LRMPHP ber-ZONA INTEGRITAS

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, siap menerapkan Zona Integritas menuju satuan kerja berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 30 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2020

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Senin, 28 Desember 2020

PENGATURAN TEKANAN EVAPORATOR PADA ALREF UNTUK PENAMPUNG IKAN PADA KAPAL NELAYAN 10-15 GT

Palka dan Cooling unit  rancang bangun LRMPHP (Sumber: Widianto et al, 2018)

Metode pendinginan merupakan salah satu upaya untuk menjaga mutu ikan setelah penangkapan dan transportasi di atas kapal. Salah satu sistem pendinginan yang telah dibuat adalah sistem ALREF (air laut yang direfrigerasi) untuk penyimpanan ikan pada kapal 10-15 GT oleh Widianto tahun 2018 yang dimuat dalam Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan tahun 2018. Uji kinerja pada prototipe sistem ALREF menunjukkkan bahwa secara teknis aplikasi sistem pendingin dapat diterapkan pada kapal kecil sebagai alternatif penganti es balok. Prototipe sistem ALREF berupa mini chilling storage dengan sistem RSW menggunakan sistem kompresi uap. Sistem ALREF pada alat tersebut terdiri dari komponen utama berupa palka dengan volume sekitar 2,03 m3, evaporator, kondensor, kompresor, palka, refrigeran dan katup ekspansi. Evaporator berfungsi menyerap panas media pendingin oleh refrigeran di dalam evaporator. Tekanan evaporator merupakan salah satu variabel penting yang menentukan performansi pendinginan sehingga hubungan antara tekanan evaporator dengan performansi pendinginan pada sistem ALREF penting untuk diamati.

Pengujian chilling storage telah dilakukan di Loka Riset Mekanisai Pengolahan Hasil Perikanan berupa pengujian variasi tekanan evaporator sistem ALREF untuk pendinginan udara dalam palka tanpa beban dengan rangkaian desain ALREF yang telah dibuat oleh Widianto et al pada tahun 2018. Rangkaian peralatan sistem ALREF meliputi komponen utama palka dan cooling unit. Palka terbuat memiliki volume sekitar 2,03 m3 dan kapasitas 1,3 ton ikan, berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 1650, 1200 dan 1030 mm. Cooling unit terdiri dari evaporator yang terbuat dari pipa tembaga dengan panjang 84 m, diameter 5/8 inch dan tebal pipa 1,6 mm, kompresor tipe open 3 hp, kondensor 25 kW berpendingin air dan katup ekspansi 15 kW. 

Pengujian pada sistem ALREF berupa perlakuan variasi tekanan evaporator 0 dan 1 bar untuk pendinginan udara di dalam palka. Udara didinginkan di dalam palkah yang memiliki volume 2,05 m3. Pengujian dilakukan pada kondisi palka tanpa beban selama 2 jam dengan parameter pengamatan yaitu suhu udara yang didinginkan di dalam palkah pada 5 titik, tekanan dan suhu kondensor, tekanan dan suhu evaporator serta daya listrik/daya kompresor yang dibutuhkan.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecepatan pendinginan udara rata-rata pada tekanan evaporator 0 lebih besar bila dibandingkan pada tekanan 1 bar dengan nilai masing-masing adalah 19,2 dan 15,4 oC/jam. Daya listrik aktual dan daya kompresor pada tekanan evaporator 0 lebih rendah bila dibandingkan tekanan 1 bar  (daya listrik 2,57 kW vs 2,9 kW dan daya kompresor 2,03 vs 2,27 kW).

Faktor yang mempengaruhi kecepatan pendinginan pada pengujian variasi tekanan evaporator adalah terutama oleh nilai Logarithmic Mean Temperature Difference (LMTD). Suhu freon R-22 pada pengujian tekanan evaporator 0 bar lebih rendah 10,2 °C sehingga nilai LMTD lebih tinggi dan perpindahan panas total lebih besar. Daya listrik dan daya kompresor pada pengujian tekanan evaporator 0 bar lebih rendah bila dibandingkan dengan pengujian 1 bar karena tekanan kondensor lebih rendah 0,3 bar meskipun tekanan evaporator lebih rendah 0,9 bar yang berakibat selisih entalpi (daya kompresor) lebih kecil.  Hasil pengujian secara umum menunjukkan bahwa tekanan evaporator 0 bar menghasilkan performa pendinginan yang lebih baik dan kebutuhan daya listrik yang lebih rendah.                                

Penulis : Ahmat Fauzi - LRMPHP


Rabu, 23 Desember 2020

Data Logger Sebagai Alternatif “Mudah” Pencatatan Data

Aplikasi data logger suhu dan RH pada penyimpanan rumput laut di LRMPHP

Ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini berkembang sangat pesat, terutama pada hal-hal yang dapat membantu memudahkan pekerjaan manusia sehingga menjadi lebih mudah dan efisien. Salah satu permasalahan yang ada adalah pencatatan data, misalnya pada pencatatan suhu yang berubah setiap menit bahkan detik dengan cara manual tidak efisien karena memakan banyak waktu dan menyulitkan untuk mengumpulkan data-data, sehingga diperlukan sistem pencatatan data yang mudah (data logging) dengan alat data logger.

Data Logging merupakan proses pengumpulan dan perekaman data secara otomatis dari sensor pengukuran yang akan digunakan untuk analisis data (misalnya riset) dan  pengarsipan. Sensor berfungsi untuk mengubah besaran fisik (misalnya regangan) menjadi sinyal listrik sehingga dapat diukur. Hasil data ukur tersebut selanjutnya dapat disimpan (misalnya dalam SD card) atau dikirim ke komputer secara otomatis untuk keperluan analisis/olah data. Beberapa sensor yang ada antara lain sensor suhu, kelembaban relatif atau relative humidity (RH), arus dan tegangan listrik AC/DC, tekanan, lama waktu operasi alat, intesitas cahaya, pH, tingkat suara, sudut rotasi, posisi,  oksigen terlarut, pernafasan, detak jantung, kelembaban tanah, curah hujan, kecepatan dan arah angin dan gerak. Beberapa alat ukur / alat uji laboratorium yang mempunyai output listrik dapat juga dikoneksikan dengan data logger.

Data Logger adalah rangkaian alat elektronik yang digunakan untuk mencatat data pada interval waktu tertentu selama periode  waktu tertentu secara terus menerus yang terintegrasi dengan sensor dan instrumen. Data logger berfungsi sebagai alat untuk mencatat data atau data logging dari sensor. Data logger terdiri dari mikroprosesor internal, penyimpanan data (memori internal, termasuk SD card), dan satu atau lebih sensor. Terdapat beberapa jenis data logger dan biasanya menggunakan komputer sebagai koneksi dan software sebagai aktivasi dan program. Hasil perekaman data dapat disimpan dan di lihat dengan komputer dalam bentuk data spreadsheet maupun grafik. Data logger dapat menggunakan sumber tenaga listrik DC agtau AC dengan adaptor, misalnya berupa baterai dan aki. yang . Data logger dapat ditempatkan di dalam rumah, di luar rumah, dan di bawah air serta dapat merekam data hingga waktu lama berbulan-bulan tanpa pengawasan. Data logger dapat digunakan untuk penelitian dan pengetahuan.

Sistem logging data pada perkembangannya dapat juga berbasis web, memungkinkan akses berbasis internet jarak jauh yang bebas dari waktu ke waktu melalui komunikasi GSM seluler, WI-FI atau Ethernet. Sistem ini dapat dikonfigurasi dengan berbagai sensor plug-in eksternal dan mengirimkan data yang telah dikumpulkan ke server web yang aman untuk mengakses data. Node data nirkabel mentransmisikan data real-time dari banyak titik ke komputer pusat, sehingga tidak perlu mengambil dan melepaskan data dari data logger secara manual. 

Beberapa contoh penggunaan data logger antara lain :

1. Pengukuran suhu dan RH baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, misalnya  tempat penyimpanan buah, sayuran, rumput laut dan barang.

2. Pemantauan/pengujian suhu dan RH ruangan penyimpanan daging (sapi, ikan dan lain-lain) untuk mendapatkan suhu dan RH sesuai dengan yang diharapkan.

3. Pengujian ruang penyimpanan makanan kalengan dan susu.

4. Pengujian pada wilayah perindustrian.

5. Pengukuran terhadap hutan gambut misalnya ketinggian air pada lahan gambut.

6. Pengukuran terhadap cuaca, suhu, gerak angin

Kelebihan dari data logger salah satunya adalah kemampuan mengumpulkan data secara otomatis secara terus menerus dengan setting waktu pengambilan data sampai milidetik. Data logger dapat digunakan untuk mengukur dan merekam data/informasi selama waktu pemantauan tanpa harus ditunggui. Kelebihan tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran komprehensif mengenai kondisi objek yang dipantau, misalnya kondisi suhu udara dan kelembaban relatif pada suatu lingkungan yang berubah cepat terhadap waktu. Pemantauan yang jika dilakukan secara manual akan sangat merepotkan dan bahkan sulit untuk dilakukan maka dapat dengan mudah dilakukan dengan data logger bahkan dengan hasil yang lebih komprehensif.

Aplikasi data logger antara lain di Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan Bantul untuk pengujian dan perekaman data riset. Data logger digunakan dalam pengukuran dan perekaman data suhu dan RH pada ruang penyimpanan (bunker) rumput laut. Data logger membaca data 10 sensor suhu dan RH untuk direkam dengan interval 8 detik selama berbulan-bulan dan juga sebagai sinyal untuk menghidupkan atau mematikan blower udara pendingin jika suhu atau RH mencapai nilai tertentu. Contoh yang lain adalah data logger untuk pengukuran dan perekaman data 20 sensor suhu dan 4 sensor arus listrik pada ruang penyimpanan ikan. Data suhu dan arus listrik direkam dengan interval 15 detik selama beberapa hari. Selanjutnya data disimpan di SD card dan dapat ditransfer ke komputer dengan mudah.

Aplikasi data logger suhu dan arus listrik pada penyimpanan ikan di LRMPHP

Penulis : Ahmat Fauzi - LRMPHP

Selasa, 22 Desember 2020

KKP Gaungkan Ekonomi Kelautan Berkelanjutan

Kepala BRSDM KKP Sjarief Widjaja.

Sustainable Ocean Economy (SOE) atau ekonomi kelautan berkelanjutan memiliki prinsip-prinsip antara lain keselarasan, inklusivitas, pengetahuan, legalitas, pencegahan dini, perlindungan, daya lenting/ketahanan, solidaritas, dan keberlanjutan.

Demikian disampaikan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang juga merupakan High Level Panel (HLP) Sous-Sherpa Sjarief Widjaja.

Hal itu disampaikan Sjarief pada seminar online “Transformasi Menuju Pembangunan Ekonomi Kelautan yang Berkelanjutan” dengan topik “Penerjemahan Prinsip-Prinsip SOE ke dalam Kebijakan Pengelolaan Kelautan dan Perikanan” yang diselenggarakan oleh Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), Selasa (22/12).

“Perlindungan dan produksi laut harus sejalan dengan Konvensi PBB tentang perubahan iklim dan perjanjian Paris, keanekaragaman hayati, dan prinsip pencemar membayar sebagaimana ditetapkan dalam Deklarasi Rio. Tindakan harus diselaraskan pada seluruh aktivitas berbasis lautan dan daratan serta ekosistem,” ujar Sjarief terkait prinsip keselarasan mengutip dari HLP SOE.

Sementara itu, tentang prinsip inklusivitas, ia menyampaikan statement HLP SOE bahwa hak asasi manusia, kesetaraan gender, komunitas dan partisipasi penduduk asli harus dihormati dan dilindungi.

Menurut Sjarief, kebijakan pengarusutamaan pembangunan kelautan dan perikanan merupakan kebijakan pengarusutamaan yang bertujuan untuk memberikan akses pembangunan yang adil dan merata melalui pembangunan berkelanjutan, pegarusutamaan gender, modal sosial budaya, dan transformasi digital.

Ia juga memaparkan mengenai prinsip pencegahan dini, di mana ada ancaman yang serius atau tidak dapat diubah kerusakan, kurangnya kepastian ilmiah tidak boleh digunakan sebagai alasan menunda tindakan untuk mencegah degradasi lingkungan.

Berbagai inovasi terkait prinsip pencegahan dini antara lain Aksi Bersama Deteksi Awal Tsunami Secara Mandiri (Adat), Sistem Prediksi Kelautan (Sidik) Basis Data dan Informasi Kelautan, Aplikasi Sistem Informasi Kelautan, dan Model Alat Pemantau Cuaca-Iklim untuk Prediksi Produksi Garam.

Adapun mengenai prinsip perlindungan laut, disampaikan bahwa laut yang sehat menopang ekonomi laut yang berkelanjutan. Sebuah pendekatan keuntungan bersih harus diterapkan pada pemanfaatan laut untuk mendukung keberlanjutan atau pemulihan kesehatan laut.

Sjarief mengatakan, terkait hal ini telah diterbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/PERMEN-KP/2016 tentang Jaminan Perlindungan Atas Risiko Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam. Contoh produk asuransinya adalah Si Mantep (Asuransi Nelayan Mandiri Terpercaya).

Dengan diselenggarakannya seminar ini, Chief Executive Officer (CEO) IOJI Mas Achmad Santosa berharap dapat tercapainya tujuan yang diharapkan, yaitu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan publik mengenai konsep pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan (sustainable ocean economy); dan mengumpulkan ide dan masukan untuk penyusunan sustainable ocean plan yang akan diintegrasikan ke dalam rencana pembangunan nasional.

Turut hadir pada seminar ini narasumber lainnya, yaitu Co-chair HLP SOE Expert Group Marie Elka Pangestu; Deputi Koordinator Bidang Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Nani Hendiarti; Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral, Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Febrian Alphyanto Ruddyard; Direktur Eksekutif SDGs Center Universitas Padjadjaran Suzy Anna; dan Direktur Pembangunan, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup Kemlu Agustaviano Sofjan.


Sumber : KKPNews

Senin, 21 Desember 2020

LRMPHP Perkenalkan Teknologi Mini Chilling Storage untuk Kapal Perikanan

Mini Chilling Storage (MCS) di kapal nelayan Pekalongan

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan melalui Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan Bantul memperkenalkan dan mensosialisasikan teknologi Mini Chilling Storage (MCS) untuk Kapal Perikanan. Hal ini terungkap dalam diskusi grup terarah (Focus Group Discussion) yang dilaksanakan di Gedung Technopark Perikanan kota Pekalongan pada hari Senin tanggal 21 Desember 2020.

Dalam kegiatan FGD tersebut, Kepala Pusat Riset Perikanan (Ir. Yayan Hikmayani, M.Si) membuka acara, sekaligus menyampaikan bahwa teknologi penyimpanan ikan di atas kapal ini telah sampai pada tahapan uji kinerja skala terbatas di kapal nelayan kota Pekalongan (mewakili karakteristik pantai utara Jawa); setelah sebelumnya melalui tahapan desain, rancangbangun dan pengujian baik di laboratorium maupun kapal nelayan di Sadeng Gunungkidul (mewakili karakteristik pantai selatan Jawa).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan kota Pekalongan (Ir. Agus Jati Waluyo) menyambut baik aplikasi teknologi MCS ini di kota Pekalongan. Hal ini sebagai bagian dari ungkapan syukur kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa bahwa kita menjaga agar kualitas atau mutu ikan hasil tangkapan tetap terjaga. Apresiasi dan ucapan terima kasih disampaikan kepada KKP karena aplikasi teknologi ini merupakan bagian dari pembangunan kelautan dan perikanan, khususnya di kota Pekalongan. Harapannya agar percontohan teknologi MCS ini dapat ditularkan/dikembangkan lebih luas lagi.

Imam Menu selaku pimpinan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) kota Pekalongan menyampaikan ucapan terima kasih, sekaligus menguatkan bahwa selama teknologi itu mudah dan pendinginannya efektif; teknologi ini pasti akan diterima oleh nelayan.

Keunggulan Mini Chilling Storage (MCS) rancang bangun LRMPHP diantaranya:

Suhu penanganan ikan lebih optimal (-1,5 oC)

Pendinginan lebih merata pada permukaan ikan

Tekanan fisik pada ikan berkurang

Muatan ikan pada palka lebih banyak karena tidak perlu tempat untuk es balok

Dari sisi beban muatan terhadap kapal, mengangkut teknologi MCS lebih ringan dibandingkan membawa es balok dari darat


Jumat, 18 Desember 2020

Es Masih Jadi Andalan Penanganan Ikan di Kapal

(Sumber : https://suarakarya.co.id/s

Ikan termasuk komoditas yang cepat rusak dan bahkan lebih cepat rusak bila dibandingkan dengan daging hewan Iainnya. Kecepatan pembusukan ikan setelah penangkapan dan pemanenan sangat dipengaruhi oleh teknik penangkapan dan pemanenan, kondisi biologis ikan, serta teknik penanganan dan penyimpanan di atas kapal. Oleh karena itu, segera setelah ikan ditangkap atau dipanen harus secepatnya disimpan dan diawetkan dengan pendinginan atau pembekuan. 

Metode pendinginan ini memiliki kelebihan antara lain ikan tidak mengalami perubahan yang berarti pada sifat tekstur, rasa, dan bau ikan. Tingkat efektivitas  pengawetan dengan pendinginan sangat ditentukan oleh tingkat kesegaran ikan sebelum didinginkan. Proses pendinginan akan efektif jika dilakukan sebelum fase rigor mortis lewat dan penanganan dengan teknik yang benar. Sebaliknya jika pendinginan dilakukan setelah proses autolisis terjadi, maka proses pendinginan tidak berarti. Pada kasus di atas kapal, maka sebaiknya ikan segera dilakukan pendinginan sesaat setelah ditangkap.

Pendinginan ikan di kapal nelayan dapat menggunakan antara lain refrigerasi (RSW atau freezer), es, slurry ice (es cair) dan air laut dingin (chilled sea water) atau kombinasi. Cara yang paling mudah untuk pendinginan adalah dengan menggunakan es. Kapal-kapal ikan kecil berukuran sampai dengan 30 GT di Indonesia sebagian besar menggunakan es balok sebagai media pengawetan/pendingin ikan. Tujuan dari penanganan dengan suhu rendah lebih dititikberatkan pada menjaga sifat kesegaran ikan. Pendinginan ikan dengan es pada suhu idealnya sekitar 0 - 5 °C merupakan suatu proses transfer/pemindahan panas dari ikan dan ruang penyimpan (palka) ke es sehingga suhu ikan dan ruang penyimpannya terjaga. Pendinginan ikan pada suhu sekitar 0-5 oC dapat mempertahankan kesegaran ikan dalam waktu sekitar 12-18 hari sejak ikan ditangkap. Namun kondisi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh jenis ikan, metode penanganan dan metode pendinginan yang dipakai. 

Es memiliki kapasitas pendinginan yang besar sehingga mampu mendinginkan dengan cepat tanpa terlalu banyak memengaruhi keadaan ikan. Bentuk es pendingin adalah sebagai berikut:

-    Es balok (block ice), adalah es berbentuk balok dengan ukuran 12 – 60 kg/balok. Es balok dipecah/diperkecil ukurannya sebelum digunakan.

-       Es tabung (tube ice), adalah es berbentuk tabung kecil, dapat langsung digunakan.

-    Es keping tebal (plate ice),adalah es berbentuk lempengan berukuran besar dan tebal antara 8 – 15 mm, dipecah potongan kecil diameter kurang dari 5 cm, agar lebih merata dan dapat mempercepat kontak dengan permukaan ikan.

-    Es Keping Tipis (flake ice), adalah es berbentuk lempengan es tipis dengan ukuran tebal 5 mm dan diameter 3 cm, es sudah cukup kecil dan tidak perlu dipecah lagi.

-      Es Halus (slush ice), adalahitu butiran es halus berdiameter 2 mm dan tekstur lunakdan sedikit berair, hanya untuk ikan di sekitar pabrik.

Es yang paling banyak digunakan untuk pendinginan ikan adalah es balok karena harga yang relatif murah dan mudah operasionalnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan es balok sebagai media pendingin adalah mutu, harga dan ketersediaan es di pasaran, di beberapa daerah es  balok masih sulit didapat.

Hal penting lainnya adalah menentukan jumlah es yang dibutukan untuk pendinginan ikan. Es memiliki kapasitas pendinginan yang besar. Es memiliki kalor lebur 336 kJ/kg pada suhu 0oC. Kalor sensibel pada kondisi es adalah 2,1 kJ/kg dan pada kondisi air 4,2 kJ/kg.

Es akan mendinginkan ikan dengan kalor sensibel dari suhu awal minus/di bawah 0°C sampai 0°C dan kalor lebur saat es melebur pada suhu 0oC. Rumus yang digunakan dalam perhitungan kapasitas kalor es adalah:

1. Kalor sensibel (suhu minus sampai 0°C), es dapat memiliki suhu awal sampai -5 °C (relatif kecil dibanding kalor laten es):

Qs = mes x Cp x ΔT  

2. Pada suhu peleburan 0°C:

QL = mes x QL      

dengan:

Qs    = kalor sensibel es (kJ)

mes    = massa es (kg)

Cp  = Panas jenis es (2,1 kJ/kg.oK)

ΔT   = selisih antara suhu awal es sampai sebelum melebur pada 0 oC

QL    = kalor laten es, 336 kJ/kg.

Sedangkan untuk menghitung kebutuhan es adalah dengan menghitung beban pendinginan meliputi pendinginan ikan, beban pendinginan udara dalam palka, panas transmisi dinding palka dari udara sekeliling, panas akibat buka tutup alat, panas dari palka, serta panas dari sumber lain.

 

Beban pendinginan terbesar adalah dari ikan yang dirumuskan sebagai berikut:

 

Qi = mi x Cp x ΔT  

dengan:         Qi    = kalor sensibel ikan (kJ)

mes  = massa es (kg)

Cp  = Panas jenis ikan (berkisar 0,6 – 0,8 kkal.kg/oC atau 2,51 - 3,35 kJ/kg.oK

sesuai dengan kandungan airnya)

ΔT   = selisih antara suhu awal ikan sampai  0 oC

 

Untuk beban lain relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan beban ikan. Beban transmisi pada prinsipnya dihitung dengan perpindahan panas konveksi dari luar palka ke dalam palka, di dalam palka dihdekati dengan konveksi bebas. Beban infiltrasi dihitung dengan perhitungan massa udara yang masuk ke dalam palka setiap kali palka dibuka. Panas udara dan palka dihitung dengan panas sensibel keduanya dari suhu lingkungan ke suhu 0 oC. 

Sebagai contoh apabila 1 ton ikan akan didinginkan dari suhu awal 27 °C sampai 0 °C maka dibutuhkan kapasitas kalor es sebesar (diasumsi beban ikan saja dengan Cp 3,35 kJ/kg.K):

 Qes = Qi = mi x Cp x ΔT

 = 1000 x 3,35 x (27-0)

 = 90.450 kJ. 

Es yang dibutuhkan (diasumsi kalor es hanya kalor lebur saja): 

Qes ~ QL = mes x QL 

mes  = Qes / QL

 = 90.450 / 336

 = 269,2 kg 

Jika es balok berukuran 60 kg/balok maka dibutuhkan sekitar 5 balok es untuk mendinginkan ikan dari suhu 27 °C ke 0 °C, (beban panas selain ikan tidak dihitung).

 

Penulis : Ahmat Fauzi-LRMPHP

 


Selasa, 15 Desember 2020

MONEV SEMESTER II T.A. 2020 LINGKUP LRMPHP

Monev Semester II T.A. 2020 di LRMPHP 

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) menyelenggarakan Monitong dan Evaluasi (Monev) Semester II T.A.  2020 pada 15 Desember 2020 di Aula LRMPHP secara daring melalui aplikasi zoom.  Monev II T.A. 2020 dibuka oleh Kepala Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) Yayan Hikmayani dan dihadiri oleh Kepala LRMPHP Luthfi Assadad, evaluator kegiatan baik internal maupun eksternal KKP serta seluruh pegawai LRMPHP.

Kepala LRMPHP dalam sambutannya menyampaikan monev ini untuk melengkapi pelaksanaan kegiatan di LRMPHP baik riset maupun manajerial. Disampaikan kegiatan riset T.A. 2020 ada 4 judul yaitu Riset Desain dan Rancangbangun Alat Transportasi Ikan Hidup (ALTIH) Sistem Basah, Rancangbangun Mesin Pengemas Penghasil Bioplastik Ramah Lingkungan, Riset Rancangbangun Alat Sortasi dan Grading Kualitas Rumput Laut, dan Riset Rancangbangun, Introduksi dan Uji terap Skala Terbatas Mini Chilling Storage Menggunakan Biodisel.

Sambutan Monev II 2020 oleh Ka. LRMPHP dan arahan dari Ka. Pusriskan

Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Pusriskan bahwa kegiatan monev sebagai bahan masukan untuk perbaikan pelaporan agar dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi teknologi. Kepala Pusriskan juga mengapresiasi berbagai prestasi yang telah diraih LRMPHP selama tahun 2020 diantaranya dibidang manajerial meraih juara 1 Indeks Profesionalitas Aparatur Sipil Negara (IP ASN) 2019, juara 1 pengelolaan kepegawaian dan juara 2 pengelolaan kinerja lingkup BRSDM KP serta dibidang riset 2 peneliti LRMPHP (Putri Wullandari dan Bakti Berlyanto Sedayu) meraih best presenter pada seminar internasional. Selain itu, Kapuriskan juga mengapresiasi kinerja LRMPHP yang dapat merealisasikan target capaian IKU (Indikator Kinerja Utama) T.A. 2020. 

Paparan riset Monev II dan evaluasinya

Pembahasan Monev II kegiatan riset tahun 2020, diawali dengan pemaparan Riset Desain dan Rancangbangun Alat Transportasi Ikan Hidup (ALTIH) Sistem Basah  oleh Tri Nugroho Widianto dengan evaluator Jaka Trenggana, S.Pi dari  BBPBAT Sukabumi. Masukan yang diberikan evaluator terkait sumber kelistrikan ALTIH dan penempatan panel sensor kualitas air di mobil agar mudah dalam monitoring selama perjalanan. Pada pemaparan kegiatan Riset dan Rancangbangun Mesin Pengemas Penghasil Bioplastik Ramah Lingkungan oleh Putri Wullandari dengan evaluator Dr. Akbar Hanif Dawan A., MT dari LIPI Bandung. Evaluator mengapresiasi alat ini sebagai yang pertama di Indonesia dengan sistem operasional yang mudah dan smart, serta menyarankan agar kapasitas produksi ditingkatkan sesuai kebutuhan pengguna. Pada Riset Rancangbangun Alat Sortasi  dan Grading Kualitas Rumput Laut yang dipaparkan oleh I Made Susi Erawan dengan evaluator Muhammad Fakhurrifqi, M.Cs dari UGM, evaluator memberikan masukan terkait pengambilan gambar untuk data base melaui video. Selanjutnya pada pemaparan Riset Rancangbangun, Introduksi dan Uji terap Skala Terbatas Mini Chilling Storage Menggunakan Biodisel oleh Arif Rahman Hakim dengan evaluator Indro Pranoto, S.T., M.Eng., Ph.D. dari UGM, evaluator menyarankan untuk menghitung analisis keekonomian peralatan yang dibuat.

Sementara itu evaluator internal KKP (Pusriskan) secara umum menyampaikan apresiasinya atas capaian prestasi yang diraih LRMPHP baik dibidang riset maupun manajerial. Prestasi yang diraih tersebut diharapkan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Evaluator juga menyarankan agar peralatan yang dibuat ini untuk segera diusulkan patennya.

Jumat, 11 Desember 2020

PENGERINGAN RUMPUT LAUT MENGGUNAKAN ENERGI GELOMBANG MIKRO DAN KUALITAS YANG DIHASILKAN

 

Ilustrasi, sumber : Razmjou A, et al. dalam Environmental Science and Technology (2013), https://pubs.acs.org/doi/pdf/10.1021/es4005152

Rumput laut merupakan komoditas kelautan dan perikanan yang melimpah di Indonesia. Hampir 80% dari produksi tersebut dijual dalam bentuk kering tanpa adanya proses pengolahan lebih lanjut. Pada umumnya pengeringan rumput laut oleh para pelaku usaha rumput laut dilakukan secara konvensional yaitu dengan memanfaatkan sinar matahari secara langsung yang sangat tergantung pada kondisi cuaca.

Untuk mempercepat proses pengeringan telah banyak dikembangkan metode dan alat pengering yang hampir semua alat tersebut menggunakan mekanisme perpindahan panas secara konduksi maupun konveksi. Pengeringan secara konveksi memiliki kelemahan yaitu energi yang tidak efisien karena waktu pengeringan yang lama dan kualitas produk yang kurang baik karena mengalami penyusutan ukuran dan perubahan bentuk produk. Selain itu menurut Sulaiman dalam Rubrik Teknologi (2009) menyampaikan bahwa pengeringan konvensional menyebabkan perubahan yang tidak diinginkan pada warna, tekstur, flavour dan kualitas nutrisi bahan pangan.

Menurut Askari, et al. yang disampaikan dalam Food Bioprod. Process (2013) menyatakan bahwa saat ini, pemanfaatan gelombang mikro (microwave) sebagai teknologi alternatif untuk proses pengeringan di Industri Pangan semakin populer. Teknologi ini menghasilkan proses yang lebih cepat dan lebih efisien dibandingkan pengeringan metode konvensional karena koefisien perpindahan massa yang tinggi. Osrat, et al. dalam buku The Microwave Processing of Foods (2017) menyampaikan bahwa pengeringan berbasis microwave pemanasan yang terjadi adalah pemanasan volumetrik. Pemanasan volumetrik adalah pemanasan dari bagian dalam ke luar material yang diakibatkan karena gesekan molekul air di dalam material. Scott dalam Marion mixer (2012) juga menjelaskan bahwa dalam pemanasan volumetrik ini bahan bisa menyerap energi gelombang mikro secara langsung dari dalam dan mengubahnya menjadi panas. Bahan yang menyerap microwave adalah bahan yang memiliki sifat dielektrik yang baik yaitu bahan yang memiliki kandungan air yang banyak. Rumput laut E. Cottonii memiliki kadar air yang cukup besar, menurut Maharani, et al. yang disampaikan dalam Jurnal pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (2017) menyebutkan bahwa kadar air rumput laut E. Cottonii sebesar 76,15%. Berdasarkan hal tersebut maka penerapan microwave untuk pengeringan rumput laut E. Cottonii sangat mungkin.

Namun demikian pengeringan microwave juga memiliki kelemahan salah satunya yaitu distribusi pancaran gelombang yang tidak merata sehingga panas yang ditimbulkan juga tidak merata pada objek yang dipanaskan. Selain itu kualitas rumput laut yang dikeringkan menggunakan microwave juga belum banyak yang mengkaji. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pengeringan rumput laut E. Cottonii dan mengetahui kualitas rumput laut yang dikeringkan.

Berdasarkan latar belakang tersebut pada tahun 2019 Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) melakukan penelitian pengeringan rumput laut menggunakan gelombang mikro. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui laju pengeringan dan kualitas karaginan rumput laut E. Cottonii yang dikeringkan menggunakan gelombang mikro. Paramater yang diamati adalah berat rumput laut, laju pengeringan, kadar sulfat dan kekuatan gel.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pengeringan paling besar adalah pada pengeringan dengan gelombang mikro pada daya 600 watt yaitu rata-rata 11,67 gr/menit. Persentase kadar sulfat paling tinggi adalah pada pengeringan menggunakan sinar matahari yaitu 12,38 %. Sedangkan nilai kekuatan gel terbaik adalah pada pengeringan menggunakan gelombang mikro dengan daya 600 watt yaitu 81,45 gr/cm2Secara umum pengeringan rumput laut menggunakan gelombang mikro dapat mempercepat proses pengeringan dibandingkan menggunakan sinar matahari langsung. Pada kualitas karaginan, nilai kekuatan gel dan kadar sulfat masih dibawah baku mutu yang ditetapkan. Nilai kekuatan gel dan kadar sulfat yang rendah diduga bukan disebabkan karena proses pengeringan, tetapi disebabkan karena kualitas bahan baku rumput laut yang digunakan.

Penulis : Wahyu Tri Handoyo - LRMPHP

LRMPHP TUTUP AKHIR TAHUN DENGAN 2 PRESTASI

Apresiasi kepada pengelola kepegawaian terbaik 2020 lingkup BRSDM KP

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, sebagai salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) mempunyai mandat utama melaksanakan riset di bidang mekanisasi pengolahan hasil perikanan.

Selain melaksanakan mandat tersebut, LRMPHP juga melaksanakan kegiatan manajerial untuk mendukung pelaksanakaan tugas fungsi utama riset. Secara berkala, baik kegiatan riset dan manajerial dilakukan pemantauan/monitoring, evaluasi dan penilaian secara berjenjang oleh unit organisasi internal maupun eksternal.

Setelah 3 prestasi di awal dan pertengahan tahun 2020 (http://www.mekanisasikp.web.id/p/prestasi.html), LRMPHP kembali menorehkan 2 (dua) prestasi di bidang manajerial lingkup BRSDM KP. Torehan prestasi ini sekaligus menutup akhir tahun, insya alloh, dengan baik dan gilang-gemilang. Prestasi yang diraih tersebut yaitu juara 1 pengelolaan kepegawaian lingkup BRSDM KP dan juara 3 pengelolaan kinerja lingkup BRSDM KP. Penghargaan atas dua prestasi ini diberikan oleh Kepala BRSDM KP, Prof. Sjarief Widjaja, Ph.D. FRINA dalam pembukaan Rapat Kerja Teknis BRSDM KP di Bogor pada tanggal 10 Desember 2020.

 Dua piagam penghargaan yang ditorehkan LRMPHP

Secara keseluruhan, berikut adalah daftar satuan kerja lingkup BRSDM KP yang mendapatkan penghargaan:

Pengelolaan Kepegawaian

1. Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

2. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan

3. BPPP Tegal

Pengelolaan/Rekonsiliasi Kinerja

1. SUPM Bone

2. Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang

3. Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan - Bantul

Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)

1. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan

2. Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

3. Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Kehumasan

1. Top Tweets : Balai Riset dan Observasi Laut

2. Top Facebook : Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir

3. Top Instagram : Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir

4. Top Youtube : Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan

5. Top Tweet Engagement : Pusat Pelatihan dan Penyuluhan KP

6. Unit Pelayanan Publik Terinovatif : BPPP Tegal


Rabu, 09 Desember 2020

Energi Pengolahan Bioplastik

Bioplastik (Sumber gambar: https://bioplasticsnews.com/)

Produksi bioplastik mengalami kenaikan setiap tahunnya meskipun jumlahnya masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan plastik konvensional yang merupakan turunan minyak bumi. Plastik ramah lingkungan masih didominasi oleh bahan polyethylene terephthalate (PET), polyethylene (PE), PLA, PHA, dan campuran pati lainnya. Untuk dapat meningkatkan kapasitas produksi dan bersaing dengan plastik konvensional maka dibutuhkan metode yang efisien untuk pengolahan bioplastik. Konsumsi energi merupakan salah satu parameter yang perlu dipertimbangkan. Kajian yang dilakukan oleh peneliti Universitas Braunschweig, Jerman seperti disampaikan pada The 24th CIRP Conference on Life Cycle Engineering menganalisis secara empiris kebutuhan energi pada pengolahan beberapa jenis bioplastik antara lain PLA (polylactic acid), PHBV (Polyhydroxybutylvinyl), CA (Cellulose Acetate) dan PP (Poly-Propylene) sebagai pembanding.  Kajian ini menitik beratkan pada pengolahan bioplastik menggunakan teknik injection moulding.

Teknik injection moulding terdiri dari dua tahapan utama yaitu preprocessing dan processing. Tahap preprocessing pada pengolahan bioplastik antara lain adalah pengeringan. Proses pengeringan perlu dilakukan karena bioplastik memiliki sifat menyerap kelembapan udara. Terdapat tiga parameter utama dalam proses ini yaitu waktu pengeringan, kebutuhan energi oven, dan bahan bioplastik yang digunakan. Jenis bioplastik yang digunakan berpengaruh terhadap waktu pengeringan dan suhunya. Sementara kenaikan suhu dan waktu pengeringan menyebabkan kenaikan kebutuhan energinya. Oleh sebab itu karakteristik bahan bioplastik sangat berpengaruh terhadap kebutuhan energi pada proses pengeringan. Analisis kebutuhan energi pada tahap processing difokuskan pada dua proses utama yaitu pemanasan (warm up) dan injection moulding. Proses pemanasan mesin injection moulding membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal ini sangat bergantung pada jenis mesin dan karakteristik bahan yang digunakan.

Berdasarkan kajian secara empiris masing-masing bahan memiliki kebutuhan energi yang berbeda-beda pada tiap tahapan proses injection moulding. Namun untuk total kebutuhan energi pada proses injection moulding tidak jauh berbeda. Bahan bioplastik dengan kebutuhan energi paling tinggi adalah PLA. Hal ini karena waktu dan suhu pada setiap tahapan proses berngaruh terhadap  kebutuhan energi. PLA memiliki waktu pengeringan yang cukup tinggi yaitu 8 jam dan titik leleh 170oC. Akan tetapi kebutuhan energi PLA masih lebih rendah jika dibandingkan dengan PP.


Penulis : Toni Dwi Novianto - LRMPHP


Senin, 07 Desember 2020

PENGALENGAN MANGUT LELE

Mangut lele kaleng

Makanan tradisional Indonesia sangat kaya dan beraneka ragam serta memiliki potensi besar untuk dikembangkan, termasuk makanan tradisonal yang bersumber dari perikanan. Namun demikian, makanan tradisional tersebut umumnya memiliki masa simpan yang rendah. Salah satu makanan tradisonal dari sumber perikanan adalah mangut lele. Mangut lele adalah makanan tradisional dari daerah "Mataraman" (Yogya-Solo) dan Semarang-Kendal. Sesuai dengan namanya, komposisi utamanya adalah lele goreng, yang diberi bumbu mangut. Makanan ini banyak diminati oleh berbagai kalangan masyarakat. Makanan tradisional dapat ditingkatkan masa simpannya dengan penerapan teknologi pengemasan yg tepat, salah satunya yaitu teknologi pengalengan. Penelitian pengalengan mangut lele telah dilakukan antara lain oleh Herawati dkk tahun 2020 yang dimuat dalam Jurnal Riset Teknologi Industri terbit online Desember 2020. Pada penelitian tersebut membahas  mengenai pengalengan yang merupakan salah satu metode pengawetan bahan pangan dengan cara dikemas secara hermetis dan lalu disterilkan. Pengemasan secara hermetis adalah pengemasan bahan pangan dalam suatu wadah berupa kaleng, alumunium, atau gelas yang penutupannya sangat rapat, sehingga udara dan air tidak dapat masuk serta kerusakan karena oksidasi dan perubahan cita rasa tidak terjadi. 

Menurut hasil penelitian tersebut, teknologi pengalengan dilakukan untuk meningkatkan masa simpan dengan pengemasan menggunakan kemasan kaleng. Proses pengalengan ikan terdiri dari tahapan meliputi persiapan bahan, proses blanching / precooking, pengisian bahan kedalam kaleng, penambahan media cairan (garam, minyak, atau saus), penghampaan udara /exhausting, penutupan kaleng, sterilisasi menggunakan retort, pendinginan, pengeringan, pelabelan, dan penyimpanan. Proses pengalengan ikan dapat dilakukan dengan menggunakan media larutan garam atau minyak. Selain menggunakan media garam atau minyak, media dengan larutan bumbu masakan tertentu juga dapat digunakan pada produk pengalengan, misalnya pengalengan ikan tuna dengan menggunakan media bumbu kari.

Pengalengan terhadap mangut lele yang telah dilakukan oleh Herawati dkk tahun 2020 memiliki kapasitas produksi sebesar 1000 kaleng/hari. Bahan yang dibutuhkan untuk proses pengalengan mangut lele adalah ikan lele dan bumbu mangut meliputi bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, cabai, daun salam, jahe, dan lengkuas. Alat yang digunakan untuk proses pengalengan antara lain seamer (VARIN), retort (TOMMY SS-325), dan bak pendingin. Kemasan kaleng yang digunakan yaitu ukuran Ø 301 X 205  dengan ketebalan 0,5 mm, lapisan luar dari bahan Gold, dan lapisan dalam dari aluminium (Gambar 1). Tahapan proses pengalengan pada mangut lele meliputi preparasi bahan, pembuatan sayur mangut lele, pengisian dalam kaleng, penghampaan udara (80oC, 10 menit), penutupan kaleng, sterilisasi (121oC, 20 menit), pendinginan, dan karantina 14 hari.

Perhitungan teknoekonomi untuk melihat aspek ekonomi dilakukan dengan melakukan perhitungan biaya investasi (kebutuhan alat), biaya tetap (depresiasi alat dan tenaga kerja), dan biaya variabel (bahan, utilitas, pengemasan, bahan bakar dan production management). Keuntungan dapat dihitung dari selisih total pendapatan dan total biaya produksi. Perhitungan B/C ratio dilakukan dengan menghitung pendapatan total dibagi dengan total biaya produksi. Perhitungan ekonomi pengalengan mangut lele menggunakan beberapa asumsi, diantaranya kapasitas produksi 20000 kaleng per bulan, tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 10 orang dan tahapan proses pengalengan menggunakan alat (mekanisasi produksi), kecuali pengisian dan penimbangan bahan dalam kaleng dilakukan manual. Perhitungan biaya tetap, biaya variabel, dan analisis ekonomi menunjukkan bahwa total investasi yang dibutuhkan sebesar Rp1,034,900,000 untuk pembelian mesin dan alat proses pengalengan. Perhitungan total biaya tetap diperoleh dengan menghitung biaya depresiasi alat dan biaya tenaga kerja didapatkan Rp37,330,556. Perhitungan biaya variabel meliputi biaya bahan baku dan bahan pendukung, biaya listrik dan bahan bakar didapatkan sebesar Rp 200,950,000. Setelah didapatkan total investasi, biaya tetap dan biaya variabel, maka didapatkan perhitungan teknoekonomi seperti dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perhitungan Teknoekonomi Usaha Pengalengan Mangut Lele

Uraian

Satuan

Nilai

Kapasitas Produksi

kaleng/bulan

20,000

Biaya produksi total (biaya tetap dan biaya variable)

Rp/bulan

238,280,556

Cost of good sold (CoGS)

(Biaya produksi total : kapasitas produksi)

Rp/kaleng

11,914

Keuntungan 20% (dari nilai CoGS)

Rp/kaleng

2,382.81

Biaya pemasaran 5% (dari nilai CoGS)

Rp/kaleng

596

Biaya transportasi 5% (dari nilai CoGS)

Rp/kaleng

596

Pajak (PPH&PPN = 12.5%) (dari nilai CoGS)

Rp/kaleng

1,489

Harga jual

Rp/kaleng

16,977

Pendapatan total jika 100% terjual

Rp/bulan

339,549,792

Keuntungan sebelum pajak

(pendapatan total - biaya produksi total)

Rp/bulan

 

101,269,236

B/C ratio (pendapatan total : biaya produksi total)

-

1.43

Return of invesment (ROI)

%

42.50

  Sumber : Herawati dkk (2020)

Menurut hasil penelitian tersebut, suatu usaha dinyatakan layak jika B/C ratio  > 1 dan jika B/C ratio < 1 kegiatan usaha tidak layak untuk dikembangkan. Dari hasil perhitungan teknoekonomi, didapatkan B/C ratio usaha pengalengan mangut lele > 1 sehingga usaha pengalengan ini sangat potensial untuk dikembangkan bahkan cukup menguntungkan. Hasil analisa teknoekonomi juga menunjukkan bahwa  nilai Return of Investment (ROI) cukup tinggi, sehingga usaha produksi pengalengan mangut lele ini sangat layak untuk dikembangkan. Dengan hasil ini maka proses pengalengan menjadi salah satu alternatif teknologi proses untuk meningkatkan masa simpan produk yang sangat potensial dan menguntungkan  untuk dikembangkan pada makanan tradisional Indonesia khususnya mangut lele.

Proses pengalengan terhadap produk mangut lele ini memberikan nilai Fo/kecukupan panas dan karakteristik kimia yang baik. Mangut lele kaleng mengandung 119 kalori per 100 gram produk. Pengujian mikrobiologi menunjukkan produk negatif dari kandungan salmonella, staphylococcus aureus, dan clostridium. Pengujian cemaran logam menunjukkan hasil masih masih dibatas aman.


Penulis ; Ahmat Fauzi - LRMPHP




Kamis, 03 Desember 2020

IDENTIFIKASI KEBERADAAN IKAN INVASIF MENGGUNAKAN eDNA

 

Sumber : https://cosmoso.net/fishing-for-dna-free-floating-edna-identifies-presence-and-abundance-of-ocean-life/

Keberadaan spesies ikan invasif di suatu perairan akan mengancam keberadaan populasi spesies endemik di perairan tersebut. Jika kondisi tersebut dibiarkan saja maka kekayaan hayati perairan Indonesia akan terancam.

Menurut IUCN dalam Redlist of Threatened Spesies, spesies asing invasif adalah spesies asing yang mampu membentuk diri mereka pada ekosistem alami atau ekosistem semi alami, sebagai awal perubahan dan mengancam keanekaragaman hayati lokal/asli.

Tindakan pencegahan dan penanggulangan ikan invasif saat ini telah dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu melalui Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang perikanan yang telah diubah menjadi Undang-undang nomor 45 tahun 2009. Selain itu, hal ini juga diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41/Permen-KP/2014 tentang Larangan Pemasukan Ikan Berbahaya ke Indonesia. 

Beberapa penelitian juga sudah dilakukan untuk mempermudah pendeteksian ikan invasif. Salah satu metode yang sudah dikembangkan adalah Environmental DNA (eDNA).

Menurut Keeping & Pelletier dalam jurnal PLos One (2014) menyampaikan bahwa keberadaan spesies hewan di lingkungan dapat diketahui dengan pengamatan langsung (direct sign) dan pengamatan tak langsung (indirect sign) (Keeping dan Pelletier 2014). Pengamatan tak langsung (indirect sign) dapat diamati melalui jejak-jejak yang ditinggalkan hewan tersebut, salah satunya material genetik (DNA) yang ditinggalkan, yang dikenal dengan Environmental DNA (eDNA). Menurut Ficetola et al. yang disampaikan dalam jurnal Biol. Lett. (2008) menyebutkan bahwa Deteksi eDNA adalah teknik yang digunakan untuk memonitoring hewan di perairan. Teknik ini didasarkan pada fakta bahwa semua hewan yang hidup di air meninggalkan DNA melalui kotoran mereka, urine, dan keluapasan kulit.

Beberapa penelitian terkait dengan eDNA untuk pendeteksian ikan sudah dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Keskin E. dalam jurnal Biochemical Systematic and Ecology (2014) melakukan penelitian pendeketsian spesies ikan invasif menggunakan survey environmental DNA. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel air yang diambil dari 15 stasiun yang berbeda, pada 2 musim yang berbeda. Sampel air tersebut selanjutnya dianalisis secara molekuler. Hasil penelitian dengan jelas menunjukkan bahwa survei eDNA dapat digunakan sebagai alat molekuler penting untuk memantau spesies ikan invasif dalam ekosistem air tawar. Penelitian lain yang dilakukan oleh Djalil VN et al dalam Jurnal Biologi Tropis (2018), melakukan penelitian aplikasi teknik environmental DNA (eDNA) untuk deteksi spesies Cherax quadricarinatus (Von Martens 1868) menggunakan sampel air. Teknik ekstraksi eDNA dilakukan dari sampel air dengan menggunakan teknik pengendapan. Sampel air diambil dari 35 badan perairan tawar di provinsi Jawa Barat. Validasi keberadaan C.quadricarinatus dilakukan dengan menggunakan metode pengembangan PCR dan desain primer spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan C.quadricarinatus terdeteksi sebanyak 60% dari keseluruhan badan perairan.

Penulis : Wahyu Tri Handoyo - LRMPHP

Senin, 30 November 2020

PENTINGNYA FAKTOR LINGKUNGAN ODP DAN GWP DALAM PEMILIHAN REFRIGERAN

Visualisasi efek ODP dan OWP terhadap lingkungan (Sumber : https://www.waroengteknologiac.id/)

Metode pendinginan ikan di atas kapal nelayan ukuran di bawah 30 GT selain penggunaan es balok antara lain adalah air laut yang direfrigerasi (ALREF) atau sistem refrigerated sea water (RSW) dengan refrigerasi kompresi uap.  Air laut didinginkan dengan mesin refrigerasi dan selanjutnya air laut dingin digunakan untuk mendinginkan ikan di dalam palka. Di dalam mesin dengan sistem refrigerasi kompresi uap, perpindahan panas terjadi melalui suatu fluida penukar kalor yang sangat penting, disebut Refrigeran. Namun ternyata substansi refrigeran memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan yang dinyatakan dengan pengukuran ODP dan GWP. 

ODP adalah singkatan dari Ozone Depletion Potential, secara harfiah diartikan sebagai Potensi Penipisan Ozon, adalah substansi yang merusak lapisan ozon, relatif terhadap CFC-11. CFC-11 dianggap paling merusak ozon, bernilai ODP maksimum atau 1. ODP adalah ukuran relatif degradasi lapisan ozon yang disebabkan suatu senyawa. ODP merupakan nilai perbandingan degradasi lapisan ozon suatu senyawa dalam satuan massa tertentu terhadap CFC-11 dengan massa yang sama. ODP memiliki potensial merusak lapisan ozon. Dampak  rusaknya ozon adalah sinar ultra violet dari matahari akan langsung memancar ke bumi. Sinar ultraviolet yang langsung memancar ke bumi dapat mengakibatkan penyakit, suhu bumi meningkat dan tidak ada perlindungan terhadap bumi dari benda - benda dari langit yang jatuh ke bumi.

GWP atau Global Warming Potential, secara harfiah disebut potensi pemanasan global, menurut UNEP adalah ukuran dari efek pemanasan global relatif dari berbagai gas. Ukuran tersebut memberikan nilai untuk jumlah panas yang terperangkap oleh massa gas tertentu relatif terhadap jumlah panas terperangkap oleh massa karbon dioksida (CO2) yang sama pada jangka waktu tertentu. Karbon dioksida dipilih oleh Intergovernmental Panel on Climate Chang (IPCC) sebagai gas referensi dan diambil GWP-nya sebagai 1. Semakin tinggi nilai GWP, semakin spesifik gas menghangatkan bumi dibandingkan dengan karbon dioksida. Nilai GWP untuk bahan perusak ozon dapat berkisar misalnya dari 2 hingga sekitar 14.000. GWP dari HFC yang umum digunakan dapat berkisar dari <1 sampai sekitar 12.500. GWP berkontribusi pada pemanasan bumi akibat panas yang terjebak di dalam atmosphere sehingga terjadi apa yang disebut pemanasan global.

Refrigeran terdiri dari banyak jenis sesuai dengan unsur-unsur penyusunnya. Pertimbangan dampak terhadap lingkungan penting dalam pemilihan refrigeran selain kriteria pemilihan yang lain (tingkat penyerapan panas, mudah terbakar, nilai ekonomi, dan lain-lain). United Nations Environmental Programme (UNEP) adalah organisasi PBB yang menangani lingkungan dan saat ini sangat fokus untuk menanggulangi efek ODP dan OWP. UNEP didukung penuh oleh banyak pihak salah satunya ASHRAE. 

Pemilihan refrigeran untuk aplikasi HVAC & R menjadi semakin kompleks. Masalah lingkungan telah mennjadikan potensi perusak ozon (ODP), potensi pemanasan global (GWP), efisiensi energi, dan life-cycle climate performance (LCCP) menjadi hal yang sangat penting. Beberapa negara telah menanggapinya dengan mengembangkan batasan regulasi, protokol internasional, atau perjanjian sukarela. Sejak pelaksanaan Protokol Montreal 1987 (UNEP 2017), chlorofluorocarbons (CFCs) dan hydrochlorofluorocarbons (HCFCs) mengandung klorin (misalnya, CFC-11, CFC-12, HCFC-22, R-502, dan HCFC-123) sedang dihapus karena ODP. Pada Oktober 2016, Amandemen Kigali pada Protokol Montreal (UNEP 2016) dinegosiasikan karena kekhawatiran tentang perubahan iklim, yang mendorong transisi pada pilihan GWP yang lebih rendah juga. Kebutuhan refrigeran GWP yang lebih rendah telah menyebabkan peningkatan pengembangan dan pemanfaatan opsi refrigeran yang mudah terbakar untuk memenuhi target GWP. Akibatnya, standar keselamatan sedang dinilai kembali dan diperbarui untuk memenuhi meningkatnya minat pada cairan kerja yang mudah terbakar atau agak mudah terbakar. Karena standar sedang dikembangkan dan penelitian tentang refigeran baru sedang dilakukan, pergeseran dari hidrofluorokarbon (HFC) untuk menurunkan GWP terjadi di negara maju dan beberapa negara berkembang. 

Masing-masing kelas refrigeran memiliki kinerja dan / atau aspek lingkungan yang menguntungkan masing-masing, tidak ada yang memiliki sifat yang ideal dari keduanya. Bahkan yang disebut refrigeran alami seperti amonia, hidrokarbon, dan karbon dioksida (CO2) memiliki masalah, termasuk sifat mudah terbakar, toksisitas, tekanan tinggi, dan dalam beberapa kasus memiliki efisiensi pengoperasian yang lebih rendah, bergantung pada fluida. Beberapa campuran hydrofluoroolefin (HFO) dan HFC telah dikembangkan untuk mengoptimalkan kinerja dan meminimalkannya aspek negatif. 

Gambaran ODP dan GWP pada refrigeran saat ini ditunjukkan seperti pada Gambar 2. Tampak bahwa refrigeran CFC mempunyai nilai ODP dan GWP yang tinggi, HCFC masih cukup tinggi dan HFC paling rendah. Saat ini refrigeran HCFC sudah dikurangi penggunaanya dan ditargetkan berakhir pada tahun 2030 dan R-22 pada 2020. Beberapa refrigeran HFC masih digunakan karena memiliki nilai ODP dan GWP yang cukup rendah. 

ODP dan GWP pada beberapa refrigeran CFC dan non CFC relatif terhadap CFC-11 (Sumber: World Meteorological Organization)

Beberapa refrigeran yang sudah ada antara lain CFC-11 atau R-11, memiliki nilai GWP 5000 dalam rentang tahun 20 tahun atau 5000 kalinya dampak efek rumah kaca yang disebabkan CO2. HCFC-22 atau R-22 yang saat ini masih banyak digunakan memiliki nilai GWP 4300 dalam rentang tahun 20 tahun atau 4300 kalinya dampak efek rumah kaca yang disebabkan CO2 sedangkan ODP HFC-22 bernilai 0.05 atau 0.05 kalinya besar degradasi lapisan ozon yang disebabkan CFC-11. Untuk HFC-134a memiliki ODP bernilai 0, namun GWP refrigerant tersebut masih bernilai 1300 dalam rentang waktu 100 tahun atau 1300 kalinya dampak efek rumah kaca yang disebabkan  CO2.

Dengan pertimbangan dampak lingkungan, maka nilai ODP dan GWP ini sangat penting untuk diperhatikan pada pemilohan refrigeran. Sebaiknya refrigeran yang dipilih memiliki nilai ODP nol dan GWP yang rendah. Sebaik apapun sistem tetap masih ada kebocoran dan juga adanya pembuangan limbah refrigeran yang dapat terbuang dan merusak lingkungan.

Saat ini banyak sistem pendingin pada kapal ikan di Indonesia yang masih menggunakan R-22 sebagai refrigeran karena saat ini R-22 yang banyak tersedia, sementara jenis refrigeran lain masih terbatas untuk kalangan nelayan. Alternatif refrigeran yang dapat digunakan sebagai pengganti R-22 yaitu R410A dan R-407C karena memiliki ODP nol dan GWP rendah dan kinerja dan suhu kerja yang hampir sama dengan R-22. Alternatif lain pengganti R-22 yaitu R-507A & R-404A dengan mengganti valve dan lubricant namun memiliki tekanan operasi dan kapasitas yang lebih tinggi. R-417a (Nu-22) dapat juga dipilih namun dilaporkan bermasalah pada oli balik dan kapasitas turun pada suhu rendah. Sedangkan pada pembekuan suhu rendah dengan freezer yang menggunakan antara lain CFC 502, dapat dipilih refrigeran alternatif R-404A (HFC) dan R-507A (HFC).


Penulis : Ahmat Fauzi