Jumat, 31 Juli 2026

LRMPHP Kembangkan Ekstruder untuk Produksi Bioplastik Rumput Laut secara Kontinu


Penggunaan plastik sintetis yang sulit terurai menjadi salah satu tantangan lingkungan yang terus mendapat perhatian. Kondisi tersebut mendorong pengembangan berbagai bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan, salah satunya bioplastik berbahan rumput laut.

Sebagai negara maritim dengan sumber daya rumput laut yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan bahan alternatif tersebut. Rumput laut tidak hanya mudah diperoleh, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku bioplastik dalam skala yang lebih besar.

Selama ini, pembuatan bioplastik rumput laut umumnya dilakukan dengan metode casting. Pada metode ini, ekstrak rumput laut dicampurkan dengan bahan tambahan, kemudian dipanaskan dan dituangkan ke permukaan datar atau cetakan. Setelah dikeringkan, bahan tersebut membentuk lembaran atau produk sesuai bentuk cetakannya.

Meskipun proses casting relatif sederhana, metode tersebut masih memiliki keterbatasan ketika diterapkan untuk produksi dalam skala komersial. Proses produksinya dilakukan secara bertahap atau batch, sehingga kurang mendukung kebutuhan produksi dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) mengembangkan perangkat produksi bioplastik rumput laut dengan sistem ekstrusi panas. Teknologi ini dirancang agar proses produksi dapat berlangsung secara kontinu sehingga lebih sesuai untuk pengembangan produksi dalam skala yang lebih besar.

Pada sistem ekstrusi, formulasi ekstrak rumput laut yang telah dicampur dengan bahan tambahan dimasukkan ke dalam extruder. Proses berlangsung pada suhu sekitar 130–150°C. Di dalam alat, bahan mengalami pencampuran, tekanan, dan gaya geser (shearing) di dalam ruang yang disebut barrel.

Adonan kemudian didorong oleh ulir hingga keluar melalui lubang keluaran (dies) dalam bentuk filamen. Filamen tersebut selanjutnya dipotong menjadi potongan kecil berukuran kurang dari 1 cm yang disebut bijih atau pelet bioplastik rumput laut.

Bijih bioplastik tersebut dapat menjadi bahan antara untuk menghasilkan berbagai produk jadi, seperti wadah makanan dan piring. Pembentukan produk dapat dilakukan menggunakan teknologi compression molding maupun injection molding.

Sebagai bagian dari pengembangan teknologi, LRMPHP telah melakukan uji kinerja ekstruder bioplastik rumput laut. Pengujian dilakukan dengan memadukan refined carrageenan (RC), polyvinyl alcohol (PVA), dan gliserol sebagai bahan formulasi.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstruder dapat bekerja secara optimal dengan kapasitas produksi mencapai 3 kg per jam. Pengujian juga menunjukkan adanya perbedaan karakteristik produk pada setiap formulasi, termasuk perbedaan rendemen dan tingkat elastisitas material. Salah satu formulasi menghasilkan rendemen yang lebih tinggi sekaligus memiliki sifat material yang lebih elastis.

Pengembangan ekstruder bioplastik rumput laut ini menjadi salah satu upaya LRMPHP dalam menghadirkan teknologi mekanisasi yang mendukung pemanfaatan sumber daya kelautan secara lebih optimal. Dengan sistem produksi kontinu, teknologi ini diharapkan dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan produksi bioplastik berbahan rumput laut secara lebih efisien.

Selain membuka peluang pemanfaatan rumput laut menjadi produk bernilai tambah, pengembangan teknologi ini juga mendukung upaya mencari bahan alternatif pengganti plastik sintetis. Ke depan, teknologi tersebut berpotensi mendukung pengembangan berbagai produk berbahan bioplastik rumput laut yang lebih ramah lingkungan.


0 comments:

Posting Komentar