Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Jumat, 23 Oktober 2020

Satu Tahun Menjabat, Menteri Edhy: Tentu Masih Banyak Kekurangan, tapi Kami Akan Terus Maju

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo

Memasuki usia satu tahun sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengaku semua yang dikerjakannya selama ini baru awalan. Masih banyak pekerjaan rumah dan tantangan yang harus diselesaikan dalam memajukan sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

"Satu tahun ini menjadi momentum awalan untuk terus melaju ke depan. KKP sebagai lembaga, organisasi, kementerian yang siap menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, siap menghasilkan devisa bagi negara," ujar Menteri Edhy dalam keterangan resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jumat (23/10/2020).

Menilik ke belakang, sejatinya banyak hal sudah dilakukan Menteri Edhy selama satu tahun menjabat. Yang paling mendapat banyak apresiasi dari stakeholder kelautan dan perikanan adalah kemudahan perizinan.

Salah satunya izin kapal di atas 30 GT yang kini prosesnya hanya satu jam secara online dari tadinya minimal 14 hari kerja. Sejak diluncurkan Desember 2019, sudah lebih dari 4.000 izin yang dikeluarkan dan menghasilkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) lebih dari Rp470 miliar.

Menteri Edhy juga mempermudah perizinan ekspor produk perikanan. Dia meminta jajarannya melakukan jemput bola dalam melayani pelaku usaha yang ingin melakukan ekspor. Hasilnya fantastis, volume dan nilai ekspor perikanan di semester 1 2020 naik 6,9 persen di tengah pandemi Covid-19.

Soal ekspor hasil perikanan, tidak hanya izin yang mendapat perhatian, tapi juga proses pengiriman. Hasilnya, beberapa daerah, khususnya wilayah Timur Indonesia bisa langsung melakukan ekspor tanpa melalui Jakarta, Surabaya, atau Denpasar.

"Semangat kami bagaimana bisa mengekspor ikan sebanyak-banyaknya. Ini sudah kita lakukan dengan konsep menjemput bola. Terakhir kita sudah buka ekspor langsung dari Manado ke Jepang yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sebelumnya juga dari Palu. Alhamdulillah ini mendapat antusiasme tinggi dari provinsi sekitar itu. Saya pikir ini awalan yang harus terus didorong," tegasnya.

Selain persoalan izin, Edhy juga gencar membangun komunikasi dengan stakeholder kelautan dan perikanan sesuai amanat Presiden Joko Widodo. Mulai dari nelayan, pembudidaya, petambak garam, pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga kementerian/lembaga lainnya.

Komunikasi ini, menurut Edhy, yang menjadi kunci dalam menyelesaikan sejumlah persoalan di sektor kelautan dan perikanan. Sebagai contoh, lahirnya SILAT berkat komunikasi yang baik dengan Kementerian Perhubungan, kemudian masuknya komoditas perikanan dalam bantuan sosial yang dikeluarkan oleh Kementerian Sosial.

"Apa yang sudah dilakukan ini menjadi cambuk, menjadi dorongan bagi kami semua di KKP. Tentu masih banyak kekurangan, tapi saya merasakan ada titik pertumbuhan dan nilai-nilai positif yang mendorong saya semakin yakin dalam memajukan sektor kelautan perikanan ini," ujarnya.

Ke depan, Edhy mengatakan, KKP akan memperbaiki sistem rantai dingin di Indonesia dengan memperbanyak coldstorage. Ini sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus menjaga kualitas ikan.

Riset juga terus dikembangkan karena kebijakan yang dikeluarkan KKP harus berdasarkan kajian. Selain itu, KKP akan terus mendorong penyaluran bantuan pinjaman modal usaha untuk meningkatkan pendapatan dan perbaikan ekomomi masyarakat kelautan dan perikanan.

KKP juga akan memperbanyak kawasan perairan menjadi area konservasi dan menggalakkan penanaman mangrove sebagai upaya pemulihan ekosistem pesisir.

"Kadang ada dua hal yang selalu diperdebatkan. Antara konservasi dan ekonomi. Saya penganut jalan tengah. Kenapa? Karena saya percaya konservasi dan ekonomi bisa berjalan bersama," pungkasnya.


Sumber : KKP


Jumat, 16 Oktober 2020

Hari Pangan Sedunia, Menteri Edhy: Sektor Kelautan dan Perikanan Solusi di Tengah Pandemi


Peringatan Hari Pangan Sedunia 2020 terasa berbeda dari tahun sebelum-sebelumnya karena berlangsung di masa pandemi Covid-19. Bersamaan dengan hari besar yang diperingati di lebih 150 negara ini, ada ancaman naiknya jumlah penderita kelaparan.

Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi 132 juta orang akan menderita kelaparan sampai akhir tahun 2020 karena resesi ekonomi dunia imbas wabah Covid-19. Sebelum pandemi, sudah ada lebih dari dua miliar orang tidak memiliki akses tetap untuk makanan yang aman dan bergizi. Di mana hampir 700 juta orang tidur dalam keadaan lapar.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengakui negara-negara di dunia tengah menghadapi masa-masa sulit karena krisis terjadi di tiga sektor sekaligus, yakni krisis kesehatan, ekonomi, dan juga sosial. Namun Edhy optimistis sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi solusi mendongkrak kembali pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kepercayaan diri ini lantaran ia melihat permintaan hasil perikanan Indonesia tetap tinggi di pasar internasional. Terjadi peningkatan ekspor sebesar 6,9 persen pada semester I 2020 atau setara 2,4 miliar dolar AS.

“Peringatan Hari Pangan satu momentum yang baik, untuk meyakinkan kita bahwa dalam menghadapi sulitnya kondisi saat ini imbas Covid, saya sangat optimis sektor kelautan dan Perikanan menjadi solusi. Baik itu lapangan pekerjaan maupun devisa negara,” ujarnya di Jakarta, Jumat (16/10/2020).

Keyakinan Edhy juga dibarengi dengan fakta bahwa sumber daya ikan Indonesia sangat melimpah. Baik di sektor perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Di perikanan tangkap potensinya mencapai 12,5 juta ton per tahun dan lahan budidaya lebih dari 4,5 juta haktare. Hanya saja, sambung Edhy, hasilnya belum optimal.

Untuk meningkatkan produksi sektor perikanan, Edhy rutin membangun komunikasi dengan banyak pihak. Tidak sebatas dengan stakeholder, tapi juga pemerintah daerah serta kementerian maupun lembaga hingga organisasi dunia, salah satunya FAO.

Edhy mencontohkan beberapa keberhasilan dari komunikasi yang ia bangun, di antaranya harga pakan ikan yang tidak naik di masa pandemi, kemudahan perizinan kapal di atas 30 GT yang kini hanya butuh waktu satu jam, serta masuknya ikan dalam item bantuan sosial.

“Jadi saya pikir, langkah saya membangun komunikasi secara menyeluruh. Terintegrasi. Kalau ini sudah terbuka, komunikasi yang baik, apapun enak,” tegasnya. Untuk menjamin rantai produksi sektor kelautan dan perikanan berjalan di masa pandemi, KKP akan menyalurkan sejumlah bantuan dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional. Di antaranya bantuan gudang pendingin portable, alat tangkap ikan, keramba jaring apung, sarana dan prasana untuk petambak garam. Edhy berharap bantuan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.

Edhy memastikan, kebijakan KKP tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi tapi juga keberlanjutan. Menurutnya, menyeleraskan dua sisi tersebut merupakan perintah konstitusi bukan sebatas jargon, sehingga menjadi kewajiban semua pihak untuk mematuhi termasuk kementerian yang ia pimpin. “Keberlanjutan tanpa pertumbuhan adalah kerugian, tapi pertumbuhan mengabaikan keberlanjutan adalah kehancuran,” tegasnya.

Sementara itu, Tema Hari Pangan Sedunia tahun ini “Tumbuhkan, Pelihara, Lestarikan Bersama. Tindakan kita adalah Masa Depan kita” menyerukan untuk membangun kembali dengan sistem pangan yang lebih baik dan pertanian yang lebih tangguh dan kuat.

“Lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan inovasi dan kemitraan yang kuat. Setiap orang memiliki peran untuk dilakukan mulai dari pemerintah, swasta hingga individu untuk memastikan makanan sehat dan bergizi tersedia untuk semua ,” ungkap Victor Mol, Perwakilan FAO di Indonesia.

KKP bersama GEF/FAO sedang menjalankan GEF/FAO ISLME Project serta iFISH. Substansi dan tujuan kedua proyek ini adalah mendorong pengelolaan perikanan skala kecil dan menjamin berjalannya pengelolaan sumber daya ikan sesuai kaidah keberkelanjutan.

Hari Pangan Sedunia tahun ini juga memberikan kesempatan untuk berterima kasih kepada Pahlawan Pangan meliputi petani, nelayan , komunitas hutan dan pekerja di seluruh rantai pasokan makanan yang dalam keadaan apa pun, terus menyediakan makanan untuk komunitas mereka dan sekitarnya.

Pahlawan Pangan terus bekerja dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berubah. Hal ini menunjukkan ketangguhan para pahlawan pangan dan pentingnya menjaga rantai pangan tetap hidup.

Memperingati Hari Pangan Sedunia ini FAO Indonesia mengadakan serangkaian kegiatan di bulan Oktober bertajuk “Food Heroes Festival” yang berpusat pada kegiatan-kegiatan virtual. 75 Tahun FAO Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia ini, FAO berusia 75 tahun.

FAO berdiri pada 16 Oktober 1945 beberapa hari sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa didirikan untuk membangun pertanian dan menyediakan makanan yang cukup dan bergizi bagi semua orang. Kehancuran massif perang Dunia II yang menimbulkan jutaan korban meninggal dunia baik karena perang maupun kelaparan merupakan latar belakang berdirinya FAO.

“FAO lahir di tengah bencana. Situasi saat Pandemi COVID-19 semakin menjelaskan bahwa misi FAO hari ini tak berubah sejak FAO berdiri 75 tahun lalu. Pandemi COVID-19 mengingatkan kita bahwa kecukupan dan keamanan pangan bergizi dan pola makan yang sehat penting untuk semua orang, " tegas Victor.

Sekarang, FAO memiliki 194 negara anggota dan bekerja di lebih dari 130 negara di seluruh dunia.


Sumber ; KKP

Rabu, 14 Oktober 2020

Sharing Session : Penyimpanan Rumput Laut Kering Menggunakan Mini Bunker Untuk Mempertahankan Mutunya

Peneliti LRMPHP sampaikan hasil riset secara live streaming

Peneliti LRMPHP Bantul, Putri Wullandari dan Ahmad Fauzi, menyampaikan hasil riset tentang “Penyimpanan Rumput Laut Kering Menggunakan Mini Bunker untuk Mempertahankan Mutunya” dalam acara sharing session BRSDMKP secara live streaming melalui link https://www.youtube.com/user/datinification pada tanggal 14 Oktober 2020. Sharing session ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), sebagai salah satu ajang berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman. 

Pada kesempatan ini dipaparkan hasil riset mengenai penyimpanan rumput laut Eucheuma cottonii kering di dalam alat penyimpan rumput laut dengan pengontrol suhu dan RH (mini bunker rumput laut) dengan kapasitas 25 kg selama 7 minggu. Tujuan riset ini untuk mengetahui pengaruh penyimpanan Eucheuma cottonii kering di dalam mini bunker terhadap sifat fisik, kimia dan mikrobiologisnya jika dibandingkan dengan penyimpanan secara konvensional (penyimpanan di dalam karung kemudian ditumpuk di dalam gudang yang tidak memiliki pengontrol suhu dan RH). 

Penyampaian materi Sharing session oleh Peneliti LRMPHP

Eucheuma cottonii kering disimpan di dalam mini bunker dan karung selama 7 minggu, kemudian dianalisa kadar airnya, impurities, Clean Anhydrous Weed (CAW), kontaminasi jamur dan kadar garam. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan dianalisa secara statistik. Mini bunker yang digunakan memiliki kapasitas 25 kg, volume 0.45 m3, dimensi ruangan 0,9 x 0,8 x 0,6 m, input dan output dilakukan secara manual, blower 0,5 hp, dan sumber udara dari chiller. Hasil riset menunjukkan bahwa kadar air dari Eucheuma cottonii yang disimpan dalam mini bunker dan karung yaitu 12,22% dan 20,37%, impurities 0,74% dan 1,87%, CAW 40,42% dan 39,17%, kontaminasi jamur (dinyatakan dengan Angka Kapang Khamir) 610 cfu/g dan 676,67 cfu/g, kadar garam 23,61% dan 19,03%. Berdasarkan data hasil riset tersebut bahwa penyimpanan Eucheuma cottonii kering dalam mini bunker berpengaruh secara signifikan terhadap kadar air, impurities dan kadar garam Eucheuma cottonii kering tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai CAW dan Angka Kapang Khamir.  

Sharing session yang disiarkan  secara live streaming melalui link you tube BRSDMKP ini disaksikan 157 viewers saat live. Beberapa pertanyaan disampaikan selama live streaming diantaranya keunggulan dan harga jual mini bunker. 


Jumat, 09 Oktober 2020

Survei Kajian Cepat Susut Hasil dan Limbah Pangan Bergizi di Kab. Gunungkidul

Berdasarkan memorandum Sekretaris Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) nomor 1208/BRSDM.1/ KS.110/III/2020 tanggal 4 Maret 2020 tentang Pelaksanaan kerjasama dalam kegiatan pengumpulan data dan kajian cepat tentang susut dan limbah ikan bergizi pascapanen, BRSDMKP bekerjasama dengan Jejaring Pascapanen dan Gizi Indonesia (JP2GI) melaksanakan kajian cepat di 15 lokasi di seluruh Indonesia. Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan sebagai salah satu UPT BRSDMKP, mendapatkan mandat dari BRSDMKP untuk melaksanakan kajian cepat tersebut dengan lokasi di wilayah Kabupaten Gunung Kidul.

Pelaksanaan dan metode survei dilakukan melalui observasi dan wawancara dengan pelaku usaha menggunakan modul kuisioner EFLAM susut hasil perikanan dan kuisioner EFLAM fish waste yang merujuk pada FAO. Jenis kuisioner mengacu pada buku panduan kajian cepat yang diterbitkan oleh JP2GI. Survei terhadap pelaku usaha diantaranya nelayan dengan tangkapan jenis ikan dominan yang dipasarkan lokal, pedagang pengumpul, pedagang pengecer, pengolah ikan, penjual produk makanan berbasis ikan (sari laut dan restoran campuran), konsumen ikan rumah tangga, dan usaha catering dengan jumlah responden untuk masing-masing kategori antara 2-3 responden. 






Pelaksanaan survei di pelaku usaha perikanan Kab. Gunung Kidul





Kamis, 01 Oktober 2020

LRMPHP Bantul Ikuti Workshop Tata Kelola Kerjasama Riset dan SDM KP

LRMPHP ikuti Workshop Tata Kelola Kerjasama Riset dan SDM KP secara daring

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, LRMPHP Bantul mengikuti Workshop Tata Kelola Kerjasama Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan pada tanggal 28-30 September 2020 yang diselenggarakan di Hotel Aston Sentul Lake Resort and Conference Center – Bogor secara daring (aplikasi zoom). Workshop dalam rangka membudayakan penyelenggaraan kerja sama yang  melembaga, sesuai aturan, akuntabel dan menambah ketrampilan aparatur pelaksana kegiatan kerjasama, diikuti oleh Pusat dan Unit Kerja Lingkup BRSDMKP. Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan ketaatan aparatur pelaksana kerjasama lingkup BRSDM terhadap implementasi peraturan perundang undangan terkait kegiatan kerjasama untuk mewujudkan pelaksanaan kegiatan kerjasama yang melembaga dan akuntabel.

Kegiatan workshop dibuka oleh Kepala BRSDM Prof. Sjarief Widjaja, sebelumnya diawali dengan pengantar laporan kegiatan oleh Sekretaris BRSDM Dr. Kusdiantoro, dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Nota Kesepahaman (NK) lingkup BRSDM dengan  Direktorat Jenderal Pembinaan, Pelatihan dan Produktifitas Kementerian Tenaga Kerja, Pemerintah Daerah Kabupaten Batubara, Dinas Sosial Kabupaten Batubara dan  Dinas Perikanan Kabupaten  Bangka Tengah. Beberapa pejabat yang hadir pada acara ini diantaranya Kepala Pusat Riset Kelautan Dr. I Nyoman Radiarta didampingi oleh Kepala Bagian Tata Usaha Theresia Lolita, M.Si. dan Kepala Subbagian Keuangan B. Realino, M.Si., Kepala Pusat Riset Perikanan Yayan Hikmayani, M.Si. didampingi oleh Kepala Bagian TU Dra. Hera Rusida, M.M dan Kepala Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Dr. Rudi Alek Wahyudin serta pejabat eselon 3 dan 4 Sekretariat BRSDM.

Kegiatan workshop dilaksanakan selama tiga hari dengan 3 sesi, yakni pada hari pertama sesi updating kerjasama, hari kedua sesi paparan narasumber dan hari ketiga sesi coaching clinic. Beberapa narasumber diantaranya dari Direktorat Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerja Sama Daerah - Kementerian Dalam Negeri, Biro Perencanaan KKP, Biro Hukum dan Organisasi KKP, Biro Keuangan KKP, Badan Inteligen Negara dan Tim Koordinasi Pemberian Izin Penelitian Asing Kementerian Riset dan Teknologi /BRIN, serta Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri dan Biro Sumber Daya Manusia Aparatur  Sekretariat Jenderal KKP. Sesi coaching clinic hari ketiga disampaikan Materi Teknik Dasar Negosiasi untuk meningkatkan kemampuan aparatur kerjasama dalam mewujudkan kegiatan kerja sama yang efektif dan tepat sasaran mendukung program prioritas oleh Pengajar Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri dan dilanjutkan dengan diskusi serta simulasi negosiasi.


Jumat, 25 September 2020

LRPT Benoa Kunjungi LRMPHP Bantul

LRMPHP menerima kunjungan LRPT Benoa

Jumat (25 September 2020), Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan – Bantul menerima kunjungan studi banding dari Loka Riset Perikanan Tuna – Benoa (LRPT – Benoa, Denpasar). Tim dari LRPT dipimpin oleh Kepala Subseksi Tata Operasional Bapak Eka Karya Budi, dengan diikuti oleh Kasubsi Pelayanan Teknis (Bapak Noor Muhamad), Pengelola Kepegawaian (Bapak Jumariadi) dan jajaran Tata Operasional LRPT.

Rombongan dari LRPT ini diterima oleh Kepala LRMPHP, Koordinator Tata Operasional, Koordinator Tata Usaha dan tim manajerial LRMPHP. Kepala LRMPHP menyampaikan selamat datang dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan dari LRPT untuk studi banding, meskipun dalam banyak hal justru LRPT lebih unggul dan LRMPHP memerlukan banyak sharing pengalaman dari LRPT dalam pengelolaan manajerial.  

Materi diskusi dan sharing pengalaman manajerial diantaranya yaitu terkait pengelolaan kinerja, pengelolaan konten website, dan pengelolaan kepegawaian. Masing-masing penanggungjawab dari LRMPHP dengan sigap menanggapi diskusi dan pertanyaan dari tim LRPT.


Selasa, 15 September 2020

Monitoring Alat Pemindang Ikan Higienis di UKM Gunung Kidul

Monitoring alat pemindang higienis di UKM Pendang Mendak Lestari

Monitoring penggunaan alat hasil riset LRMPHP oleh UKM/pelaku usaha perikanan dilakukan dalam rangka jejaring kerja sama dan pemanfaatan hasil riset. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan kegiatan pemanfaatan dan uji kinerja peralatan alat pemindang ikan yang dihasilkan LRMPHP dengan UKM Pindang Mendak Lestari dan UKM Gesing Asri. UKM Pindang Mendak Lestari merupakan kelompok pengolah dan pemasar (poklahsar) produk perikanan yang berkedudukan di Padukuhan Mendak, Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari, sedangkan UKM Gesing Asri berkedudukan di Pantai Gesing Padukuhan Bolang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunung Kidul.

Kegiatan monitoring di UKM Pindang Mendak Lestari dihadiri oleh Kepala Loka Riset Mekanisasi Pengolahan hasil Perikanan (LRMPHP), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunung Kidul dan UKM pengguna alat pemindang ikan sebagai mitra riset LRMPHP. Kepala LRMPHP, Luthfi Assadat menyampaikan kegiatan monitoring ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan peralatan hasil riset LRMPHP bagi UKM. Selain itu kendala yang dihadapi UKM selama penggunaan alat dapat dijadikan feedback untuk perbaikan peralatan kedepannya agar dapat dimanfaatkan lebih optimal. Hal serupa juga disampaikan oleh DKP Gunung Kidul yang diwakili oleh Noor Ichsan dan Mahendra bahwa monitoring ini berguna untuk pengembangan peralatan, sehingga informasi penggunaan alat oleh UKM baik dari segi teknis maupun nonteknis agar disampaikan kepada LRMPHP.

Diskusi bersama DKP Gunung Kidul dan UKM Pindang Mendak Lestari

Pelaksanaan monitoring terhadap UKM dilakukan dengan cara wawancara, diskusi dan pengamatan langsung. Ketua UKM Pindang Mendak Mandiri, Ibu Marsinah menyampaikan bahwa pengoperasian alat pemindang secara umum cukup mudah dan belum menemui kendala yang berarti. “Alat pemindang ini praktis dan higienis, lebih memudahkan dalam pengolahan pindang, “ tuturnya. Hingga saat ini operasional alat baru dilakukan dua kali karena keterbatasan bahan baku ikan. Bahan baku biasanya didatangkan dari TPI Ngrenehan, namun ketersediaanya belum mencukupi karena faktor cuaca. Ikan yang diolah berupa ikan lisong, layang benggol, dan teropong dengan kapasitas 35 dan 40 kg. Dengan durasi pemindangan selama 2 jam diperlukan konsumsi bahan bakar gas elpiji sebanyak 5,5 kg untuk 2 kali pengolahan. Pemasaran ikan pindang biasanya dilakukan dengan penjualan langsung ke warga di wilayah Ngrenehan maupun melalui media sosial dengan harga jual Rp. 10.000 s/d Rp. 12.000. Meskipun belum maksimal, namun usaha pemindangan ini sudah mampu menggerakkan dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pemindangan di UKM Gesing Asri

Sementara itu, UKM Gesing Asri melakukan penambahan rempah-rempah dalam proses pemindangan untuk menambah citarasa. Pemindangan di UKM Gesing Asri menggunakan alat pemindang Tipe H, berbeda dengan di UKM Pindang Mendak Lestari (Tipe L). Pemindangan dengan Tipe H  dilakukan selama 2 jam menghabiskan gas sebanyak 3 kg untuk 2 kali proses pemindangan. Ikan pindah dikemas dengan plastik mika berisi 2-3 ekor tergantung ukuran ikan dan dijual Rp. 5.000,- /kemasan. Harga ini masih dirasa tinggi oleh sebagian konsumen karena biasanya satu mika plastik berisikan 4-5 ekor. Tingginya harga jual tersebut disebabkan kurangnya ketersediaan bahan baku ikan sehingga harganya ikut naik. Namun hal ini dapat disiasati dengan mengurangi jumlah ikan per kemasan agar harga jual ikan pindang tetap sama. Pemasaran ikan pindang biasanya dilakukan dengan penjualan langsung di wilayah sekitar Gesing maupun melalui pedagang yang mengambil untuk dipasarkan lagi. Ibu Poniati selaku Ketua UKM Gesing Asri menyampaikan bahwa meskipun hasil penjualan belum maksimal namun sudah mendapat keuntungan. UKM ini berharap musim ikan segera tiba sehingga ketersediaan bahan baku ikan akan melimpah dan  proses pemindangan dapat dilakukan secara kontinyu.

Beberapa kendala baik secara teknis maupun non teknis dihadapi UKM diantaranya terkait produk hasil pemindangan terlihat kurang menarik karena tidak utuh, kering dan terdapat sisa garam yang menempel pada ikan. Namun hal ini sudah diatasi dengan teknik penggaraman melalui perendaman ikan dalam larutan garam. Selain itu pengemasan ikan pindangpun hanya menggunakan plastik/mika dialasi daun pisang sehingga kurang menarik minat pembeli. Berbagai kendala tersebut akan dijadikan bahan masukan bagi LRMPHP untuk melakukan pendampingan lanjutan dalam rangka jejaring kerja sama dan pemanfaatan hasil riset agar lebih bermanfaat bagi masyarakat.


Jumat, 11 September 2020

Peneliti LRMPHP Berpartisipasi pada Seminar Nasional dan Diseminasi Teknologi serta Gelar Produk UMKM Kelautan Perikanan Tahun 2020

Peneliti LRMPHP memaparkan hasil riset

Peneliti LRMPHP berpartisipasi pada Seminar Nasional dan Diseminasi Teknologi serta Gelar Produk UMKM Kelautan Perikanan Tahun 2020 secara daring via Zoom dan YouTube. Seminar ini diselenggarakan oleh Politeknik Ahli Usaha Perikanan bekerjasama dengan Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII), Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI), Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia (IPKANI), Mina Kelana Indonesia dan Conservation International (CI) pada tanggal 7 – 8 September 2020. Seminar dan diseminasi ini mengambil tema “Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan Untuk Kesejahteraan Bangsa”. 

Seminar Nasional dibuka oleh Kepala BRSDMKP Prof. Ir. Sjarief Widjaja, Ph.D, FRINA yang mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa tema Seminar Nasional dan Diseminasi Teknologi Kelautan dan Perikanan ini sangat tepat. “Sesuai dengan tema, yakni, sumberdaya perikanan berkelanjutan untuk kesejahteraan bangsa. Seminar ini merupakan bagian dari upaya pemanfaatan perikanan secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahateraan nelayan dan pembudidaya ikan, pemenuhan gizi masyarakat, memperluas lapangan kerja dan peluang usaha, serta peningkatan ekspor untuk devisa negara yang dapat menjamin keberlangsungan usaha perikanan”. Pada Seminar Nasional ini menghadirkan beberapa narasumber utama antara lain Prof. Ir. Sjarief Widjaja, Ph.D, FRINA, selaku Kepala BRSDM KP; Dr. Tb Haeru Rahayu, A.Pi, M.Sc selaku Dirjen PSDKP-KKP; Dr. Bambang Suprakto, A.Pi, S.Pi, MT., - Kepala Pusat Pendidikan KP, Dr. Ateng Supriatna, A.Pi, M.Si, - Conservation International, dan Prof. Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc. – Ketua Dewan Pengawas Masyarakat Iktiologi Indonesia. 

Seminar Nasional dan Diseminasi Teknologi Kelautan dan Perikanan ini diikuti oleh 85 presenter yang terdiri dari 18 presenter bidang Akuakultur, 2 presenter bidang Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, 13 presenter bidang Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, 22 prsenter bidang Pengolahan Hasil Perikanan, 8 presenter bidang Penyuluhan Perikanan, 8 presenter bidang Permesinan Perikanan, 12 presenter bidang Teknologi Penangkapan Ikan, serta 2 presenter bidang Teknologi Kelautan. 

Pada seminar tersebut dua peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) mempresentasikan karya tulis ilmiah. Iwan Malhani Al Wazzan, M.Sc. mempresentasikan makalah dengan judul “Pengaruh Penyimpanan E. Cottonii Kering dalam Alat Penyimpan Rumput Laut Terhadap Kadar Air, CAW dan Impuritiesnya”, dan Wahyu Tri Handoyo, S.T. memperesentasikan makalah dengan judul “Rancang Bangun Alat Pengayak Rumput Laut Kering Sistem Getar”.

Jumat, 04 September 2020

Peneliti LRMPHP Paparkan Hasil Riset Pada Semnaskan UGM XVII 2020

Peneliti LRMPHP paparkan hasil riset dalam bentuk poster di Semnaskan UGM XVII

Peneliti LRMPHP berpartisipasi pada Seminar Nasional Tahunan XVII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan & Pertemuan Ilmiah Ke-12 MPHPI Tahun 2020 yang diselenggarakan  secara daring via Zoom dan Youtube oleh Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada tanggal 1– 4 September 2020. Seminar dan pertemuan ilmiah tahun ini mengambil tema “Inovasi dan Komersialisasi Penelitian Hasil Perikanan untuk Mendukung Transformasi Ekonomi Indonesia”. Semnaskan UGM XVII tahun ini berkolaborasi dengan Pertemuan Ilmiah Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan (MPHPI) Ke-12 dengan tujuan untuk mewadahi pertemuan para peneliti bidang perikanan dan kelautan, pelaku usaha perikanan, pemerintah (pengambil kebijakan) dan seluruh pemangku kepentingan bidang perikanan dan kelautan, untuk membahas capaian hasil penelitian yang telah dilakukan.

Seminar dilandasi dari peran perguruan tinggi dan lembaga riset untuk memproduksi dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi perikanan dan kelautan dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing bangsa. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh berbagai perguruan tinggi dan institusi riset diharapkan dapat memberikan manfaat untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan industri perikanan dan kelautan yang berdaya saing. Karena itu, diseminasi hasil-hasil penelitian melalui seminar atau berbagai pertemuan ilmiah lainnya diharapkan dapat memperkuat pertukaran informasi, komunikasi maupun sinergi dan kolaborasi antar para peneliti dalam rangka memperkuat basis pengembangan keilmuan dan teknologi perikanan dan kelautan. 

Pelaksanaan Semnaskan UGM XVII dan Pertemuan Ilmiah ke-12 MPHPI tahun 2020 secara virtual dan online (aplikasi zoom dan youtube) dengan rangkaian acara yaitu sesi pleno dan sesi paralel (presentasi). Sesi pleno meliputi Sambutan Rektor Universitas Gadjah Mada, Pelantikan Korwil MPHPI tingkat Provinsi/Wilayah se-Indonesia,  Pembicara Kunci  dan Pembicara Khusus. Pembicara Kunci Pertama yaitu Dr. Edhy Prabowo, S.E., M.M., M.B.A. (Menteri Kelautan dan Perikanan RI), Pembicara Kunci Kedua Dr. Penny Kusumastuti Lukito, M.C.P. (Kepala Badan POM RI), Pembicara Kunci Ketiga Dr. Amir Husni, M.P.(Universitas Gadjah Mada), Pembicara Kunci Keempat Ir. Ady Surya(Ketua Umum MPHPI) dan Pembicara Khusus Ir. Supari, M.Si.(Direktur BRI dan Wakil Ketua Umum MPHP).

Pada sesi paralel (presentasi) diikuti oleh 206 presenter, berasal dari lingkungan perguruan tinggi, lembaga penelitian, perusahaan (BUMN dan swasta), organisasi non pemerintah, pengambil kebijakan, mahasiswa dan masyarakat pengguna ilmu pengetahuan dan teknologi perikanan dan kelautan. Hasil penelitian yang dipresentasikan mencakup bidang budidaya perikanan (akuakultur, dummy, genetika dan pembenihan ikan, kesehatan ikan, nutrisi dan pakan ikan), manajemen sumberdaya perikanan (biologi perikanan, ekologi perairan, manajemen sumber daya perikanan, sosial ekonomi perikanan), dan teknologi hasil perikanan (mikrobiologi dan bioteknologi hasil perikanan, mutu dan keamanan produk perikanan, pangan fungsional produk akuatik, pascapanen hasil perikanan).

Peneliti LRMPHP paparkan hasil riset secara oral di Semnaskan UGM XVII

Peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) juga berpartisipasi dalam seminar/pertemuan ilmiah ini, yaitu  Putri Wullandari, I Made Susi Erawan, Ahmat Fauzi dan Toni Dwi Novianto. I Made Susi Erawan mempresentasikan makalah dengan judul “Perancangan dan Simulasi Aliran Udara pada Lemari Peniris Tahu Bakso Tuna Model Kabinet Vertikal” dalam kelas Teknologi Hasil Perikanan. Putri Wullandari menyampaikan makalah poster berjudul “Pengaruh Penyimpanan Eucheuma cottonii Kering dalam Mini Bunker Penyimpan Rumput Laut terhadap Mutu Karaginan yang Dihasilkan” dalam kelas Teknologi Hasil Perikanan. Ahmat Fauzi menyampaikan presentasi berjudul “Pengaruh Perlakuan Pengayakan dan Penjemuran terhadap Kadar Air dan Impurities Eucheuma cottonii Kering Pra Penyimpanan” dalam kelas Teknologi Hasil Perikanan dan “Uji Pengeringan Pakan Ikan Terapung dengan Pengering Rotary Drier” dalam kelas Budidaya Perikanan. Sedangkan Toni Dwi Novianto menyampaikan makalah poster berjudul “Analisis Struktur Mikro Nugget Ikan menggunakan Scanning Electron Microscopy” dalam kelas Teknologi Hasil Perikanan.


Kamis, 27 Agustus 2020

Peneliti LRMPHP Raih BEST PRESENTER ICGAB 2020

Sertifikat best presenter ICGAB 2020 yang diraih peneliti LRMPHP

Peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), Putri Wullandari dari tim desain dan rancangbangun mesin pengemas penghasil bioplastik ramah lingkungan meraih best presenter pada 4th International Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy (ICGAB) 2020. ICGAB merupakan ajang pertemuan ilmiah tahunan para ilmuwan dari berbagai negara yang diselenggarakan  oleh Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya (FTP UB). ICGAB tahun 2020 ini mengambil tema “Emerging Technology and Integrated Information System for Sustainable Agroindustry” dan diselenggarakan secara daring karena pandemi Covid-19.

Putri Wullandari terpilih menjadi best presenter atau penyaji terbaik untuk tiga bidang yaitu agroindustrial production system management and regulation; fisheries and marine resources technology, dan animal welfare and technology. Pada bidang ini terdapat 25 makalah yang dipresentasikan secara oral. Selain itu masih ada beberapa bidang lain yang dipresentasikan dalam ICGAB 2020 yaitu Food Safety and Security, Agricultural Engineering, Agricultural Product Technology, Renewable Energy And Biorefinery, Waste And Environmental Management, Health, Nutrition and Medical Microbiology, Industrial Biotechnology and Bioprocessing, Food Microbiology, Agro Forestry and Biodiversity, dan Bioeconomy and Biobusiness.

Peneliti LRMPHP ikuti ICGAB 2020 secara daring

Pada ICGAB 2020, Putri Wullandari mempresentasikan makalah secara oral dengan judul Characteristic Differences between Semi Refined Carrageenan and Refined Carrageenan Flours Used in The Making of Biofilm (Bioplastic). Dalam paparannya disampaikan bahwa sifat fisik, mikrobiologis dan termal dari bahan baku tepung semi refined carrageenan (SRC) dan refined carragenan (RC) yang diperoleh dari Eucheuma cottonii, dianalisa sebagai bagian dari penelitian pendahuluan untuk pembuatan biofilm atau bioplastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel untuk tepung SRC dan RC masing-masing yaitu 60 dan 80 mesh, pH tepung SRC dan RC yaitu 8 dan 7, kadar air tepung SRC dan RC masing-masing yaitu 7,9 dan 8%, kekuatan gel tepung SRC dan RC yaitu 560 g / cm2 and 1140 g / cm2, viskositas tepung SRC dan RC masing-masing yaitu 80 mPas dan 35 mPas. Secara keseluruhan dari uji mikrobiologis dapat disimpulkan bahwa tepung SRC dan RC ini aman digunakan untuk aplikasi pada makanan. Sementara itu, analisis termal menunjukkan bahwa titik leleh tepung SRC dan RC masing – masing yaitu 168°C dan 175°C.


Rabu, 26 Agustus 2020

Peneliti LRMPHP Ikuti Seminar Internasional ICGAB 2020

Peneliti LRMPHP Ikuti ICGAB 2020 secara daring

Peneliti LRMPHP ikut berpartisipasi pada 4th International Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy (ICGAB) 2020 yang diselenggarakan  secara daring oleh Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya (FTP UB) pada 25 Agustus 2020. ICGAB 2020 mengambil tema “Emerging Technology and Integrated Information System for Sustainable Agroindustry”. Konferensi ini bertujuan untuk mengkomunikasikan dan menyebarluaskan pengalaman penelitian, inovasi teknologi, kemajuan penelitian dan teknologi, serta studi kasus terkait agroindustri berkelanjutan. 

Tema ICGAB 2020 sesuai dengan tantangan teknologi yang dihadapi di era digitalisasi dan menyongsong agroindustry 4.0, dimana penguasaan terhadap teknologi, inovasi, dan sistem informasi menjadi sebuah keharusan dan hal penting untuk mencapai agroindustry cerdas dan berkelanjutan (smart and sustainable agroindustry). Keberlanjutan agroindustry juga menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh industri berbasis hasil pertanian, ataupun juga non hasil pertanian. Selain itu, kesimbangan lingkungan harus tetap dijaga pada saat melakukan kegiatan ekonomi ataupun produksi, untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu pemenuhan kebutuhan generasi saat ini tidak mengurangi pemenuhan kebutuhan generasi dimasa datang.

Pelaksanaan ICGAB 2020 secara virtual dan online (aplikasi zoom) menghadirkan 5 pembicara kunci dari berbagai negara yaitu Rossana Marie Amongo, PhD (University of the Philippines Los Baños, Los Baños, the Phillipines) dengan tema “Land Consolidation (Contiguous Farming) for Sustainable Crop Production for the Agro-industry, Ir. Mohd Fazly bin Mail P.Eng., M.I.E.M (Malaysian Agricultural Research and Development Institute, Malaysia) dengan tema “How Modern Farming Can Sustain the Agriculture Industry?”, Assoc. Prof. Grause Guido (Tohoku University, Japan) dengan tema “Microplastic in Soil – A New Risk for the Future of Food Security?”, Assoc. Prof. Yasmin Sultanbawa (The University of Queensland, Australia) dengan tema “The Role of Underutilised Plant Foods in Developing a Sustainable Agroindustry” dan Prof. Teti Estiasih (Universitas Brawijaya, Indonesia dengan tema “Valorisation of Food and Agroindustrial Wastes as the Sources of Bioactive Compounds”).

ICGAB 2020 diikuti hampir 300 peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, Jepang, Filipina dan Korea Selatan. Tema yang dipresentasikan dalam ICGAB 2020 meliputi bidang Food Safety and Security, Agricultural Engineering, Agricultural Product Technology, Agroindustrial Production System Management and Regulation, Renewable Energy And Biorefinery, Waste And Environmental Management, Health, Nutrition and Medical Microbiology, Industrial Biotechnology and Bioprocessing, Food Microbiology, Agro Forestry and Biodiversity, Fisheries and Marine Resources Technology, Animal Welfare and Technology, dan Bioeconomy and Biobusiness.

Peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), Putri Wullandari dan I Made Susi Erawan tergabung dalam kelompok presentasi bidang agroindustrial production system management and regulation; fisheries and marine resources technology, dan animal welfare and technology.  Putri Wullandari memaparkan secara oral makalah dengan judul Characteristic Differences between Semi Refined Carrageenan and Refined Carrageenan Flours Used in The Making of Biofilm (Bioplastic), sedangkan I Made Susi Erawan memaparkan makalah berjudul Data Integration of Humidity Sensor and Image Texture for Water Content Prediction of Gracilaria sp. During Sun Drying.


Selasa, 25 Agustus 2020

Uji Coba Lapang Alat Pengayak Rumput Laut Sistem Getar


Alat pengayak rumput laut sistem getar ini adalah salah satu rangkaian alat pada rancang bangun dan pengembangan serangkaian alat sortasi dan grading kualitas rumput laut. Pelaksanaan uji coba lapang ini bertujuan untuk mendapatkan data-data lapang dan masukan dari pengguna sehingga alat siap digunakan oleh stakeholder. Pelaksanaan uji coba lapang dilakukan di UD. Rumput Laut Mandiri Dusun Duwet, Wonosari, Gunungkidul. 

Uji coba lapang dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahapan pertama yaitu seting alat di lokasi yang disesuaikan dengan keadaan di lokasi tersebut. Seting alat yang dilakukan meliputi pengaturan posisi alat, pengaturan tempat hasil pengayakan dan pengotor, dan pengaturan kecepatan putaran motor penggerak. Tahapan kedua yaitu persiapan rumput laut. Persiapan dilakukan dengan menimbang berat rumput laut yang diayak yaitu 5 kg untuk sekali pengayakan. Bahan baku yang digunakan adalah rumput laut yang terdapat di UD. Rumput Laut Mandiri yang belum mengalami proses pembersihan/pengayakan. Tahapan selanjutnya adalah pengayakan rumput laut. Rumput laut diayak dengan tiga variasi frekuensi inverter yaitu 30 Hz, 40 Hz dan 50 Hz yang berpengaruh terhadap kecepatan putaran motor penggerak. Kecepatan putaran motor tersebut akan mempengaruhi tingkat getaran/goyangan alat pengayak.

Penimbangan rumput laut

Pengayakan rumput laut

Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengayakan 5 kg rumput laut E. Cottonii mendapatkan jumlah pengotor pada kisaran 10 % dari berat rumput laut. Sedangkan untuk rumput laut Gracilaria Sp. mendapatkan jumlah pengotor pada kisaran 2 % dari berat rumput laut. Kecepatan pengayakan yang dikontrol melalui frekuensi inverter berpengaruh terhadap waktu pengayakan dan jumlah pengotor yang diperoleh. Proses pengayakan akan semakin cepat jika kecepatan pengayak semakin cepat dan sebaliknya. Tetapi karena rumput laut semakin cepat turun, maka tingkat pengayakan menjadi tidak optimal. Hasil uji coba menunjukan bahwa kecepatan pengayakan optimal pada frekuensi inverter 40 Hz.

Secara keseluruhan uji coba lapang berjalan dengan baik. Dari hasil uji lapang diperoleh beberapa poin penting terkait alat pengayak rumput laut, diantaranya yaitu :  1) Pengayak rumput laut menggunakan motor listrik yang tidak terlalu besar yaitu 0.5 HP sehingga listrik rumah tangga seperti di UD. Rumput Laut Mandiri mampu memenuhi kebutuhan listrik untuk pengoperasian alat, 2) Penempatan alat pengayak harus ditanam ke beton atau tanah karena alat bergerak akibat gaya dorong sistem reciprocating. Selain ditanam alat juga bisa diberi pemberat supaya tidak bergeser, 3) Pengoperasian alat mudah karena hanya menggunakan satu saklar ON/OFF untuk menjalankan alat. Tetapi pada pengoperasian untuk menentukan kecepatan optimal pengayakan harus merubah frekuensi inverter, 4) Proses pengayakan cepat, tergantung kecepatan pengayak, semakin cepat pengayak maka rumput laut akan semakin cepat turun, tetapi proses pengayakan menjadi tidak optimal, 5) Kendala yang dihadapi pada uji coba lapang adalah penempatan alat pengayak yang harus ditanam atau diberi beban, hal ini menyebabkan alat pengayak tidak mudah untuk dipindah-pindahkan. 


Rabu, 19 Agustus 2020

KKP Luncurkan Pasar Laut Indonesia dan Sistem Resi Gudang Ikan



Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menunjukkan konsistensi dalam mendukung tumbuh dan berkembangnya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tanah air. Terbaru, KKP melakukan soft launching Pasar Laut Indonesia dan Sistem Resi Gudang Ikan (SRG Ikan) di Jakarta, Rabu (19/8/2020).

Soft Launching Pasar Laut Indonesia ditandai dengan peluncuran website dan akun media sosial BBI–KKP oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersama Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki. Peluncuran Pasar Laut Indonesia merupakan salah satu bagian dari Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada pertengahan Mei 2020.

"Ini menggairahkan sektor kelautan dan perikanan, karena mayoritas dari sektor ini adalah para pelaku usaha kecil," ujar Menteri Edhy dalam acara itu.

Pasar Laut Indonesia merupakan kegiatan untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas Usaha Mikro-Kecil sektor kelautan dan perikanan melalui fasilitasi dan bimbingan teknis dalam peningkatan akses dan perluasan skema pembiayaan, peningkatan kualitas SDM, peningkatan nilai tambah produk, peningkatan dan perluasan jangkauan pemasaran, dan penguatan kelembagaan usaha.

Dalam rangka mempermudah proses pembinaan dan pendampingan melalui Pasar Laut Indonesia, KKP membagi UMKM dalam tiga kategori, yaitu UMKM Binaan, UMKM Bagus, dan UMKM Unggulan.

Menteri Edhy menjelaskan, KKP telah menyeleksi lebih dari 800 UMKM untuk dipromosikan sebagai bagian dari program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia. Promosi produk akan dilakukan dengan beragam strategi pemasaran yang dinilai efektif, seperti melalui event dan media komunikasi konvensional maupun digital.

"Keberpihakan kita terhadap produk UMKM akan menumbuhkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang bangga terhadap hasil karya bangsanya sendiri," tegas Edhy didampingi Dirjen PDSPKP Nilanto Perbowo.

Bersamaan dengan soft launching Pasar Laut Indonesia, juga diluncurkan Sistem Resi Gudang (SRG) Ikan. Sistem ini merupakan hasil kerjasama KKP dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEPTI), Kementerian Perdagangan, perbankan, asuransi, PT. KBI, dan BUMN Perikanan. Sistem Resi Gudang untuk komoditi perikanan siap dilaksanakan di 15 cold storage yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia.

Dirjen PDSPKP Nilanto Perbowo menjelaskan, Sistem Resi Gudang dapat menjaga ketersediaan ikan dan menjaga kestabilan harga dengan mekanisme tunda jual. "Sistem ini diharapkan dapat membantu nelayan dan pembudidaya mendapatkan posisi tawar harga yang lebih baik dan jaminan penyerapan ikan yang dihasilkan," ujar Nilanto.

Sementara itu, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengapresiasi peluncuran Pasar Laut Ikan dan Sistem Resi Gudang Ikan oleh KKP. Kerjasama pihaknya dengan KKP pun akan ditingkatkan tidak hanya sebatas pada UMKM, tapi juga koperasi nelayan.

Dalam acara tersebut juga dilakukan penandatangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Ditjen PDSPKP dengan Platform Digital (TaniHub Group, Aruna, Gojek dan Grab). Tujuannya untuk pengembangan pemasaran produk perikanan UMKM berbasis online.

Sementara sebagai instrumen pelaksanaan SRG Ikan, juga akan dilakukan penandatanganan PKS antara Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) dengan PT. Kliring Berjangka Indonesia (KBI) tentang Penggunaan Information System Warehouse Receipt (IS-Ware) dalam Sistem Resi Gudang. 

 

Sumber : KKP

 

 

Jumat, 14 Agustus 2020

DUKUNG KINERJA PENYULUH PERIKANAN, KKP DAN PEMDA BERSINERGI SEDIAKAN SARPRAS MEMADAI

 

Guna mendorong kegiatan pembangunan sektor kelautan dan perikanan, pemerintah terus berupaya menyediakan sarana prasarana yang memadai. Sarana prasana ini dipercaya dapat meningkatkan kelembagaan penyuluhan dan kinerja penyuluh dalam mendampingi masyarakat di lapangan. Untuk itu, Jumat (14/8), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan serah terima naskah perjanjian hibah daerah dan berita acara serah terima barang milik daerah kepada pemerintah pusat.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP, Sjarief Widjaja menyebut, serah terima ini dilakukan sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Pada lampiran huruf Y diatur bahwa kewenangan penyelenggaraan penyuluhan perikanan menjadi kewenangan pemerintah pusat. 

Sebagai implikasinya, dilakukan pengalihan Personel, Pembiayaan, Prasarana dan Sarana, serta Dokumen (P3D). KKP telah menyelesaiakan proses pengalihan Personil, Pembiayaan, dan Dokumen. Sementara Prasarana dan Sarana Penyuluhan ditargetkan selesai di tahun 2020 ini. Sarana prasarana penyuluhan ini tersebar di 427 kabupaten/kota. 

“Kami sampaikan apresiasi kepada Kabupaten Sleman dan Kulon Progo. Dua kabupaten ini merupakan kabupaten pertama di Indonesia yang sudah menyelesaikan persoalan asetnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” tutur Sjarief di Loka Riset Mekanisasi Perikanan Bantul. 

Sjarief menegaskan, pengalihan status penyuluh perikanan dari kewenangan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat merupakan bentuk koordinasi dan sinergitas pemerintah pusat dan daerah. Keduanya bekerja sama memaksimalkan peran penyuluh dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan. 

Sebagaimana diketahui, penyuluh berperan mendampingi pembudidaya ikan, nelayan, pengolah dan pemasar hasil perikanan, hingga petambak garam. Dalam menjalankan perannya tersebut, penyuluh diharapkan dapat mencerahkan (enlightenment) dan memperkaya (enrichment) masyarakat dengan informasi Iptek, akses permodalan, akses pemasaran, dan akses sumber daya lainnya. Selain itu, mereka juga diharapkan dapat memberdayakan (empowerment) pelaku utama dan pelaku usaha kelautan dan perikanan. 

Hal ini sejalan dengan kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan. “Presiden sudah mengarahkan agar KKP memperbaiki komunikasi dengan nelayan dan penguatan budidaya perikanan. Di sini penyuluh perikanan memegang peranan penting,” beber Sjarief. 

Selain itu, pemerintah juga tengah menggalakkan pembangunan sektor perikanan budidaya untuk penyediaan lapangan kerja dan sumber protein hewani untuk konsumsi masyarakat. Provinsi DIY, khususnya Kabupaten Sleman dan Kulon Progo termasuk daerah pengembangan perikanan budidaya ini.

Dalam upaya pengembangan sektor perikanan budidaya ini, KKP akan membangun percontohan (demplot) budidaya terintegrasi di tengah masyarakat. Pembiayaan pembangunan dapat diperoleh dari Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP). Untuk itu, Sjarief berharap dilakukan peningkatan kinerja penyuluh atau bila diperlukan penambahan jumlah penyuluh di masing-masing daerah.

Sjarief mengungkapkan, per 13 Agustus 2020, penyuluh perikanan di Provinsi DIY adalah sejumlah 50 orang yang terdiri dari 26 penyuluh perikanan PNS dan 24 orang penyuluh perikanan bantu (PPB). Di Kabupaten Sleman, terdapat 5 penyuluh perikanan PNS dan 5 PPB. Sedangkan di Kabupaten Kulon Progo terdapat 9 penyuluh perikanan PNS dan 4 orang PPB. 

Guna mengoptimalkan pendampingan terhadap masyarakat, KKP berencana akan memberdayakan kembali 421 orang penyuluh perikanan swadaya. Mereka ini berasal dari kelompok pelaku utama kelas Madya dan Utama dan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP).

“Di masa pandemi ini, penyuluh perikanan harus tetap melakukan tugasnya mendampingi pelaku utama dan pelaku usaha dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Tentunya sarana prasarana penyuluhan menjadi penting karena wilayah kerjanya cukup luas sedangkan jumlah tenaga terbatas,” ucap Sjarief.

Sementara, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan, pada periode 2007 hingga 2013, KKP melalui Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan telah mengadakan sarana penyuluhan perikanan. Sarana tersebut di antaranya kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, perahu motor, speed boat, water test kits (DO meter, PH meter, dan salinitas), perangkat pengolah data (computer, printer, dan UPS), serta telepon selular dan netbook.

Adapun pada kesempatan ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman menyerahkan hibah barang milik daerah berupa 13 unit sepeda motor. Sementara Kabupaten Kulon Progo menyerahkan hibah berupa 7 unit sepeda motor. 

“Dengan kegiatan serah terima hari ini, kami berharap kabupaten/kota lainnya di seluruh Indonesia dapat termotivasi untuk juga segera melakukan serah terima sarana prasarana penyuluhan kepada KKP,” tandas Lilly. 

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan di DIY, khususnya Kabupaten Sleman. Menurutnya, di tengah wabah Covid-19, sektor perikanan sangat membantu perekonomian masyarakat. 

“Di masa pandemi ini, dengan pendampingan dari penyuluh perikanan, usaha skala kecil hingga menengah di sektor perikanan ini tetap bisa berjalan. Hasil produksi masyarakat dapat diserap. Sektor perikanan menjadi salah satu tumpuan ekonomi masyarakat saat ini,” tuturnya. 

Oleh karena itu, ia berharap sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dibantu dengan hadirnya penyuluh perikanan dapat benar-benar memakmurkan kehidupan masyarakat. 

Adapun Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Sudarno menyampaikan apresiasi atas sinergi yang tercipta. Ia mengatakan, pihaknya siap mendukung pemerintah pusat dengan melakukan pelaporan aset secara tertib. 

Namun, ia juga meminta penambahan tenaga penyuluh perikanan agar dapat memenuhi kebutuhan ideal di wilayahnya. 

“Kita harus bangga, di tengah pandemi ini, sektor perikanan berkontribusi cukup besar dibandingkan sektor lainnya. Kita ikut membantu mengupayakan agar tidak terjadi pertumbuhan negatif ekonomi nasional dan Indonesia tidak masuk dalam jurang resesi,” pungkasnya. 

Usai acara serah terima, Kepala BRSDM bersama rombongan melanjutkan perjalanan ke Kampung Wisata Minapadi Samberembe, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Di kampung yang telah berhasil mengembangkan inovasi minapadi sebagai kekuatan ekonomi pariwisata tersebut dilakukan panen ikan nila. Ikan nila ini dikembangkan dengan inovasi Sistem Budidaya Ikan Nila dengan Kincir atau yang dinamai ‘Ikan Nila Si Budi Kincir’.

 

Sumber : KKP

 

Kamis, 06 Agustus 2020

KKP BANGUN E-PRESENSI MOBILE ONLINE SOLUSI TINGKATKAN KINERJA PEGAWAI DI MASA COVID 19

 

Perkembangan teknologi informasi dewasa ini memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Fenomena ini membuat masyarakat menyadari bahwa mereka membutuhkan kehidupan yang lebih baik khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan pelayanan. Tuntutan masyarakat pada akhirnya mengharuskan pemerintah untuk melakukan reformasi pelayanan publik dengan cara meningkatkan kinerja pelayanan publik dan memberikan pelayanan secara menyeluruh, dapat memuaskan semua pihak tanpa adanya diskriminasi.

Sejak pertengahan Maret 2020, dimana pada masa itu wabah Pademik Corona Virus Disease (COVID 19) mulai mewabah di negara republik ini, dimana pada saat itu kita mulai dipaksa oleh keadaan untuk menjadi manusia yang membatasi interaksi sosial. Hampir sebagian besar sekarang ini karyawan/pegawai swasta,  instansi pemerintah maupun dunia pendidikan, membatasi diri untuk beraktivitas dari rumah, aktivitas dilakukan secara daring. Tidak ada lagi pertemuan tatap muka. Justru pertemuan tatap muka harus dihindari karena berpotensi rentan terjadinya penularan Covid 19.

Berangkat dari keprihatinan seperti kondisi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan mencoba membuat terobosan-terobosan baru, agar aktivitas kegiatan pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan agar aspek perekonomian, sosial tetap berlanjut, paling tidak untuk mengurangi keterpurukan pada kondisi saat ini. Pusat Data Statistik dan Informasi bersama Biro Sumberdaya Manusia Aparatur Sekretariat Jenderal, mencoba membangun aplikasi untuk memonitor kehadiran dan aktivitas kegiatan pegawai baik di pusat maupun di daerah (UPT) sekaligus juga untuk mengetahui sebaran pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan di lokasi secara online yang di sebut dengan “e-Presensi Pegawai”.

Kehadiran pegawai yang sebelumnnya dilakukan dengan sentuhan jari tangan pada saat kedatangan dan pulang dari kantor pada jam kerja dengan dibantu alat elektronik yang di tempatkan di kantor masing-masing.  Dengan adanya aplikasi e-Presensi Pegawai yang dibangun oleh Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan sebuah sistem secara online yang di aktifkan melalui Desktop/Laptop atau Handphone (HP) yang cukup dengan sentuhan jari pada saat jam kerja baik di tengah suasana kerja di rumah atau Work From Home (WFH) maupun Work From Office (WFO) atau kerja di kantor.

Aplikasi ini memungkinkan setiap pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, di pusat dan di daerah (UPT) memanggil melalui laman: epresensi.kkp.go.id  secara online, aplikasi ini dapat dipanggil tanpa mengenal batas dan waktu. 


Sumber : KKP

Selasa, 04 Agustus 2020

Pemanfaatan dan Uji Kinerja Alat Pemindang Ikan Higienis di UKM Gesing Asri Gunung Kidul

Sambutan oleh Kepala LRMPHP Luthfi Assadad dan Kepala DKP Gunung Kidul Krisna Berlian

Pelaksanaan kegiatan pemanfaatan dan uji kinerja alat pemindang ikan yang dihasilkan LRMPHP dengan kelompok usaha perikanan/UKM Gesing Asri, dilanjutkan penandatanganan berkas kerjasama dan bimbingan teknis pengolahan pindang serta perawatan alat dilaksanakan pada 4 Agustus 2020 di Pantai Gesing, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi bersama Loka Riset Mekanisasi Pengolahan hasil Perikanan (LRMPHP), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunung Kidul dan UKM Gesing Asri sebagai mitra riset LRMPHP.

Dalam sambutannya, Kepala LRMPHP Luthfi Assadad menyampaikan kegiatan ini merupakan salah salah implementasi tupoksi LRMPHP dibidang rancang bangun alat dan mesin pengolahan hasil perikanan agar hasil-hasil riset termanfaatkan dengan baik. Kegiatan ini sekaligus sebagai uji kinerja peralatan alat pemindang untuk mendapatkan umpan balik dari pengguna terkait aspek teknis dan ekonomis. Oleh karena itu data dan informasi yang diperoleh dari penggunaan alat ini berguna untuk perbaikan dan pengembangan lebih lanjut. Luthfi Assadad juga menyampaikan bahwa ikan pindang merupakan salah satu bentuk olahan sederhana yang menarik bagi konsumen karena selain gizinya tetap terjaga, daya simpannya juga lebih lama. Salah satu jenis ikan sebagai bahan baku ikan pindang yang banyak dijumpai di Pantai Gesing adalah linsong. Ikan linsong ini saat musim ikan cukup melimpah dan belum termanfaatkan dengan baik. Dengan mengolahnya menjadi ikan pindang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomisnya dan dapat dijadikan produk unggulan yang ikonik di Pantai Gesing. Hal ini sejalan dengan usaha kuliner dan pariwisata yang ditekuni UKM Gesing Asri.

Kepala DKP Gunung Kidul Krisna Berlian juga menyampaikan hal yang sama. Sejalan dengan visi Kabupaten Gunung Kidul yang ingin menjadi daerah tujuan wisata yang terkemuka, berbudaya dan berdaya saing, Krisna Berlian mengajak UKM Gesing Asri untuk memanfaatkan alat pemindang yang diamanahkan oleh LRMPHP agar memiliki daya saing dalam hal kuliner dan menjadi produk unggulan Pantai Gesing. Untuk mewujudkan hal tersebut, DKP Gunung Kidul siap untuk melakukan pendampingan baik dalam hal pengolahan, pegemasan, pemasaran maupun dalam penguatan manajemen UKM.

Bimtek pemindangan ikan di UKM Gesing Asri Gunung Kidul

Pada kegiatan pemanfaatan dan uji kinerja alat pemindang di UKM Gesing Asri dilaksanakan bimbingan teknis pengolahan pindang serta petunjuk instalasi, penggunaan dan perawatan alat sesuai buku petunjuk/manual book. Bimbingan teknis disampaikan oleh Tri Nugroho Widianto selaku peneliti LRMPHP bersama tim teknis. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa alat pemindang ikan rancang bangun LRMPHP terbuat dari material stainless steel sehingga produk yang dihasilkan higienis dan terjamin keamanannya. Kapasitas alat pemindang ini hingga 50 kg dengan proses pengolahan selama 2-3 jam menggunakan gas elpiji. Daya simpan ikan pindang yang dihasilkan hingga 6 hari pada penyimpanan suhu kamar dan 12 hari jika dikemas dengan plastik. 

Dalam kegiatan pemanfaatan dan uji kinerja alat pemindang di UKM Gesing Asri dilakukan penandatanganan naskah kerjasama pemanfaatan dan uji kinerja alat pemindang antara  LRMPHP dan UKM Gesing Asri yang disaksikan Kepala DKP Gunung Kidul. Gesing Asri merupakan kelompok pengolah dan pemasar (poklahsar) produk perikanan yang berkedudukan di Pantai Gesing Padukuhan Bolang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Penandatanganan naskah kerjasama antara LRMPHP dengan UKM Gesing Asri