Selasa, 13 Maret 2018

Uji Lapang Alat Transportasi Ikan Segar Berpendingin (Altis-2)


Altis-2 pada kendaraan roda dua 
Ikan merupakan sumber pangan dengan komposisi gizi yang lengkap baik protein maupun lemak tak jenuhnya, sehingga permintaan masyarakat terhadap ikan untuk konsumsi terus meningkat. Namun demikian, ikan merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable food). Kerusakan atau penurunan mutu ikan terjadi lebih cepat bila suhu penyimpanan meningkat. Salah satu upaya yang dapat diterapkan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan pendinginan.

Teknologi pendinginan adalah teknologi yang paling mudah digunakan untuk mempertahankan kualitas ikan termasuk penerapan sistem rantai dingin. Dengan sistem ini kondisi dingin ikan terus dijaga selama penanganan mulai dari penangkapan hingga ke tangan konsumen. Penerapan sistem rantai dingin mutlak diperlukan agar konsumen memperoleh ikan dengan kualitas prima. Oleh karena itu pedagang ikan segar keliling yang secara langsung mendistribusikan ikan ke tangan konsumen harus menerapkan sistem ini.

Berbagai metode pendinginan digunakan oleh para pedagang ikan keliling, diantaranya penggunaan es dalam wadah styrofoam, tetapi banyak kendala yang dihadapi terutama penggunaan es yang boros. Metode lain yang dapat diterapkan adalah penggunaan peti ikan berpendingin oleh pedagang ikan segar (Widianto et al., 2014). Penerapan peti ikan berpendingin mampu mempertahankan suhu dan mutu kesegaran ikan selama proses penjualan ikan eceran oleh pedagang ikan keliling. Peti ikan berpendingin tersebut dikenal dengan nama Altis-2 yang merupakan singkatan dari alat transportasi ikan segar untuk kendaraan roda 2.

Altis-2 terdiri dua buah peti berinsulasi yang dirangkaikan dengan dudukan dan diletakkan di sebelah kanan dan kiri sepeda motor. Sistem pendingin alat ini menggunakan sistem Thermoelectric Cooling (TEC) dengan sumber energi arus DC dari aki. Prinsip kerja sistem TEC adalah pemanfaatan terjadinya perbedaan suhu antara sisi panas dan sisi dingin modul TEC atau peltier. Setelah diberi arus DC bagian sisi dingin peltier digunakan untuk menyerap panas ruang penyimpanan yang kemudian dilepas ke lingkungan melalui sisi panas elemen peltier sehingga suhu ruang menjadi rendah. Sistem TEC memiliki keunggulan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan sistem pendingin konvensional menggunakan refrigerant.

Uji lapang Altis-2 telah dilakukan di Kabupaten Gunungkidul oleh pedagang ikan segar. Hasil uji coba peti dalam kondisi kosong menunjukkan bahwa suhu dapat mencapai 11,1–15,5 °C. Setelah diisi 30 kg ikan yang sebelumnya telah didinginkan hingga 0–1 °C dan dilakukan praktek penjualan ikan eceran selama 3– 3.8 jam, suhu ikan meningkat tetapi hanya sampai 3 °C dengan nilai mutu organoleptik dan jumlah bakteri yang hampir tidak berubah. Dapat dikatakan bahwa peti ikan berpendingin mampu mempertahankan suhu dan mutu kesegaran ikan selama proses penjualan ikan eceran oleh pedagang ikan keliling. Namun pengujian baru dilakukan pada satu pedagang dan satu lokasi sehingga belum diketahui penerimaannya bila diujikan di lokasi yang berbeda. Oleh karena itu, teknologi baru tersebut sebelum diterapkan perlu dikaji penerimaannya oleh pengguna.

LRMPHP sebagai institusi yang telah mengembangkan teknologi Altis-2, telah melakukan penelitian tentang Analisis Penerimaan Alat Transportasi Ikan Segar Berpendingin Menggunakan Pendekatan Technology Acceptance Models (TAM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi penerimaan Altis-2 oleh para pedagang ikan menggunakan model TAM dan perbaikan yang harus dilakukan sebelum diproduksi massal. TAM merupakan model yang menjelaskan penerimaan masyarakat terhadap suatu sistem atau teknologi tertentu serta opini mereka terhadap teknologi tersebut (Davis, 1989). Ciri khas dari Model TAM adalah sederhana namun bisa memprediksi penerimaan maupun penggunaan teknologi.

Penelitian ini difokuskan pada uji penerimaan Altis-2 oleh pedagang ikan segar di 6 lokasi (Gunung Kidul, Padang, Pacitan, Bantul, Jembrana dan Bitung) melalui pendekatan TAM. Variabel yang digunakan yaitu kemudahan, kegunaan dan penerimaan alat tersebut. Hasil pengukuran tingkat penerimaan Altis-2 oleh pedagang ikan keliling menggunakan TAM memberikan gambaran bahwa variabel kemudahan pengoperasian (persiapan, pelaksanaan dan pasca pemakaian) Altis-2 sangat mempengaruhi tingkat penerimaan. Kondisi spesifik lokasi uji yang berbeda tidak menyebabkan perbedaan persepsi kemudahan, kegunaan dan penerimaan penggunaan Altis-2. Pada tahapan operasional perlu adanya beberapa perbaikan yaitu kemudahan memasang dan melepas rangka dari sepeda motor, penyesuaian ukuran lebar Altis-2, dan perubahan posisi sistem pendingin TEC hingga menjadi lebih tinggi.


Sumber : JPB Kelautan dan Perikanan 2016



0 komentar:

Posting Komentar