Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Rabu, 28 Maret 2018

Pelatihan Analisa Protein Produk Perikanan di LRMPHP

Peranan peralatan laboratorium sebagai salah satu bagian dari sarana pendukung kegiatan riset menjadi sangat penting. Sebagai institusi riset, LRMPHP terus melakukan perbaikan secara terus-menerus untuk memaksimalkan fungsinya secara bertahap. Pada tahun 2018 ini, peralatan laboratorium yang diadakan di LRMPHP adalah alat uji protein semi automatis yang dilengkapi dengan unit digesti dan destilasi.
Unit distilasi
Unit digesti
Peralatan tersebut menggunakan Metode Kjeldahl dalam analisisnya. Metode Kjedahl merupakan metode analisa protein yang banyak digunakan karena sederhana, murah, akurat dan dapat digunakan untuk berbagai sampel, khususnya pada produk makanan. Analisa protein dengan cara Kjeldahl dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, destilasi dan tahap titrasi. Destruksi dilakukan melalui pemanasan dengan asam sulfat pekat dan katalisator yang sesuai membentuk ammonium sulfat. Selanjutnya ammonium sulfat diubah menjadi ammonium hidroksida dengan penambahan natrium hidroksida. Amonium hidroksida yang terbentuk kemudian didestilasi uap untuk memisahkan senyawa amonia. Senyawa amoniak yang terbentuk lalu ditangkap menggunakan asam borat membentuk ammonium borat dan dititasi menggunakan asam klorida.
Instruktur memberikan arahan saat pelatihan
Pelaksanaan pelatihan alat uji protein oleh instruktur pemegang merek alat telah dilaksanakan pada 27-28 Maret 2018 di Laboratorium Kimia LRMPHP. Kegiatan diikuti oleh peneliti dan teknisi lingkup LRMPHP. Sampel yang digunakan dalam pelatihan pengujian protein produk perikanan adalah tepung ikan yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapabilitasnya terhadap operasional alat maupun aplikasi penggunaannya, khususnya dalam analisa protein pada produk perikanan. Melalui pelatihan ini diharapkan menjadi modal berharga bagi Laboratorium Kimia LRMPHP untuk menjadi tempat analisa yang profesional, tervalidasi hasilnya, dan memiliki staf yang handal serta dapat menjaga peralatan yang ada.

Senin, 26 Maret 2018

Tiga Calon Peneliti LRMPHP Mengikuti Diklat Jabatan Fungsional Peneliti Tk. Pertama

Peserta diklat jabatan fungsional peneliti tingkat pertama gelombang I 
(dok. Peserta DJFP Tk. Pertama Gel. 1, 2018)
LRMPHP sebagai salah satu institusi riset di BRSDMKP Kementerian Kelautan dan Perikanan harus memiliki SDM Peneliti yang memadai. Oleh karena itu LRMPHP mengirim tiga calon peneliti yaitu Ahmat Fauzi, S.T., Toni Dwi Novianto, S.TP., dan Wahyu Tri Handoyo, S.T. untuk mengikuti diklat peneliti tingkat pertama di Pusbindiklat LIPI Cibinong. Diklat tersebut telah dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan dari tanggal 25 Februari s/d 22 Maret 2018.

Pada pelaksanaan diklat tersebut diberikan beberapa mata diklat yang meliputi materi utama, materi penunjang dan uji kompetensi. Materi utama meliputi beberapa mata diklat terkait dengan dasar-dasar tupoksi peneliti diantaranya yaitu landasan penelitian, proposal penelitian, penulisan dan publikasi ilmiah, kode etik peneliti dan lain-lain. Selain pemberian mata diklat tersebut, peserta juga diharuskan membuat satu karya tulis ilmiah (KTI). Pembuatan KTI melalui tahapan bimbingan dengan sistem online dan tatap muka langsung. KTI tersebut pada akhir diklat harus dapat dipertanggung jawabkan melalui wawancara substansi dengan penguji dan seminar di hadapan penguji dan peserta diklat.
Tiga calon peneliti LRMPHP telah menyelesaikan diklat (dok. Peserta DJFP Tk. Pertama Gel. 1, 2018)
Penentuan kelulusan peserta diklat dinilai berdasarkan keikutsertaan dalam proses pembelajaran dan uji kompetensi yang meliputi tes komperehensif, penulisan KTI dan seminar KTI. Berdasarkan hasil uji kompetensi tiga calon peneliti LRMPHP dinyatakan lulus dengan predikat baik dan dinyatakan kompeten dan direkomendasikan untuk diangkat menjadi pejabat fungsional peneliti.

Kamis, 22 Maret 2018

Genjot Pakan Mandiri, KKP Optimalkan Pemanfaatan limbah Sawit

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto meninjau pembuatan pakan ikan mandiri dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (20/3). Dok. Humas DJPB
Mulai tingginya minat pengguna terhadap pakan ikan mandiri menuntut pemenuhan kebutuhan bahan baku pakan secara kontinyu. Kondisi ini masih menjadi tantangan para pelaku usaha pakan mandiri di beberapa daerah. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (20/3). Sebagaimana diketahui, Kabupaten Kampar merupakan sentra budidaya patin nasional yang memberikan kontribusi besar terhadap produksi nasional. 

“Pada beberapa daerah memang masih ada kendala dalam penyediaan alternatif bahan baku pakan yang efisien. Sebenarnya bukan karena bahan baku yang langka, tapi lebih pada belum optimalnya sistem logistik pakan, utamanya konektivitas dari sumber bahan baku ke unit usaha pakan mandiri. Ini yang akan kita cari jalan keluarnya,” jelas Slamet saat mengunjungi kelompok pakan mandiri mutiara feed Kab. Kampar.

Jalan keluarnya, menurut Slamet yakni mempermudah akses sumber bahan baku dengan koperasi induk pakan mandiri yang ada di daerah melaui kemitraan. Ini penting, apalagi menurutnya ikan yang dibudidayakan sudah sangat adaptif terhadap pakan mandiri. Oleh karenanya, penggunaan bahan protein nabati menjadi alternatif untuk mengurangi porsi penggunaan tepung ikan.

Manfaatkan PKM Kelapa Sawit
Salah satu upaya mengurangi porsi penggunaan tepung ikan tersebut yakni dengan memanfaatkan bunhkil (palm karnel meal/PKM) kelapa sawit, di mana di Provinsi Riau ketersediaannya sangat melimpah.

PKM sawit merupakan produk sampingan dari pembuatan minyak kelapa sawit. Ketersediaan PKM di dalam negeri sangat melimpah, bahkan 94% PKM yang diproduksi justru di ekspor. Data Kementerian Perindustrian mencatat, Indonesia negara penghasil PKM nomor 2 di dunia setelah Malaysia.

Slamet menilai kondisi ini menjadi peluang besar untuk memanfaatkan PKM ini sebagai bahan baku pakan ikan.

“Bayangkan kita produsen PKM sawit terbesar, artinya suplai sangat melimpah. Di sisi lain, berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa PKM ini sangat potensial untuk bahan baku pakan, bahkan bisa diberikan langsung sebagai salah satu bahan baku pakan, tanpa harus dibuat maggot dulu. Ini yang harus kita manfaatkan segera,” ungkapnya.

Slamet juga menambahkan, protein dari PKM dapat mengurangi penggunaan protein dari tepung ikan, sehingga harga pakan akan menjadi lebih murah.

Ia juga meminta Kepala Daerah untuk memfasilitasi kerja sama antara pabrik pengolah sawit dengan koperasi pakan mandiri dalam hal pemanfaatan PKM kelapa sawit melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

“Saya berharap pak Gubernur atau Bupati bisa memberikan edaran ke semua perusahaan pengolah sawit di Riau ini untuk memberikan CSR kepada koperasi pakan mandiri yaitu dalam bentuk dukungan pemenuhan kebutuhan PKM sawit bagi bahan baku pakan secara kontinyu. Riau akan dijadikan percontohan nasional pemanfaatan sumber protein nabati PKM sawit ini,” imbuh Slamet

Sebagaimana ketahui, di Riau ada sekitar 48 pabrik industri pengolah sawit, di mana ada sekitar 3 perusahaan yang mengolah PKM sawit. Kalau 10-20 % bisa dialokasikan melalui CSR, bisa lebih dari cukup untuk menyuplai kebutuhan pakan mandiri yang ada dan tidak menutup kemungkinan bisa disuplai ke luar Riau.

Ketua Asosiasi Pakan Mandiri Nasional, Syafruddin dalam keterangannya mengakui bahwa penggunaan PKM kelapa sawit telah menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein nabati dalam pakan mandiri. Menurutnya, penggunaan PKM sawit dalam pakan ikan berkisar antara 8-10 %. Ia juga mengakui keuntungan lain memanfaatkan bahan baku ini yakni adanya tambahan kandungan lemak hingga 10%, sehingga diharapkan dapat meningkatkan performa pertumbuhan ikan.

“Saat ini kebutuhan PKM sawit masih disuplai melalui kerja sama dengan Sinar Mas Group yaitu PT. Rama-rama. Di Kabupaten Kampar ada lebih dari 300 pelaku pakan mandiri, dari semuanya dibutuhkam sedikitnya 33 ton PKM sawit per hari,” ungkapnya

Ia menambahkan seiring mulai menggeliatnya industrialisasi perikanan budidaya di Riau, dipastikan kebutuhan bahan baku pakan lokal akan terus meningkat.

“Kami berharap pemerintah bisa mengeluarkan semacam aturan kepada seluruh perusahaan pengolah sawit baik BUMN/BUMD maupun swasta untuk mengalokasikan 10 % saja PKM sawit bagi kebutuhan bahan baku pakan ikan di Provinsi Riau. Jangan sampai seluruhnya diekspor,” tegas Syafruddin.

Sebagai gambaran hasil uji yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB), komposisi kandungan nutrisi PKM sawit antara lain: kadar protein berkisar 15-18%; mengandung sekitar 10 kandungan asam amino esensial; kadar lemak sebesar 9,5%; serat kasar 25,19%; dan rasio Ca:P adalah 1:2,4. PKM juga mengandung trace mineral mangan (Mn) yang baik.

Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh menunjukkan bahwa penggunaan PKM sawit sebanyak 8% dalam pakan dapat menghasilkan kinerja pertumbuhan yang optimal bagi ikan lele. (Humas DJPB/AFN)


Sumber : KKPNews

Jumat, 16 Maret 2018

Meat Bone Separator Manual

Indonesia memiliki sumber daya laut terutama sumber daya ikan yang berlimpah, namun pemanfaatan hasil tangkap samping (HTS) ikan-ikan non ekonomis masih belum optimal. Salah satu cara untuk memanfaatkan ikan-ikan tersebut adalah melalui pengambilan daging dan meningkatkan nilai tambahnya menjadi produk-produk berbasis daging lumat dan surimi seperti nugget, baso, sosis dan lainnya.

Daging ikan lumat adalah daging ikan yang telah dipisahkan dari kulit dan tulangnya dengan menggunakan mechanical bone separator. Hampir semua jenis ikan dapat dibuat menjadi daging lumat. LRMPHP telah berhasil mengembangkan alat pemisah daging ikan secara manual (meat bone separator manual) seperti terlihat pada Gambar 1. Alat pemisah daging hasil rancang bangun LRMPHP tersebut memiliki spesifikasi diameter drum berpori 3 mm dengan kecepatan pemasukan bahan (kecepatan conveyor belt) sebesar 2,09 cm/det. Alat pemisah daging ini dioperasikan secara manual dengan memutar atau mengengkol tuas yang terdapat di bagian samping alat dan diteruskan melalui mekanisme puly belt ke drum berpori.

Gambar 1. Meat bone separator manual hasil rancang bangun LRMPHP

Prinsip kerja alat ini yaitu memaksa daging keluar melalui lubang kecil drum berpori akibat adanya tekanan dan gaya geser pada ikan oleh silinder dan karet, sehingga tulang ikan dipaksa untuk terpapar di atas permukaan berlubang. Hal ini memungkinkan terjadinya ekstrusi daging melalui lubang, sehingga tidak hanya tulang, tapi juga sisik dan kulit tetap berada di sisi luar drum. Drum berpori (perforated drum) dibuat dengan tujuan untuk menyediakan penekanan yang melingkar dan gaya geser terhadap ikan.

Untuk mengetahui efektivitas alat pemisah daging manual tersebut, telah dilakukan penelitian uji coba alat pemisah daging menggunakan ikan putihan (Puntius bromoides). Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Seminar Nasional Tahunan XII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan 2015. Ikan putihan yang digunakan untuk uji coba dipreparasi dengan tiga perlakuan yaitu dibelah (butterfly), disayat memanjang di bagian sisi-sisinya dan utuh dengan ikan fillet utuh sebagai pembanding. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah kapasitas produksi, rendemen dan kandungan kimia daging lumat yang dihasilkan.

Gambar 2. Uji coba Meat bone separator manual
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rendemen daging lumat ikan putihan dengan perlakuan utuh lebih besar dibandingkan rendemen dengan perlakuan belah (butterfly) dan sayat samping, yaitu masing-masing sebesar 51,5%, 47,5% dan 42%. Kapasitas alat pada pemisahan daging ikan putihan pada perlakuan butterfly lebih besar dibandingkan dengan perlakuan sayat samping dan perlakuan utuh, yaitu masing-masing sebesar 5,54 kg/ jam, 2,87 kg/ jam, dan 2,76 kg/ jam. Kadar air daging lumat putihan yang dihasilkan memiliki kisaran 80,16 – 81,13%, protein (83,09 - 83,17%)), lemak (2,87 – 3,21%), abu (5,53 – 5,75%), dan kalsiumnya berkisar 0,19 – 0,22%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perlakuan preparasi butterfly mempercepat waktu pengolahan daging lumat putihan menjadi lebih singkat dan dapat meminimalisir tulang yang terikut pada daging lumat.




Rabu, 14 Maret 2018

Penelitian Mesin Pembuat Pakan Ikan Skala UKM di LRMPHP (1)

Kegiatan riset pakan ikan di LRMPHP
Dalam rangka mendukung kegiatan program pakan mandiri, pada tahun 2018 di LRMPHP dilakukan Penelitian Mesin Pembuat Pakan Ikan Skala UKM. Hasil penelitian diharapkan dihasilkan prototype mesin pembuat pakan ikan yang dapat diaplikasikan kepada pembudidaya dan pembuat pakan ikan skala kecil.

Rangkaian kegiatan penelitian diawali dengan tahapan pembuatan formulasi pakan dengan spesifikasi khusus untuk dapat diaplikasikan kepada pembudaya atau pembuat pakan ikan skala kecil.  Formulasi pakan keseluruhan menggunakan bahan baku lokal yang ada di Yogyakarta. Pakan yang dihasilkan nantinya diharapkan memiliki kualitas bagus dengan harga yang lebih murah dan sesuai dengan SNI. Untuk itu, pengujian pakan baik secara fisik, kimiawi maupun biologis sangat diperlukan untuk mengetahui tingkatan mutu pakan yang dibuat.

Saat ini pengujian pakan secara fisik yang meliputi pengujian tingkat homogenitas dan stabilitas pakan sedang dilakukan di LRMPHP. Pengujian tingkat homogenitas bertujuan untuk mengetahui tingkat keseragaman ukuran partikel bahan penyusun pakan. Uji ini dilakukan dengan menghaluskan pakan yang dilanjutkan pengayakan. Tingkat homogenitas dihitung dari persentasi jumlah bahan lolos dari ayakan. Sementara itu, pengujian tingkat stabilitas pakan bertujuan untuk melihat tingkat ketahanan pakan di dalam air dengan cara menghitung lama waktu yang dibutuhkan oleh pakan yang dicelupkan di dalam air hingga pakan hancur dan tenggelam.