkatkan Produktivitas Masyarakat KP

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat peran penyuluh Kelautan Perikanan (KP) sebagai ujung tombak pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Hal ini dikemukakan dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI di Balai Riset Perikanan Budi Daya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor, Selasa (31/3). 

Kunjungan dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto bersama Kepala BPPSDM KP, Dirjen Perikanan Budi Daya, perwakilan BUMN sektor pangan, Pemerintah Daerah Kota Bogor , serta pelaku usaha perikanan. 

Kepala BPPSDM KP I Nyoman Radiarta menegaskan, pembangunan sektor kelautan dan perikanan tidak cukup hanya bertumpu pada program dan anggaran, tetapi harus diperkuat oleh sumber daya manusia yang kompeten dan adaptif. “Penyuluh KP hadir sebagai penghubung antara kebijakan dan praktik di lapangan. Mereka memastikan program tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” terang Nyoman. 

BPPSDM KP menjalankan fungsi strategis melalui empat instrumen utama, yaitu penyuluhan, pendidikan, pelatihan, serta standardisasi dan sertifikasi SDM. Peran ini semakin krusial dalam mendukung berbagai program prioritas nasional, mulai dari pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), revitalisasi tambak Pantura, budi daya tematik bioflok dan minapadi, hingga swasembada garam dan modernisasi sarpras pendidikan sektor KP. 

Di lapangan, penyuluh KP bekerja secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Mereka mendampingi proses identifikasi kelompok, penyusunan rencana usaha, hingga penguatan kelembagaan dan akses pasar. Bahkan setelah program berjalan, penyuluh tetap hadir memastikan keberlanjutan usaha masyarakat. 

BRPBATPP Bogor, sebagai UPT BPPSDM KP, menjadi salah satu simpul utama penguatan penyuluhan KP nasional. Saat ini, sebanyak 650 penyuluh mendampingi 7.148 kelompok perikanan di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Pendampingan ini menghasilkan capaian nyata, baik dari sisi legalitas usaha maupun peningkatan ekonomi masyarakat. 

Dari sisi legalitas, penyuluh memfasilitasi berbagai dokumen penting seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat halal, CBIB, hingga PIRT. Sementara dari sisi ekonomi, akses pembiayaan yang dibuka melalui pendampingan penyuluh telah mencapai sekitar Rp92,67 miliar, baik dari perbankan maupun non-perbankan. 

Tak hanya itu, inovasi juga lahir dari kegiatan penyuluhan. Di antaranya teknologi SIPANEN untuk efisiensi budi daya nila bioflok skala UMKM, serta TAIGAN Gen 5 untuk pengolahan ikan yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Inovasi ini mendapat pengakuan nasional, termasuk Satyalancana Wira Karya 2025, serta BINA BOS PANEN yang masuk Outstanding Public Service Innovations 2025 KemenPANRB.  

Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV DPR RI juga meninjau langsung berbagai inovasi teknologi dan produk hasil pendampingan penyuluh, termasuk teknologi pengolahan ikan dan pakan yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperluas akses pasar, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyampaikan apresiasi atas berbagai inovasi yang dikembangkan di BRPBATPP. Ia menilai inovasi tersebut sederhana, terjangkau, namun memiliki dampak besar bagi pembudi daya ikan. 

“Kami melihat langsung inovasi yang sangat bermanfaat, mulai dari teknologi pengolahan hingga pakan. Ini perlu diperbanyak agar bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya. 

Namun demikian, Komisi IV DPR RI juga menyoroti keterbatasan jumlah penyuluh yang masih jauh dari kebutuhan ideal. Saat ini jumlah penyuluh secara nasional sekitar 3.943 orang, sementara kebutuhan mencapai sekitar 12.000 orang. 

“Kami mendorong agar jumlah penyuluh ditingkatkan. Peran mereka sangat dekat dengan masyarakat dan menjadi kunci keberhasilan program di lapangan,” harap Titiek. 

Sebagai bagian dari penguatan sektor hulu, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan benih ikan dari BBPBAT Sukabumi kepada kelompok pembudi daya di Kota dan Kabupaten Bogor, meliputi komoditas nila dan lele. Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan produksi sekaligus memperkuat kemandirian usaha kelompok perikanan. 

Sekretaris Daerah Kota Bogor, Denny Mulyadi, yang mewakili Wali Kota Bogor menyampaikan apresiasi atas kunjungan Komisi IV DPR RI sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sektor perikanan di daerah. Ia menegaskan, meskipun berkarakter perkotaan dengan keterbatasan lahan, Kota Bogor tetap mengembangkan budi daya perikanan melalui inovasi seperti bioflok, budikdamber, dan akuaponik, serta mendukung program MBG melalui pemanfaatan hasil produksi kelompok pembudi daya ikan. 

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa penguatan SDM, khususnya penyuluh, menjadi kunci transformasi sektor KP ke depan. Penyuluh tidak hanya dituntut mendampingi, tetapi juga mampu melahirkan inovasi-inovasi yang aplikatif dan menjawab kebutuhan di lapangan. 



Sumber: kkp web


Rabu, 18 Maret 2026

KKP Bukukan Ekspor Ikan Rp 16,7 T dari Januari Sampai Jelang Lebaran 2026

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat nilai ekspor perikanan sejak awal tahun sampai menjelang Lebaran mencapai USD 983.147.052,32 atau sekitar Rp 16,7 triliun.

"Sampai dengan penghentian sementara angkutan barang pada 13 Maret lalu, sistem kami mencatat bahwa ekspor ikan ke berbagai negara telah mencapai 197.718,80 ton yang ditaksir nilainya mencapai Rp 16,7 triliun,” ujar Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP) Ishartini dalam siaran resmi di Jakarta, Selasa (17/3). 

Ishartini menjelaskan, jumlah tersebut tersebut didapat berdasarkan data penerbitan SMKHP (Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan) yang diterima oleh otoritas negara tujuan ekspor. Sertifikat itu menjadi syarat pemenuhan standar keamanan pangan di 140 negara mitra perdagangan produk perikanan Indonesia. 

Adapun sepuluh negara dengan penyerapan produk perikanan Indonesia terbesar yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia, Arab Saudi, Taiwan, dan Singapura. Sedangkan produk perikanan yang diperdagangkan ke berbagai negara terus mengalami diversifikasi.

“Contohnya saat ini jenis produk perikanan yang diekspor telah mencapai 486 HS Code yang dapat berisi ribuan variasi type produk dengan sepuluh besar komoditas unggulan adalah udang vanname, tuna, cumi-cumi, rajungan, rumput laut, cakalang, kepiting, udang windu, ikan layur serta gurita. Hal tersebut membuktikan bahwa keberterimaan ikan Indonesia di pasar global sangat baik serta dipercaya mutu dan keamanannya,” jelas Ishartini.

Dampak Eskalasi Timur Tengah terhadap Ekspor Ikan

Selain mendorong nilai ekspor, Ishartini menambahkan, pihaknya juga mengupayakan peningkatakan penyerapan produk perikanan di dalam negeri. Hal ini untuk menjaga stabilitas nilai perdagangan perikanan khususnya di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah. 

Ishartini tidak menampik bahwa kondisi geopolitik di Timur Tengah berdampak pada aktivitas ekspor perikanan. Berdasarkan data, ekspor ikan saat ini dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu (2025) mengalami penurunan volume sebesar 41,35% yang berdampak pada penurunan nilai ekspor sebesar 21,71%.

"Untuk demand produk perikanan Indonesia saat ini relatif masih stabil, indikasinya dari permohonan SMKHP yang terus kami layani. Hanya saja memang dari sisi volume memang agak terkendala karena transportasi dalam rantai pasok terkena imbas eskalasi misalnya perubahan rute shipment, biaya tambahan logistik, kontainer dan mother vessel yang terbatas yang semuanya itu juga berkontribusi dalam menaikkan harga produk,” terangnya.

Ishartini menyampaikan bahwa KP tidak menutup mata terhadap perkembangan situasi global tersebut. Komunikasi intens dilakukan terhadap otoritas di negara mitra, maupun dengan stakeholder di Indonesia.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa quality assurance hulu-hilir yang telah terbangun di KKP merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keberterimaan dan menguatkan daya saing ikan Indonesia di kancah global.



Sumber: kkp web


Selasa, 10 Maret 2026

Uji Laboratorium Produk Perikanan KKP Diakui Akurasinya

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi memiliki Produsen Bahan Acuan (PBA) isolat Staphylococcus aureus terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN), yang pertama di Indonesia. Keberadaan PBA ini memperkuat keakuratan pengujian laboratorium dalam mendukung jaminan produk perikanan berdaya saing.

Bahan acuan berfungsi sebagai standar pembanding dalam pengujian laboratorium. Dengan standar yang terverifikasi, hasil uji mikrobiologi produk perikanan menjadi lebih akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan, baik untuk kebutuhan pengujian di dalam negeri maupun pemenuhan persyaratan pasar internasional.

Isolat Staphylococcus aureus sendiri adalah salah satu parameter mikrobiologi yang paling sering dipersyaratkan dalam standar produk, terutama pada produk pangan olahan dan produk siap konsumsi. Bakteri ini mampu menghasilkan enterotoksin yang bersifat tahan panas, sehingga tetap berbahaya meskipun produk telah melalui proses pemasakan. 

Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Machmud, mengatakan Pengembangan Bahan Acuan tersebut merupakan bagian dari upaya KKP untuk memperkuat standar produk berdaya saing dalam mendukung pemenuhan persyaratan pasar global produk perikanan.

“Pengembangan Bahan Acuan ini memastikan hasil pengujian laboratorium tertelusur dan sesuai standar, sehingga produk perikanan Indonesia semakin terjamin dan berdaya saing,” kata Machmud di Jakarta, Senin (9/3).

Ia menambahkan, keberadaan bahan acuan tersebut meningkatkan keandalan laboratorium pengujian serta mendukung kepercayaan pasar global terhadap produk perikanan Indonesia.

Kepala Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) selaku Produsen Bahan Acuan, Rahmadi Sunoko, menyampaikan bahwa bahan acuan Staphylococcus aureus yang dikembangkan telah melalui proses yang cukup ketat.

“Proses pengembangan memastikan kemurnian, homogenitas, dan stabilitas bahan acuan, sehingga membantu laboratorium menjaga konsistensi hasil uji, khususnya dalam pengujian cemaran mikroba pada produk perikanan,” ujar Rahmadi.

Menurutnya, bahan acuan tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh laboratorium internal KKP, tetapi juga dapat digunakan oleh laboratorium mitra, sekaligus memperkuat kemandirian nasional dalam penyediaan bahan acuan berstandar internasional.

Bahan acuan produksi BBP3KP telah memenuhi standar ISO 17034:2016 serta standar ISO 33403:2024 dan ISO 33405:2024. Bahan ini digunakan untuk berbagai kebutuhan teknis laboratorium, mulai dari verifikasi dan validasi metode uji, uji banding antar laboratorium, hingga uji profisiensi.

Sebelumya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan komitmen KKP untuk menjaga mutu dan keamanan produk perikanan dari hulu hingga hilir melalui penguatan sistem jaminan mutu yang terintegrasi sebagai bagian dari peningkatan daya saing produk perikanan Indonesia.



Sumber: kkp web


Senin, 09 Maret 2026

Teknologi Ekstraksi Rumput Laut untuk Mendukung Produksi Pupuk Cair

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) terus mendorong pengembangan inovasi teknologi pengolahan hasil perikanan melalui pembuatan prototipe alat ekstraksi rumput laut yang dapat dimanfaatkan untuk produksi pupuk cair berbahan baku rumput laut.

Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya kelautan secara lebih optimal. Rumput laut diketahui memiliki kandungan senyawa aktif seperti hormon pemacu tumbuh dan unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk cair organik.

Salah satu tahapan penting dalam pengolahan rumput laut menjadi pupuk cair adalah proses ekstraksi. Proses ini bertujuan untuk mengambil senyawa aktif yang terkandung di dalam rumput laut. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, pembuatan pupuk cair menggunakan air sebagai media ekstraksi pada suhu tinggi tidak merusak keberadaan hormon pemacu tumbuh yang terdapat pada rumput laut.

Namun demikian, metode ekstraksi konvensional umumnya hanya efektif untuk jenis rumput laut tertentu, seperti Sargassum sp. dan Gracillaria sp.. Untuk meningkatkan efisiensi proses serta memperluas potensi pemanfaatan bahan baku, LRMPHP mengembangkan alat ekstraksi rumput laut dengan sistem pemanasan dan pengadukan yang terkontrol.

Alat ekstraksi yang dikembangkan bekerja dengan prinsip perendaman rumput laut dalam media cair yang dipanaskan secara merata. Proses ekstraksi dilakukan dengan pengaturan waktu tertentu hingga kandungan hormon dan unsur hara dari talus rumput laut dapat terekstraksi secara optimal. Sistem pemanas menggunakan fluida panas sehingga suhu di dalam tabung ekstraksi dapat terdistribusi secara seragam. Selain itu, alat ini juga dilengkapi dengan pengaduk elektrik yang berfungsi mempercepat proses pelepasan senyawa aktif dari bahan baku rumput laut.

Prototipe alat ekstraksi rumput laut ini memiliki dimensi panjang 351 cm, lebar 68 cm, dan tinggi 97 cm. Dari sisi spesifikasi teknis, alat ini mampu melakukan proses ekstraksi dengan kapasitas hingga 90 kilogram bahan dalam waktu sekitar 90 menit dengan kebutuhan daya listrik sebesar 6.000 watt. Sistem pemanas menggunakan teknologi double jacket yang memungkinkan panas terjaga secara stabil selama proses berlangsung.

Melalui pengembangan teknologi ini, LRMPHP diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mendukung inovasi teknologi pengolahan hasil perikanan, khususnya dalam pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku produk bernilai tambah. Ke depan, teknologi ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha, kelompok pembudidaya, maupun industri pengolahan untuk menghasilkan pupuk cair organik berbasis rumput laut secara lebih efisien dan berkelanjutan.


Rabu, 04 Maret 2026

Titiek Soeharto Sebut KNMP Poncosari Pengungkit Produktivitas Perikanan di Pantai Selatan

Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Bantul, DIY dinilai menjadi instrumen penting dalam upaya menata kawasan pesisir menjadi lebih mandiri dan produktif. Hal ini disampaikan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto) saat meninjau langsung lokasi KNMP di Poncosari, Bantul, akhir pekan kemarin. 

Kunjungan ini bertujuan memastikan efektivitas infrastruktur pendukung nelayan di pesisir selatan Yogyakarta. 

"Yang kita tinjau bukan hanya bangunan, yang kita bangun adalah cara kerja yang lebih baik untuk nelayan. Kita ingin usaha nelayan lebih tertata, lebih kuat, dan lebih punya kepastian ke depan," ujarnya dalam kunjungan itu.

Poncosari menjadi satu-satunya lokasi pembangunan KNMP di DIY dari target 100 kampung nelayan tahun 2025. Intervensi KKP di pesisir selatan juga berfokus pada modernisasi cara kerja untuk menghadapi tantangan ombak besar. 

Penguatan sarana dan prasarana perikanan yang sesuai dengan kondisi Laut Selatan menjadi kunci bagi nelayan dalam menjaga produktivitas tangkapan secara mandiri, khususnya di kondisi ombak tinggi.

Titiek berpesan agar nelayan mengelola dan menjaga seluruh fasilitas yang telah dibangun secara mandiri. Ia menegaskan dukungan negara harus berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir secara jangka panjang.

"Bangunan sudah ada, sekarang tanggung jawab kita bersama untuk merawatnya agar benar-benar bermanfaat bagi nelayan kecil. Saya akan terus mengawal dari pusat," tegas Titiek.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan KNMP adalah alat penghapus kemiskinan ekstrem di pesisir. Penataan kawasan harus mampu mengintegrasikan hunian layak dengan fasilitas produksi modern untuk mewujudkan ekonomi biru.



Sumber: kkp web


Senin, 02 Maret 2026

Instruktur LRMPHP Jadi Narasumber pada Kegiatan ATI Tahun 2026

Instruktur Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) berperan aktif sebagai narasumber dalam kegiatan Alih Teknologi dan Informasi (ATI) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan DPRD DIY.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan konsumsi ikan di wilayah DIY melalui pendekatan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat. Pelaksanaan ATI melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain perguruan tinggi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta instansi terkait.

Program ATI juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN). Melalui program ini, masyarakat diberikan pemahaman serta keterampilan dalam mengolah hasil perikanan, baik ikan laut maupun ikan air tawar, menjadi produk yang beragam, bernilai tambah, dan memiliki potensi ekonomi.

Pada kegiatan yang dilaksanakan pada 26 Februari 2026 di Tamanmartani, Sleman, Instruktur LRMPHP, Tri Nugroho Widianto, menyampaikan materi mengenai pentingnya ikan sebagai superfood untuk kesehatan dan kecerdasan. Ikan diketahui memiliki kandungan gizi yang lengkap, antara lain protein berkualitas tinggi, asam lemak omega-3 (EPA dan DHA), serta berbagai vitamin dan mineral penting seperti vitamin D, vitamin B12, yodium, selenium, dan zat besi.

Kandungan nutrisi tersebut berperan dalam menjaga kesehatan jantung, meningkatkan fungsi otak, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan, khususnya pada anak. Konsumsi ikan secara rutin juga dapat membantu mencegah stunting serta meningkatkan daya tahan tubuh dan kualitas hidup masyarakat.

Selain itu, narasumber juga menyampaikan teknik penanganan ikan yang baik dan benar guna menjaga mutu dan keamanan pangan, serta berbagai metode pengolahan hasil perikanan yang dapat meningkatkan nilai tambah produk.

Rangkaian kegiatan ATI ditutup dengan pelatihan praktik pengolahan ikan yang disampaikan oleh pelaku UMKM binaan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengolah ikan menjadi produk siap konsumsi yang inovatif dan berdaya saing


Selasa, 24 Februari 2026

Teknologi Gelombang Mikro untuk Pengeringan Rumput Laut

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) mengembangkan inovasi alat pengering rumput laut berbasis energi gelombang mikro (microwave energy) sebagai upaya meningkatkan efisiensi proses pengolahan hasil perikanan. Teknologi ini diharapkan mampu mempercepat proses pengeringan sekaligus menjaga kualitas produk rumput laut.

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, kosmetik, hingga farmasi. Dalam proses pengolahannya, tahap pengeringan menjadi faktor penting yang menentukan mutu produk akhir.

Selama ini, sebagian besar pembudidaya dan pengolah rumput laut masih mengandalkan metode pengeringan menggunakan sinar matahari. Cara ini memang relatif mudah dan murah, namun memiliki sejumlah keterbatasan, seperti waktu pengeringan yang cukup lama, ketergantungan pada kondisi cuaca, serta potensi penurunan kualitas apabila proses pengeringan tidak berlangsung optimal.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, LRMPHP mengembangkan teknologi pengeringan menggunakan energi gelombang mikro. Teknologi ini bekerja dengan memanaskan bahan dari bagian dalam terlebih dahulu, kemudian panas merambat menuju permukaan sehingga proses penguapan air dapat berlangsung lebih cepat dan merata.

Prototipe alat pengering yang dikembangkan memiliki dimensi 351 cm × 68 cm × 97 cm dengan kapasitas pengeringan sekitar 6–8 kilogram rumput laut per proses. Hasil pengujian menggunakan rumput laut jenis E. cottonii menunjukkan bahwa alat ini mampu mencapai laju pengeringan 31,36 gram per menit, dengan konsumsi energi 1,17 kJ/kg serta efisiensi energi sebesar 42,95 persen.

Inovasi teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi pelaku usaha pengolahan rumput laut dalam meningkatkan efisiensi proses produksi serta menjaga kualitas hasil pengeringan. Ke depan, pengembangan teknologi mekanisasi pengolahan hasil perikanan seperti ini diharapkan dapat mendukung peningkatan nilai tambah dan daya saing produk perikanan Indonesia.