PELATIHAN

LRMPHP telah banyak melakukan pelatihan mekanisasi perikanan di stakeholder diantaranya yaitu Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR), Kelompok Pembudidaya Ikan, Pemerintah Daerah/Dinas Terkait, Sekolah Tinggi/ Universitas Terkait, Swasta yang memerlukan kegiatan CSR, Masyarakat umum, dan Sekolah Menengah/SMK

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 81/2020

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Kerjasama

Bahu membahu untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan dengan berlandaskan Ekonomi Biru

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh Sumber Daya Manusia sebanyak 20 orang dengan latar belakang sains dan engineering.

Selasa, 10 Maret 2026

Uji Laboratorium Produk Perikanan KKP Diakui Akurasinya

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi memiliki Produsen Bahan Acuan (PBA) isolat Staphylococcus aureus terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN), yang pertama di Indonesia. Keberadaan PBA ini memperkuat keakuratan pengujian laboratorium dalam mendukung jaminan produk perikanan berdaya saing.

Bahan acuan berfungsi sebagai standar pembanding dalam pengujian laboratorium. Dengan standar yang terverifikasi, hasil uji mikrobiologi produk perikanan menjadi lebih akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan, baik untuk kebutuhan pengujian di dalam negeri maupun pemenuhan persyaratan pasar internasional.

Isolat Staphylococcus aureus sendiri adalah salah satu parameter mikrobiologi yang paling sering dipersyaratkan dalam standar produk, terutama pada produk pangan olahan dan produk siap konsumsi. Bakteri ini mampu menghasilkan enterotoksin yang bersifat tahan panas, sehingga tetap berbahaya meskipun produk telah melalui proses pemasakan. 

Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Machmud, mengatakan Pengembangan Bahan Acuan tersebut merupakan bagian dari upaya KKP untuk memperkuat standar produk berdaya saing dalam mendukung pemenuhan persyaratan pasar global produk perikanan.

“Pengembangan Bahan Acuan ini memastikan hasil pengujian laboratorium tertelusur dan sesuai standar, sehingga produk perikanan Indonesia semakin terjamin dan berdaya saing,” kata Machmud di Jakarta, Senin (9/3).

Ia menambahkan, keberadaan bahan acuan tersebut meningkatkan keandalan laboratorium pengujian serta mendukung kepercayaan pasar global terhadap produk perikanan Indonesia.

Kepala Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) selaku Produsen Bahan Acuan, Rahmadi Sunoko, menyampaikan bahwa bahan acuan Staphylococcus aureus yang dikembangkan telah melalui proses yang cukup ketat.

“Proses pengembangan memastikan kemurnian, homogenitas, dan stabilitas bahan acuan, sehingga membantu laboratorium menjaga konsistensi hasil uji, khususnya dalam pengujian cemaran mikroba pada produk perikanan,” ujar Rahmadi.

Menurutnya, bahan acuan tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh laboratorium internal KKP, tetapi juga dapat digunakan oleh laboratorium mitra, sekaligus memperkuat kemandirian nasional dalam penyediaan bahan acuan berstandar internasional.

Bahan acuan produksi BBP3KP telah memenuhi standar ISO 17034:2016 serta standar ISO 33403:2024 dan ISO 33405:2024. Bahan ini digunakan untuk berbagai kebutuhan teknis laboratorium, mulai dari verifikasi dan validasi metode uji, uji banding antar laboratorium, hingga uji profisiensi.

Sebelumya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan komitmen KKP untuk menjaga mutu dan keamanan produk perikanan dari hulu hingga hilir melalui penguatan sistem jaminan mutu yang terintegrasi sebagai bagian dari peningkatan daya saing produk perikanan Indonesia.



Sumber: kkp web


Senin, 09 Maret 2026

Teknologi Ekstraksi Rumput Laut untuk Mendukung Produksi Pupuk Cair

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) terus mendorong pengembangan inovasi teknologi pengolahan hasil perikanan melalui pembuatan prototipe alat ekstraksi rumput laut yang dapat dimanfaatkan untuk produksi pupuk cair berbahan baku rumput laut.

Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya kelautan secara lebih optimal. Rumput laut diketahui memiliki kandungan senyawa aktif seperti hormon pemacu tumbuh dan unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk cair organik.

Salah satu tahapan penting dalam pengolahan rumput laut menjadi pupuk cair adalah proses ekstraksi. Proses ini bertujuan untuk mengambil senyawa aktif yang terkandung di dalam rumput laut. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, pembuatan pupuk cair menggunakan air sebagai media ekstraksi pada suhu tinggi tidak merusak keberadaan hormon pemacu tumbuh yang terdapat pada rumput laut.

Namun demikian, metode ekstraksi konvensional umumnya hanya efektif untuk jenis rumput laut tertentu, seperti Sargassum sp. dan Gracillaria sp.. Untuk meningkatkan efisiensi proses serta memperluas potensi pemanfaatan bahan baku, LRMPHP mengembangkan alat ekstraksi rumput laut dengan sistem pemanasan dan pengadukan yang terkontrol.

Alat ekstraksi yang dikembangkan bekerja dengan prinsip perendaman rumput laut dalam media cair yang dipanaskan secara merata. Proses ekstraksi dilakukan dengan pengaturan waktu tertentu hingga kandungan hormon dan unsur hara dari talus rumput laut dapat terekstraksi secara optimal. Sistem pemanas menggunakan fluida panas sehingga suhu di dalam tabung ekstraksi dapat terdistribusi secara seragam. Selain itu, alat ini juga dilengkapi dengan pengaduk elektrik yang berfungsi mempercepat proses pelepasan senyawa aktif dari bahan baku rumput laut.

Prototipe alat ekstraksi rumput laut ini memiliki dimensi panjang 351 cm, lebar 68 cm, dan tinggi 97 cm. Dari sisi spesifikasi teknis, alat ini mampu melakukan proses ekstraksi dengan kapasitas hingga 90 kilogram bahan dalam waktu sekitar 90 menit dengan kebutuhan daya listrik sebesar 6.000 watt. Sistem pemanas menggunakan teknologi double jacket yang memungkinkan panas terjaga secara stabil selama proses berlangsung.

Melalui pengembangan teknologi ini, LRMPHP diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mendukung inovasi teknologi pengolahan hasil perikanan, khususnya dalam pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku produk bernilai tambah. Ke depan, teknologi ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha, kelompok pembudidaya, maupun industri pengolahan untuk menghasilkan pupuk cair organik berbasis rumput laut secara lebih efisien dan berkelanjutan.