LRMPHP ber-ZONA INTEGRITAS

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, siap menerapkan Zona Integritas menuju satuan kerja berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 81/2020

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 30 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2020

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Jumat, 30 Juli 2021

MONEV SEMESTER I TAHUN 2021 LINGKUP LRMPHP

Pemaparan riset ALTIH oleh peneliti LRMPHP

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) menyelenggarakan Monitong dan Evaluasi (Monev) Semester I Tahun  2021 secara daring melalui aplikasi Zoom pada 28 – 29 Juli 2021. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala LRMPHP, koordinator riset, evaluator dan  seluruh pegawai LRMPHP.  

Dalam sambutannya, Kepala LRMPHP Luthfi Assadad menyampaikan bahwa tahun ini ada banyak perubahan, salah satunya terkait refokusing anggaran hingga empat kali. Meskipun adanya refokusing anggaran, namun target IKU harus diupayakan dapat tercapai karena belum ada kebijakan pengurangan IKU. Oleh karena itu seluruh pegawai LRMPHP diharapkan dapat saling dukung dan bahu-membahu demi suksesnya kegiatan LRMPHP. Kepala LRMPHP juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada rekan-rekan peneliti senior LRMPHP yang sudah bersedia menjadi evaluator, selain akan mengevaluasi capaian kegiatan semester I ini, juga diharapkan dapat melihat potensi publikasi. 

Pelaksanaan Monev Semester I Tahun  2021  ada 5 kegiatan riset dengan output prototipe alsin hasil riset perikanan dan  produk rekayasa alsin perikanan siap guna. Pada kegiatan riset dengan output prototipe alsin hasil riset perikanan terdiri atas 2 judul riset yaitu Desain dan Rancangbangun Alat Pengidentifikasi Cepat Jenis dan Asal Ikan, serta Desain dan Rancangbangun Aerator Tipe Kincir Terkontrol Untuk Kolam Budidaya Udang Intensif. Adapun pada output produk rekayasa alsin perikanan siap guna terdiri 3 judul riset yaitu Rancangbangun dan Uji Kinerja Alat Transportasi Ikan Hidup Sistem Basah untuk Menjamin Komoditas Berkualitas Prima, Rancangbangun dan Uji Kinerja Mesin Penghasil Bioplastik Ramah Lingkungan untuk Jaminan Produk Berkualitas Prima, dan Rancangbangun, Introduksi dan Uji Terap Skala Terbatas Alat Pengisi Adonan Produk Fish Jelly Semi Otomatis. 

Pembahasan monev I kegiatan riset tahun 2021 dilaksanakan selama dua hari, diawali dengan pemaparan Riset Desain dan Rancangbangun Alat Pengidentifikasi Cepat Jenis dan Asal Ikan oleh Bakti Berlyanto Sedayu, evaluator  menyampaikan bahwa tema riset potensial untuk dikembangkan hanya saja target jenis ikan yang dianalisa harus diperjelas lagi lebih spesifik. Pada pemaparan Riset Rancangbangun Aerator Tipe Kincir Terkontrol Untuk Kolam Budidaya Udang Intensif oleh Arif Rahman Hakim, evaluator menyampaikan kegiatan ini cukup aplikatif untuk mendukung pengembangan budidaya dan diharapkan penggunaan sensor untuk pendeteksian secara ekonomis dapat dijangkau oleh pembudidaya. Pada pemaparan Riset Rancangbangun dan Uji Kinerja Alat Transportasi Ikan Hidup (ALTIH) Sistem Basah untuk Menjamin Komoditas Berkualitas Prima oleh Tri Nugroho Widianto, evaluator menyampaikan capaian output kegiatan sudah sesuai dan kelihatan, tinggal diperbanyak untuk simulasi. Selanjutnya pada hari kedua pembahasan monev I dilakukan pemaparan Riset Rancangbangun dan Uji Kinerja Mesin Penghasil Bioplastik Ramah Lingkungan untuk Jaminan Produk Berkualitas Prima oleh Putri Wullandari. Evaluator  menyampaikan bahwa riset ini  cukup menarik karena menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, dengan membuat inovasi bioplastik berbahan rumput laut. Sementara itu pada Riset Introduksi dan Uji Terap Skala Terbatas Alat Pengisi Adonan Produk Fish Jelly Semi Otomatis yang dipaparkan oleh I Made Susi Erawan, evaluator menyarankan agar pengukuran secara ergonomi perlu diperhatikan untuk mendukung kemudahan dalam aplikasi alat oleh pengguna.

Rabu, 28 Juli 2021

Partisipasi LRMPHP Pada Semnaskan-UGM XVIII 2021

Presentasi peneliti LRMPHP pada Semnaskan-UGM XVIII 2021

Peneliti LRMPHP mengikuti rangkaian kegiatan Seminar Nasional Tahunan XVIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan 2021 yang diselenggarakan oleh Departemen Perikanan, Universitas Gadjah Mada. Semnaskan-UGM XVIII ini merupakan agenda tahunan sebagai ajang temu ilmiah dan berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian dari para peneliti di Indonesia.

Kegiatan Semnaskan-UGM XVIII dilaksanakan secara daring pada 26 - 27 Juli 2021 dengan platform Zoom, terdiri atas plenary sesion dan sesi kelas paralel. Plenary session menghadirkan Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng., dan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Ir. Sakti Wahyu Trenggono, M.M., IPU. Adapun dua pembicara kunci yang dihadirkan yaitu Dr. Ir. Bambang Triyatmo, M.P. (Dosen Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM) yang menyampaikan presentasi tentang gagasan dan inovasi pembangunan akuakultur Indonesia, dan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri M.S. (Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia) tentang manajemen usaha budidaya ikan yang berkelanjutan.

Pada Semnaskan-UGM XVIII 2021 ini presentasi dilaksanakan secara paralel dalam dua sesi selama dua hari, dengan topik bidang akuakultur, manajemen sumberdaya akuatik, dan teknologi hasil perikanan. Artikel bidang akuakultur berupa hasil penelitian tentang genetika dan perbenihan ikan, pakan dan nutrisi, rekayasa budidaya, dan penyakit ikan dan lingkungan. Makalah bidang manajemen sumberdaya perikanan mencakup aspek manajemen sumberdaya perairan, sosial ekonomi perikanan, penangkapan ikan, biologi perikanan dan bidang kelautan. Adapun hasil penelitian bidang teknologi hasil perikanan berupa keamanan pangan, bioteknologi, pengawetan pangan, pangan fungsional, pengembangan produk dan bidang nilai tambah.

Total peserta secara online pada Semnaskan-UGM XVIII ini mencapai 150 peserta, berasal dari berbagai kalangan baik akademisi maupun instansi pemerintahan. Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan Bantul mengirimkan 5 karya tulis ilmiah (KTI) yang dipresentasikan secara oral. 





Senin, 26 Juli 2021

SENJATA RAHASIA NINJA HATTORI DI DALAM "BOWL CUTTER"

Kalau menyaksikan film “Ninja Hattori” ada sebuah senjata rahasia yang disebut “SHURIKEN” yang menjadi senjata andalan dalam menaklukkan lawanya. Senjata tersebut berupa mata pisau terbuat dari logam yang dibentuk seperti bintang  yang biasanya terdiri dari lima buah mata pisau yang dapat dilempar untuk melumpuhkan musuh-musuhnya. Seperti halnya Ninja, bowl cutter juga mempunyai senjata rahasia yang tersembunyi di bawah penutup mangkuk. Bowl cutter (Gambar 1)  adalah mesin pencacah sekaligus pengaduk adonan yang biasa dipergunakan pada proses pembuatan bakso maupun produk fish jelly lainya. Bowl cutter yang ada di pasaran dapat digunakan untuk mencincang daging dan sayuran serta dapat pula digunakan untuk membuat adonan bakso, sosis maupun nugget. Komponen utama bowl cutter adalah bilah pisau dan motor penggerak. Bilah pisau (Gambar 2) berfungsi untuk mencacah daging sedangkan motor penggerak berfungsi untuk menggerakkan mangkuk dan bilah pisau secara bersamaan. 

Gambar 1. Bowl cutter (Sumber : www.astromesin.com)

Pada tahun 2016, Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) telah mendesain sekaligus mensimulasi bilah pisau pada bowl cutter khususnya dalam rangka untuk mendapatkan jumlah mata pisau dan lama pengadonan untuk pembuatan nugget ikan menggunakan alat tersebut.  Terkait dengan jumlah dan bentuk mata pisau tentunya akan sangat tergantung dengan peruntukanya. Pada penelitian tersebut yang diungkap adalah desain bilah pisau bowl cutter untuk produksi nugget ikan. Penelitian tersebut telah dilaporkan oleh Widianto, dkk., pada Jurnal Pasca Panen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan pada tahun 2016. Pada penelitian tersebut didesain duan buah bentuk mata pisau melengkung dan lurus dengan masing masing terdiri dari tiga dan enam buah bilah pisau. Desain bilah pisau melengkung mempunyai bentuk ± 3/8 lingkaran dengan panjang 80 mm dari sisi luar dudukan. Lebar bilah pisau sebesar 22 mm dengan tebal 3 mm. Radius putar bilah pisau dari pusat poros sebesar 130 mm. Kelengkungan bilah pisau mempunyai radius 50 mm dengan sisi tajamnya terletak pada lengkung bagian luar. Sudut ketajaman sekitar 120 pada salah satu sisi bilah pisau. Desain bilah pisau lurus mempunyai spesifikasi dan dimensi sama dengan desain pisau melengkung kecuali pada radius kelengkungan sebesar 75 mm serta ujung bilah pisau dibengkokkan dengan sudut 300 dengan jarak yang dibengkok 25 mm dari ujung bilah pisau. Material bilah pisau terbuat dari plat SS 304, sedangkan dudukan bilah pisau menggunakan bahan teflon.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain bilah pisau terbaik adalah 3 buah bilah pisau melengkung dengan lama pengadonan 8 menit. Nugget yang dihasilkan pada kondisi tersebut mempunyai kadar air 54,2 %, tektur sebesar 12,6 N, susut masak 16,7 %, WHC 32,9 %, nilai organoleptik lebih dari 7 dan biaya operasional listrik sebesar Rp. 2.700,-/100 kg adonan. 

Gambar 2. Bilah pisau pada Bowl cutter (Sumber : Widianto, dkk., 2016)


Penulis : Tri Nugroho W. - LRMPHP


Rabu, 21 Juli 2021

Potensi Penggunaan Microwave untuk Ekstraksi Karaginan

Ilustrasi Karaginan (Sumber : https://rico.com.ph/products/pure-carrageenan/)

Indonesia yang sebagian besar wilayahnya berupa kepulauan memiliki komoditas kelautan dan perikanan yang melimpah, salah satunya adalah rumput laut. Berdasarkan Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2017 produksi rumput laut Indonesia mencapai 10,81 juta ton. Tetapi hampir sekitar 80% produksi tersebut hanya dijual dalam bentuk bahan baku tanpa ada proses pengolahan lebih lanjut sehingga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. 

Salah satu diversifikasi produk rumput laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah karaginan yang diperoleh dari proses ekstraksi rumput laut. Karaginan adalah polisakarida linear berupa galaktan tersulfatasi yang diekstrak dari rumput laut merah (Rhodophyceae). Tiga jenis karaginan komersial yang paling penting adalah karaginan iota, kappa, dan lambda. Dikutip dari Polymers 3 yang disampaikan oleh Kadajji & Betageri (2011), pengguaan karaginan cukup luas baik untuk produk pangan maupun non pangan. Karaginan larut dalam air panas dan air dingin sehingga dapat digunakan sebagai pengental dan penstabil pada minuman dan makanan. Pada produk non pangan karaginan bisa digunakan sebagai coating, pengental, pembentuk gel pada produk kosmetik, farmasi, cat dan lain sebagainya.

Proses pengambilan atau ekstraksi karaginan merupakan kunci diperolehnya produk karaginan yang baik. Diperoleh dari beberapa sumber kualitas dan rendemen karaginan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Asikin et al (2015) dalam Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis menyampaikan bahwa kualitas karagenan tidak hanya dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, tetapi juga oleh konsentrasi pelarut yang digunakan. Selain itu seperti disampaikan Wenno et al (2012) dalam Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan bahwa umur panen rumput laut juga merupakan faktor penting yang menentukan kualitas karaginan.

Secara umum, ekstraksi karaginan dari rumput laut memerlukan beberapa tahapan, yaitu proses perendaman, ekstraksi, pemisahan karaginan dengan pelarut, dan kemudian pengeringan karaginan. Setiap tahapan proses ini akan mempengaruhi jumlah dan kualitas karaginan. Kendala yang dialami pada proses ekstraksi karaginan konvensional salah satunya adalah membutuhkan waktu yang lama dan rendemen yang dihasilkan masih kurang baik. Oleh karena itu diperlukan alternatif metode ekstraksi karaginan, salah satunya yaitu menggunakan teknologi microwave atau gelombang mikro yang sering disebut sebagai Microwave Assisted Extraction (MAE). Skema prinsip kerja ekstraksi berbasis microwave seperti disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Skema mekanisme ekstraksi berbasis microwave (sumber : Wang et al, 2005 dalam Journal of Food Engineering)

Dikutip dari Handbook of microwave technology for food applications yang disampaikan oleh Datta & Anantheswaran (2001), microwave adalah gelombang elektromagnetik dengan interval frekuensi antara 300 MHz hingga 300 GHz dan panjang gelombang antara 1 mm hingga 1 m. Wray & Ramaswamy (2015) dalam Jurnal Drying Technology menyatakan bahwa frekuensi yang digunakan untuk aplikasi pemanasan microwave yaitu 915 MHz, 2450 MHz, dan 5800 MHz, tetapi yang umum digunakan untuk pengolahan makanan dan khususnya untuk oven microwave adalah 2450 MHz.

Proses ektraksi dengan menggunakan microwave lebih cepat karena pemanasan yang terjadi adalah pemanasan volumetrik. Dikutip dari Momentum (2010) diperoleh informasi bahwa ektraksi berbasis microwave memiliki kelebihan karena memiliki kontrol terhadap temperatur yang lebih baik dibandingkan proses pemanasan konvensional. Selain itu juga memiliki beberapa keunggulan lain, diantaranya adalah waktu ekstraksi yang lebih singkat, konsumsi energi dan pelarut yang lebih sedikit, hasil yang lebih tinggi, akurasi dan presisi yang lebih tinggi.

Beberapa penelitian terkait dengan ekstraksi rumput laut menggunakan microwave telah banyak dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Delfin et al (2013) yang disampaikan dalam Journal of Applied Phycology. Penelitian dilakukan dengan melakukan ekstraksi karaginan dari rumput laut Hypnea musciformis dengan metode konvensional dan berbasis microvawe. Ekstraksi berbasis microwave menggunakan frekuensi 2450 MHz dengan melakukan beberapa variasi suhu pemanasan. Hasil penelitian diperoleh bahwa meskipun hasil karaginan yang dihasilkan lebih rendah selama ekstraksi, tetapi karaginan yang dihasilkan dengan metode baru ini sebanding dengan yang diekstraksi dengan teknik konvensional. Penelitian lain dilakukan oleh Sjahriza et al (2012) yang disampaikan dalam Prosiding Seminar Nasional Sains V. Dalam penelitiannya dilakukan ekstraksi karaginan dari rumput laut jenis Eucheuma Cottonii menggunakan metode konvensional dan menggunakan microwave. Dari dua metode tersebut dilakukan perbandingan kualitas karaginan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi karaginan menggunakan microwave menghasilkan rendemen yang tinggi dan waktu yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Berdasarkan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan dan dikembangkan hasilnya menunjukkan bahwa metode ekstraksi karaginan berbasis microwave memiliki potensi yang cukup baik.


Penulis : Wahyu Tri Handoyo - LRMPHP

Kamis, 15 Juli 2021

Bioplastik dari Rumput Laut, Solusi Membuat Laut Sehat


Laut Indonesia memiliki permasalahan serius terkait pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Sampah yang berasal dari darat ini membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa sampai ratusan tahun, untuk bisa terurai. Hal ini tidak saja menjadi permasalahan Indonesia tapi juga seluruh negara. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hadir menawarkan alternatif solusinya. 

Data pada jurnal penelitian (Groh et al., 2019) mengatakan, produksi plastik secara global sudah mencapai 380 juta ton pada tahun 2015, dengan sekitar 40 persennya digunakan untuk pengemasan. Jurnal penelitian lain (Zhang, Show, & Ho, 2019) mengatakan, sisi negatif sampah plastik yang dibuang dapat menimbulkan beberapa masalah lingkungan yang serius, seperti emisi gas rumah kaca, generasi mikroplastik dan efek beracun yang ditimbulkannya.

Karena itu, KKP mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga kesehatan lingkungan, termasuk laut, dari sampah plastik. Hal ini salah satunya disampaikan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja. 

Dia mengatakan, pihaknya mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan laut, karena kesejahteraan manusia bergantung pada laut yang sehat.  Hal ini sejalan dengan perhatian dan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang menekankan pentingnya kesehatan laut untuk mendukung ekonomi laut yang berkelanjutan. Laut yang sehat juga menjadi syarat utama konsepsi ekonomi biru yang tengah dikembangkan KKP di Indonesia. Kata kuncinya yaitu berkelanjutan, efisien, tanpa limbah, keadilan inklusif, pertumbuhan ekonomi, dan kesadaran publik.

Untuk itu, KKP telah banyak berbuat untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, salah satunya melalui penelitian yang dilakukan BRSDM. Salah satu penelitian dilakukan melalui kerja sama Pusat Riset Kelautan BRSDM dengan mitra Prancis tentang marine debris project. Menteri Kelautan Prancis Annick Girrardin mendatangi langsung Kantor BRSDM terkait kerja sama tersebut, 10 Juni lalu. 

Penelitian lain dilakukan oleh Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), di bawah supervisi Pusat Riset Perikanan BRSDM. Penelitian tersebut menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, yaitu dengan bioplastik berbahan rumput laut. 

“Rumput laut merupakan salah satu bahan yang potensial untuk dijadikan bahan baku bioplastik, dimana karaginan adalah salah satu fikokoloid paling menjanjikan yang menunjukkan kemampuan pembentukan film yang sangat baik,” ujar Peneliti LRMPHP Putri Wullandari, 

“Metode yang biasa digunakan dalam pembuatan bioplastik yaitu metode casting namun memiliki kelemahan yaitu belum dapat diproduksi secara massal. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan metode ekstrusi untuk membuat bioplastik dengan bahan dasar karagenan. Ekstrusi  adalah  proses  yang  berkesinambungan  selama  bahan  baku  plastik  meleleh dan dibentuk menjadi panjang terus menerus dari produk plastik dengan profil konstan cross-sectional,  dan  produk  kemudian  dapat  dipotong  menjadi panjang  yang diinginkan oleh peralatan pasca-die tertentu,” tambahnya. 

Menurut Putri, rangkaian alat yang dihasilkan dalam penelitian ini meliputi mixer, extruder, conveyor, dan pelletizer 

Dia mengatakan, mixer dengan spesifikasi kapasitas tanki 5 kg dilengkapi sistem pengaduk berputar (1/2HP) dan pemanas listrik dengan total daya 470 W. Material mesinnya mengunakan stainless steel dan hard chrome. 

Extruder, lanjutnya, merupakan tipe screw tunggal dengan kapasitas produksi 2,42 kg per jam. Alat ini dilengkapi empat elemen pemanas elektrik dengan thermocontrol, yang memiliki 1 lubang die berdiameter 2–3 mm. Material mesinnya mengunakan stainless steel dan hard chrome dengan total daya 600 W. 

Sementara itu, konveyor memiliki spesifikasi panjang 1,5 m dengan media pendingin air, yang dilengkapi water chiller. Material alatnya menggunakan stainless steel dengan total daya 125 watt (220 V).

Adapun pelletizer menggunakan pisau berputar dengan motor ¼ HP yang dilengkapi pengatur kecepatan. Materialnya menggunakan stainless steel dengan daya 70 W (220 V). Rangkaian alat extruder tersebut menghasilkan film yang seragam dengan kapasitas produksinya mencapai 2,42 kg/jam. 

Bioplastik dari rumput laut dan rangkaian alat pembuatnya ini telah dibahas pada kegiatan Sharing Session BRSDM, 7 Juli lalu. Kegiatan tersebut disiarkan secara langsung melalui kanal youtube BRSDM dan saat ini masih dapat disaksikan pada link https://www.youtube.com/watch?v=Hm4_vQ4Y2ZE.



Suimber : KKP

Rabu, 14 Juli 2021

LRMPHP KEMBANGKAN MESIN PENCACAH TULANG IKAN UNTUK MENDUKUNG PAKAN IKAN MANDIRI

Tepung ikan merupakan salah satu komoditas penting perikanan di Indonesia. Kebutuhan tepung ikan di Indonesia sangat besar dan cenderung mengalami peningkatan setiap tahun. Namun sebagian besar kebutuhan tepung ikan tersebut dipenuhi dari impor. Kebutuhan tepung ikan ini sebagian besar digunakan untuk bahan baku pakan ikan. Salah satu upaya untuk mengurangi kebutuhan impor adalah memanfaatkan berbagai jenis ikan rucah dan sisa olahan ikan berupa tulang dan kepala ikan sebagai bahan baku tepung ikan. 

Permasalahan yang dihadapi pada pengolahan tulang ikan adalah proses pencacahan menjadi ukuran yang lebih kecil. Hal ini disebabkan karena bahan baku berasal dari tulang atau kepala ikan yang memiliki tekstur keras dan berukuran besar. Oleh karena itu diperlukan mesin yang mampu mencacah tulang ikan yang memiliki tekstur keras.

Berdasarkan latar belakang tersebut pada tahun 2015 Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) melakukan penelitian, rancangbangun dan uji kinerja mesin pencacah tulang dan kepala ikan yang merupakan rangkaian dari penelitian dan rancangbangun alat pembuatan tepung ikan. Tujuan penelitian dan rancangbangun adalah untuk merancang dan membuat mesin pencacah tulang ikan serta melakukan pengujian kinerja.

Mesin pencacah tulang ikan yang dirancangbangun ini mengadopsi mesin shredder untuk mencacah sampah plastik pada proses daur ulang plastik dalam manajemen sampah plastik dan juga biasanya digunakan untuk mencacah sampah botol plastik. Mesin pencacah bekerja berdasarkan mekanisme kerja poros berputar yang dilengkapi dengan sepasang roda gigi untuk memutar sepasang mata pisau dengan sumber penggerak berupa motor listrik 2 HP. Pisau berputar saling berlawanan ke arah dalam secara sinergis untuk mencacah bahan sehingga diperoleh ukuran cacahan yang lebih kecil. Arah putaran dan bentuk pisau yang meruncing ke dalam menyebabkan material yang akan dicacah tertarik dan masuk di celah antara dua mata pisau. Spesifikasi umum mesin pencacah yaitu mesin tipe berkelanjutan, menggunakan motor listrik 2 HP 3 phase dengan dimensi panjang total 1500 mm, lebar 320 mm dan tinggi 1200 mm. Bentuk mata pisau dan konstruksi alat seperti disajikan pada gambar 1. Mesin pencacah hasil rancangbangun seperti disajikan pada gambar 2.



Gambar 1. a) Bentuk mata pisau, b) Konstruksi alat

Gambar 2. Mesin pencacah tulang dan kepala ikan hasil rancangbangun LRMPHP

Hasil uji kinerja diperoleh bahwa mesin bekerja optimal pada frekuensi inverter 50,0 Hz dengan kapasitas 278,69 kg/jam. Kapasitas tersebut belum mencapai kapasitas yang ditentukan pada kriteria desain yaitu 500 kg/jam. Supaya mesin dapat mencapai kapasitas yang diharapkan maka perlu dilakukan beberapa modifikasi. Modifikasi untuk meningkatkan kapasitas adalah dengan menambah daya motor menjadi lebih besar sehingga menghasilkan torsi yang lebih besar dan menggunakan rasio gear reduction yang lebih kecil sehingga putaran mesin akan meningkat. Konsekuensinya adalah daya listrik yang dibutuhkan untuk operasional akan lebih besar.


Penulis : Wahyu Tri H. - LRMPHP

Senin, 12 Juli 2021

"PHASE CHANGE MATERIALS" Novel Teknologi Dalam Mesin Pendinginan Ikan

Aplikasi PCM pada cool box (A), dalam freezer (B), dan dalam palka kapal (C)

Beberapa tahun terakhir penelitian Thermal Storage Energy (TES) untuk mengatasi permasalahan dalam sistem refrigerasi masif dilakukan oleh para ahli refrigerasi. TES adalah teknik untuk menyimpan energi panas maupun dingin kemudian bisa digunakan pada waktu mendatang. Energi yang disimpan dalam TES bisa berupa sensible heat, latent heat dan thermo-chemical heat. Namun energi dari latent heat dinilai lebih unggul dibandingkan sumber lain.

Dalam kerjanya TES membutuhkan material atau bahan yang sesuai sehingga latent heat/panas laten bisa disimpan dan dilepas pada kondisi yang diharapkan. Bahan tersebut disebut Phase Change Materials (PCM). PCM adalah jenis bahan yang mampu menyimpan panas laten melalui proses solidifikasi maupun pelelehan. Bahan menyimpan panas laten ketika berubah fasa dari padat ke cair, ataupun dari cair ke padat, kemudian bahan ini akan melepaskan panas laten ketika fasa berubah sebaliknya. Panas laten pada saat material ditransfer dari perubahan padat ke cair atau dari cair ke padat disebut perubahan fasa.

Peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), telah melakukan penelitian penggunaan PCM dalam penyimpanan ikan disuhu rendah. Pertama aplikasi PCM air dalam circular pipe aluminium pada cool box sebagai wadah transportasi ikan. Penggunaan PCM sebanyak 500 ml mampu menghasilkan suhu ruang cool box lebih rendah 5 o dan suhu ikan yang disimpan lebih rendah 2,5 oC, dibandingkan penggunaan es curai sebanyak 1 kg selama 5 jam penyimpanan. Keunggulan lain ialah PCM dapat digunakan berulang kali dengan membekukannya lagi setelah mencair.

Kedua, aplikasi PCM berupa minyak jagung untuk mempercepat laju pembekuan dan meminimalkan fluktuasi suhu freezer dalam proses penyimpanan ikan tuna. Minyak jagung sebanyak 3.6 liter dikemas dalam slab stainless 470 x 370 x 10 mm3 diletakkan pada dinding cabinet freezer berukuran 830 x 600 x 820 mm3. Diperoleh laju penurunan suhu ikan pada freezer PCM lebih cepat dibandingkan pada freezer tanpa PCM. Untuk mencapai suhu -5 o lebih cepat 3 jam, sedangkan untuk mencapai -15 o lebih cepat 2 jam. Kualitas tuna beku yang dihasilkan dari freezer PCM mempunyai nilai thawing loss lebih rendah dibandingkan freezer tanpa PCM baik di posisi bawah, tengah dan atas cabinet freezer

Ketiga, aplikasi PCM dalam palka penyimpan ikan dikapal penangkap ikan. PCM dipasang pada dinding palka berdampingan dengan pipa evaporator. PCM berupa paraffin cair RT0 dimasukkan ke dalam pipa galvanis diameter 1 inchi dengan panjang total 90 meter, sehingga mampu menampung 45.6 liter. Tujuannya adalah untuk menjaga agar fluktuasi suhu udara dalam palka tidak terlalu tinggi serta diperoleh penurunan konsumsi daya saat mesin pendingin beroperasi. Hasil penelitian, saat palka berisi 75% beban dan mesin pendingin dimatikan, palka dengan PCM mampu mempertahankan suhu 0 o lebih lama 3 jam dibandingkan palka tanpa PCM sehingga bisa menghemat penggunaan BBM mesin refrigerasi sebanyak 15-17 liter. 

Berdasarkan uraian diatas bisa disimpulkan bahawa PCM sebagai bahan penyimpan energy panas laten bisa dimanfaatkan untuk proses penyimpanan ikan baik dalam proses pendinginan maupun pembekuan. Aplikasi PCM pada cool box/penyimpan ikan portable dapat menjaga suhu rendah lebih lama dibandingkan dengan penambahan es curai. Aplikasi PCM pada freezer dapat mempercepat proses pembekuan ikan dan mengurangi thawing loss. Dan aplikasi PCM pada palka penyimpan ikan di kapal perikanan bisa menurunkan operasi mesin pendingin hingga 3 jam dalam tiap hari.  


Penulis : Arif Rahman Hakim - LRMPHP

           










Jumat, 09 Juli 2021

Cara KKP Agar Konsumsi Ikan Masyarakat Tak Terganggu di Tengah PPKM Darurat

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengingatkan pentingnya konsumsi ikan di tengah pandemi Covid-19. Karenanya, agar angka konsumsi ikan tak terganggu dan terus meningkat, kementerian yang dipimpin oleh Menteri Kelautan dan Perikaman Sakti Wahyu Trenggono ini meminta kepala daerah yang menjalankan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat tetap mengizinkan angkutan logistik perikanan. 

Melalui surat bernomor 4510/DJPDSPKP/VII/2021, Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) mengajak gubernur dan bupati/walikota di beberapa wilayah Jawa dan Bali sesuai PPKM Darurat dapat memberikan akses di pintu keluar-masuk wilayah bagi kelancaran pengiriman dan distribusi hasil kelautan dan perikanan. 

"Namun demikian, dalam pelaksanaan harus tetap memperhatikan protokol kesehatan dan Standar Operasional Prosedur sebagaimana yang ditetapkan," kata Direktur Jenderal PDSPKP, Artati Widiarti saat menjelaskan surat untuk kepala daerah di Jakarta, Kamis (8/7/2021). 

Tak hanya itu, Artati memastikan telah meminta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi, Kabupaten/Kota di wilayah Jawa dan Bali untuk terus mendampingi pelaku usaha perikanan yang akan melaksanakan pengiriman dan distribusi hasil kelautan dan perikanan. Tujuannya agar mereka tetap menerapkan protokol kesehatan dan mematuhi ketentuan perjalanan sebagaimana aturan perundang-undangan yang berlaku. 

Artati berharap, melalui upaya ini dapat menjaga ketersediaan ikan di pasar tradisional maupun modern. Terlebih saat kondisi #dirumahaja, masyarakat banyak memanfaatkan pasar online atau fitur e-commerce untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan. Hal ini pun menjadi berkah tersendiri bagi para pengolah dan pemasar hasil kelautan dan perikanan yang telah konsen memanfaatkan fitur e-commerce dalam mempertahankan omsetnya di tengah pandemi. "Sehingga perlu dijaga benar kemudahan dalam pendistribusian ikan hingga ke tangan konsumen," ujar Artati. 

Dia pun memaparkan nutrisi pada ikan memang dibutuhkan oleh tubuh. Ikan mengandung protein tinggi, lemak omega 3, asam lemak tak jenuh, vitamin A, D, B6, dan B12, serta mineral yang semuanya baik untuk daya tahan tubuh. "Mari kita hentikan penyebaran Covid-19 dengan tetap #dirumahaja dan konsumsi ikan untuk membangun imun tubuh," ajak Artati. 

Adapun  Direktur Logistik Ditjen PDSPKP, Innes Rahmania menyebutkan bahwa jajarannya telah menyiapkan stiker untuk ditempel pada moda angkutan sebagai tanda pengenal bagi kendaraan yang mengangkut/mendistribusikan hasil kelautan dan perikanan. "Intinya stiker tersebut untuk memudahkan implementasi di lapangan  sebagai tanda pengenal bagi kendaraan yang mengangkut/mendistribusikan hasil kelautan dan perikanan,” terang Innes. 

Lebih lanjut Innes menegaskan  bahwa penerbitan stiker ini membuktikan komitmen KKP untuk hadir dan turut memberikan kepastian usaha  sektor strategis seperti angkutan bahan pangan berbasis perikanan.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah mengumumkan PPKM Darurat  terhitung sejak 3 hingga 20 Juli 2021. Selama pembatasan berlangsung, pemerintah  menutup sejumlah fasilitas hiburan seperti mall, bioskop dan tempat rekreasi. Warung, restoran pun dilarang melayani makan di tempat dan hanya boleh dibawa pulang.

Manfaat penggunaan stiker ini sudah dirasakan langsung oleh pelaku usaha perikanan, salah satunya Amrozi dari Kelompok Mina Jaya yang berlokasi di Gunung Kidul, DIY. Amrozi mengaku bahwa stiker yang dia pasang di bagian depan mobil logistiknya telah membantu kelancaran pengiriman ikan beku ke Jakarta.

“Kami menggunakan stiker ini sejak pembatasan mudik beberapa bulan lalu. Dan kali ini kami gunakan kembali pada saat diterapkan PPKM Darurat. Alhamdulillah saat pengiriman barang ke Jakarta kemarin, stiker ini sangat membantu kelancaran perjalananya, begitu juga saat perjalanan baliknya,” terang Amrozi.


Sumber : KKP

 


Kamis, 08 Juli 2021

Peneliti LRMPHP Menjadi Narasumber Pada Kegiatan Sharing Session BRSDMTV

Penyampaian materi sharing session dari studio LRMPHP
Dua peneliti muda LRMPHP Bantul, Arif Rahman Hakim, M.Eng dan Putri Wullandari, M. Sc menjadi narasumber pada kegiatan Sharing Session BRSDMTV yang ditayangkan secara live streaming dari studio LRMPHP melalui link https://www.youtube.com/c/BRSDMTV, 7 Juli 2021. Sharing session ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) sebagai salah satu ajang berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman.  Pada sharing session ini, Arif Rahman Hakim, M.Eng menyampaikan materi hasil riset “Phase Change Material” Aplikasi Teknologi Baru di Bidang Refligerasi Perikanan, sedangkan Putri Wullandari, M. Sc tentang “Bioplastik dari Rumput Laut dan Rangkaian Alat Pembuatnya”. 

Pemaparan materi sharing session oleh Arif Rahman Hakim, M.Eng

Dalam paparannya, Arif Rahman Hakim, M.Eng menjelaskan bahwa penelitian Thermal Storage Energy (TES) untuk mengatasi permasalahan dalam sistem refrigerasi masif telah dilakukan oleh para ahli refrigerasi. TES adalah teknik untuk menyimpan energi panas maupun dingin kemudian bisa digunakan pada waktu mendatang. Energi yang disimpan dalam TES bisa berupa sensible heat, latent heat dan thermo-chemical heat. Namun energi dari latent heat dinilai lebih unggul dibandingkan sumber lain.

Dalam kerjanya TES membutuhkan material atau bahan yang sesuai sehingga latent heat/panas laten bisa disimpan dan dilepas pada kondisi yang diharapkan. Bahan tersebut disebut Phase Change Materials (PCM). PCM adalah jenis bahan yang mampu menyimpan panas laten melalui proses solidifikasi maupun pelelehan. Bahan menyimpan panas laten ketika berubah fasa dari padat ke cair, ataupun dari cair ke padat, kemudian bahan ini akan melepaskan panas laten ketika fasa berubah sebaliknya. Panas laten pada saat material ditransfer dari perubahan padat ke cair atau dari cair ke padat disebut perubahan fasa.

Penelitian aplikasi PCM oleh peneliti LRMPHP ini dilakukan untuk penyimpanan ikan di suhu rendah, pada cool box, freezer, dan dalam palka kapal. Aplikasi PCM sebanyak 500 ml pada cool box mampu menghasilkan suhu ruang cool box lebih rendah 5 oC dan suhu ikan yang disimpan lebih rendah 2.5 oC, dibandingkan penggunaan es curai sebanyak 1 kg selama 5 jam penyimpanan. Sementara itu pada aplikasi menggunakan freezer untuk penyimpanan ikan tuna, diperoleh laju penurunan suhu ikan pada freezer PCM lebih cepat dibandingkan pada freezer tanpa PCM. Untuk mencapai suhu -5 oC lebih cepat 3 jam, sedangkan untuk mencapai -15 oC lebih cepat 2 jam. Kualitas tuna beku yang dihasilkan dari freezer PCM mempunyai nilai thawing loss lebih rendah dibandingkan freezer tanpa PCM baik di posisi bawah, tengah dan atas cabinet freezer. Sedangkan aplikasi PCM dalam palka penyimpan ikan hasilnya menunjukkan saat palka berisi 75% beban dan mesin pendingin dimatikan, palka dengan PCM mampu mempertahankan suhu 0 oC lebih lama 3 jam dibandingkan palka tanpa PCM sehingga bisa menghemat penggunaan BBM mesin refrigerasi sebanyak 15-17 liter

Pemaparan materi sharing session oleh Putri Wullandari, M.Sc

Sementara itu, Putri Wullandari, M.Sc sebagai narasumber materi hasil riset “Bioplastik dari Rumput Laut dan Rangkaian Alat Pembuatnya”, menyampaikan bahwa produksi plastik secara global sudah mencapai 380 juta ton pada tahun 2015, dan 40 persen diantaranya digunakan untuk pengemasan (Groh et al., 2019). Sisi negatif sampah plastik yang dibuang dapat menimbulkan beberapa masalah lingkungan yang serius, seperti emisi gas rumah kaca, generasi mikroplastik dan efek beracun yang ditimbulkannya (Zhang, Show, & Ho, 2019). Alternatif untuk mengatasinya yaitu bioplastik. Rumput laut merupakan salah satu bahan yang potensial untuk dijadikan bahan baku bioplastik, dimana karaginan adalah salah satu fikokoloid paling menjanjikan yang menunjukkan kemampuan pembentukan film yang sangat baik. 

Metode yang biasa digunakan dalam pembuatan bioplastik yaitu metode casting namun memiliki kelemahan yaitu belum dapat diproduksi secara massal. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan metode ekstrusi untuk membuat bioplastik dengan bahan dasar karagenan. Ekstruksi  adalah  proses  yang  berkesinambungan  selama  bahan  baku  plastik  meleleh dan dibentuk menjadi panjang terus menerus dari produk plastik dengan profil konstan cross-sectional,  dan  produk  kemudian  dapat  dipotong  menjadi  panjang  yang diinginkan oleh peralatan pasca-die tertentu.

Rangkaian alat yang dihasilkan dalam penelitian ini meliputi mixer, extruder, conveyor, dan pelletizer. Mixer dengan spesifikasi kapasitas tanki 5 kg dilengkapi sistem pengaduk berputar (1/2HP) dan pemanas listrik dengan total daya 470 W. Extruder  berupa tipe screw tunggal dengan kapasitas produksi 2,42 kg/jam, dilengkapi 4 elemen pemanas elektrik dengan thermocontrol, memiliki 1 lubang die berdiameter 2 – 3 mm, serta total daya 600 W. Material mesin baik mixer maupun extruder mengunakan stainless steel dan hard chrome. Sementara itu, conveyor dengan spesifikasi panjang 1,5 m, media pendingin air dilengkapi water chiller dan daya 125 watt (220 V), adapun pelletizer menggunakan pisau berputar dengan motor ¼ HP dilengkapi pengatur kecepatan dan daya 70 W (220 V). Conveyor dan pelletizer juga terbuat dari bahan stainless steel. Rangkaian alat extruder tersebut menghasilkan film yang seragam dengan kapasitas produksinya mencapai 2,42 kg/jam. 

Sharing session yang disiarkan  secara live streaming dari studio LRMPHP Bantul melalui link you tube BRSDMKP ini disaksikan lebih dari 50 viewers saat live. Beberapa pertanyaan disampaikan selama live streaming diantaranya tentang keunggulan peralatan yang dihasilkan dan kelayakan secara ekonomisnya. 


Rabu, 07 Juli 2021

TINGKATKAN PERFORMA ALTIS-2, LOKA RISET MPHP BANTUL DESAIN HEATSINK

ALTIS-2 (Sumber : LRMPHP, 2020)

Ikan segar merupakan salah satu produk perikanan dan kelautan yang sangat penting dalam menunjang ketahanan pangan di Indonesia, karena selain kandungan gizi yang lengkap juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan lainya. Salah satu rantai distribusi ikan segar dari pemasok ke konsumen adalah melalui pedagang ikan keliling. Umumnya pedagang ikan keliling menggunakan styrofoam box yang diletakkan di atas sepeda motor untuk membawa dan mendistribusikan ikan, namun penggunaan sarana transportasi tersebut mempunyai beberapa kelemahan diantaranya mudah jatuh, kurang higinis dan tidak berpendingin.

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan telah berhasil mengembangkan alat transportasi ikan segar yang biasa dikenal sebagai ALTIS-2 yang dapat digunakan untuk membantu pedagang ikan keliling dalam mendistribusikan ikan ke konsumen. Alat transportasi ikan segar (ALTIS-2) adalah sarana untuk membawa dan mendistribusikan ikan segar untuk pedagang ikan keliling. Alat ini dilengkapi dengan pendingin sehingga mampu mempertahankan mutu ikan segar. Penyimpanan ikan pada suhu rendah dapat memperlambat aktivitas bakteri serta mengurangi aktivitas pertumbuhan mikroba pembusuk, reaksi oksidasi dan aktivitas enzimatik sehingga kesegaran ikan dapat dipertahankan setelah kegiatan transportasi. ALTIS menggunakan sistem pendingin termoelektrik (TEC) dengan komponen utama elemen peltier dengan sumber arus DC. Selain elemen peltier, komponen utama penyusun TEC adalah heatsink luar yang berfungsi untuk mempercepat proses pelepasan panas pada sisi panas peltier menuju lingkungan dan dudukan elemen peltier yang berfungsi sebagai tempat meletakkan elemen peltier. 

Untuk keperluan peningkatan performansi, LRMPHP terus berupaya melakukan pengembangan, salah satu dengan mendesain heatsink luar yang berfunsi untuk membantu proses pelepasan panas pada ALTIS-2, seperti dilaporkan oleh Widianto yang dimuat pada Jurnal Pasca Panen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan pada tahun 2020. Pada desain tersebut heatsink dibuat dengan memadukan bahan tembaga dengan sirip alumunium. Nilai konduktifitas termal tembaga lebih tinggi daripada alumunium namun memiliki harga cukup mahal serta kontruksi sirip yang membutuhkan biaya tinggi, sehingga dapat digunakan plat tembaga yang tersedia di pasar kemudian dikombinasikan dengan bahan alumunium. Meskipun nilai konduktifitas alumunium lebih rendah daripada tembaga, namun dengan membuat bentuk menjadi bersirip akan dapat meningkatkan luas permukaan sehingga dapat meningkatkan laju perpindahan panas heatsink. Sirip alumunium mudah dikonstruksi, murah serta telah tersedia berbagai model di pasar. Pemilihan dimensi, bentuk dan ketebalan heatsink disesuikan dengan dudukan pendingin TEC pada ALTIS dengan bentuk persegi dengan lebar 85 mm dan tebal sekitar 13 mm. Optimasi ketebalan dudukan peltier mengacu pada ketebalan dudukan pendingin TEC serta ketebalan dinding tempat penyimpanan ikan. Sesuai dimensi dudukan pendingin TEC, dudukan peltier bisa dioptimasi sampai ketebalan 4 mm. Semakin tipis dudukan peltier maka akan mempercepat proses perpindahan panas, namun hal ini dapat mengakibatkan posisi heatsink luar semakin ke dalam yang bisa mempengaruhi proses pelepasan panas ke lingkungan. 

Desain heatsink (Sumber : Widianto, dkk., 2020)

Hasil pengujian pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa desain heatsink luar dengan menggunakan plat tembaga tebal 3 mm dan sirip alumunium dapat mengurangi biaya produksi pembuatan ALTIS-2 sekaligus menghasilkan performansi pendingin TEC yang lebih baik dibandingkan dengan desain heatsink sebelumnya. Capaian suhu ruang penyimpanan ikan dengan heatsink ini sebesar 17,8 oC, sedangkan penggunaan heatsink sebelumnya sebesar 18,3 oC. Dudukan elemen peltier dengan alumunium tebal 4 mm dapat mempercepat proses perpindahan panas dari ruang penyimpanan ikan menuju peltier. 


Penulis : Tri Nugroho Widianto - LRMPHP



Senin, 05 Juli 2021

TANTANGAN SISTEM TRANSPORTASI IKAN HIDUP DI MASA PANDEMI COVID-19

Pengiriman ikan Koi (sumber : jmj-fish.blogspot.com)

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan mendapatkan berita langkanya oksigen untuk kebutuhan penangganan Covid-19. Hal ini terjadi seiring terus meningkatnya penderita Covid-19 ditengah masyarakat. Oksigen sangat dibutuhkan dalam rangka menangani penderita Covid-19 yang darurat melalui ventilator. Hal tersebut juga berdampak juga pada bidang perikanan, khususnya dalam rangka pengiriman ikan hidup, baik ikan konsumsi maupun ikan hias. Pengiriman ikan hidup banyak menggunakan oksigen murni yang dimasukkan ke dalam kantong plasti bersama air dan diikat kemudian dikirim. Salah satunya dilaporkan oleh Afriansyah, dkk yang dimuat dalam Jurnal Mina Sains pada tahun 2016. Penelitian tersebut menggunakan benih ikan nila yang ditransportasikan dengan sistem tertutup menggunakan oksigen.   

Penggunaan oksigen murni juga digunakan dalam pengangkutan ikan hidup sistem terbuka diantaranya dilaporkan oleh Colt dan Kroeger yang dimuat dalam jurnal Aquacultural Engineering pada tahun 2013. Pada sistem tersebut menggunakan oksigen murni sebagai sumber aerasi yang dimasukkan secara terus menerus ke dalam wadah yang di dalamnya terdapat ikan menggunakan media air. Berhubung kondisi oksigen yang sangat terbatas, beberapa penyedia oksigen terpaksa mengutamakan konsumen untuk keperluan medis, sehingga beberapa pembudidaya ikan ataupun pedagang ikan hias/ikan konsumsi terpaksa menunda beberapa pengiriman ikan.

Disinilah peluang untuk terus mengembangkan metode transportasi ikan hidup tanpa menggunakan oksigen murni sebagai sumber aerasi ataupun tanpa menggunakan oksigen. Banyak sekali alternatif metode yang dapat digunakan diantaranya adalah pengembangan transportasi ikan hidup sistem kering. Pada sistem tersebut ikan dilakukan pemingsanan atau metabolisme ikan diturunkan sedemikian sehingga ikan dapat dimuat dalam kondisi pingsan. Setelah ikan pingsan kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang di dalamnya dikondisikan kelembapan cukup salah satunya dengan menggunakan sekam basah atau kertas basah, setelah sampai tujuan ikan baru dipulihkan kembali kesadaranya. Metode ini dapat menggunakan bahan pemingsan alami atapun pendinginan. Salah satunya adalah dilaporkan oleh Cupp, dkk. Yang dimuat dalam North American Journal of Aquaculture pada tahun 2017. Pada penelitian tersebut digunakan bahan anestesi berupa eugenol untuk pemingsanan ikan Nila yang kemudian dilakukan transportasi dalam kepadatan tinggi. Metode sistem kering ini memungkinkan dikembangkan dan dicoba sebagai alternatif pengiriman ikan tanpa menggunakan oksigen yang pada akhir-akhir ini ketersedianya sangat terbatas. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode ini adalah dosis bahan yang digunakan untuk pemingsanan serta lamanya transportasi harus benar-benar telah dihitung dan dikalkulasi sedemikian sehingga tidak terjadi kematian selama dan setelah proses pengiriman ikan. 


Penulis : Tri Nugroho Widianto - LRMPHP


Jumat, 02 Juli 2021

Menang Lagi, KKP Raih Peringkat 2 Kategori Penilaian Kompetensi BKN Award 2021

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meraih peringkat dua untuk kategori Penilaian Kompetensi dalam ajang Badan Kepegawaian Negara (BKN) Award 2021. Capaian ini menambah deretan prestasi kementerian yang saat ini dipimpin oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam ajang tersebut.

Pengumuman pemenang BKN Award 2021 disampaikan dalam Forum Evaluasi Pengelolaan Manajemen Kepegawaian se-Indonesia melalui Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepegawaian 2021 yang diselenggarakan secara hybrid, Kamis (1/7/2021). Peringkat satu kategori Penilaian Kompetensi diraih oleh Kementerian Keuangan, dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional berada di posisi ketiga.

"Ini tentu kabar gembira untuk kami di KKP. Prestasi ini menjadi pemicu semangat untuk para pegawai terus bekerja melayani masyarakat kelautan dan perikanan," ujar Sekretaris Jenderal KKP, Antam Novambar. Dia menambahkan di tengah pandemi Covid-19 dan kompleksitas permasalahan pembangunan kelautan dan perikanan menuntut seluruh jajaran KKP bekerja dengan dedikasi tinggi dan profesional berbasis kompetensi masing-masing.

 “Ini bukan kali pertama KKP menjadi juara dalam BKN Award yang sudah berlangsung sejak tahun 2015. Tahun lalu, KKP meraih peringkat dua untuk kategori Penilaian Kinerja,” jelas Antam.

Antam mengatakan, pihaknya rutin melakukan penilaian kinerja jajaran KKP untuk mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang ada di KKP. Selain itu, program-program yang berkaitan dengan beasiswa pendidikan, jabatan, hingga pola karier disampaikan secara terbuka kepada para pegawai.

"Pegawai itu aset kita dalam melayani masyarakat, sehingga butuh human capital treatment agar kompetensi mereka terjaga dan bahkan terus meningkat," imbuh Antam.

Sebagai informasi, BKN kembali menggulirkan ajang BKN Award 2021 bagi Kementerian/Lembaga/Daerah (K/L/D) sebagai instansi pengelola kepegawaian terbaik dari penilaian indeks implementasi norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN).

Penilaiannya meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan; pengadaan ASN; pengangkatan ASN; pangkat; jabatan; pola karier; pengembangan karier ASN; mutasi; penilaian kinerja; penggajian, tunjangan, dan fasilitasi; penghargaan; disiplin; cuti; kode etik; pemberhentian; jaminan pensiun dan hari tua; pensiun; dan perlindungan.

Instansi pemenang BKN Award 2021 ditetapkan berdasarkan masing-masing kategori instansi, yakni Instansi Pusat melingkupi Kementerian dan Lembaga Negara/Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK); dan Instansi Daerah meliputi Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, serta Pemerintah Kota sebagai pelaksana manajemen ASN.

Peringkat 2 kategori Penilaian Kompetensi dalam ajang BKN Award 2021 menambah daftar panjang prestasi yang diraih KKP di tahun ini. Sebelumnya KKP meraih predikat Sangat Memuaskan pada hasil pengawasan kearsipan tahun 2020 yang diumumkan oleh ANRI pada pertengahan Juni 2021.


Sumber : KKP