Jumat, 11 September 2026

LRMPHP Optimalkan Hasil Tangkapan Samping dengan Meat Bone Separator


Indonesia memiliki sumber daya ikan yang melimpah dan beragam. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari ikan bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga dari hasil tangkapan samping (HTS) dan jenis ikan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan melalui pengolahan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Salah satu upaya pemanfaatannya adalah mengolah ikan menjadi daging lumat atau surimi yang dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk diversifikasi perikanan, seperti nugget, bakso, sosis, otak-otak, dan produk olahan lainnya. Untuk mendukung proses tersebut, Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) mengembangkan meat bone separator tepat guna sebagai teknologi mekanisasi untuk memisahkan daging ikan dari tulang dan durinya.

Melalui proses pemisahan secara mekanis, ikan yang sebelumnya kurang bernilai ekonomis dapat dimanfaatkan menjadi daging lumat yang siap diolah lebih lanjut. Teknologi ini menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi pengolahan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ikan.

Meat bone separator yang dikembangkan LRMPHP dirancang sebagai teknologi tepat guna dengan kapasitas pengolahan yang disesuaikan untuk skala usaha kecil dan menengah. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat membantu pelaku UMKM pengolahan hasil perikanan meningkatkan efisiensi proses produksi serta menyediakan bahan baku olahan ikan secara lebih praktis.

Secara teknis, meat bone separator manual dilengkapi dengan drum berpori (perforated drum) dengan diameter lubang 3 mm. Bahan dimasukkan melalui conveyor belt dengan kecepatan 2,09 cm/detik. Alat dioperasikan secara manual dengan memutar tuas pada bagian samping yang terhubung melalui mekanisme pulley belt untuk menggerakkan drum berpori.

Prinsip kerja alat memanfaatkan tekanan dan gaya geser untuk memisahkan daging dari tulang. Saat ikan masuk ke dalam drum, daging terdorong keluar melalui lubang-lubang kecil pada drum, sedangkan tulang, sisik, dan kulit tertahan di bagian luar. Dengan mekanisme tersebut, proses pemisahan daging ikan dari tulang dapat dilakukan secara mekanis dengan pengoperasian yang sederhana.

Untuk mengetahui kinerja alat, LRMPHP melakukan pengujian menggunakan ikan putihan (Puntius bromoides) dengan tiga metode preparasi bahan, yaitu butterfly, sayat samping, dan ikan utuh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode preparasi berpengaruh terhadap rendemen dan kapasitas pemisahan daging lumat.

Metode butterfly memberikan kapasitas pemisahan tertinggi, yaitu 5,54 kg/jam, sedangkan rendemen tertinggi diperoleh pada penggunaan ikan utuh sebesar 51,5 persen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode preparasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan proses untuk memperoleh kinerja pemisahan yang optimal.

Pengembangan meat bone separator tepat guna menjadi salah satu upaya LRMPHP dalam menghadirkan inovasi mekanisasi yang dapat diterapkan pada skala usaha pengolahan hasil perikanan. Teknologi ini tidak hanya mempermudah proses pemisahan daging ikan dari tulang, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan HTS dan ikan bernilai ekonomis rendah menjadi bahan baku produk olahan bernilai tambah.

Daging lumat yang dihasilkan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk diversifikasi perikanan, seperti bakso, nugget, sosis, otak-otak, dan produk olahan lainnya. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengolahan sekaligus memperluas peluang usaha bagi pelaku UMKM.

Melalui pengembangan teknologi mekanisasi yang tepat guna dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, LRMPHP terus mendorong optimalisasi pemanfaatan sumber daya ikan. Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya mendukung peningkatan nilai tambah hasil perikanan, tetapi juga memperkuat efisiensi dan daya saing usaha pengolahan hasil perikanan.



0 comments:

Posting Komentar