Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Jumat, 19 Juli 2019

Dorong Efektivitas Program Kelautan dan Perikanan, BRSDM Gelar Monev Terpadu

Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja, memberikan arahan dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) Terpadu BRSDM Zona I T.A. 2019 di Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) Denpasar, Kamis (18/7). Dok. Humas BRSDM

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) menyelenggarakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Terpadu BRSDM Zona I T.A. 2019, Kamis (18/7) di Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) Denpasar. Kegiatan ini diselenggarakan agar program dan kegiatan pembangunan kelautan dan perikanan melalui riset dan SDM dapat berjalan secara optimal, efektif, dan efisien.

“Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2018 telah berlalu, dan seperti yang kita ketahui opini yang diberikan BPK adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Hal ini merupakan hasil kerja keras setiap elemen di KKP dalam menjaga akuntabilitas publik. Beberapa kontribusi BRSDM di dalamnya adalah penyelesaian beberapa temuan antara lain aset tak berwujud, temuan keuangan yang telah diminimalisir, dan penyelesaian kegiatan prioritas yang belum selesai tahun lalu,” tutur Kepala BRSDM Sjarief Widjaja saat membuka acara.

Semangat ini, ditegaskan Sjarief, harus terus dijaga BRSDM melalui peran Monev terpadu yang sangat strategis. Monev terpadu diharapkan menghasilkan kajian apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan rencana, tepat guna, dan tidak menyimpang dari tujuan awal pelaksanaan kegiatan.

Penilaian ini pun dilihat dari beberapa aspek di antaranya: 1) Realisasi anggaran, kinerja anggaran, dan Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA); 2) Ketertiban pengisian aplikasi Monev; 3) Progress Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ); 4) Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN); 5) Evaluasi mandiri Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP); 6) Penyusunan Laporan Kinerja (LKJ); 7) Pencapaian sasaran strategis; 8) Penyusunan dan pengisian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP); (9) Tindak lanjut temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Inspektorat Jenderal (Itjen); dan 10) Status Pinjaman Hibah Luar Negeri (PHLN).

Monev Terpadu juga menjadi wadah seluruh satker untuk menjelaskan capaian dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan selama tahun 2019 serta rencana pelaksanaan kegiatan tahun 2020. Kepala BRSDM sebagai pengarah kebijakan dan program, para Pejabat Eselon II KKP sebagai penanggung jawab kegiatan, serta stakeholder terkait dalam hal ini Biro Perencanaan KKP dan Biro Keuangan KKP akan memberikan masukan/rekomendasi terkait rencana kegiatan.

“Saya berharap seluruh peserta dapat berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan sesuai tugas dan kewajiban masing-masing agar pelaksanan Monev dapat efektif dalam menanggulangi dan meminimalisir kegiatan-kegiatan yang sejak awal teridentifikasi berisiko tinggi. Semua pihak terkait juga diharapkan dapat menindaklanjuti catatan dan rekomendasi yang akan dihasilkan dalam kegiatan ini, sebelum dilakukan review oleh pihak eksternal BRSDM KP,” terang Sjarief.

Kegiatan Monev Terpadu bertujuan untuk mendapatkan informasi secara langsung mengenai perkembangan penyelenggaraan manajerial organisasi; mengidentifikasi dan menginventarisasi permasalahan dari aspek teknis maupun administrasi serta upaya yang akan dilakukan; serta mengevaluasi hasil penyelenggaraan manajerial organisasi khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya.

Dengan 48 Satker yang tersebar di seluruh Indonesia, selain terlaksana di Zona I di LRPT Denpasar, Monev Terpadu BRSDM juga akan diselenggarakan di Zona II di LRKSDKP Bungus pada 24-26 Juli dan Zona III di BPPP Tegal pada 31 Juli – 2 Agustus 2019. Pembagian zona tersebut dimaksudkan agar  Monev yang dilaksanakan lebih efektif, efisien, komprehensif, responsif, serta saling mengenal keragaan Satker lingkup BRSDM.

Sumber : kkpnews







Kamis, 18 Juli 2019

Microwave-Assisted Extraction (MAE)


Inovasi teknologi pengolahan pangan yang tengah berkembang ialah Microwave-assisted extraction (MAE). Recovery senyawa bernilai tinggi dari limbah perikanan akan mudah dilakukan dengan menggunakan teknologi ini. Microwave adalah salah satu gelombang elektromagnetik, dengan interval panjang gelombang antara 1 mm hingga 1 m dan interval frekuensi antara 300 MHz dan 300 GHz. Gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh microwave bersifat seperti magnet yang memiliki 2 ion kutub (positif dan negatif). Bahan yang mengandung ion positif dan negatif seperti air, lemak, gula akan ikut berputar ketika gelombang mikro berputar akibat adanya gaya tolak kutub yang sama. Putaran / frekuensi golombang miko umumnya sebesar 2450 kali per detik menyebabkan molekul air dan lemak yang berputar sedemikian cepat akan menghasilkan gesekan sehingga menimbulkan panas. Model teknologi MAE diilustrasikan pada Gambar 1. Peningkatan suhu selama proses MAE mengakibatkan kenaikan proses evaporasi cairan dalam sel dan terjadi peningkatan tekanan. Hal ini memberikan efek perubahan porositas dinding sel. Peningkatan porositas matrik sel biomaterial yang dikombinasikan dengan kenaikan suhu serta tekanan mendorong terjadinya transfer massa (Gambar 2). Efisiensi proses MAE dipengaruhi beberapa variabel diantaranya daya keluaran microwave, frekuensi, kadar air bahan, siklus ekstraksi, waktu proses, tekanan, viskositas,ukuran sampel dan bahan pelarut alami. 
Gambar 1. Ilustrasi teknologi MAE (sumber : Hoi Po Cheng, 2007)
Alishashi dalam Journal of Polymers and the Environment tahun 2011, berhasil melakukan ekstraksi kitosan dari limbah kepala udang (Metapeneus monodon) dan membandingkannya dengan ekstraksi menggunakan autoclave. Derajat deacetylation kitosan yang dihasilkan adalah 95% dalam waktu proses selama 35 menit sedangkan ekstraksi menggunakan autoclave diperoleh deacetylation kitosan 93% dalam proses selama 3 jam. Selain itu kitosan dari proses MAE memiliki struktur crystalline lebih baik serta kandungan anti bakteri yang lebih tinggi.

Gambar 2. Proses pengeluaran bioaktif sampel menggunakan gelombang mikro (sumber : Ying Li, 2013)
Berdasarkan hal tersebut, keunggulan MAE diantaranya adalah proses ekstraksi yang lebih cepat, mengurangi kebutuhan pelarut dan rendemen yang diperoleh tinggi. Namun MAE juga memiliki kekurangan yaitu masih diperlukan proses lanjutan berupa sentrifugasi ataupun filtrasi untuk memisahkan residu padat yang dihasilkan, efisiensi MAE akan menjadi sangat rendah jika senyawa target dan media pelarutnya bukan berupa senyawa polar dan atau senyawa volatile.

Penulis : Arif Rahman Hakim (Peneliti Muda LRMPHP)

Jumat, 12 Juli 2019

Kunjungan Dinas KP dan Nelayan Kota Pekalongan di LRMPHP

Kunjungan Dinas KP dan nelayan Kota Pekalongan di LRMPHP
LRMPHP menerima kunjungan Dinas Kelautan dan Perikanan serta nelayan Kota Pekalongan pada 11 Juli 2019. Kunjungan yang dipimpin Plt. Kepala Dinas KP,  Ir. Sochib Rochmat, M.Pi,  diterima oleh Kepala LRMPHP, Luthfi Assadad, S.Pi, M.Sc beserta staf pelayanan teknis. Kunjungan Dinas Kelautan dan Perikanan serta nelayan Kota Pekalongan ini dalam rangka kunjungan lapangan pelatihan diversifikasi olahan ikan dan kelembagaan kelompok nelayan dan wanitan nelayan.

Plt. Kepala Dinas KP Kota Pekalongan menjelaskan bahwa kedatangannya ini untuk sharing pengetahuan dan pengalaman sekaligus melihat peralatan hasil inovasi LRMPHP. Harapannya para nelayan dan pengolah hasil perikanan mendapatkan manfaat atas kunjungannya ini. Plt. Kepala Dinas KP juga berharap dengan kunjungannya ini dapat menginisiasi kerjasama lanjutan antara LRMPHP dengan Dinas KP Kota Pekalongan. Kerjasama yang sudah terjalin saat ini tentang uji terap ALTIS-2 kepada pedagang ikan keliling di Pekalongan. ALTIS-2 merupakan salah satu inovasi riset dari LRMPHP dan masuk dalam kegiatan prioritas INTAN (Inovasi Adaptif Lokasi Perikanan) tahun 2019. Kegiatan ini merupakan program prioritas nasional untuk mendekatkan hasil-hasil riset dan inovasi kepada masyarakat sehingga dapat memberikan nilai tambah pemanfaatan alat bagi pengguna.  

Sejalan dengan pemaparan Plt. Kepala Dinas KP, Kepala LRMPHP berharap dengan kunjungan ini, pengetahuan nelayan dan pengolah di bidang kelautan dan perikanan khususnya mekanisasi hasil pengolahan perikanan semakin bertambah. Kepala LRMPHP juga menawarkan kesempatan kerjasama program magang maupun pelatihan dan akan memfasilitasi dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Hal ini sudah menjadi kewajiban LRMPHP sebagai institusi riset untuk mendiseminasikan hasil-hasil riset kepada masyarakat agar termanfaatkan dengan baik.



Pemaparan dan diskusi di Aula LRMPHP
Pada kesempatan ini, Dinas KP dan nelayan Kota Pekalongan  juga mengunjungi  ruang display peralatan LRMPHP, workshop dan bengkel konstruksi serta fasilitas pendukungnya. Selama kunjungannya ini dilakukan pemaparan mengenai fungsi dan mekanisme kerja beberapa peralatan hasil rancang bangun LRMPHP diantaranya peralatan  alat uji kesegaran ikan berbasis sensor (alat UKI),  alat transportasi ikan segar roda dua (ALTIS-2), alat pengisi adonan tahu tuna (ALPINDAL), meat bone separator dan  peralatan lainnya. Para nelayan dan pengolah juga antusias melihat demo alat ALPINDAL dan meat bone separator. 






Kunjungan ke ruang display peralatan dan workshop LRMPHP







Rabu, 10 Juli 2019

Pemerintah berkomitmen kembangkan industri rumput laut

Rumput Laut (Foto: Dok: Wikimedia Commons)
Pemerintah berkomitmen mendorong pengembangan industri rumput laut nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan guna meningkatkan kegiatan ekonomi di masyarakat pesisir, wilayah perbatasan, dan  daerah tertinggal.

"Rumput laut menjadi salah satu perhatian dan prioritas kita terutama untuk mengembangkan wilayah pesisir. Jadi, kita butuh panduan untuk seluruh pemangku kepentingan terkait," ujar Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu.

Musdhalifah mengatakan Indonesia perlu memfokuskan pengelolaan potensi perairan, yang luasnya mencapai dua per tiga wilayah keseluruhan, untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan memberikan kontribusi terhadap pasar dunia.

Ia menambahkan salah satu potensi strategis perikanan tersebut adalah rumput laut yang saat ini memiliki 782 jenis yang tumbuh di perairan laut Indonesia.

Bahkan, menurut dia, di beberapa daerah, terdapat 38 jenis alga yang sudah biasa dimanfaatkan sebagai bahan pangan segar dan olahan, obat tradisional, serta kosmetik tradisional seperti bedak dan lotion penyegar.

Saat ini juga terdapat lima kelompok jenis rumput laut komersial yaitu Saccharina japonica, Undaria, Porphyra, Eucheuma, dan Gracilaria yang menyumbang sekitar 98 persen dari produksi budi daya rumput laut dunia.

Dari lima kelompok jenis tersebut, jenis Eucheuma dan Gracilaria hidup di perairan tropis dan telah dikembangkan melalui budi daya komersial di Indonesia.

Selama ini, ia mengatakan, pengembangan industri rumput laut juga telah menghasilkan sekitar 500 jenis produk turunan yang dapat dikelompokkan menjadi pangan, pakan, pupuk, produk farmasi, dan produk kosmetik.

"Ini tentu akan meningkatkan nilai tambah yang diterima oleh pelaku usaha rumput laut, baik industri maupun masyarakat," ujarnya.

Melihat kondisi ini, Musdhalifah memastikan budi daya rumput laut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir, pulau kecil, pinggiran dan perbatasan, apalagi sekitar 32 persen penduduk miskin Indonesia berada di kawasan ini.

Hal ini didukung oleh fakta bahwa budi daya rumput laut tergolong usaha potensial yang sebagian besar dilakukan oleh masyarakat, karena teknologinya sederhana, masa produksi relatif singkat selama 45 hari, dan memiliki pangsa pasar cukup besar.

Untuk mendorong budi daya rumput laut tersebut, tambah dia, pemerintah telah merancang Peta Panduan Pengembangan Industri Rumput Laut Nasional Tahun 2018-2021 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2019.

"Kita semua bisa bersinergi dalam mengembangkan industri rumput laut nasional melalui rencana aksi yang telah disusun. Kita sudah punya target, tinggal komitmen dan konsistensi kita untuk tidak menjadikan roadmap ini sekedar dokumen," ujar Musdhalifah.



Sumber : antaranews

Selasa, 09 Juli 2019

Peneliti LRMPHP Paparkan Hasil Riset pada Semnaskan UGM XVI


Seminar Nasional Tahunan XVI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (Semnaskan-UGM) merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Pada kesempatan tersebut LRMPHP ikut berpartisipasi dengan mempublikasikan karya tulis ilmiah dan juga sebagai peserta seminar. Kegiatan seminar ini bertujuan untuk mempublikasikan hasil riset LRMPHP dalam bentuk karya tulis ilmiah yang telah disusun oleh para peneliti LRMPHP. Seluruh rangkaian acara dilaksanakan pada tanggal 6 Juli 2019 di Departemen Perikanan UGM. Dalam kegitan seminar ini, LRMPHP mempublikasikan 5 buah judul KTI yang nantinya akan diterbitkan dalam prosiding maupun jurnal ilmiah lainnya.

Pembukaan kegiatan semnaskan dilaksanakan di Auditorium Prof. Ir. Harjono Danoesastro Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta dengan rangkaian acara meliputi laporan Ketua Panitia, Sambutan Dekan Fakultas Pertanian UGM Bapak Dr. Jamhari, SP, MP yang dilanjutkan dengan pembukaan. Dalam sambutannya disampaikan bahasan terkait “Masalah Pangan Land For Food, dan Land For Feed”. Acara dilanjutkan dengan paparan oleh pembicara kunci I yaitu Bapak Suadi, S.Pi, M.Sc, Ph.D yang menyampaikan topik tentang Tata Kelola Rantai Pasok Pangan Laut Berkelanjutan - Agenda Menuju Perikanan Baru. Pembicara kunci II yaitu Bapak IBM Suastika Jaya, M.Si menyampaikan topik tentang Inisiatif Kerjasama MCS Sub-Regional di Kawasan Asia Tenggara serta mekanisme operasional MCS di Indonesia. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan kegiatan kelas-kelas seminar yang gedung A4 Departemen Perikanan.

Sambutan oleh Dekan Fakultas Perikanan (dok. LRMPHP)
Pemaparan oleh Pembicara Kunci I (dok. LRMPHP)
Pemaparan oleh Pembicara Kunci II (dok. LRMPHP)
Pada kelas-kelas seminar tersebut lima peneliti LRMPHP menyampaikan paparan hasil risetnya yang selanjutnya didiskusikan dengan para peserta seminar. Dalam paparan dan diskusi hasil riset tersebut diperoleh beberapa pertanyaan dan masukan dari peserta seminar. Pada paparan tentang mutu ikan tuna selama penyimpanan dlm ALREF untuk kapal nelayan 10-15 GT, mendapat masukan tentang perlunya penyesuaian desain RSW dengan spesifikasi kapal, sehingga instalasi dan aplikasinya lebih mudah. 

Pada paparan hasil riset tentang pengisian adonan tahu tuna menggunakan pendekatan machine learning, masukan yang disampaikan dari peserta adalah perlunya dikaji lebih dalam lagi tentang penggunaan software WEKA supaya penggunaan software tersebut sesuai dengan aplikasinya. Paparan hasil riset lainnya yaitu tentang penggunaan parameter warna dan tekstur pada klasifikasi sumber daging ikan lumat, peserta menanyakan tentang kelebihan penggunaan software tersebut dibandingkan dengan software lainnya. Dalam jawabannya dijelaskan bahwa sotware WEKA setiap set data diuji dengan 10 classification folds atau diuji 10 kali sehingga datanya lebih akurat dan menghindari terjadinya overfitting. 

Riset Pengaruh tekanan evaporator pada performansi sistem ALREF untuk penampung ikan pada kapal nelayan 10-15 GT, peserta menanyakan tentang penerapan tekanan evaporator 0 dan 1 bar. Peresenter memberikan jawaban bahwa caranya adalah dengan melakukan seting tekanan evaporator di mesin pendingin tersebut. Pada paparan tentang pengeringan rumput laut menggunakan microwave mendapat masukan yaitu pada hasil riset sebaiknya disampaikan juga perhitungan efisiensi dan juga analisis fisiokimia yang lebih lengkap sehingga hasil riset lebih komperehensif. 

Presntasi Oral oleh I Made Susi Erawan (dok. LRMPHP)
Presntasi Oral oleh Tri Nugroho Widianto (dok. LRMPHP)
Presntasi Oral oleh Putri Wullandari (dok. LRMPHP)
Presntasi Oral oleh Ahmat Fauzi (dok. LRMPHP)
Presntasi Oral oleh Wahyu Tri H. (dok. LRMPHP)