Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/2017

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Produk Hasil Rancang Bangun LRMPHP

Lebih dari 25 peralatan hasil rancang bangun LRMPHP telah dihasilkan selama kurun waktu 2012-2017

Kerjasama Riset

Bahu membahu untuk kemajuan IPTEK dengan berlandaskan 3 pilar misi KKP: kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kesejahteraan (prosperity)

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh tenaga peneliti sebanyak 12 orang dengan latar pendidikan teknologi pangan dan engineering, 5 orang teknisi litkayasa, dan beberapa staf administrasi

Kanal Pengelolaan Informasi LRMPHP

Diagram pengelolaan kanal informasi LRMPHP

Jumat, 20 Maret 2020

Penambahan Zat Alami Pada Transportasi Ikan Hidup

Daun ubi jalar (Foto : Manfaatku.id)
Keberhasilan transpostasi ikan hidup menggunakan sistem tertutup dapat dilihat dari SR (sintasan) yang tinggi, yang salah satu faktor pengendali adalah kualitas air selama pengiriman. Berbagai cara dilakukan dalam rangka mengkondisikan air selama pengangkutan agar tercipta kondisi yang ideal. Agar terciptanya kondisi yang baik pada media pengangkutan ikan maka diperlukan perlakuan khusus yang tidak berbahaya dan tidak mengandung efek samping bagi ikan. Perlakuan khusus ini berupa penambahan zat-zat tertentu yang mudah didapat dan tentunya dapat meningkatkan angka kelulushidupan ikan selama pengangkutan. 

Salah satu zat yang biasa ditambahkan adalah perasan daun ubi jalar. Salah satunya adalah penelitian Angraini dkk., yang dimuat dalam Jurnal Bappeda tahun 2016. Pada daun ubi jalar terkandung zat kimia berupa saponin, flavonoid, dan polifenol. Kandungan kimia ini sangat bagus untuk pakan ikan karena menambah nafsu makan dan kekebalan terhadap penyakit, selain itu juga bermanfaat sebagai pencegah stres ikan selama proses pengangkutan. Mengenai penggunaan daun ubi jalar sebagai bahan herbal yang dapat mencegah stres ikan selama proses pengangkutan. Pada penelitian tersebut dilakukan penentuan dosis optimal yang dilakukan dengan 4 (empat) perlakuan yang terdiri dari : A. Pemberian perasan daun ubi jalar dengan berat 100 gram/kantong, B. Pemberian perasan daun ubi jalar dengan berat 120 gram/kantong, C. Pemberian perasan daun ubi jalar dengan berat 140 gram/kantong  dan D. Tanpa perasan daun ubi jalar (kontrol). Pengujian dilakukan menggunakan benih ikan mas ukuran 5-8 cm sebanyak 200 ekor yang dimasukkan dalam kantong plastik yang berisi air sebanyak 8 L kemudian ditambahkan oksigen murni sebanyak 2/3 volume plastik. Simulasi transportasi dilakukan selama 8 jam. Pemberian dosis daun ubi jalar yang berbeda pada pengangkutan ikan Mas (Cyprinus carpio L.) dalam waktu 8 jam memberikan pengaruh yang nyata terhadap kelulushidupan dan tingkah laku ikan mas. Tingkat kelulushidupan cenderung menurun seiring dengan meningkatnya dosis daun ubi jalar. Kelulushidupan terbaik terdapat pada perlakuan pemberian dosis 100 gram/kantong dengan nilai kelulushidupan (SR) 99%.

Penelitian lainya dilakukan oleh Perdi Afriansyah dkk., yang dimuat dalam Jurnal Mina Sains tahun 2016. Pada penelitian tersebut dilakukan penggunaan tepung gandum sebagai sumber karbon pada pengangkutan benih ikan Nila (Oreochromis niloticus). Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui berapa kadar tepung terigu yang dipergunakan pada transportasi benih nila berukuran 3-5 cm dalam transportasi sistem tertutup sebanyak 400 ekor per wadah plastik, yang memberikan sintasan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan 6 g terigu pada transportasi ikan nila dengan kepadatan 400 ekor dalam 5 liter air selama 10 jam memiliki nilai SR tertinggi, yaitu sebesar 96,75 %. Hal ini didukung dengan mutu air DO, CO2, pH, suhu dan NH3 yang masih pada batas ikan untuk hidup.


Penulis : Tri Nugroho W., Peneliti LRMPHP

Kamis, 19 Maret 2020

Pompa Ikan untuk Memanen Udang dan Ikan dari Tambak

Hal pertama yang terlintas ketika mendengar pompa untuk memanen ikan atau udang adalah “Lhoh, kok bisa ya? Apa ikan/udangnya tidak mati kena impellers pompa ya? Bukannya malah jadi ikan/udang giling?... dst”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak sepenuhnya salah karena pompa ikan untuk memanen ikan/udang belum lazim digunakan petambak di Indonesia. Teknologi yang mereka gunakan untuk pemanenan masih konvensional, yaitu mengeringkan tambak kemudian ikan/udang diambil dengan jaring. Pompa ikan yang dikhususkan untuk memanen ikan/udang memiliki desain impellers khusus yang bertujuan untuk meminimalisir kerusakan fisik ikan/udang saat pompa beroperasi. Pompa ikan menganut sistem sentrifugal, yaitu ikan/udang yang dipompa akan menjauhi pusat atau sumbu mesin. Mesin yang digunakan untuk memutar impellers tersebut bisa berupa motor penggerak tenaga listrik atau mesin pembakaran konvensional. Desain impellers pada pompa ikan pada tahap awal dikembangkan adalah seperti pada Gambar 1.



Gambar 1. Desain impellers pada pompa ikan pada awal pengembangan

Desain impeller seperti Gambar 1. kemudian dikembangkan lagi hingga seperti Gambar 2. karena masih menyebabkan kerusakan 2-5% pada ikan/udang hasil panenan. Desain seperti Gambar 2. masih digunakan hingga saat ini dan terus disempurnakan oleh perusahaan pembuat pompa.



Gambar 2. Desain impellers pada pompa ikan yang digunakan hingga kini

 Salah satu contoh pompa ikan yang ada di pasaran yaitu seperti Gambar 3. Pompa tersebut ditenagai oleh mesin Honda GX270 dengan kapasitas 2.400L/menit.



Gambar 3. Pompa Ikan Heathro

Penulis : Iwan M. Al Wazzan, Peneliti LRMPHP

Mengenal TGA (Thermogravimetric Analysis), Analisa Untuk Mengetahui Ketahanan Termal Kemasan Bioplastik

Alternatif penggunaan plastik masih terus dikembangkan dalam rangka mengurangi sampah plastik yang terus meningkat. Salah satu bahan yang dapat dipergunakan adalah rumput laut dan bahan alam lainnya untuk mambuat bioplastik. Dalam rangka mengetahui karakteristik bioplastik, berbagai parameter dan alat pengujian dikembangkan, salah satunya ketahanan termal. 

Ketahanan termal kemasan bioplastik dapat diuji dengan beberapa analisa, diantaranya yaitu dengan uji DSC atau Differential Scanning Calorimetry (telah dibahas pada tulisan sebelumnya) dan uji TGA atau Thermogravimetric Analysis. Menurut Intertek Group (2019), Thermogravimetric Analysis (TGA) memberikan penentuan endoterm, eksoterm, penurunan berat produk saat pemanasan, pendinginan, dan banyak lagi. Bahan yang dianalisis oleh TGA meliputi polimer, plastik, komposit, laminasi, perekat, makanan, pelapis, farmasi, bahan organik, karet, minyak bumi, bahan kimia, bahan peledak dan sampel biologis.

Menurut Ng, Kasi, Saidi & Subramaniam yang dipaparkan dalam Encyclopedia of Polymer Science and Technology (2018), TGA dapat digunakan terutama untuk menyelidiki stabilitas termal (kekuatan bahan pada suhu tertentu), stabilitas oksidatif (laju penyerapan oksigen pada bahan), serta sifat komposisi (misalnya, pengisi, resin polimer, pelarut) dari sampel. Selain itu, kenaikan/kehilangan berat sampel berhubungan dengan faktor yang berbeda. Umumnya, kenaikan berat sampel dikaitkan dengan adsorpsi atau oksidasi, sedangkan penurunan berat sampel dikaitkan dengan dekomposisi, desorpsi, dehidrasi, desolvasi, atau volatilisasi

Analisis termogravimetri menggunakan panas untuk memaksa terjadinya reaksi dan perubahan fisik pada bahan. TGA memberikan pengukuran kuantitatif perubahan massa dalam bahan yang terkait dengan transisi dan degradasi termal. TGA mencatat perubahan massa dari dehidrasi, dekomposisi, dan oksidasi sampel dengan waktu dan suhu. Karakteristik kurva termogravimetri diberikan untuk bahan khusus dan senyawa kimia karena urutan unik dari reaksi fisikokimia yang terjadi pada rentang suhu dan laju pemanasan yang spesifik. Karakteristik unik ini terkait dengan struktur molekul sampel. Ketika digunakan dalam kombinasi dengan FTIR (Fourier-transform infrared spectroscopy), TGA mampu melakukan analisis FTIR terperinci dari gas-gas yang berevolusi. Alat yang digunakan untuk analisa TGA disajikan pada Gambar 1, sedangkan komponen utama dalam alat tersebut disajikan pada Gambar 2.
Gambar 1. Alat untuk analisa TGA
                                                  
Gambar 2. Komponen utama dalam alat analisa TGA

Penulis : Putri Wullandari, Peneliti LRMPHP

KKP: Tingkatkan Imunitas dengan Konsumsi Ikan


Ikan kerapu Asam Pedas (Foto : Istimewa)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengampanyekan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di tengah pandemi Coronavirus Disease-19 (Covid-19). Kampanye ini sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19, karena mengonsumsi ikan sangat baik untuk daya tahan tubuh (imunitas).
Nutrisi pada ikan memang dibutuhkan oleh tubuh. Ikan mengandung protein tinggi, lemak omega 3, asam lemak tak jenuh, vitamin A, D, B6, dan B12, serta mineral yang semuanya baik untuk daya tahan tubuh.
Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri menjelaskan, dengan rutin mengonsumsi ikan berarti membuat daya tahan tubuh meningkat. Tubuh yang prima, tentunya tidak mudah terserang penyakit termasuk virus corona.
“Ini salah satu upaya karena makan ikan bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Makan ikan itu menyehatkan dan buat tubuh kita kuat,” ujar Rokhmin dalam gelaran HUT Komunitas Maritim Indonesia (Komari) sekaligus kampanye Gemarikan di Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, pada Senin 16 Maret 2020.
Untuk mendapatkan manfaat terbaik, dia mengimbau masyarakat untuk memasak ikan dengan cara yang baik dan bersih. Di samping itu, dia mengajak masyarakat melengkapi konsumsi ikan dengan sayur dan buah.
Sampai saat ini, memang belum ditemukan vaksin Covid-19. Sehingga ajakan makan ikan, sambung Rokhmin, sebagai langkah antisipasi penularan.
Menurutnya, KKP akan terus mengkampanyekan Gemarikan ke berbagai daerah di Indonesia. Tujuan lain yang tak kalah penting, kampanye Gemarikan untuk membantu tumbuh kembang anak menjadi cerdas dan sehat.
Rokhmin menambahkan, KKP juga aktif menjaga kualitas ikan sebelum sampai ke tengah masyarakat. Untuk memastikan ikan yang masuk tidak terpapar virus, KKP melakukan deteksi menggunakan alat pendeteksi modern.
“Kami punya alat deteksi virus canggih. Dipastikan konsumi ikan bebas virus corona,” ujar Rokhmin.
Sementara itu, angka masyarakat sadar makan ikan cenderung naik setiap tahunnya. Tahun lalu, jumlahnya mencapai 54,45 kilogram per kapita, sedangkan tahun 2018 sebanyak 50,9 kilogram per kapita.
KKP menargetkan tingkat konsumsi ikan naik menjadi 56,39 kilogram per kapita di tahun ini. “Ikan air tawar maupun laut baik dikonsumsi. Semuanya bikin sehat dan bisa meningkatkan daya tahan tubuh,” ujar Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Machmud di acara serupa.
Sumber : KKPNews

Rabu, 18 Maret 2020

Pengaturan Kepadatan Ikan saat Transportasi Menjadi Kunci Terjaminya Kualitas Ikan Hidup

Kepadatan benih ikan pada kantong pengepakan sangat mempengaruhi keberhasilan transportasi sistem tertutup. Kepadatan merupakan salah satu faktor yang penting dalam kegiatan transportasi ikan karena berhubungan dengan masalah biaya transportasi. Hal ini terkait dengan seberapa jumlah oksigen yang diberikan, jumlah ikan dalam kantong serta kapasitas alat angkut yang dibawa. Semakin banyak kepadatan, semakin sedikit jumlah oksigen yang diperlukan akan semakin ekonomis kegiatan transportasi tersebut, namun dengan harapan kualitas ikan yang dikirim tetap terjaga. 

Salah satu penelitian terkait hal tersebut dilakukan oleh Syamsunarno, dkk., yang dimuat dalam Jurnal Biologi Tropis pada tahun 2019. Penelitian dilakukan dengan mengukur tingkat konsumsi oksigen, laju ekskresi total amoniak nitrogen yang dilakukan dengan beberapa perlakuan perbedaan kepadatan yaitu 100, 150, 200, dan 250 ekor/L dengan menggunakan plastik polyetylen (PE) ukuran 35x50 cm dan styrofoam ukuran 75×43×40 cm. Pada penelitian tersebut dilakukan semulasi pengangkutan benih bandeng selama 48 jam dengan sistem tertutup. 
Tabel 1. Hasil pengamatan tingkat kelangsungan hidup benih ikan bandeng selama transportasi 
Sumber : Syamsunarno, dkk., 2019

Berdasarkan hasil analisis statistik, dapat dilihat bahwa tingkat kelangsungan hidup benih ikan bandeng pada jam ke-0 sampai pada jam ke-30 belum menunjukkan perbedaan yang nyata pada tiap perlakuan. Pengaruh kepadatan benih ikan bandeng dimulai pada jam ke-36, tingkat kelangsungan hidup pada kepadatan 100 dan 150 ekor/L berbeda nyata dengan perlakuan 200 dan 250 ekor/L (P<0,05). Pada akhir transportasi menunjukkan semakin tinggi kepadatan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup antar perlakuan (P<0,05). Tingkat kelangsungan hidup pada kepadatan 250 ekor/L terendah yaitu 84,27±2,27%. Menurut Syamsunarno, dkk., kepadatan optimal benih ikan bandeng dengan bobot rata-rata, 48±0,12 g/ekor pada transportasi tertutup selama 48 jam adalah 150 e/L dengan kelangsungan hidup 100%. Pada kepadatan 250 ekor/L, transportasi dapat dilakukan dengan lama waktu 30 jam dan menghasilkan tingkat kelangsungan hidup di atas 99%.


Penulis : Tri Nugroho W., Peneliti LRMPHP

Transportasi Ikan Hidup Jaminan Kualitas Mutu Ikan Konsumsi

Salah satu metode transportasi ikan hidup
Pada tahun 2020, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan target produksi perikanan budidaya sebesar 7,45 juta ton. Target produksi yang tinggi ini merupakan upaya untuk memenuhi permintaan pasar baik untuk pasar lokal, nasional maupun ekspor terhadap komoditas perikanan budidaya yang seksi seperti ikan kerapu, kakap putih, lobster, nila merah, lele dan ikan hias baik air tawar maupun air laut. Salah satu upaya untuk menjamin mutu ikan konsumsi dapat dilakukan dengan menjamin ikan tetap hidup sampai konsumen. Peran transportasi ikan hidup menjadi penting karena murupakan upaya menjamin ikan tetap hidup dengan kualitas yang prima.  

Proses transportasi ikan hidup dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu : basah, semi kering dan kering. Transportasi yang lazim dipergunakan oleh masyarakat dan pembudidaya adalah sistem basah yang dilakukan dalam kantong tertutup dan wadah terbuka. Transportasi dalam kantong tertutup biasanya digunakan untuk ikan yang berukuran kecil seperti ikan hias atau benih. Ikan dimasukkan dalam kantong yang berisi volume air tertentu dengan kepadatan tertentu kemudian sisa ruang dalam kantong diisi dengan oksigen murni dan diikat kuat dengan karet. Volume air, oksigen murni  dan kepadatan ikan disesuaikan dengan lamanya pengangkutan. Transportasi pada wadah terbuka biasanya dilakukan untuk ikan yang berukuran besar atau ikan-ikan konsumsi. Wadah yang dipergunakan berupa jerigen/drum plastik berukuran 0,5-1 ton. Wadah ini diisi air dengan volume dan kepadatan ikan tertentu kemudian ditambahkan aerasi untuk menjamin suplai oksigen terlarut dalam air selama proses transportasi. Aerasi yang digunakan dapat berupa udara biasa maupun oksigen murni tergantung lamanya pengangkutan.

Permasalahan yang dihadapi pada transportasi ikan baik benih maupun ikan ukuran konsumsi adalah perubahan kualitas air yang terjadi selama transportasi, yaitu kadar oksigen terlarut yang semakin menurun serta akumulasi ammonia dan karbon dioksida yang semakin tinggi. Hal ini menyebabkan ikan dalam stress sehingga akan menurunkan survival rate benih ikan saat dipelihara dan menurunkan mutu pada ikan konsumsi. perbedaan durasi pengangkutan dan ukuran ikan menyebabkan perbedaan dalam penanganan perubahan kualitas air selama pengangkutan. Pada sistem transportasi basah tertutup biasanya kepadatan ikan akan dikurangi atau dengan mengubah perbandingan volume oksigen lebih tinggi dibandingkan dengan volume air dalam kantong. Tidak jarang volume air sangat banyak  tetapi ikan yang diangkut hanya dalam jumlah sedikit. Kompensasi-kompensasi yang harus ditempuh tersebut menyebabkan proses transportasi ikan hidup pada sistem basah tertutup tidak efisien.

Hal yang sama juga diterapkan pada sistem transportasi basah terbuka. Namun, sistem transportasi ini lebih fleksibel karena wadah dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan daya dukung. Peningkatan ini diharapkan mampu menopang kehidupan ikan selama proses transportasi tanpa mengurangi kepadatannya sehingga efisiensinya meningkat. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan desain prototipe alat transportasi ikan hidup sistem basah untuk memudahkan kegiatan transportasi ikan hidup serta mempertahankan kualitas.

Tinjauan Pustaka
Sistem transportasi yang sering dipergunakan untuk hasil perikanan di lapangan ada dua, yaitu sistem basah dan sistem kering (Junianto, 2003). Sistem transportasi basah dibagi menjadi dua lagi, yaitu terbuka dan tertutup. Pada sistem tertutup, ikan dimasukkan dalam wadah tertutup dan diberikan suplai oksigen terbatas sesuai dengan perhitungan kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Pada sistem terbuka, ikan dimasukkan dalam wadah terbuka dan diberikan aerasi atau suplai oksigen terus menerus selama pengangkutan (Jailani, 2000). Secara umum, definisi transportasi ikan adalah memaksa ikan pada lingkungan yang baru, berbeda dengan lingkungan asalnya dan disertasi perubahan lingkungan yang mendadak dan cepat (Hidayah, 1998).


Penulis : Tri Nugroho W., Peneliti LRMPHP

Selasa, 17 Maret 2020

Soal Covid-19, Ini Pesan Menteri Edhy untuk Masyarakat Kelautan

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (Dok. Humas KKP)

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengimbau nelayan, pembudidaya, dan masyarakat yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Imbauan ini menyusul penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang sudah menjangkiti lebih dari seratus orang di Tanah Air.

“Untuk sementara waktu, agar menjalankan aktivitas di rumah dan menghindari pusat-pusat keramaian. Ini sesuai dengan pesan dari Presiden Joko Widodo,” ujar Menteri Edhy di Jakarta, Selasa (17/3).
Bilapun harus keluar rumah karena kondisi sangat mendesak, ia berpesan agar nelayan, pembudidaya dan masyarakat secara umum, dapat membatasi kontak fisik dengan orang lain.
Penerapan menjaga jarak saat interaksi sangat penting karena orang yang terjangkit bisa saja tidak menimbulkan gejala, seperti demam maupun batuk.
“Saya juga berpesan agar selalu menjaga kesehatan, menjaga kebersihan, dan selalu menggunakan masker bagi yang kurang sehat,” ujar Edhy.
“Semoga kondisi seperti saat ini, dapat kita lalui bersama dan roda kehidupan kembali berjalan normal, bahkan menjadi lebih baik,” tambahnya.
Sementera itu, sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan KKP, diberlakukan sistem kerja dari rumah secara bergiliran, pengecekan suhu tubuh bagi pegawai dan tamu, penyemprotan disinfektan di setiap gedung. Kemudian penyediaan hand sanitizer, serta pintu masuk dan keluar ruangan dipastikan tetap terbuka untuk menghindari sentuhan tangan.
Ia juga memastikan, layanan kepada masyarakat kelautan dan perikanan tetap berjalan. “Kementerian Kelautan dan Perikanan akan tetap menjalankan kewajiban dalam memberikan pelayanan secara prima kepada masyarakat,” pungkasnya.
 Sumber : KKPNews