Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Jumat, 30 November 2018

Bisnis Akuakultur Siap Bertransformasi ke Industry 4.0

Dok Humas KKP
Jakarta – Ajang Aquatica Asia dan Indoaqua 2018 yang mengusung tema ” Transform Aquaculture Business Into Industry 4.0 menjadi momen penting untuk mengawali penciptaan bisnis akuakultur yang lebih efisien.

Sebagaimana diketahui perkembangan teknologi informasi telah sedemikian dinamis. Era Industri 4.0 merupakan etape baru transformasi bisnis akuakultur dari semula konvensional ke arah yang berbasis digital atau Internet of Things (IoT).

“Subsektor akuakultur siap menyongsong era industri 4.0 dengan fokus utama pada tujuan pencapaian efesiensi, produktivitas dan nilai tambah. Era ini harus kita tangkap sebagai peluang, sehingga nilai ekonomi sumberdaya akuakultur ini mampu dimanfaatkan secara optimal”, ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat membuka ajang Aquatica Asia dan Indoaqua 2018 di JIEXPO Kemayoran Jakarta, Rabu (28/11).

Slamet menjelaskan, upaya mentransformasi bisnis akuakultur dalam industry 4.0 akan memberikan solusi terbaik khususnya dalam membangun sistem produksi yang lebih efisien dan terukur mulai dari aspek teknis produksi, penguatan SDM dan aspek manajemen bisnisnya.

Menurutnya ada beberapa indikator yang bisa dicapai melalui industry 4.0 ini yakni : efisiensi mata rantai pasar melalui interkoneksi sistem informasi tataniaga guna maningkatkan nilai tambah di level pelaku bisnis akuakultur dan keterjangkauan harga dilevel konsumen; penciptaan sistem informasi logistik input produksi yang efisien dan mudah dijangkau oleh pelaku akuakultur; penguatan data base untuk menjamin sistem ketelusuran dalam proses produksi akuakultur;  penciptaan sistem mitigasi dan early warning sistem melalui penyediaan data base kondisi lingkungan secara real time; pencapaian efisiensi produksi melalui teknologi akuakultur berbasis digitalisasi; dan reformasi birokrasi perijinan berbasis online yang lebih efisien dan bertanggungjawab untuk menarik investasi.

“Indikator di atas sudah mulai dilakukan. Pada kesempatan ini, saya sangat mengapresiasi para start up yang sudah menginisiasi transformasi bisnis aquaculture terutama dalam hal membangun sistem informasi bisnis dan skema pembiayaan crowdfunding. Tentu ini sangat positif untuk mempercepat pengembangan bisnis akuakultur”, imbuh Slamet

Namun demikian, Slamet menekankan bahwa penerapan teknologi digitalisasi dalam proses produksi harus dalam kerangka menjamin sustainable aquaculture.

“Prinsip sustainable aquaculture mutlak diterapkan. Kita tidak ingin akualultur dicap sebagai kegiatan yang tidak ramah linhkungan. Oleh karenanya, saya selalu katakan untuk tidak lagi menggunakan induk/benih dari alam, tidak menggunakan obat obatan dan bahan kimia yang tidak direkomendasikan, menghindari alih fungsi lahan, dan pengendalian limbah budidaya”, tegasnya.

Sementara itu, Norman Lim, Digital Solution Lead Asia, PT. Cargill menyampaikan bahwa teknologi digital dalam akuakultur ke depan setidaknya akan menjembatani 5 ( lima) hal yakni :  penyediaan dan interkoneksi akses data dari onfarm secara real time; menjamin keamanan data; analisis data; pengembangan perangkat otomatos dalam proses produksi; dan menjamin akses ketelusuran produk dalam supply chain.

“Di PT. Cargill sistem ini sudah dibangun. Kami memiliki perangkat sistem dengan nama IQshrimp. Dengan sistem ini akan membantu petambak udang untuk mengambil keputusan yang tepat melalui input data yang dapat diakses secara real time dari onfarm,” ungkap Lim. (humas_djpb)


Sumber : KKPNews

Kamis, 22 November 2018

LRMPHP Mengikuti Pameran Gelar Bulan Teknologi tahun 2018

LRMPHP mengikuti pameran gelar bulan teknologi (dok. LRMPHP)
Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) turut berpartisipasi dalam Pameran Bulan Teknologi Tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam - Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (BPTBA-LIPI) di Taman Pintar Yogyakarta pada kamis-sabtu (15-17/11). Keikutsertaan LRMPHP dalam pameran tersebut sebagai tindak lanjut atas surat undangan permintaan partisipasi pameran dari BPTBA-LIPI No. B-1494/ipt.8/HM.01.01/XI/2018 tanggal 6 November 2018.

Kegiatan pameran  tersebut  merupakan bagian dari rangkaian acara Bulan Teknologi BPTBA - LIPI Tahun 2018 yang mengusung tema  "Pengembangan Budaya IPTEK Berbasis Kearifan Lokal Untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat". Pameran ini bertujuan untuk pemasyarakatan IPTEK khususnya teknologi pengemasan makanan tradisional dan sebagai wadah komunikasi interaktif dengan masyarakat. Selain diikuti oleh LRMPHP, kegiatan pameran juga diikuti oleh UMKM binaan BPTBA-LIPI, Lembaga Litbang, Instansi/lembaga mitra BPTBA-LIPI dan perusahaan berbasis produk pangan.
Stand Pameran LRMPHP (dok LRMPHP)
Pada pameran ini, LRMPHP menampilkan peralatan uji kesegaran ikan berbasis android. Prinsip kerja alat ini adalah pendeteksian bau ikan menggunakan sensor ammonia dan citra mata ikan menggunakan kamera. Keunggulan alat uji ini selain bersifat non-destruktif (tidak merusak bahan), pengujiannya juga cepat dan dapat mengetahui kesegaran ikan secara real time. Selain alat uji kesegaran ikan, hasil-hasil riset LRMPHP dalam bentuk leaflet, brosur, infografis, banner dan video juga ditampilkan dalam pameran ini.
Diskudi dengan pengunjung pameran (dok. LRMPHP)
Selama mengikuti pameran, stand LRMPHP banyak menerima kunjungan baik dari akademisi, instansi pemerintahan, UKM maupun masyarakat. Pada kesempatan tersebut dilakukan diskusi interaktif dan konsultasi tentang peralatan yang ditampilkan.

Pengunjung umumnya tertarik dengan peralatan hasil riset LRMPHP dan menanyakan beberapa hal tentang prinsip kerja, kegunaan alat, spesifikasi dan harga alat. Beberapa pengunjung memberikan masukan dan saran untuk perbaikan alat tersebut diantaranya untuk meniadakan boks penguji pada alat uji sehingga hanya digunakan smartphone dalam pengujiannya. Harapannya peralatan yang ditampilkan tersebut segera dapat dikomersialisasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. 

Rabu, 21 November 2018

Harkannas ke-5 : Dengan Protein Ikan, kita Membangun bangsa

Tim media sosial KKP
KKPNews, Jakarta – Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki potensi perikanan yang harus dimanfaatkan secara optimal dan lestari untuk bangsa, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung ketahanan pangan dan gizi nasional.

Ketahanan pangan nasional serta pemenuhan gizi masyarakat, terutama protein, telah menjadi perhatian serius pemerintah. Berbagai upaya pun terus dilakukan, salah satunya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ikan sebagai bahan pangan yang mengandung protein berkualitas tinggi.

Oleh karena itu, guna mendorong tingkat konsumsi ikan di Indonesia, pemerintah telah menetapkan Hari Ikan Nasional (HARKANNAS) yang diperingati setiap tanggal 21 November. Peringatan HARKANNAS tersebut kini sudah memasuki tahun kelima, sejak ditetapkan melalui Keppres Nomor 3 Tahun 2014 pada tanggal 24 Januari 2014.

Tahun ini, peringatan HARKANNAS mengusung tema “Dengan Protein Ikan, Kita Membangun Bangsa”. Hal ini menunjukkan bahwa pangan dan gizi adalah hal yang saling terkait dan saat ini masih menjadi masalah nasional yang perlu diselesaikan.

Adanya kasus gizi ganda (kelebihan dan kekurangan gizi), stunting, dan lain-lain adalah contoh beberapa masalah yang dihadapi Bangsa Indonesia yang erat kaitannya dengan kecukupan pangan dan gizi. Sehingga ikan sebagai bahan pangan yang mudah diproduksi dalam berbagai skala dan bergizi tinggi diharapkan mampu menjadi solusi atas masalah tersebut.

Untuk memeriahkan peringatan Harkannas Ke-5, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar secara serentak dan bersama-sama mengkonsumsi ikan pada tanggal 21 November 2018, turut menyemarakkan HARKANNAS lingkungan kantor Pemerintah Daerah, dan menyelenggarakan pertemuan Forikan Daerah, workshop, bazar perikanan, lomba masak, festival kuliner ikan, dan lain-lain.

Sedangkan di tingkat pusat, dilakukan serangkaian kegiatan sejak tanggal 21 November hingga 8 Desember 2018 meliputi talkshow, kuliner ikan gratis, lomba inovasi menu masakan ikan, bazaar perikanan, hingga pada Puncak Peringatan HARKANNAS ke-5 pada tanggal 7 Desember 2018 di JCC Senayan Jakarta, yang akan diawali dengan Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional ke-16, bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Pusat yang diikuti perwakilan juara dari 34 provinsi.

Melimpahnya Indonesia akan berbagai jenis ikan perlu kita syukuri. Salah satunya dengan memanfaatkannya sebagai bahan konsumsi dalam negeri. Ikan sangat sehat dan mengandung banyak protein yang baik bagi tubuh kita. Jangan sampai manfaat ikan hanya dirasakan orang luar yang mengimpor ikan dari Indonesia, namun bangsa sendiri lupa menikmatinya,” tutur Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Tak berlebihan, komoditas perikanan Indonesia memang sudah terkenal hingga mancanegara. Setidaknya ada 3 komoditas unggulan perikanan Indonesia, yaitu udang, tuna dan patin. Tercatat, nilai ekspor udang dan tuna sampai dengan September 2018, menduduki posisi tertinggi pertama dan kedua dibanding komoditas utama produk perikanan lainnya sebesar USD 1.302,5 juta (37%) dan USD 433,6 juta (12,3%). Terjadi kenaikan nilai dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar 4% untuk udang dan 21,9% untuk tuna. Sedangkan Patin Indonesia dengan brand “Indonesian Pangasius – The Better Choice”, yang baru saja diluncurkan saat ajang pameran SEAFEX di Dubai pada 30 Oktober 2018, diprediksi dapat memenangkan pasar dunia. Alasannya, patin Indonesia memiliki keunggulan karena dikembangkan dengan probiotik dan dibudidayakan dalam kolam dengan air tanah yang bersih, juga dengan kepadatan yang lebih rendah dibandingkan negara lain.

Diharapkan, peringatan HARKANNAS ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama dan membangun koordinasi fungsional yang efektif dengan seluruh komponen pemerintah dan masyarakat, serta menjadikan ikan sebagai salah satu solusi dalam penanganan permasalahan gizi masyarakat. Sehingga ikan dijadikan sumber protein yang selalu hadir di dalam menu keluarga guna mendukung upaya-upaya peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia (Nawacita 5), dan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing bangsa (Nawacita 6), serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, khususnya sektor kelautan dan perikanan (Nawacita 7).

Dengan konsumsi protein ikan yang cukup, masyarakat Indonesia diharapkan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Generasi yang sehat, kuat, dan cerdas adalah modal utama dalam membangun bangsa Indonesia ke depan. (Ade Fitria Nola)

Sumber : KKPNews

Senin, 12 November 2018

KKP Yakin Produksi Pakan Mandiri Dapat Ditingkatkan

Dok.Humas DJPB

KKPNews, Jakarta – Salah satu tantangan perikanan budidaya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pakan ikan yang efisien dan berkualitas, namun dengan harga yang tetap terjangkau. Isu ini menjadi penting, karena pakan merupakan penyusun terbesar dalam struktur biaya produksi usaha budidaya ikan yang mencapai lebih dari 70%.

Di sisi lain, harga pakan pabrikan cenderung menunjukkan tren kenaikan, sehingga akan menyebabkan turunnya efisiensi usaha budidaya. Kondisi ini dipicu karena keterbatasan industri pakan dalam memanfaatkan bahan baku lokal untuk dijadikan pakan ikan, sehingga industri masih sangat tergantung pada bahan baku pakan impor, terutama tepung ikan.

Merespon kondisi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) sejak tahun 2015 telah menggalakkan gerakan pakan mandiri atau Gerpari.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam Forum Pakan Mandiri Nasional 2018 di Jakarta, Rabu (11/7), menyampaikan bahwa Gerpari merupakan langkah konkrit pihaknya dalam menjamin ketersediaan pakan yang terjangkau oleh para pembudidaya skala kecil, yang saat ini masih dihadapkan pada kendala inefisiensi produksi. Di samping itu, dengan program pakan mandiri diharapkan akan memicu multiplier effect antara lain munculnya kelompok penyedia alat bahan baku dan juga kelompok pemasaran pakan ikan mandiri.

“Menurut data Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), produksi pakan ikan pabrikan tahun 2017 hanya 1.555.939 ton, sedangkan kebutuhan pakan ikan di tahun yang sama mencapai 8.650.260 ton. Untuk tahun 2018 kebutuhan pakan naik menjadi sekitar 9.667.620 ton dan tahun 2019 diperkirakan mencapai 10.800.960 ton. Baik untuk jenis ikan air tawar seperti nila, lele, gurami, mas, dan patin, serta jenis ikan laut seperti kakap putih, bawal bintang, kerapu, dan udang,” terang Slamet.

“Sedangkan total produksi pakan mandiri tahun 2018 yang tersebar di 24 provinsi baru mencapai 26.546 ton. Di sinilah urgensi peningkatan produksi pakan mandiri,” lanjutnya.

Untuk itu, Salmet menyampaikan bahwa KKP telah menyiapkan beberapa strategi agar produksi pakan mandiri dapat berhasil dan meningkat. Di antaranya, pengembangan pakan mandiri dipusatkan di sentra-sentra budidaya air tawar atau kawasan minapolitan; kemudian prioritas kepada kelompok usaha budidaya ikan air tawar; memanfaatkan potensi bahan baku lokal; memproduksi pakan murah berkualitas, berkuantitas, dan secara kontinu; penguatan kelembagaan dan permodalan; serta pengembangan jejaring pakan ikan nasional.

Selain itu, KKP juga telah mengembangkan pembuatan pakan dengan pabrik skala medium di 9 Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di Aceh, Jambi, Lampung, Karawang, Sukabumi, Jepara, Situbondo, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara. UPT ini akan menjadi motor untuk mengembangkan kawasan pakan mandiri.

Di level pembudidaya, Slamet juga menyampaikan bahwa KKP terus memberikan dukungan berupa mesin-mesin pembuat pakan mandiri skala kecil.

“Kita berikan bantuan berupa mesin pembuat pakan ikan dan bahan baku pakan ikan, serta pengembangan berbagai jenis bahan baku pakan mandiri. Selain itu, kita juga meningkatkan kerja sama antara DJPB dengan Smart Fish/UNIDO terkait dengan teknik formulasi pakan dengan harga murah berkualitas least cost formulation karena dapat menurunkan biaya produksi terutama dari pakan yang murah tetapi tetap berkualitas,” jelasnya.

Slamet menambahkan, untuk mengembangkan pakan mandiri, DJPB juga berkerja sama dengan FAO dengan mengadakan kegiatan supporting local feed efficiency for inland aquaculture in Indonesia yang dilakukan di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Selain itu, DJPB juga akan bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia terkait dengan pengelolaan bahan baku pakan ikan khususnya Palm Kernel Meal (PKM) serta kerja sama dengan FAFI Belanda dalam pengembangan bahan baku pakan dari limbah bir dan bacteria protein.

“Kerja sama ini tujuan utamanya adalah meningkatkan produksi pakan ikan khususnya pakan ikan air tawar yang berkualitas tinggi dan biaya hemat oleh produsen pakan ikan skala kecil di Indonesia,” tutup Slamet.

Pada kesempatan yang sama Ketua Asosiasi Pakan Mandiri Nasional (APMN), Syafruddin menyampaikan bahwa APMN akan berkomitmen mendukung peningkatkan pakan mandiri melalui: (1) pendampingan teknis dan formulasi pakan ikan kepada kelompok gerakan pakan ikan mandiri, khususnya penerima bantuan mesin pemerintah di daerah anggota asosiasi; (2) pengembangan bahan baku lokal pakan ikan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku khususnya tepung ikan; (3) pengembangan dan inovasi mesin pakan aplikatif; (4) pendataan produksi pakan mandiri secara reguler, dan; (5) menjaga konsistensi mutu pakan mandiri. (Humas DJPB/AFN)

Sumber : KKPNews

Senin, 05 November 2018

Peneliti LRMPHP Mengikuti Seminar Internasional ICTCRED

Pelaksanaan Seminar Internasional ICTCRED (dok. LRMPHP)
Seminar Internasional The 4th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2018merupakan agenda seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Seminar ini bertujuan untuk mewadahi pertemuan para peneliti bidang perikanan dan kelautan, pelaku usaha perikanan, pemerintah (pengambil kebijakan) dan seluruh stakeholder bidang perikanan dan kelautan untuk membahas capaian hasil penelitian yang telah dilakukan. Pertemuan seminar tersebut merupakan wahana untuk saling bertukar informasi terkait hasil penelitian perikanan dan kelautan terkini, dari seluruh pelosok tanah air atau bahkan dari luar negeri, sebagai upaya dalam mendukung pembangunan perikanan dan kelautan Indonesia dengan memberikan masukan kepada pemerintah dalam bentuk diseminasi dan atau penerapan hasil-hasil penelitian dalam masyarakat. Seminar didukung oleh para ilmuwan dan cendekiawan terkemuka yang berfungsi sebagai komite ilmiah dan peninjau yang membantu mempertahankan standar publikasi teknis.

Seminar “The 4th International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development (ICTCRED) 2018 dilaksanakan pada tanggal 30 – 31 Oktober 2018 di Patra Hotel & Convention Semarang. Peserta seminar sekitar 150 makalah dari peserta internasional yang disajikan. Kegiatan seminar meliputi Laporan Ketua Panitia Penyelenggara, Pembukaan oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, dilanjutkan Plenary Session dan Parallel Session. Ruang lingkup makalah penelitian dikategorikan menjadi dua diantaranya Coastal Region Eco-Development dan Tropical Life Sciences.
Pembukaan Seminar ICTCRED (dok LRMPHP)
Coastal Region Eco-Development terdiri dari bidang Aquaculture, Fisheries, Coastal Management and Social Economics, Marine Product Processing, Biotechnology, Coastal Engineering, Climate Change dan Disaster Mitigation and Rehabilitation. Sedangkan untuk ruang lingkup Tropical Life Sciences terdiri dari Coastal Public Health and Policy, Epidemiology, Food Nutrition and Health, Medical Microbiology, Molecular Biology, Pharmacological Aspect and Treatment dan Tropical Diseases.
Penyampaian materi oleh salah satu pembicara kunci (dok LRMPHP)
Plenary Session berupa pemberian materi oleh lima keynote speaker dan dilanjutkan sesi diskusi. Keynote speaker pada seminar ICTCRED yaitu Prof. Dr. Ocky Karna Rajasa dari Ministry of Research Technology and Higher education Indonesia yang menyampaikan materi tentang Biotechnology. Dr. Eleonor A. Tendecia dari Southeast Asian Fisheries Development Center – Filipina yang menyampaikan materi tentang Ecosystem approach toward sustainable aquaculture. Prof. Dr. Kazuo Nadaoka dari Tokyo Institute of Technology – Japan dengan materi Integrated Coastal Ecosystem Dynamics Modelling For Coral Triangle Areas Under Changing Environmental Conditions. Prof. Dr. Yasuhiro Igarashi dari Toyama Prefectuarai University – Japan dengan materi Natural Product. Dan Prof. Dr. Irwandi Jaswir dari Internatioanl Islami University – Malaysia yang memaparkan materi tentang Food Process Engineering.

Setelah itu, dilanjutkan dengan parallel session melalui panel schedule yang dibagi menjadi 6 grup yaitu Aquaculture, Climate Change, Coastal Engineering, Coastal Management and Social Economics, Coastal Management and Social Economics, Coastal Management and Social Economics, Disaster Management, Marine Products Processing, Fisheries, Biotechnology, Medical Microbiology, Molecular Biology, Coastal Public Health and Policy, Epidemiology, Food Nutrition and Health, Pharmacological Aspects and Treatment, Tropical Diseases.