Rabu, 18 Maret 2020

Transportasi Ikan Hidup Jaminan Kualitas Mutu Ikan Konsumsi

Salah satu metode transportasi ikan hidup
Pada tahun 2020, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan target produksi perikanan budidaya sebesar 7,45 juta ton. Target produksi yang tinggi ini merupakan upaya untuk memenuhi permintaan pasar baik untuk pasar lokal, nasional maupun ekspor terhadap komoditas perikanan budidaya yang seksi seperti ikan kerapu, kakap putih, lobster, nila merah, lele dan ikan hias baik air tawar maupun air laut. Salah satu upaya untuk menjamin mutu ikan konsumsi dapat dilakukan dengan menjamin ikan tetap hidup sampai konsumen. Peran transportasi ikan hidup menjadi penting karena murupakan upaya menjamin ikan tetap hidup dengan kualitas yang prima.  

Proses transportasi ikan hidup dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu : basah, semi kering dan kering. Transportasi yang lazim dipergunakan oleh masyarakat dan pembudidaya adalah sistem basah yang dilakukan dalam kantong tertutup dan wadah terbuka. Transportasi dalam kantong tertutup biasanya digunakan untuk ikan yang berukuran kecil seperti ikan hias atau benih. Ikan dimasukkan dalam kantong yang berisi volume air tertentu dengan kepadatan tertentu kemudian sisa ruang dalam kantong diisi dengan oksigen murni dan diikat kuat dengan karet. Volume air, oksigen murni  dan kepadatan ikan disesuaikan dengan lamanya pengangkutan. Transportasi pada wadah terbuka biasanya dilakukan untuk ikan yang berukuran besar atau ikan-ikan konsumsi. Wadah yang dipergunakan berupa jerigen/drum plastik berukuran 0,5-1 ton. Wadah ini diisi air dengan volume dan kepadatan ikan tertentu kemudian ditambahkan aerasi untuk menjamin suplai oksigen terlarut dalam air selama proses transportasi. Aerasi yang digunakan dapat berupa udara biasa maupun oksigen murni tergantung lamanya pengangkutan.

Permasalahan yang dihadapi pada transportasi ikan baik benih maupun ikan ukuran konsumsi adalah perubahan kualitas air yang terjadi selama transportasi, yaitu kadar oksigen terlarut yang semakin menurun serta akumulasi ammonia dan karbon dioksida yang semakin tinggi. Hal ini menyebabkan ikan dalam stress sehingga akan menurunkan survival rate benih ikan saat dipelihara dan menurunkan mutu pada ikan konsumsi. perbedaan durasi pengangkutan dan ukuran ikan menyebabkan perbedaan dalam penanganan perubahan kualitas air selama pengangkutan. Pada sistem transportasi basah tertutup biasanya kepadatan ikan akan dikurangi atau dengan mengubah perbandingan volume oksigen lebih tinggi dibandingkan dengan volume air dalam kantong. Tidak jarang volume air sangat banyak  tetapi ikan yang diangkut hanya dalam jumlah sedikit. Kompensasi-kompensasi yang harus ditempuh tersebut menyebabkan proses transportasi ikan hidup pada sistem basah tertutup tidak efisien.

Hal yang sama juga diterapkan pada sistem transportasi basah terbuka. Namun, sistem transportasi ini lebih fleksibel karena wadah dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan daya dukung. Peningkatan ini diharapkan mampu menopang kehidupan ikan selama proses transportasi tanpa mengurangi kepadatannya sehingga efisiensinya meningkat. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan desain prototipe alat transportasi ikan hidup sistem basah untuk memudahkan kegiatan transportasi ikan hidup serta mempertahankan kualitas.

Tinjauan Pustaka
Sistem transportasi yang sering dipergunakan untuk hasil perikanan di lapangan ada dua, yaitu sistem basah dan sistem kering (Junianto, 2003). Sistem transportasi basah dibagi menjadi dua lagi, yaitu terbuka dan tertutup. Pada sistem tertutup, ikan dimasukkan dalam wadah tertutup dan diberikan suplai oksigen terbatas sesuai dengan perhitungan kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Pada sistem terbuka, ikan dimasukkan dalam wadah terbuka dan diberikan aerasi atau suplai oksigen terus menerus selama pengangkutan (Jailani, 2000). Secara umum, definisi transportasi ikan adalah memaksa ikan pada lingkungan yang baru, berbeda dengan lingkungan asalnya dan disertasi perubahan lingkungan yang mendadak dan cepat (Hidayah, 1998).


Penulis : Tri Nugroho W., Peneliti LRMPHP

0 comments:

Posting Komentar