LRMPHP ber-ZONA INTEGRITAS

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, siap menerapkan Zona Integritas menuju satuan kerja berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 30 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2020

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Kamis, 19 Maret 2020

KKP: Tingkatkan Imunitas dengan Konsumsi Ikan


Ikan kerapu Asam Pedas (Foto : Istimewa)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengampanyekan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di tengah pandemi Coronavirus Disease-19 (Covid-19). Kampanye ini sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19, karena mengonsumsi ikan sangat baik untuk daya tahan tubuh (imunitas).
Nutrisi pada ikan memang dibutuhkan oleh tubuh. Ikan mengandung protein tinggi, lemak omega 3, asam lemak tak jenuh, vitamin A, D, B6, dan B12, serta mineral yang semuanya baik untuk daya tahan tubuh.
Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri menjelaskan, dengan rutin mengonsumsi ikan berarti membuat daya tahan tubuh meningkat. Tubuh yang prima, tentunya tidak mudah terserang penyakit termasuk virus corona.
“Ini salah satu upaya karena makan ikan bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Makan ikan itu menyehatkan dan buat tubuh kita kuat,” ujar Rokhmin dalam gelaran HUT Komunitas Maritim Indonesia (Komari) sekaligus kampanye Gemarikan di Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, pada Senin 16 Maret 2020.
Untuk mendapatkan manfaat terbaik, dia mengimbau masyarakat untuk memasak ikan dengan cara yang baik dan bersih. Di samping itu, dia mengajak masyarakat melengkapi konsumsi ikan dengan sayur dan buah.
Sampai saat ini, memang belum ditemukan vaksin Covid-19. Sehingga ajakan makan ikan, sambung Rokhmin, sebagai langkah antisipasi penularan.
Menurutnya, KKP akan terus mengkampanyekan Gemarikan ke berbagai daerah di Indonesia. Tujuan lain yang tak kalah penting, kampanye Gemarikan untuk membantu tumbuh kembang anak menjadi cerdas dan sehat.
Rokhmin menambahkan, KKP juga aktif menjaga kualitas ikan sebelum sampai ke tengah masyarakat. Untuk memastikan ikan yang masuk tidak terpapar virus, KKP melakukan deteksi menggunakan alat pendeteksi modern.
“Kami punya alat deteksi virus canggih. Dipastikan konsumi ikan bebas virus corona,” ujar Rokhmin.
Sementara itu, angka masyarakat sadar makan ikan cenderung naik setiap tahunnya. Tahun lalu, jumlahnya mencapai 54,45 kilogram per kapita, sedangkan tahun 2018 sebanyak 50,9 kilogram per kapita.
KKP menargetkan tingkat konsumsi ikan naik menjadi 56,39 kilogram per kapita di tahun ini. “Ikan air tawar maupun laut baik dikonsumsi. Semuanya bikin sehat dan bisa meningkatkan daya tahan tubuh,” ujar Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Machmud di acara serupa.
Sumber : KKPNews

Rabu, 18 Maret 2020

Pengaturan Kepadatan Ikan saat Transportasi Menjadi Kunci Terjaminya Kualitas Ikan Hidup

Kepadatan benih ikan pada kantong pengepakan sangat mempengaruhi keberhasilan transportasi sistem tertutup. Kepadatan merupakan salah satu faktor yang penting dalam kegiatan transportasi ikan karena berhubungan dengan masalah biaya transportasi. Hal ini terkait dengan seberapa jumlah oksigen yang diberikan, jumlah ikan dalam kantong serta kapasitas alat angkut yang dibawa. Semakin banyak kepadatan, semakin sedikit jumlah oksigen yang diperlukan akan semakin ekonomis kegiatan transportasi tersebut, namun dengan harapan kualitas ikan yang dikirim tetap terjaga. 

Salah satu penelitian terkait hal tersebut dilakukan oleh Syamsunarno, dkk., yang dimuat dalam Jurnal Biologi Tropis pada tahun 2019. Penelitian dilakukan dengan mengukur tingkat konsumsi oksigen, laju ekskresi total amoniak nitrogen yang dilakukan dengan beberapa perlakuan perbedaan kepadatan yaitu 100, 150, 200, dan 250 ekor/L dengan menggunakan plastik polyetylen (PE) ukuran 35x50 cm dan styrofoam ukuran 75×43×40 cm. Pada penelitian tersebut dilakukan semulasi pengangkutan benih bandeng selama 48 jam dengan sistem tertutup. 
Tabel 1. Hasil pengamatan tingkat kelangsungan hidup benih ikan bandeng selama transportasi 
Sumber : Syamsunarno, dkk., 2019

Berdasarkan hasil analisis statistik, dapat dilihat bahwa tingkat kelangsungan hidup benih ikan bandeng pada jam ke-0 sampai pada jam ke-30 belum menunjukkan perbedaan yang nyata pada tiap perlakuan. Pengaruh kepadatan benih ikan bandeng dimulai pada jam ke-36, tingkat kelangsungan hidup pada kepadatan 100 dan 150 ekor/L berbeda nyata dengan perlakuan 200 dan 250 ekor/L (P<0,05). Pada akhir transportasi menunjukkan semakin tinggi kepadatan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup antar perlakuan (P<0,05). Tingkat kelangsungan hidup pada kepadatan 250 ekor/L terendah yaitu 84,27±2,27%. Menurut Syamsunarno, dkk., kepadatan optimal benih ikan bandeng dengan bobot rata-rata, 48±0,12 g/ekor pada transportasi tertutup selama 48 jam adalah 150 e/L dengan kelangsungan hidup 100%. Pada kepadatan 250 ekor/L, transportasi dapat dilakukan dengan lama waktu 30 jam dan menghasilkan tingkat kelangsungan hidup di atas 99%.


Penulis : Tri Nugroho W., Peneliti LRMPHP

Transportasi Ikan Hidup Jaminan Kualitas Mutu Ikan Konsumsi

Salah satu metode transportasi ikan hidup
Pada tahun 2020, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan target produksi perikanan budidaya sebesar 7,45 juta ton. Target produksi yang tinggi ini merupakan upaya untuk memenuhi permintaan pasar baik untuk pasar lokal, nasional maupun ekspor terhadap komoditas perikanan budidaya yang seksi seperti ikan kerapu, kakap putih, lobster, nila merah, lele dan ikan hias baik air tawar maupun air laut. Salah satu upaya untuk menjamin mutu ikan konsumsi dapat dilakukan dengan menjamin ikan tetap hidup sampai konsumen. Peran transportasi ikan hidup menjadi penting karena murupakan upaya menjamin ikan tetap hidup dengan kualitas yang prima.  

Proses transportasi ikan hidup dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu : basah, semi kering dan kering. Transportasi yang lazim dipergunakan oleh masyarakat dan pembudidaya adalah sistem basah yang dilakukan dalam kantong tertutup dan wadah terbuka. Transportasi dalam kantong tertutup biasanya digunakan untuk ikan yang berukuran kecil seperti ikan hias atau benih. Ikan dimasukkan dalam kantong yang berisi volume air tertentu dengan kepadatan tertentu kemudian sisa ruang dalam kantong diisi dengan oksigen murni dan diikat kuat dengan karet. Volume air, oksigen murni  dan kepadatan ikan disesuaikan dengan lamanya pengangkutan. Transportasi pada wadah terbuka biasanya dilakukan untuk ikan yang berukuran besar atau ikan-ikan konsumsi. Wadah yang dipergunakan berupa jerigen/drum plastik berukuran 0,5-1 ton. Wadah ini diisi air dengan volume dan kepadatan ikan tertentu kemudian ditambahkan aerasi untuk menjamin suplai oksigen terlarut dalam air selama proses transportasi. Aerasi yang digunakan dapat berupa udara biasa maupun oksigen murni tergantung lamanya pengangkutan.

Permasalahan yang dihadapi pada transportasi ikan baik benih maupun ikan ukuran konsumsi adalah perubahan kualitas air yang terjadi selama transportasi, yaitu kadar oksigen terlarut yang semakin menurun serta akumulasi ammonia dan karbon dioksida yang semakin tinggi. Hal ini menyebabkan ikan dalam stress sehingga akan menurunkan survival rate benih ikan saat dipelihara dan menurunkan mutu pada ikan konsumsi. perbedaan durasi pengangkutan dan ukuran ikan menyebabkan perbedaan dalam penanganan perubahan kualitas air selama pengangkutan. Pada sistem transportasi basah tertutup biasanya kepadatan ikan akan dikurangi atau dengan mengubah perbandingan volume oksigen lebih tinggi dibandingkan dengan volume air dalam kantong. Tidak jarang volume air sangat banyak  tetapi ikan yang diangkut hanya dalam jumlah sedikit. Kompensasi-kompensasi yang harus ditempuh tersebut menyebabkan proses transportasi ikan hidup pada sistem basah tertutup tidak efisien.

Hal yang sama juga diterapkan pada sistem transportasi basah terbuka. Namun, sistem transportasi ini lebih fleksibel karena wadah dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan daya dukung. Peningkatan ini diharapkan mampu menopang kehidupan ikan selama proses transportasi tanpa mengurangi kepadatannya sehingga efisiensinya meningkat. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan desain prototipe alat transportasi ikan hidup sistem basah untuk memudahkan kegiatan transportasi ikan hidup serta mempertahankan kualitas.

Tinjauan Pustaka
Sistem transportasi yang sering dipergunakan untuk hasil perikanan di lapangan ada dua, yaitu sistem basah dan sistem kering (Junianto, 2003). Sistem transportasi basah dibagi menjadi dua lagi, yaitu terbuka dan tertutup. Pada sistem tertutup, ikan dimasukkan dalam wadah tertutup dan diberikan suplai oksigen terbatas sesuai dengan perhitungan kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Pada sistem terbuka, ikan dimasukkan dalam wadah terbuka dan diberikan aerasi atau suplai oksigen terus menerus selama pengangkutan (Jailani, 2000). Secara umum, definisi transportasi ikan adalah memaksa ikan pada lingkungan yang baru, berbeda dengan lingkungan asalnya dan disertasi perubahan lingkungan yang mendadak dan cepat (Hidayah, 1998).


Penulis : Tri Nugroho W., Peneliti LRMPHP

Selasa, 17 Maret 2020

Soal Covid-19, Ini Pesan Menteri Edhy untuk Masyarakat Kelautan

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (Dok. Humas KKP)

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengimbau nelayan, pembudidaya, dan masyarakat yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Imbauan ini menyusul penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang sudah menjangkiti lebih dari seratus orang di Tanah Air.

“Untuk sementara waktu, agar menjalankan aktivitas di rumah dan menghindari pusat-pusat keramaian. Ini sesuai dengan pesan dari Presiden Joko Widodo,” ujar Menteri Edhy di Jakarta, Selasa (17/3).
Bilapun harus keluar rumah karena kondisi sangat mendesak, ia berpesan agar nelayan, pembudidaya dan masyarakat secara umum, dapat membatasi kontak fisik dengan orang lain.
Penerapan menjaga jarak saat interaksi sangat penting karena orang yang terjangkit bisa saja tidak menimbulkan gejala, seperti demam maupun batuk.
“Saya juga berpesan agar selalu menjaga kesehatan, menjaga kebersihan, dan selalu menggunakan masker bagi yang kurang sehat,” ujar Edhy.
“Semoga kondisi seperti saat ini, dapat kita lalui bersama dan roda kehidupan kembali berjalan normal, bahkan menjadi lebih baik,” tambahnya.
Sementera itu, sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan KKP, diberlakukan sistem kerja dari rumah secara bergiliran, pengecekan suhu tubuh bagi pegawai dan tamu, penyemprotan disinfektan di setiap gedung. Kemudian penyediaan hand sanitizer, serta pintu masuk dan keluar ruangan dipastikan tetap terbuka untuk menghindari sentuhan tangan.
Ia juga memastikan, layanan kepada masyarakat kelautan dan perikanan tetap berjalan. “Kementerian Kelautan dan Perikanan akan tetap menjalankan kewajiban dalam memberikan pelayanan secara prima kepada masyarakat,” pungkasnya.
 Sumber : KKPNews

Waspada Covid-19, KKP Keluarkan Kebijakan Kerja dari Rumah

Kantor Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan
Merebaknya wabah corona, membuat Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengeluarkan kebijakan agar jajarannya meningkatkan kewaspadaan. Melalui surat edaran bernomor B.181/SJ/KP.620/III/2020, terdapat sejumlah ketentuan pemberlakuan sistem kerja di lingkungan KKP.

Dalam poin a surat yang ditandatantani oleh Plt Sekretaris Jenderal KKP, Antam Novambar tersebut mengimbau agar pejabat pimpinan tinggi madya, pejabat tinggi pratama, pejabat administrator dan pejabat fungsional yang setara dengan pimpin tinggi madya/pratama/administrator tetap masuk kerja seperti biasa.

Berikutnya, pejabat pengawas dan pelaksana serta pejabat fungsional setara dengan pejabat pengawas ke bawah untuk bekerja dari rumah (work from home). "Kerja dari rumah secara bergantian dengan jadwal rotasi yang diatur dan ditetapkan oleh pimpinan unit kerja eselon II atau satuan kerja masing-masing," terang Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri KKP, Agung Tri Prasetyo di Jakarta, Minggu (15/3).

Agung menambahkan, pegawai yang melaksanakan work from home tidak diizinkan meninggalkan rumah kecuali untuk keperluan pemeriksaan kesehatan atau kebutuhan mendesak lainnya. Sementara pegawai yang bekerja dari rumah, harus melaporkan hasil pekerjaannya langsung secara harian.

Seanjutnya unit kerja atau unit pelayanan teknis yang mempunyai tugas pelayanan publik agar membagi dan mengatur tugas pegawai guna memastikan pelayanan publik tetap berjalan dengan baik.

"Rapat atau pertemuan yang melibatkan banyak orang baik di dalam maupun luar negeri ditunda sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut," sambungnya.

Kemudian untuk pimpinan yang menugaskan pegawai unit kerjanya melakukan perjalanan dinas baik di dalam maupun luar negeri untuk ditunda atau dibatalkan. Surat edaran ini berlaku mulai tanggal 16 Maret 2020 hingga ditetapkannya kebijakan baru.

Sumber : kkp.go.id

Senin, 16 Maret 2020

Perwakilan LRMPHP Ikuti Workshop Kehumasan Lingkup BRSDMKP

Perwakilan LRMPHP Ikuti Workshop Kehumasan Lingkup BRSDMKP

Perwakilan Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP), Wahyu Tri Handoyo mengikuti Workshop Kehumasan dengan tema “Optimalisasi Media Sosial untuk Humas Pemerintah”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sekretariat Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) pada 11- 13 Maret 2020 di Ruang Arwana Gedung Mina Bahari II lantai 14 dan dihadiri oleh seluruh UPT lingkup BRSDMKP. Kegiatan workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia dibidang kehumasan pemerintah supaya dapat mengoptimalkan media sosial yang saat ini sudah menjadi sumber informasi cepat bagi sebagian besar masyarakat.

Materi yang disampaikan dalam workshop kehumasan yaitu Social Media Management Swinny Andestika, S.Sos.  dari Communication Manager Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI), Mobile Journalism (teknik pemanfaatan smartphone untuk  membuat konten multimedia berupa video dan infografis) disampaikan oleh Riki Dhanu selaku pendiri Mobile Journalism (MOJO) dari liputan6.com, Public Sector Communication dengan narasumber Galuh Pangestu, M.A. selaku Communication Expert UNDP, dan Social Media Analytics For Public Relations dengan narasumber Ika K Idris, P.hD. selaku Direktur Riset Paramadina Public Policy Insitute, Universitas Paramadina.

Pada workshop kehumasan juga dilakukan kunjungan ke kantor redaksi Metro. Kunjungan ini bertujuan agar para peserta workshop mengetahui bagaimana media masa sekelas Metro TV membuat konten berita aktual yang akan disampaikan kepada masyarakat.

 

Jumat, 06 Maret 2020

Menteri Edhy: Silakan Kritik Saya!

Menteri saat sambutan dalam pelantikan pejabat KKP
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mempersilakan jajarannya untuk mengkritik dirinya. Edhy bahkan menawarkan promosi jabatan bagi pegawai atau pejabat yang menyampaikan masukan dan kritik membangun.
“Menteri bukan segala-galanya dan bisa saja salah. Menteri tidak boleh antikritik dan bisa dikritik kapan saja. Di sini (KKP) yang mengkritik akan mudah dapat promosi,” katanya disambut tawa dan tepuk tangan pegawai, pejabat, dan undangan yang hadir dalam acara pelantikan pejabat di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta, kemarin.
Menteri Edhy melantik empat pejabat pimpinan tinggi madya di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Gedung Mina Bahari IV, Kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (5/3) sore. Edhy mengaku mengedepankan profesionalitas dan kekompakan dalam bekerja.
Keempat pejabat yang dilantik adalah Aryo Hanggono sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Ruang Laut (PRL). Aryo tadinya menduduki posisi Pelaksana Tugas pada jabatan tersebut. Kemudian TB. Haeru Rahayu sebagai Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Posisi Dirjen PSDKP sebelumnya dipegang oleh Pelaksana Tugas, Nilanto Perbowo, yang beberapa hari lalu resmi dilantik sebagai Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP).
Selanjutnya ada Artati Widiarti yang dilantik sebagai Staf Ahli Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya; serta Pamuji Lestari sebagai Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga. “Jabatan hanya titipan Tuhan, gunakanlah untuk berbuat kebaikan,” kata Menteri Edhy.
Pelantikan pejabat eselon 1 KKP
Menteri Edhy berharap, para pejabat yang dilantik bisa secapatnya beradaptasi dengan lingkungan kerja dan menghasilkan terobosan-terobosan untuk kemajuan sektor kelautan dan perikanan. Program dan inovasi-inovasi KKP, sambung Edhy, harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat perikanan dan kelautan.
Menteri Edhy menambahkan, kekompakan dan profesionalitas sangat penting dalam lingkungan kerja agar hasil yang dicapai maksimal. Sehingga dia berharap para pejabat dan pegawai di KKP untuk saling sokong dalam menjalankan program kerja yang sudah disusun.
“Kerja sama itu sangat penting, jadi bapak ibu saya harap bisa segera menyesuaikan diri,” ujarnya.
Sumber : KKPNews