PELATIHAN

LRMPHP telah banyak melakukan pelatihan mekanisasi perikanan di stakeholder diantaranya yaitu Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR), Kelompok Pembudidaya Ikan, Pemerintah Daerah/Dinas Terkait, Sekolah Tinggi/ Universitas Terkait, Swasta yang memerlukan kegiatan CSR, Masyarakat umum, dan Sekolah Menengah/SMK

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 81/2020

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Kerjasama

Bahu membahu untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan dengan berlandaskan Ekonomi Biru

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh Sumber Daya Manusia sebanyak 20 orang dengan latar belakang sains dan engineering.

Kamis, 14 Oktober 2021

HUT Ke-22, KKP Raih Anugerah Prahita Ekapraya


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerima Anugerah Parahita Ekapraya (APE) 2020 dengan kategori Mentor dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

APE merupakan penghargaan yang diberikan kepada kementerian/lembaga dan pemerintah daerah yang dinilai telah berkomitmen dalam pencapaian dan perwujudan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak, serta memenuhi kebutuhan anak.

Selain itu, penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan atas komitmen dan peran para pimpinan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam Strategi PUG (pengarus utamaan gender). 

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut raihan Anugerah Parahita Ekapraya yang bertepatan dengan bulan HUT ke-22 KKP, merupakan kado istimewa. 

"Pemberian penganugerahan ini merupakan kado untuk ulang tahun KKP yang ke-22 dan menjadikan penyemangat dalam menyejahterakan para nelayan, pembudidaya ikan, pengolahan dan pemasar hasil kelautan serta petambak garam," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan dalam video testimoni atas penghargaan yang diterima. 

Menurutnya, pengarus utamaan gender pada peningkatan peran, akses, kontrol, dan manfaat dalam pembangunan kelautan dan perikanan, akan meningkatkan perspektif keadilan dan kesetaraan gender, terutama dalam setiap program prioritas yang dilakukan KKP, baik di pusat maupun daerah. 

Penyerahaan penghargaan APE 2020 berlangsung secara daring pada Rabu (13/10/2021). Sekretaris Jenderal KKP Antam Novambar hadir mewakili Menteri Trenggono.


Sumber : kkp





LRMPHP Kembangkan Bioplastik Ramah Lingkungan dari Karaginan Rumput Laut (Bagian Plasticizer)

Bioplastik ( Sumber : https://www.krjogja.com/peristiwa/nasional/masyarakat-bakal-terbebani-dengan-penerapan-cukai-plastik)


Menurut Kipngetich dan Hillary yang dipublikasikan dalam International Journal of Green and Herbal Chemistry pada tahun 2013, setiap tahun terdapat sekitar 265.000.000 ton plastik yang diproduksi dan digunakan di dunia untuk keperluan industri maupun rumah tangga. Plastik ini tidak dapat terurai dalam waktu singkat sehingga dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti banjir dan munculnya marine debris. Solusi untuk permasalahan ini yaitu dengan menggunakan bioplastik. Radhiyatullah, et al dalam Jurnal Teknik Kimia USU pada tahun 2015 menyampaikan bahwa bioplastik merupakan plastik yang dapat terurai oleh mikroorganisme dan terbuat dari bahan yang dapat diperbaharui. 

Tim peneliti dari LRMPHP telah mengembangkan metode dan peralatan yang digunakan untuk mengolah biji bioplastik dari karaginan rumput laut. Metode yang digunakan yaitu metode ekstrusi; sedangkan peralatan yang digunakan yaitu : mixer yang berfungsi untuk mencampurkan bahan hingga homogen, single screw extruder yang berfungsi untuk memproses campuran bahan tersebut dengan suhu dan kecepatan tertentu hingga membentuk ekstrudat, dan pelletizer yang berfungsi untuk memotong ekstrudat tersebut menjadi ukuran yang ditentukan.

Plasticizer merupakan salah satu komponen utama dalam pembuatan bioplastik. Menurut Parra et al. yang dipublikasikan dalam Jurnal Carbohydrate Polymers pada tahun 2004, penambahan plasticizer untuk bioplastik bertujuan untuk mengatasi kerapuhan film yang disebabkan oleh gaya antarmolekul yang tinggi. Plasticizer mengurangi kekuatan ini dan meningkatkan mobilitas rantai polimer, sehingga meningkatkan fleksibilitas dan ekstensibilitas film bioplastik. Di sisi lain, plasticizer umumnya mengurangi permeabilitas gas, uap air dan zat terlarut dari film bioplastik serta dapat menurunkan elastisitas dan kohesi.

Maneking, et al dalam Jurnal MIPA Universitas Sam Ratulangi tahun 2020 membuat bioplastik dari pati singkong dengan gliserol dan air sebagai plasticizer, sedangkan Kumoro dan Purbasari dalam Jurnal Teknik membuat bioplastik dari tepung nasi aking dan tepung singkong dengan gliserol sebagai plasticizer. Boortom (2008) dalam International Food Research Journal menyampaikan bahwa penggunaan gliserol memberikan kelarutan yang lebih tinggi pada film plastik dibandingkan sorbitol, sedangkan menurut Ginting, et al. (2015) yang dipaparkan dalam The International Journal of Engineering and Science, bioplastik dengan plasticizer gliserol memiliki fraktur yang halus dan rongga yang kecil.


Penulis : Putri Wullandari - LRMPHP


Jumat, 08 Oktober 2021

Peluang Kitosan Sebagai Biosensor

Kitosan (Sumber : https://chitomicassava.wordpress.com/)

Sensor adalah perangkat yang mampu menerima dan merespon sinyal dan mengubahnya menjadi energi listrik yang dapat dikenali. Perangkat seperti itu yang digunakan pada bidang biologi disebut biosensor. Sehingga dapat diartikan bahwa biosensor adalah perangkat analitik yang menggunakan reaksi biokimia dari salah satu elemen identifikasi seperti protein, enzim dan DNA. Banyak keuntungan yang didapat dalam menggunakan teknologi ini antara lain bentuk yang sederhana, mudah dibawa-bawa, hasil cepat dan akurat, serta hasil yang mudah dibaca.

Kitosan menjadi pertimbangan sebagai bahan pembuat biosensor karena sifat fisikokimianya yang dapat diubah dengan cara merubah berat molekul dan derajat deasetilasinya. Kitosan merupakan salah satu polimer yang jumlahnya melimpah di alam dan ramah lingkungan karena memiliki tingkat toksisitas yang rendah. Selain itu kitosan juga memiliki sifat penghambat bakteri, biodegradable, permeabilitas tinggi, pembentukan gel yang baik dan permukaannya dapat dimodifikasi menggunakan gugus fungsi secara kimiawi. Karakteristik tersebut membuat kitosan banyak diaplikasikan dibanyak bidang terutama medis dan teknik sebagai bahan biosensor.

Kitosan dapat digunakan sebagai biosensor dengan cara memodifikasi permukaannya menggunakan BRE (biological recognition elements). Contoh dari BRE antara lain DNA, enzim, protein, antibodi dll. Jenis BRE yang digunakan pada nanokomposit berbasis kitosan menentukan jenis sinyal seperti warna, intensitas, dll. Serta menjadi faktor utama dalam pembuatan biosensor. Kitosan menjadi salah satu polimer yang populer dalam bidang biosensor karena telah berhasil digunakan untuk berbagai macam pendeteksian. Salah satu yang berhasil adalah penelitian yang dilakukan Ibrahim El Sherbiny yang dimuat pada Internatonal Journal of Biological Macromolecules pada tahun 2016. Pada penelitiannya dia menggunakan biosensor berbasis kitosan untuk mendeteksi kadar ammonia dengan konsentrasi rendah. Nilai regresi linear yang didapatkan antara biosensor dan ammonia dengan konsentrasi 10-50 ppm adalah 0,98.


Penulis : Toni Dwi Novianto - LRMPHP


Senin, 04 Oktober 2021

Loka Riset Mekanisasi Kembangkan Sistem Akuakultur Cerdas

Dengan perkembangan teknologi, budidaya perikanan (akuakultur) telah berubah dari sistem tradisional yang secara intensif menggunakan tenaga kerja manusia menjadi sistem mekanisasi dan perlahan berubah menjadi sistem otomatis. Sistem tradisional sangat tergantung dari pengalaman tenaga kerja dan biaya upah yang tinggi sedangkan sistem mekanisasi dan otomatis bisa mengurangi jumlah tenaga kerja dan penggunaan sumber daya alam seperti air dan pakan juga bisa lebih efisien. Terlebih saat ini ketertarikan tenaga kerja dibidang akuakultur semakin berkurang sementara permintaan produk akuakultur terus meningkat, sehingga kebutuhan terhadap model akuakultur berbasis intelligences (kecerdasan) menjadi hal yang mendesak. Hadirnya Internet of Things (IoT), big data, artificial intelligence, 5G networks, cloud computing, dan teknologi robot menjadi dasar bisa tercapainya akuakultur cerdas.

Prinsip kerja dari akuakultur cerdas adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data dan informasi dasar dalam akuakultur antara lain data suhu, kadar oksigen terlarut, pH, ammonia dan berbagai parameter kualitas air serta data pendukung seperti suhu udara, kelembaban, curah hujan maupun intensitas sinar matahari. Data-data ini dikumpulkan menggunakan berbagai jenis sensor, kamera pengambil data digital. 
  2. Data-data yang terkumpul tersebut dikirim ke pusat kontrol melalui jaringan komunikasi. 
  3. Data kemudian diolah di pusat kontrol untuk memberikan keputusan terkait status kualitas air dan ikan dalam kolam. Pusat control bisa terletak dimana saja tidak harus dekat dengan lokasi akuakultur atau sering disebut cloud platform.  
  4. Feedback dari informasi tersebut untuk eksekusi alat dan mesin operasional dalam kolam, sehingga pengoperasian alat dan mesin menjadi lebih efektif dan efisien.

Sebagai contoh penerapan sistem ini adalah aerator cerdas yang sedang dikembangkan para Peneliti Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) pada kolam udang (Gambar 1). Pada sistem tradisional pembudidaya akan mengoperasikan aerator secara manual tapi dengan sistem otomatis pembudidaya dapat mengoperasikan aerator menggunakan telepon genggam maupun komputer dan tanpa harus di lokasi kolam. Data yang dikumpulkan melalui sensor real-time berupa oksigen terlarut (DO), suhu, pH dan arus air akan dikirimkan ke pusat kontrol melalui jaringan internet yang kemudian diolah untuk diputuskan apakah aerator harus hidup (ON) atau mati (OFF) dan berapa aerator yang harus hidup serta di lokasi mana saja aerator yang ON. Nilai keputusan dari data ditentukan oleh pembudidaya, misal pada nilai DO 0-5, pH < 6 semua aerator ON dan bila DO bernilai 5.1-6 hanya 2 aerator yang ON dan pengaturan lain. Saat data menunjukkan nilai tersebut maka sistem akan memerintahkan aerator untuk ON/OFF secara otomatis. Dengan sistem otomatis tersebut waktu operasi aerator dapat dikendalikan dengan kualitas air tetap terjaga dan biaya operasional aerator dapat diminimalkan. Banyak contoh lain terkait akuakultur cerdas yang saat ini sudah dipraktekkan oleh para pembudidaya. 

Penerapan akuakultur cerdas di tambak udang

Sistem akuakultur cerdas akan meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi penggunaan sumber daya alam, juga mengurangi biaya operasional, meningkatkan produktifitas serta kualitas produk yan dihasilkan. Namun, meski memiliki banyak keunggulan, penerapan akuakultur cerdas tetap mempunyai beberapa kendala yang perlu diperhatikan antara lain; 

  1. Pemilihan sensor yang tepat, langkah awal dalam pemilihan sistem adalah sensor. Pengumpulan data dimulai dengan menggunakan sensor. Sensor yang digunakan harus benar-benar akurat dan juga memiliki durabilitas yang tinggi, hal ini karena dalam akuakultur penggunaan sensor sebagian besar akan terendam dalam air bahkan air bersalinitas tinggi. Dan sensor dengan kriteria ini harganya mahal.
  2. Stabilitas jaringan internet. Tidak dipungkiri bahwa keberadaan lokasi aquakultur di Indonesia berada di daerah-daerah yang jaringan internetnya tidak bagus. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap proses pengiriman data baik sebelum proses maupun setelah diproses.
  3. Untuk membangun akuakultur cerdas dibutuhkan modal awal yang belih besar dibandingkan sistem tradisional untuk pengadaan komponen sistem cerdas. Meskipun biaya ini bisa ditutupi oleh turunnya biaya operasional.


Penulis : Arif Rahman Hakim - LRMPHP